Ini adalah curhatan para lulusan LPDP yang mengaku “downgrade” ketika balik ke Indonesia. Bukan karena tak bersyukur atau kurang usaha, tetapi sistem memang menyusahkan mereka hingga susah cari kerja. Yang sedikit lebih beruntung, memilih banting setir agar bisa bertahan hidup.
***
Setiap tahun, ratusan anak muda Indonesia berangkat ke luar negeri dengan harapan besar. Mereka adalah para penerima beasiswa, dan kelak akan menjadi lulusan LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan) yang membawa segudang ilmu.
Di sana, mereka menimba ilmu di kampus-kampus top dunia dan digembleng dengan pengalaman hidup di negeri orang. Harapannya jelas: pulang ke Tanah Air, membangun bangsa, dan menempati karir yang cemerlang.
Namun, realitas seringkali tidak seindah bayangan. Alih-alih langsung diserap oleh industri, banyak dari mereka yang pulang kampung justru merasakan kenyataan pahit. Mereka, yang menyandang gelar S2 luar negeri sebagai lulusan LPDP, malah susah cari kerja di negeri sendiri.
Tembok tebal bernama “overqualified”
Salah satu dari mereka adalah Ade (bukan nama sebenarnya). Sebagai seorang lulusan LPDP program S2 Manajemen Bisnis dari salah satu kampus ternama di Eropa, ia sudah berbulan-bulan bolak-balik menyebar lamaran kerja.
Ratusan posisi sudah ia incar, mulai dari perusahaan multinasional hingga perusahaan lokal. Namun, jawaban yang ia terima seringkali seragam: “Mohon maaf, kualifikasi Anda terlalu tinggi untuk posisi ini.”
“Semua platform sudah dicoba. Minta bantuan relasi pun nggak ada hasilnya,” kata Ade yang berhasil Mojok hubungi, Minggu (22/2/2026).
Di dunia kerja, fenomena yang dialami ADe dikenal dengan istilah overqualified, situasi “dianggap terlalu pintar” untuk sebuah lowongan. Banyak HRD lokal yang mundur duluan saat melihat gelar Master dari luar negeri. Mereka berasumsi bahwa kandidat seperti Ade pasti meminta gaji selangit.
“Padahal, kami juga mencari pengalaman. Permintaan juga tak muluk, penting bisa kerja dulu dengan gaji layak,” imbuhnya.
Selain itu, ada juga ketakutan bahwa Ade akan cepat bosan dengan pekerjaan teknis biasa dan akhirnya malah buru-buru pindah kantor. Padahal, di kehidupan nyata, Ade rela digaji standar asalkan ia bisa mulai bekerja, berkarya, dan tidak lagi susah cari kerja.
Namun, pengalaman Ade ini bukanlah kebetulan semata. Badan Pusat Statistik (BPS) berulang kali mencatat bahwa angka pengangguran terdidik–yakni mereka yang lulus S1 hingga S3–selalu menempati porsi yang cukup besar di Indonesia.
Ijazah S2 dari luar negeri ternyata bukan jalan pintas bagi lulusan LPDP. Kadang, ijazah itu justru menjadi tembok tebal karena industri lokal belum punya kapasitas untuk mengelola tenaga kerja dengan keahlian setinggi itu.
Terjebak di “Hollowing Out of the Middles Class”
Pertanyaannya: kok bisa begitu? Mengapa orang pintar yang disekolahkan jauh-jauh malah susah cari kerja?
Jawabannya ada pada struktur industri kita. Laporan dari Bank Dunia (World Bank) pernah menyoroti sebuah masalah sistemik di Indonesia yang disebut Hollowing Out of the Middle Class atau hilangnya ketersediaan lapangan pekerjaan kelas menengah ke atas.
Sederhananya begini: program beasiswa negara sedang sangat cepat mencetak lulusan LPDP dengan keahlian tingkat ahli (seperti pakar energi terbarukan, spesialis kesehatan mental, atau ahli rekayasa genetika).
Di sisi lain, ekosistem industri kita masih berjalan pelan. Banyak perusahaan lokal yang bisnis utamanya masih di tahap dasar atau padat karya. Mereka belum butuh divisi riset dan pengembangan (R&D) yang canggih. Mojok pernah mengulas fenomena ini dalam liputan berjudul: “Overqualified tapi Underutilized, Generasi yang Disiapkan untuk Pekerjaan yang Tidak Ada”.
Akibatnya, terjadilah “kemacetan”. Lulusan kampus top ini tidak menemukan wadah atau pabrik yang sesuai dengan “mesin” ilmu yang mereka bawa pulang. Ekosistem yang belum matang inilah yang membuat para lulusan LPDP tersebut kebingungan mencari tempat berlabuh yang pas untuk keahlian spesifik mereka.
Baca halaman selanjutnya…














