Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Kilas Sosial

Pembangunan Masif Rusak Hutan Papua, Belasan Spesies Satwa Terancam Punah

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
3 April 2026
A A
Pembangunan Masif Rusak Hutan Papua, Belasan Spesies Satwa Terancam Punah.MOJOK.CO

Pembangunan Masif Rusak Hutan Papua, Belasan Spesies Satwa Terancam Punah (dok. PPID Jayapura)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Pembangunan fisik dan perluasan area industri di Papua mulai berdampak buruk pada kelestarian alam. 

Laporan penelitian terbaru dari organisasi Burung Indonesia menunjukkan bahwa kawasan hutan yang menjadi rumah bagi ratusan satwa terus menyusut dan terpecah-pecah. Akibatnya, belasan spesies burung langka dan satwa khas Papua kini berada di ambang kepunahan.

Iklan

Berdasarkan studi yang menggunakan standar penilaian internasional Important Bird and Biodiversity Area (IBA), daratan Papua tercatat memiliki 641 jenis burung.

Dari jumlah keseluruhan tersebut, sebanyak 252 jenis merupakan burung endemik, yang artinya satwa ini hanya bisa ditemukan hidup di tanah Papua dan tidak ada di tempat lain di dunia. 

Sayangnya, laporan ini menemukan ada 14 jenis burung yang saat ini terancam punah secara global. Penyebab utamanya adalah perburuan liar, perubahan cuaca, dan yang paling parah adalah hilangnya tempat tinggal mereka.

Praktik industri menjadi penyebab

Ancaman kepunahan ini rupanya tidak hanya menimpa kelompok burung. Dari laporan Burung Indonesia, hewan mamalia yang menjadi ciri khas daratan Papua, seperti echidna moncong panjang dan kanguru pohon Wondiwoi, juga dilaporkan menghadapi bahaya serupa karena kehilangan tempat berlindung dan mencari makan.

Kepala Konservasi dan Pengembangan Burung Indonesia, Adi Widyanto, menjelaskan dari mana sumber utama kerusakan hutan ini berasal. Menurutnya, ancaman terbesar datang dari perluasan industri yang terus menggerus tanah dan pepohonan.

Praktik industri ini sangat beragam, mulai dari izin penebangan kayu hutan, pembukaan area untuk pertambangan, pembukaan lahan hutan menjadi lahan pertanian, hingga proyek pembangunan jalan-jalan baru.

Berbagai aktivitas tersebut membuat hamparan hutan terbelah menjadi bagian-bagian yang lebih kecil. Kondisi ini sangat menyulitkan dan membatasi ruang gerak satwa asli Papua.

Burung-burung pendatang dari Benua Asia dan Australia yang biasa menjadikan hutan Papua sebagai tempat persinggahan untuk mencari makan pun ikut terdampak.

Burung adalah penanda kelestarian alam di Papua

Lalu, mengapa burung yang dijadikan patokan dalam penelitian ini? Adi menuturkan, burung adalah penanda alami yang sangat baik untuk melihat apakah sebuah lingkungan hutan masih sehat atau tidak.

Jika burung di suatu wilayah aman dan berkembang biak dengan baik, berarti satwa lain seperti hewan menyusui dan katak di tempat itu kemungkinan besar juga ikut terlindungi.

Untuk mencegah kerusakan yang lebih luas, tim peneliti telah memetakan wilayah mana saja yang kondisinya paling mendesak untuk diselamatkan.

Hasilnya, ditemukan ada 59 lokasi penting di Papua. Luas gabungan seluruh wilayah ini mencapai 10,5 juta hektar, atau mengambil porsi sekitar seperempat dari seluruh wilayah daratan Papua.

Dari 59 lokasi tersebut, 35 titik di antaranya dinilai cukup aman karena berada di dalam wilayah lindung pemerintah, seperti Taman Nasional atau Cagar Alam. Namun, masalah yang paling gawat ada pada 24 lokasi sisanya. Sebanyak 24 lokasi penting ini tidak berstatus sebagai kawasan lindung, sehingga sangat rawan dibongkar kapan saja untuk proyek pembangunan.

Tim peneliti menilai temuan ini sebagai peringatan dini agar pemerintah segera bertindak sebelum satwa-satwa di sana benar-benar musnah. Laporan ini juga menyoroti lima daerah yang butuh perlindungan paling cepat, yaitu Pulau Waigeo, Pulau Misool, Pulau Biak, Pegunungan Cycloop, dan kawasan Wandamen-Wondiboy.

Masyarakat adat Papua juga ikut terdampak

Dampak kerusakan alam ini tentu tidak hanya menimpa satwa, tetapi juga memukul masyarakat secara langsung.

Peneliti dari Universitas Papua (Unipa), Desi Natalia Edowai, membenarkan dan mengingatkan kembali betapa pentingnya fungsi hutan.

Iklan

Bagi sebagian besar masyarakat asli Papua, hutan ibarat “dapur” alam yang menjadi sumber pangan utama. Banyak pula jenis tanaman dan hewan di dalam hutan yang memiliki ikatan kuat dengan adat istiadat warga setempat. Jika hutan dibabat habis, tatanan hidup dan budaya masyarakat asli akan ikut hancur.

Desi merasa sangat khawatir jika proyek pembangunan yang besar-besaran terus berjalan tanpa pedoman pelestarian yang jelas.

Oleh karena itu, hasil pemetaan 59 lokasi penting ini diharapkan bisa menjadi buku pedoman bagi pemerintah daerah. Segala bentuk rencana pembangunan daerah harus diselaraskan dengan tata ruang yang ramah lingkungan.

Tujuannya hanya satu, agar kemajuan ekonomi dan pembangunan bisa tetap berjalan tanpa harus mengorbankan rumah bagi satwa langka dan ruang hidup masyarakat Papua.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Balada Berburu Si Elang Jawa, Predator Udara Terganas dan Terlangka

Terakhir diperbarui pada 6 April 2026 oleh

Tags: alam papuaburung langka di papuakerusakan alam di papuakerusakan lingkungan di papuaPapuasatwa langka di papuaspesies langka di papua
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

papua.MOJOK.CO

Masyarakat Adat di Tengah Krisis Iklim: Hak-Hak Dijegal Birokrat, Hutan Dibabat demi Konglomerat

15 Juni 2026
Mengajar di Wamena: Dari Perang Suku hingga Jalan Kaki 7 Hari demi Menjadi Sarjana

Mengajar di Wamena: Dari Perang Suku hingga Jalan Kaki 7 Hari demi Menjadi Sarjana

10 Juni 2026
papua.MOJOK.CO

Hutan Papua Tak Baik-baik Saja, Terancam Hilang Imbas Pembukaan Lahan Besar-besaran

23 Mei 2026
papua.MOJOK.CO

Harga yang Harus Dibayar dari Pembangunan di Papua: Hutan Rimbun Diratakan Alat Berat, Alam dan Masyarakat Adat Terancam

3 Mei 2026
papua.MOJOK.CO

Tolak Tawaran Kerja di Amerika Demi Mengajar di Pelosok Papua, Berambisi Memajukan Tanah Kelahiran

18 Februari 2026
literasi rendah di Papua dan upaya mahasiswa BINUS. MOJOK.CO

Tantangan Mahasiswa BINUS bikin Cerita Bergambar Soal Kehidupan Sehari-hari Anak Papua dan Guru Relawan

8 Januari 2026
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Penyesalan mahasiswa kiri dan naif: tolak kerja (jadi budak) korporat karena melanggengkan kapitalisme, tapi sadar orang tua belum bahagia MOJOK.CO

Sesal Mahasiswa Sok Kiri Anti Kapitalisme dan Naif: Tolak Kerja Korporat, Tapi Sadar Belum Bantu Ekonomi Orang Tua

21 Agustus 2026
Mengenal konsep Green al-Maun dan jihad ekologi dari masjid untuk menjaga lingkungan MOJOK.CO

Dakwah Tauhid Lingkungan dari Masjid, Mempertanyakan Keimanan dari Kesadaran Menjaga Alam

26 Agustus 2026
Shifana, pemain Timnas U-16 Indonesia dibayangi pemain Yordania, Alma Odai di pertandingan semifinal Srikandi Merdeka Cup 2026. Indonesia menang dengan skor 3-0 di laga semifinal, Jumat (21/8).

Timnas Putri U-16 Indonesia Bungkam Yordania 3-0, Thailand Menanti di Final Srikandi Merdeka Cup

22 Agustus 2026
Peserta dalam ajang Klaten International Motocross di Sirkuit Bokong Semar, kawasan Rowo Jombor. MOJOK.CO

Anak Muda Asal Jawa Barat Kalahkan Crosser dari Australia di Ajang Klaten International Motocross

25 Agustus 2026
Alfamart dan PGMM beri bantuan seragam ke 7 madrasah di Magelang sebagai wujud kepedulian sosial MOJOK.CO

Alfamart dan PGMM Beri Bantuan Seragam Sekolah di 7 Madrasah Magelang, Jadi Penunjang Semangat dan Kepercayaan Diri Siswa

24 Agustus 2026
ilustrasi - pekerja (Ega Fansuri/Mojok.co)

Pelarian Laki-laki Burnout usai Dihantam Pekerjaan tapi Dipaksa Kuat karena Tuntutan Kepala Keluarga Ideal

20 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

8 Agustus 2026
Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

7 Agustus 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

🤖 PRAYIT AI ×
Salam dari Mojok! Aku Prayit AI. Ada yang bisa dibantu hari ini, Rek?
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.