Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sekolahan

Kuliah di Universitas Terbuka (UT), Meski Diremehkan tapi bikin Gen Z Bersyukur karena Beri Jawaban Konkret untuk Kebutuhan

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
18 Februari 2026
A A
Kuliah di Universitas Terbuka (UT) menjadi pilihan yang disyukuri oleh Gen Z. Meski diremehkan tapi dapatkan jawaban konkret untuk kebutuhan MOJOK.CO

Ilustrasi - Kuliah di Universitas Terbuka (UT) menjadi pilihan yang disyukuri oleh Gen Z. Meski diremehkan tapi dapatkan jawaban konkret untuk kebutuhan. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Dari jualan pigura dan lukisan hingga tertuntun kuliah di UT

Pengakuan serupa dituturkan oleh Riyandi Regia (27), mahasiswa semester 6 program studi Sains Data di Universitas Terbuka kampus Bandung. Ada alasan serius kenapa ia akhirnya memilih kuliah di UT, bukan sekadar “buat nambah-nambah gelar”. 

Kilas balik ke belakang, sudah sejak SMP Riyandi tertarik pada dunia “seni kreatif”. Semasa SMP ia berjualan pigura dan lukisan di Pasar Minggu Cimahi (Brigif). Saat masuk SMK, ia kemudian mengambil jurusan animasi. 

Riyandi lulus SMK pada 2016. Setelahnya, Riyandi sudah malang-melintang di dunia industri kreatif sebagai seorang animator di sebuah perusahaan pengembang animasi. Kliennya bahkan kebanyakan datang dari luar negeri. 

“Aku juga sering mengisi pelatihan. Di sekolah-sekolah atau bahkan di kampus-kampus negeri. Ada satu momen yang membuat aku merasa harus kuliah. Pas ngisi kelas di sebuah kampus ternama di Bandung, aku dapat pertanyaan yang aku nggak bisa jawab. Ada hubungannya sama AI,” beber Riyandi bercerita pada Mojok, Minggu (8/2/2026) malam. 

Dari situ Riyandi terpantik untuk kuliah. Ia kemudian tertuntut untuk mengambil Sains Data di Universitas Terbuka. 

“Pertama, aku jelas melihat sisi fleksibilitasnya. Perkuliahan full online. Aku bisa nentuin sendiri jadwalku. Itu membantuku sih buat ngimbangin kesibukan kuliah, kerja, dan ngurus keluarga karena aku sudah punya istri dan anak,” ucap Riyandi. 

Kuliah daring tapi sama industri tetep bisa relevan

Perkuliahan di UT memang berlangsung secara daring: mahasiswa dituntut banyak eksplorasi sendiri atas materi-materi pembelajaran yang diberikan. Meski begitu, Riyandi merasa sistem itu sama sekali tidak mengurangi kualitas pembelajaran. 

Sebab, sebagaimana disinggung juga oleh Fika, mahasiswa UT itu bukan kuliah hanya untuk pantes-pantesan. Tapi memang benar-benar serius untuk menambah pengetahuan dan keterampilan.

“Materi dan tugas yang diberikan itu relevan dengan konteks zaman dan industri. Misalnya, aku ambil Sains Data, dari situ aku bisa dapat insight baru soal analisis dalam dunia teknologi dan informasi digital yang sedang berkembang, ambil contoh AI,” jelas Riyandi.

“Selama ini mungkin aku cuma paham cara bikin animasi, tapi pembelajaran di Sains Data UT bikin aku bisa mengerti lebih jauh, soal industrinya bagaimana, potensi inovasinya kayak gimana, dan macem-macem,” imbuhnya. 

Kuliah 8 semester di UT dengan biaya murah bahkan gratisan

Tak kalah penting, dengan segala kemudahan dan relevansi yang ditawarkan Universitas Terbuka, Riyandi dan Fika mengaku amat diuntungkan dengan biaya kuliah yang masih sangat ramah kantong, di tengah banyak kampus negeri yang mematok UKT terendahnya saja sudah di angka Rp3 juta-Rp5 jutaan ke atas. 

Riyandi mendapat UKT Rp1,9 juta per semester. Angka yang masih sangat bisa dijangkau dari gajinya yang juga dibagi untuk kebutuhan rumah tangga. Sementara Fika malah kuliah “gratisan” karena menerima beasiswa penuh berupa Beasiswa Prestasi dari UT. 

“Di UT itu kalau sering ikut lomba dan berprestasi, dapat beasiswa. Misal kita menang lomba dan juara minimal tuh juara 3 nasional, itu kita dapat beasiswa satu semester. Nah karena saya tier lombanya internasional, jadi dapat beasiswa sampai lulus,” ungkap Fika. 

Memang ada beberapa lomba tingkat internasional yang pernah Fika ikuti. Rata-rata berhubungan dengan public speaking, antara lain: lomba economic speech international, lomba presenting, story telling, dan lain sebagainya. 

Iklan

Tidak ada hubungannya dengan program studi yang Fika ambil. Tapi ternyata UT tetap memberi penghargaan berupa beasiswa tersebut. Selain juga ada beasiswa-beasiswa lain seperti KIP Kuliah dan program beasiswa dari CSR kolaborator UT. 

“Sudah nggak bayar, aku malah dapat benefit banyak. Aku pernah diberangkatkan ke Kuala Lumpur, Hungaria, jadi delegasi Indonesia untuk ikut konferensi internasional,” papar Fika. “Nanti juga bakal ditugaskan ke event yang berlangsung di Bali.”

Benefit yang Fika dapat selama kuliah di UT sampai membuat sang ayah “geleng-geleng”: kok bisa gitu ya? Sang ayah pun semakin menyadari, stereotip soal UT sebagai “kampus pantes-pantesan” itu sudah usang. Sudah tidak relevan lagi.***(Adv)

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Alasan Saya Mengabaikan Pengumuman Lolos di UGM, Lebih Pilih Kuliah di Universitas Terbuka Malang untuk Bertahan Hidup atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 20 Februari 2026 oleh

Tags: biaya utkampus gen zkuliah online utsistem kuliah utUKT Universitas Terbukaukt utuniversitas terbukaUT
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Alumnus UT Dapat Cuan dari Tren Foto Newspaper Photobooth di Jalan Tunjungan Surabaya. MOJOK.CO
Sosok

Alumnus UT Buka Bisnis Foto ala Newspaper di Jalan Tunjungan, Satu Cetak Hanya Rp5 Ribu tapi Untungnya Bisa Sejuta dalam Sehari

25 Maret 2026
Lulusan UT, Universitas Terbuka.MOJOK.CO
Sekolahan

Diremehkan karena “Cuma” Lulusan UT, Tapi Bersyukur Nasib Lebih Baik daripada S1-S2 PTN Top yang Menang Gengsi tapi Nganggur

3 Maret 2026
Kuliah online di universitas terbuka: meski tak ngampus tapi dirancang serius untuk mudahkan mahasiswa, meski diserang hacker MOJOK.CO
Sekolahan

Kuliah Online di Universitas Terbuka (UT): Meski Tak Ngampus tapi Tak Asal-asalan, Sering Diserang Hacker tapi Tak Mempan

23 Februari 2026
tunadaksa lulusan S1 universitas terbuka (UT). MOJOK.CO
Sekolahan

Lulus SMA Cuma Diterima Kerja Jadi Babu dan Dihina karena Fisik, Kini Malah Jadi Asesor Sertifikasi dengan Gelar S1 UT

10 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Rozi, dosen penyandang disabilitas Unair yang lulus S3. MOJOK.CO

Perjalanan Dosen Unair yang Kehilangan 2 Kaki, Berhasil Selesaikan Kuliah S3 di FKH dengan IPK Sempurna

27 Mei 2026
Kerja di Jakarta, Cara Terbaik Buat Melihat Sisi Buruk Manusia adalah Kerja di F&B.mojok.co

FnB di Jakarta Bikin Sengsara Pekerjanya: Bisnis Elite tapi Gaji Karyawannya Seuprit, yang Dimiliki Artis bahkan Lebih Tak Manusiawi

2 Juni 2026
Pengalaman Merusak Astrea Grand Jadi Motor Racing Kampung MOJOK.CO

Pengalaman Saya “Merusak” Astrea Grand Milik Bapak Menjadi Motor Racing Kampung: Jebakan Menyenangkan dari Motor Honda yang Menjerat Saya Sampai Tua

2 Juni 2026
Sebat Bareng menjadi upaya sederhana merespons kampanye Hari Tanpa Tembakau Sedunia (HTTS). Berlangsung di 16 daerah MOJOK.CO

Sebat Bareng di 16 Kabupaten/Kota: Cara Sederhana Tolak Hari Tanpa Tembakau Sedunia, Pengingat Industri Kretek Masih Dibutuhkan Indonesia

31 Mei 2026
makan mie ayam di Solo. MOJOK.CO

Curiga dengan Pedagang Mie Ayam di Dekat Rutan Solo, Beli Seporsi tapi Tak Diminta Bayar. Eh, Ternyata Intel Lagi Nyamar

28 Mei 2026
Rasyiid, mahasiswa penerima Beasiswa KIP Kuliah UMSURA yang sisihkan uang untuk modal usaha MOJOK.CO

Sisihkan Uang Beasiswa KIP Kuliah buat Modal Usaha, Kuliah Sambil Topang Ekonomi Keluarga hingga bikin Ibu Bangga

2 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

1 Juni 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.