Peluang kerja mentereng lulusan Antropologi Unair
Melansir dari laman resmi FISIP Unair, Program Studi S1 Antropologi memiliki wawasan luas mengenai manusia dan kebudayaan. Jurusan yang sudah berdiri sejak tahun 1985 itu mempelajari dua bidang peminatan seperti ragawi dan sosial-budaya.
“Ke depannya, mahasiswa Antropologi Unair bisa jadi ahli forensik karena kami lebih maju dari segi keilmuan medis tentang tulang dan semacamnya. Intinya, kami bisa mendeteksi semacam kematian yang asal-usulnya belum diketahui penyebabnya,” jelas Mei.
Bahkan, Toetik Koesbardiati, salah satu dosen Antropologi Unair pernah ikut terlibat dalam operasi Disaster Victim Identification (DVI) dalam peristiwa jatuhnya pesawat Air Asia QZ 8501 tahun 2015. Saat itu Toetik turut mengidentifikasi pemeriksaan luar dalam otopsi korban.
Melihat, prospek kerja yang tak main-main, Mei jadi ikut bangga dan tak pernah menyesali keputusannya memilih Jurusan Antropologi Unair. Malahan, dia mengaku bersyukur pernah ditolak UGM Jurusan Arkeologi.
“Mungkin kalau mata batinku nggak dibuka, aku nggak akan tahu soal Jurusan Antropologi ini,” kata Mei.
Lulus dari Antropologi Unair tetap khawatir
Masalahnya, Mei mengaku tak sanggup melihat mayat meski nilainya bagus untuk melanjutkan karier di bidang forensik. Alhasil, dia memilih peminatan Antropologi budaya yang mempelajari soal psikologi hingga ekonomi manusia, khususnya di masa postmodernisme.
“Alih-alih meromantisasi salah satu suku A, B, C, kami justru membredel secara kritis isu budaya di salah satu suku tersebut. Misalnya, Bali yang sudah terkomersialisasi tanpa melihat daya dukung lingkungan di bidang pariwisata,” jelas Mei.
Setelah menjalani perkuliahan selama 4 tahun, Mei akhirnya lulus. Meski begitu, ia tak terhindar dari bayang-bayang fresh graduate sulit mencari kerja. Sampai-sampai, ia menarget untuk mengirim 20 lamaran per hari ke berbagai platform, tapi tak ada satupun yang nyantol.
Di titik itu, Mei yang tadinya bangga dengan Jurusan Antropologi Unair justru terjebak dalam pikiran negatif. Ia sempat menyesal masuk jurusan yang sepi peminat itu, sampai akhirnya ia mendapat tawaran kerja di Bali sektor jasa.
Sempat mengira ilmunya di perkuliahan akan sia-sia saat bekerja, Mei justru menyadari Antropologi Unair membentuk pemikirannya lebih dewasa. Bagaimana dia bersikap dan menghormati segala perspektif budaya dari orang lain.
“Pada akhirnya, aku bekerja dengan berbagai orang yang punya karakter dan latar belakang yang berbeda. Karena aku terbiasa mempelajari itu semua, aku pun punya semacam cara untuk menjembatani mereka sampai kemudian kami semua sepakat dalam sebuah pekerjaan,” jelas Mei.
Oleh karena itu, Mei berpesan jangan sampai kita menyesali segala keputusan yang kita pilih, karena bisa jadi itu adalah jalan terbaik dari Tuhan, meskipun manfaatnya belum kita ketahui sekarang, “dan jangan lupa bersyukur.” Ujar Mei.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchammad Aly Reza
BACA JUGA:Tak Menyesal Ikuti Saran dari Guru BK, Berhasil Masuk Fakultas Top Unair Lewat Golden Ticket Tanpa Perlu “War” SNBP atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














