Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Catatan

Warga Desa Sebenarnya Muak dengan Orang Kota yang Datang Buat Sok Slow Living: Arogan, Tak Membaur, Anggap Warga Asli Cuma “Figuran”

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
7 April 2026
A A
slow living, desa, warga desa.MOJOK.CO

Ilustrasi - Slow living di desa (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Banyak orang kota membicarakan tren slow living di desa dengan nada memuja. Mereka membayangkan hidup tenang, bebas polusi, dan bisa ngopi di teras menghadap sawah dengan amat santai. Namun, jarang ada yang bertanya: bagaimana perasaan kami, warga asli desa, saat kampung halaman tiba-tiba diserbu orang-orang yang sekadar numpang mencari ketenangan?

Sejujurnya, pada awalnya, kami sangat terbuka. Orang desa itu punya sifat bawaan yang namanya sungkan atau pakewuh. Saat mulai banyak orang kota membeli atau menyewa rumah di desa, kami mencoba memaklumi kebiasaan mereka.

Namun, seiring berjalannya waktu, rasa sungkan itu luntur dan berubah menjadi rasa jengkel. Kami mulai sadar bahwa banyak dari mereka datang ke sini hanya untuk menikmati udara dan pemandangannya, tapi menolak berurusan dengan manusianya.

Warga desa cuma dianggap “figuran”

Sebagai orang yang lahir dan besar di desa, saya merasakan sendiri pergeseran sikap pendatang ini saat mudik Lebaran lalu. Saya kaget, karena desa saya tiba-tiba menjadi tempat tinggal orang kota. Awalnya saya pikir mereka saudara tetangga yang kebetulan mudik. Ternyata, mereka sudah beberapa bulan tinggal di desa.

Hampir setiap pagi, saat saya sedang santai, duduk ngopi di teras, ada saja tetangga baru dari kota yang lewat. Mereka biasa jogging, memakai earphone nirkabel. Sesekali ada juga yang terlihat sedang gowes. Pemandangan langka di desa yang baru saya temui sekarang.

Namun, anehnya, jangankan berhenti untuk ngobrol. Sekadar basa-basi menyapa saja tidak pernah. Wajah mereka lurus ke depan. 

Mereka asyik memotret hamparan sawah dan tegalan. Tapi saat berpapasan dengan warga asli, kami ini dianggap seperti angin lalu. Seolah-olah kami cuma karakter figuran.

Kekesalan saya bertambah saat melihat mereka mulai meromantisisasi kehidupan di desa yang sebenarnya adalah wujud himpitan ekonomi. Mereka sering memotret mbah-mbah yang memikul kayu bakar atau pakan ternak, lalu diunggah ke TikTok dengan narasi puitis soal “hidup sederhana”. 

Padahal, mbah-mbah ini memikul kayu karena tuntutan buat mencari makan, bukan sedang ikut tren estetik-estetikan.

Parahnya lagi, yang saya rasakan, kebanyakan dari mereka membawa “mental juragan”. Mereka baru mau mengobrol dengan warga kalau sedang butuh bantuan murah. Misalnya, minta dicarikan orang untuk membersihkan kebun, membetulkan pompa air, atau menyapu daun jatuh di halaman rumah mereka. Desa kami dianggap seperti kawasan resor, dan kami diperlakukan layaknya karyawan.

Suka memprotes kebiasaan warga asli yang masih bisa ditoleransi

Saya yakin bakal dituduh berlebihan atau baper atas sikap warga kota ini. Namun, nyatanya, keresahan ini ternyata bukan cuma milik saya. Agus, salah seorang teman yang menjadi pengurus RT di desa sebelah, juga sering dibuat sakit kepala oleh kelakuan orang-orang kota ini.

Agus bercerita, betapa pusingnya dia menghadapi komplain mereka. Kata Agus, orang-orang kota ini seolah memaksakan standard ketenangan ala apartemen ke dalam ekosistem desa. 

“Kayak misalnya saja pernah ada pendatang yang protes panjang lebar ke saya hanya karena tetangga nyetel musik terlalu kencang. Ada juga yang mengeluh karena anak-anak kampung berisik saat main di sore hari,” kisah Agus, Senin (23/3/2026) lalu. “Katanya mereka sedang meeting.”

Jujur saja, sebagai orang yang lama hidup di desa, terkadang saya juga jengkel kalau pagi-pagi tukang mebel sebelah rumah sudah nyetel musik dangdut keras-keras buat menemani mereka kerja. Namun, lama-lama saya sadar dan memberi maklum. Nyetel musik keras-keras, barangkali semacam “ASMR” bagi mereka. Sama seperti mahasiswa yang nugas sambil mendengarkan musik di kafe.

Iklan

Kalau kata Agus, orang-orang kota ini lupa pada pepatah….

Baca halaman selanjutnya…

Kehadiran orang kota yang sok slow living bikin pemuda desa “terusir” dari kampungnya sendiri.

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 10 April 2026 oleh

Tags: daerah untuk slow livingDesadesa untuk slow livinggentrifikasipilihan redaksislow livingslow living di desawarga desawonogiri
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Pengamen di Jalan Malioboro Jogja kayak orang malak MOJOK.CO
Catatan

Saya Jauh Lebih Rispek ke Pengamen Lampu Merah di Jogja daripada Pengamen Malioboro karena Dua Alasan

6 Agustus 2026
Tangan-tanga pembuat apem ya qowiyyu: alasan kue tradisional khas Jatinom, Klaten, tak lekang waktu MOJOK.CO
Eksplor

Tangan-tangan Pembuat Apem Ya Qowiyyu: Alasan Kue Tradisional Jatinom Klaten Tak Lekang Waktu

4 Agustus 2026
Cara Beli Rumah di Desa Tanpa Dihantui KPR Puluhan Tahun MOJOK.CO
Urban

Punya Rumah di Desa Itu Perkara Mudah bagi Pasangan Muda, Yang Susah adalah Membeli Privasi dan Rasa Nyamannya

4 Agustus 2026
Ilustrasi perantau dari desa.MOJOK.CO
Sehari-hari

Tangis Sunyi Para Perantau: Uang Habis Untuk Hidupi Keluarga, tapi Dicap Durhaka karena Jarang Pulang dan “Tak Hadir” di Orang Tua

3 Agustus 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Lahir di lingkungan NU tapi justru menemukan kedamaian di Muhammadiyah. MOJOK.CO

Tumbuh di Desa dengan Tradisi Keagamaan yang Kental, Saya Justru Menemukan Kedamaian di Muhammadiyah dengan Rasionalitasnya

3 Agustus 2026
Daerah Istimewa Yogyakarta godok aturan pelarangan perdagangan HPR. MOJOK.CO

Yogyakarta bakal Susul Korea Selatan, Larang Perdagangan Daging Anjing demi Cegah Penyakit Menular

4 Agustus 2026
Kemiskinan DIY menurun. MOJOK.CO

Jumlah Orang Miskin di Yogyakarta Berkurang, Penurunannya Jadi yang Tertinggi di Jawa pada Maret 2026

6 Agustus 2026
Polemik IKAPI DIY dan toko buku Jogja perihal harga murah MOJOK.CO

Narasi “Harga Murah” Pameran Buku IKAPI DIY Singgung Toko Buku Jogja, Kalimat yang Tidak Seharusnya Keluar

5 Agustus 2026
KAFEIN Gelar Workshop Kritik Film di DIY, Sasar Pelajar hingga Komunitas MOJOK.CO

KAFEIN Gelar Workshop Kritik Film di DIY, Sasar Pelajar hingga Komunitas

3 Agustus 2026
Derita lansia pakai cashless seperti QRIS. MOJOK.CO

Derita Lansia Tak Bisa Beli Roti Hanya karena QRIS yang Menghantui

4 Agustus 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.