Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Catatan

Album “Pamitan” Megadeth Jadi Eulogi Manis dan Tetap Agresif, Meskipun Agak Cringe

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
30 Januari 2026
A A
Cara Pamit Megadeth Agak Cringe, Tapi Jadi Eulogi Manis Buat Menutup Perjalanan Empat Dekade di Skena Thrash Metal.MOJOK.CO

Ilustras - Cara Pamit Megadeth Agak Cringe, Tapi Jadi Eulogi Manis Buat Menutup Perjalanan Empat Dekade di Skena Thrash Metal (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Masih terekam jelas di ingatan bagaimana riff pembuka “Holy Wars… The Punishment Due” dari Megadeth menghajar gendang telinga saya belasan tahun lalu. Distorsi tajam dan tempo yang agresif, saat itu, menjadi bahan bakar bagi kemarahan masa remaja yang sedang meledak-ledaknya.

“Apa-apaan ini?’ gumam saya dalam hati ketika pertama mendengarkannya, kira-kira saat saya SMP, melalui sebuah kaset–yang sekarang saya yakin bootleg.

Setelah kuping saya dijejali musik syahdu hard rock, atau mentok Metallica era Black Album, riff cepat dan bertenaga itu jujur bikin saya kaget. Meski saya malas mengakuinya, Megadeth jadi pintu masuk saya ke dalam subgenre metal yang lebih keras dan gelap.

Rasanya baru kemarin saya mendengarkan “Holy Wars”. Januari 2026, awal tahun ini, mereka tiba-tiba bikin pengumuman yang saya sendiri berharap itu cuma gimmick marketing. Ya, Megadeth, salah satu pilar “The Big Four” yang membentuk wajah musik thrash metal dunia, resmi pamit. 

Dave Mustaine, pria yang selama empat dekade memelihara dendam dan kemarahan sebagai bahan bakar kreativitasnya, akhirnya undur diri dengan mempersembahkan album ke-17 dengan tajuk sama (self-titled), Megadeth (2026).

Bagi saya, dan mungkin jutaan Droogies (sebutan fans Megadeth) lainnya, ini bukan sekadar rilisan album baru. Ini adalah sebuah eulogi, “upacara pemakaman” bagi era di mana kecepatan jari dan distorsi gitar adalah mata uang paling berharga. Namun, pertanyaannya kemudian: apakah sang jenderal pergi dengan dentuman meriam, atau sekadar rengekan pelan?

Dave Mustaine melawan takdir dengan penyakit aneh

Keputusan untuk membubarkan Megadeth bukanlah strategi marketing murahan ala band-band rock tua yang hobi bikin “Farewell Tour”, tapi lima tahun kemudian reuni lagi demi cuan. Kali ini, situasinya memang sangat genting dan mendesak.

Di usia 64 tahun, Dave Mustaine, sang frontman, sedang bertarung melawan tubuhnya sendiri. Kita tahu dia adalah penyintas kanker tenggorokan pada 2019, dan pernah mengalami kelumpuhan saraf tangan (radial neuropathy) di awal 2000-an. Tapi kali ini, musuhnya bernama Dupuytren’s contracture.

Media Inggris The Guardian menyebutnya sebagai “penyakit Viking” (viking disease), sebuah kondisi penebalan jaringan di bawah kulit telapak tangan yang perlahan-lahan menarik jari-jari menekuk kaku ke arah telapak. 

Bayangkan situasinya: seorang dewa gitar, yang membangun kariernya di atas kecepatan jari, kini dipaksa berhenti karena jarinya perlahan mengeras, seperti batu. Pitchfork, dengan agak sadis (dan saya tak senang membacanya), menyebut bahwa album ini sebenarnya lahir bukan semata karena pilihan atau passion bermusik, tapi karena “keharusan” (necessity) sebelum jari-jari Dave benar-benar tidak bisa lagi menari di atas fretboard.

Alhasil, ketika saya membuka isi album di Apple Music, kemudian menekan tombol play dan riff lagu pembuka “Tipping Point” mengeram, ada perasaan campur aduk antara kagum dan ngilu.

Harus diakui, musiknya agresif tapi tetap easy-listening

Secara musikalitas, mari kita jujur: Megadeth tidak terdengar seperti sekumpulan kakek-kakek yang sudah uzur.

Kolumnis Associated Press, Dennis Waszak, bahkan memberikan nilai bintang 4/5 untuk album ini. Ia menyebutnya sebagai “perpisahan yang ganas, dan bukti bahwa mereka pergi di puncak karier.”

Saya tidak bisa untuk tidak sepakat dengan pernyataan Dennis.

Iklan

Baru di awal saja, lagu “Tipping Point” langsung menghajar telinga saya dengan riff renyah dan solo gitar yang meski tak terlalu agresif tapi terdengar penuh tenaga. Ditambah, ada kepuasan tersendiri mendengar Dave, dengan suaranya parau, melantunkan lirik melo: “Today, I may bleed, but tonight you will die.”

Itu adalah Dave “klasik” yang saya kenal, yang saya tak jumpai dalam rekaman-rekaman album studio sejak Endgame (2009), barangkali. Memang, tak sedikit yang memuji Dystopia (2016) sebagai album yang “cukup rapi”, meski tak sebertenaga album terbaru ini.

Namun, ada satu hal yang terasa berbeda. Absennya Kiko Loureiro (gitaris sebelumnya), digantikan oleh Teemu Mantysaari, virtuoso asal Finlandia. Ini adalah penampilan pertama dan satu-satunya Teemu di rekaman studio Megadeth. 

Majalah Kerrang! dalam salah satu ulasannya minggu lalu, memuji harmonisasi gitar Dave dan Teemu yang membuat lagu-lagu seperti “Made To Kill” dan “I Am War” terdengar hidup.

Namun, sebagai fans yang “terlalu nyaman” oleh chemistry era Rust in Peace-nya Marty Friedman, saya merasakan sesuatu yang hilang. Saya harus sedikit sepakat dengan ulasan Eli Enis di Pitchfork yang sebetulnya agak nyinyir. Ia menyebut Teemu sebagai pemain yang jago, tapi membuat rekaman terasa hambar. 

Sebagai penikmat album-album awal Megadeth, terutama sebelum 2000-an, saya merasa produksi album baru ini “terlalu bersih”. Kurang kasar, sebagaimana musik thrash metal. Saya yang berharap mendengar Megadeth versi 90-an kudu sedikit menahan kecewa, meski tetap mengakui ini album yang presisi.

Meski lirik album terbaru Megadeth agak cringe juga

Nah, bagian ini yang tak sabar untuk saya bahas. Kita harus sepakat, bukan Dave Mustaine namanya kalau tidak menyisipkan lirik yang membuat kita mengernyitkan dahi. 

Di balik kejeniusan aransemen musiknya, Dave seringkali terjebak dalam penulisan lirik yang terasa seperti curhatan ABG yang baru melek politik atau bapak-bapak di grup WhatsApp yang gemar teori konspirasi.

Lagu “Let There Be Shred” adalah contoh paling nyata. Lirik lagu ini menceritakan tentang proses bermain gitar dengan teknik shredding, secara sangat harafiah. Dave Mustaine menulis bait-bait yang mendeskripsikan jari-jari yang terbakar, senar yang membara, dan kecepatan tangan yang seolah-olah menjadi kekuatan supernatural. 

Bagi banyak pendengar, ini terasa seperti lirik yang ditulis oleh remaja yang baru belajar gitar, bukan oleh seorang legenda metal berusia 60-an tahun. The Guardian menyebut liriknya preposterous alias konyol. Pitchfork bahkan lebih kejam, menyebut lirik Dave di album ini tak melampaui level anak kelas 3 SMP.

Sepanjang kariernya, Megadeth dikenal dengan lirik yang cerdas mengenai politik, peperangan, dan konspirasi. Seperti dalam “Holy Wars” atau “Symphony of Destruction”. Ketika mereka merilis “Let There Be Shred” yang isinya hanya memuja-muja kemampuan teknis mereka sendiri, kritikus merasa Dave Mustaine kehilangan kedalaman intelektualnya.

Ada juga lagu “Hey, God?!” di mana Dave “curhat” kepada Tuhan tentang ketidakhadirannya akhir-akhir ini karena “banyak pikiran”. Pitchfork menyebutnya agak cringe; saya sepakat soal ini.

Namun, kudu diakui juga, sisi norak yang kadang bercampur dengan keseriusan ini yang membuat Megadeth selalu menarik. Dave tidak pernah berusaha menjadi intelektual seperti band prog-metal. Dia senantiasa apa adanya, representasi dari kemarahan yang kadang konyol, tapi selalu jujur.

Rasanya malah Megadeth seperti nggak bisa move on dari mantan (Metallica)

Bagian yang paling emosional bagi saya–dan paling memecah belah opini pendengar–adalah lagu ke-11, sebuah bonus track, yakni versi cover dari “Ride The Lightning”.

Bagi kamu yang tidak mengikuti drama musik metal, biar saya kasih tahu: ini adalah lagu Metallica, mantan band-nya Dave. Lagu ini turut ditulis Dave Mustaine sebelum dia dipecat secara menyakitkan pada tahun 1983 karena masalah alkohol dan narkoba, lalu disuruh pulang naik bus lintas negara bagian selama empat hari. Selama lebih dari 40 tahun, lagu ini adalah simbol dari apa yang “dirampok” dari Dave.

Mendengar Megadeth membawakan lagu ini di tahun 2026 rasanya surealis. Dave mengklaim dia merekamnya untuk “memberi penghormatan pada awal kariernya”. Versi ini lebih cepat, lebih agresif, dan vokal Dave terdengar lebih gahar dibanding James Hetfield.

Respon media sangat terbelah. Pitchfork, dengan sinismenya, menganggap ini bukti bahwa Dave tidak pernah move on dari mantan. Mereka menulis bahwa ini adalah “troll yang menyedihkan” sekaligus mengonfirmasi bahwa jauh di lubuk hatinya, Dave sebenarnya “hanya ingin bermain di Metallica”. 

The Guardian juga mempertanyakan, untuk apa merayakan warisan band sendiri dengan mengungkit pemecatan dari band lain?.

Namun, kalau saya pribadi melihatnya secara berbeda. Jujur saja, saya malah sependapat dengan Kerrang! yang menyebut ini sebagai “upaya mengambil alih miliknya”. Dave tidak sedang mencari masalah; dia sedang mengambil kembali “anaknya” yang hilang. 

Di ujung usianya, kata Kerrang!, dia ingin menutup lembaran dengan berkata: “Ini laguku juga. Dan ini caraku memainkannya sebelum aku mati.” Bagi saya, ini adalah closure yang puitis. Sebuah cara elegan untuk berdamai dengan bayangan yang telah menghantuinya selama setengah abad.

Dave menyapa jemaahnya, barangkali buat yang terakhir

Momen yang benar-benar membuat dada saya sesak ada di lagu penutup orisinal, “The Last Note”. Ini adalah lagu berdurasi 5 menit lebih, di mana tempo melambat dan Dave berbicara langsung kepada kita, para jemaahnya: “I came, I ruled, now I disappear.” 

Kebasnya kerasa banget!

Lirik lagu ini bergulat dengan makna meninggalkan sesuatu yang telah memberinya segalanya, tapi juga merenggut banyak hal darinya. Dave menyadari bahwa tubuhnya akan menghilang, tapi the last note, “nada terakhir” ini, tidak akan pernah mati.

Lantas, apakah album ini sebagus Rust in Peace atau minimal Countdown to Extinction? Jujur saja, tidak. Bahkan, jauh. Menurut keyakinan saya, album ini masih jauh buat menyamai level kreativitas mereka di era 90-an. Tidak ada inovasi revolusioner di sini.

Tapi bagi saya, tetap ada “hikmah” yang bisa diambil. Megadeth (2026) tetap menjadi album yang patut dirayakan. Di tengah penyakit yang menggerogoti jarinya, Dave Mustaine memilih untuk keluar dengan kepala tegak. Seperti yang ditulis Associated Press, “mereka tidak menjadi band tua yang memalukan; mereka tetap berusaha stay true pada akar agresif mereka.”

Menutup ulasan ini, saya teringat kembali pada masa SMP dan SMA saya. Megadeth mengajarkan saya bahwa kemarahan bisa diubah menjadi seni yang indah. Mengutip satu buku jelek yang saya baca (dan saya menyesalinya), Seni Untuk Bersikap Bodo Amat, menjadi “orang buangan”, seperti Dave yang dibuang Metallica, bisa menjadi bahan bakar untuk membangun kerajaanmu sendiri.

Album ini mungkin memiliki cacat: lirik yang kadang kekanak-kanakan, produksi yang terlalu “bersih”, kurang thrash, dan nostalgia yang canggung. Namun, sebagai salam perpisahan, ia berhasil menjalankan tugasnya. Ia mengingatkan kita kenapa Dave Mustaine adalah salah satu tokoh paling penting dalam sejarah musik keras.

Terima kasih, Dave. Untuk setiap riff yang mustahil dimainkan, setiap teori konspirasi yang membingungkan, dan setiap kemarahan yang kau salurkan menjadi distorsi. Selamat purna tugas.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Mendengarkan Kembali Album PAS 2.0 setelah Dua Dekade: Lagunya Buat Milenial, tapi Kini Makin Relevan bagi Gen Z atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 30 Januari 2026 oleh

Tags: album baru megadethmegadethMetalmetallicapilihan redaksirockthrash metalulasan musik
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Ibu yang sudah menua sering diabaikan anak
Catatan

Orang Tua yang Menua adalah Ketakutan Terbesar Anak, meski Kita Menolak Menyadarinya

13 Februari 2026
Hari Valentine, “Valentine Budaya Kita”: Mengapa Perayaan Hari Kasih Sayang Cuma Dimaknai dengan Berhubungan Seks?.MOJOK.CO
Lipsus

“Valentine Bukan Budaya Kita”: Mengapa Perayaan Hari Kasih Sayang Cuma Dimaknai Sedangkal Berhubungan Seks?

13 Februari 2026
Dating apps jadi pelarian menemukan pasangan untuk memulai hubungan baru
Lipsus

Mencari Kasih Sayang Semu di Dating Apps, Pelarian dari Kesepian dan Rasa Minder usai Sering Dikecewakan di Dunia Nyata

13 Februari 2026
Jadi LO sertifikasi kerja rawan bujukan wanita simpanan
Ragam

Jadi LO Sertifikasi Kerja di Jogja, Kena Modus “Eksplor Jogja” Berujung Bujukan Jadi Wanita Simpanan

12 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

ulus Kuliah Bingung Cari Kerjaan, Temukan “Jalan Terang” saat Jadi Pelatih Sepak Bola Putri untuk Hydroplus Soccer League  

Lulus Kuliah Bingung Cari Kerjaan, Temukan “Jalan Terang” saat Jadi Pelatih Sepak Bola Putri untuk Hydroplus Soccer League  

12 Februari 2026
slow living, jawa tengah.MOJOK.CO

Omong Kosong Slow Living di Jawa Tengah: Gaji Kecil, Tanggungan Besar, Ditambah Tuntutan “Rukun” yang Bikin Boros

11 Februari 2026
Rawa Belong Jakarta Barat Bikin Orang Kabupaten seperti Saya Nggak Takut Merantau ke Ibu Kota Mojok.co

Rawa Belong Jakarta Barat Bikin Orang Kabupaten seperti Saya Nggak Takut Merantau di Ibu Kota

14 Februari 2026
Toilet umum di Jakarta saksi bejat laki-laki otak mesum MOJOK.CO

Toilet Umum di Jakarta Jadi Tempat Cowok Tolol Numpang Masturbasi, Cuma karena Nonton Girl Band Idola dan Alasan Capek Kerja

10 Februari 2026
Festival Dandangan Kudus tak sekadar denyut perekonomian. MOJOK.CO

Menemukan Hal Baru di Festival Dandangan Kudus 2026 setelah Ratusan Tahun, Tak Sekadar Kulineran dan Perayaan Sambut Ramadan

11 Februari 2026
Gabung LPM/Persma demi jadi wartawan/jurnalis karena tampak keren. Kini menyesal setelah kerja di media online daerah dengan gaji rendah MOJOK.CO

Sesal Kerja Jadi Wartawan, Label Profesi Keren tapi Realitasnya Jadi Gembel dan Simbol Anak Gagal di Keluarga

10 Februari 2026

Video Terbaru

Kiai Faizi: Cara Hidup Merasa Cukup di Dunia yang Terlalu Buru-buru

Kiai Faizi: Cara Hidup Merasa Cukup di Dunia yang Terlalu Buru-buru

10 Februari 2026
Hutan Jawa dan Dunia yang Pernah Bertuah

Hutan Jawa dan Dunia yang Pernah Bertuah

7 Februari 2026
Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

4 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.