Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Catatan

User Kereta Eksekutif Jengkel dengan Tingkah Random User Kereta Ekonomi, Turun di Stasiun Langsung Dibikin “Prengat-prengut”

Aisyah Amira Wakang oleh Aisyah Amira Wakang
14 April 2026
A A
Tabiat penumpang KA Sri Tanjung yang bikin jengkel KA Sancaka. MOJOK.CO

ilustrasi - terbiasa pakai KA Sancaka, turun dari KA Sri Tanjung langsung prengat-prengut. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Satu-satunya alasan saya naik Kereta Api (KA) ekonomi Sri Tanjung dibandingkan KA eksekutif seperti Sancaka adalah karena murah, mengingat banyaknya undangan pernikahan dari teman-teman yang mengharuskan saya pulang dari Jogja ke Surabaya sehingga saya harus berhemat.

Biasanya, paling tidak, saya akan pulang satu bulan sekali menggunakan KA Sancaka. Meski fasilitasnya tak senyaman kereta eksekutif, kereta api rute Jogja–Banyuwangi ini tak pernah sepi penumpang. Bahkan, tabiat penumpangnya pun macam-macam. Dalam perjalanan pulang-pergi selang sehari, saya sudah mengalami banyak kejadian.

Kebebalan penumpang kereta ekonomi 1

Kejadian seorang penumpang kereta ekonomi Sri Tanjung yang pindah tempat duduk baru saja saya alami kemarin Sabtu (12/4/2026). Untungnya bukan saya, tapi bangku di sebelah saya. Tepatnya di kursi tegak yang berhadap-hadapan (3-3 orang).

Awalnya, hanya ada satu orang penumpang laki-laki yang duduk di dekat jendela sebelum saya naik dari Stasiun Surabaya Gubeng. Lambat laun, penumpang di kursi itu bertambah jadi 6 orang saat kereta ekonomi Sri Tanjung tiba di Stasiun Jombang. Artinya, kursi dengan nomor 10A-B-C hingga 11A-B-C itu seharusnya sudah penuh.

Beberapa lama kemudian, kereta ekonomi Sri Tanjung tiba di Stasiun Nganjuk. Lalu, ada seorang perempuan yang naik dan membawa tas carrier menuju kursi tersebut. Ia mengaku duduk di kursi 10A. Namun, ada seorang ibu-ibu yang membawa balita dan tak mau mengalah.

“Permisi Bu, ibunya kursi nomor berapa ya?” tanya si perempuan.

“Situ gerbong berapa?” tanyanya dengan nada jutek.

“Gerbong tiga, saya seharusnya duduk di 10A dekat jendela,” jawab perempuan tadi.

Beberapa penumpang kereta ekonomi Sri Tanjung dengan kursi 10 B, 10 C, hingga 11 C pun ikut menanyai, sampai si perempuan tadi menunjukkan bukti tiketnya yang ada di handphone. Seorang petugas perempuan KAI yang mengantar makanan pun turut menengahi.

Ingin duduk di kursi dekat jendela

Tak lama kemudian, ibu itu pindah bersama anaknya. Tanpa meminta maaf sedikit pun, mereka duduk di kursi belakangnya (nomor 9). Begitu pula laki-laki paruh baya yang sedari tadi duduk di hadapannya. 

Di stasiun berikutnya, seorang penumpang lain yang baru naik menegur salah satunya karena menempati kursinya. Akhirnya, si laki-laki paruh baya pindah lagi ke salah satu kursi deretan nomor 10 ABC. Tempat duduknya tadi. 

Sampai akhirnya, ketiganya turun di Stasiun Madiun. Saat itulah, seorang penumpang perempuan lain yang duduk di kursi 11A mengajak ngobrol si perempuan pembawa tas carrier.

“Sabar ya Mbak, ibu sama bapak tadi kayaknya salah beli tiket jadi pisah gitu tempat duduknya, membelakangi,” ucapnya.

“Iya Bu, makanya saya bingung,” jawab si perempuan.

Iklan

Kejadian serupa juga pernah saya alami. Misalnya, saya pernah menjumpai penumpang yang menyuruh saya pindah karena ia ingin duduk di kursi dekat jendela. Sudah nadanya tidak sopan, seenaknya pula. 

Saya sendiri tak bisa menjamin tidak akan bertemu penumpang bebal seperti ini di kereta eksekutif Sancaka. Tapi sejauh yang saya amati, saya tak pernah menjumpai penumpang yang minta ganti tempat duduk. 

Ada pun, kita tak perlu debat bersungut-sungut, sebab informasi nomor kursi dan posisi mana yang dekat jendela terpampang jelas di jendela kereta eksekutif Sancaka. Selain itu, kursi Sancaka kelas Eksekutif dan Ekonomi New Generation atau premium bisa diputar. Tak perlu pindah-pindah seperti penumpang kereta ekonomi Sri Tanjung nomor 10 tadi.

Keegoisan penumpang kereta ekonomi

Tak hanya kursi, penumpang kereta ekonomi Sri Tanjung juga kerap egois memakan tempat rak bagasi kabin yang berada di atas kursi penumpang. Selain koper besar, biasanya mereka juga membawa tas tenteng maupun kardus Indomie. 

Tentu saja, isinya kadang berbeda. Dan itu semua biasanya diletakkan di atas kursi penumpang lain. Sampai-sampai, penumpang yang seharusnya mendapatkan haknya tak kebagian tempat untuk meletakkan barang miliknya, sehingga biasanya terpaksa ia pangku atau diletakkan di bawah kursi. 

Pada hari yang sama saat saya naik kereta ekonomi Sri Tanjung, hujan deras mengguyur seluruh gerbong kereta. Sampai-sampai, airnya merembes masuk dan membasahi lantai. Beberapa penumpang pun mulai panik, terutama yang meletakkan barang-barangnya di bawah kursi.

Untungnya, saya masih bisa memangku tas berisi laptop di atas kursi, walaupun paha saya terasa lelah karena harus bertahan selama 2 jam. Sementara, ada penumpang yang lebih parah. Seorang bapak-bapak yang baru naik stasiun membawa dua barang besar, entah berisi apa karena dibalut kardus. 

Saat melihat rak bagasi kabin yang sudah penuh di sekelilingnya, bapak itu hanya menghela nafas dan terpaksa meletakkan barangnya di kolong kursi. Karena hujan yang merembes tadi, kardus-kardusnya pun jadi basah tanpa bisa diselamatkan.

“Loh, lantainnya basah!” ucap salah satu penumpang yang mulai panik.

“Barangmu, Pak. Awas!” jawab penumpang lain mengingatkan.

Jangan coba-coba, jika kesabaranmu setipis tisu

Tak pelak, suasana kereta ekonomi Sri Tanjung semakin ramai. Lebih ramai dari yang sebelumnya, saat ibu-ibu mengajak bercengkerama seorang mahasiswa lalu membanggakan anaknya yang sudah lulus, seorang remaja yang melakukan video call atau berselancar di media sosial dengan suara kencang, dan anak-anak yang mulai menangis karena rewel. 

Meski terkesan menyebalkan, suasana hangat itulah yang sebenarnya jarang saya jumpai di kereta eksekutif Sancaka. Namun, jika Anda tidak terbiasa atau punya kepribadian introvert alias capek di keramaian atau saat mengobrol dengan orang baru, saya sarankan Anda naik kereta eksekutif saja. Atau kalau terpaksa, cobalah bersabar dan empati dengan penumpang kereta ekonomi Sri Tanjung.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchammad Aly Reza

BACA JUGA: Kehangatan dan Pelajaran Hidup di Kereta Api (KA) Ekonomi yang Sulit Ditemukan di KA Eksekutif atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 21 April 2026 oleh

Tags: Jogjakereta ekonomikereta eksekutifLempuyangansri tanjungSurabaya
Aisyah Amira Wakang

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Artikel Terkait

Gaji 2 juta hasil kerja di Jogja habis buat ngasih makan naga (judi slot) karena ilusi jackpot MOJOK.CO
Urban

Gaji 2 Juta Jogja Selalu Lenyap buat Ngasih Makan Naga: Rela Kelaparan dan Susahkan Ortu-Teman demi Jackpot, Tapi Tak Mau Sadar

14 Juni 2026
Evakuasi anjing terbuang dari tangan para jagal di Jogja MOJOK.CO
Suara Bawah Tanah

Evakuasi Anjing Terbuang dari Operasi Senyap Para Jagal di Jogja, Kebal Intimidasi dan Caci Maki

10 Juni 2026
Sanksi untuk Jagal Anjing di Daerah Istimewa Yogyakarta yang Tertunda Realisasinya. MOJOK.CO
Suara Bawah Tanah

Jalan Terjal Menghentikan Operasi Jagal Anjing karena Dianggap Kurang Penting

9 Juni 2026
Fitur "Pilih Kursi" di KAI Access terasa percuma karena penumpang di kereta api ekonomi tidak tahu diri MOJOK.CO
Sehari-hari

Fitur “Pilih Kursi” KAI Access Terasa Percuma, Mau Duduk Nyaman di Kursi Incaran tapi Malah Makin Kesal

8 Juni 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Jawa Tengah dan Bappenas bersinergi dalam percepatan pembangunan infrastruktur di Pantura dan Pansela MOJOK.CO

Pembangunan Infrastruktur Pantura dan Pansela Jadi Prioritas karena Jateng Punya Banyak Potensi Ekonomi

9 Juni 2026
Uang recehan di dasbor motor Honda Genio ibu jadi berkah dan penyelamat bagi anak-anaknya dan orang-orang di lampu merah MOJOK.CO

Kebiasaan Ibu Taruh Uang Receh di Dasbor Motor: Jadi Berkah dan Penyelamat bagi Anaknya serta Orang-orang di Lampu Merah

9 Juni 2026
Santri asal Sumatra masuk Jurusan Arsitektur di Universiti Malaya, Malaysia. MOJOK.CO

Kisah Aisyah, Gadis Sumatra yang Nekat Merantau untuk Raih Gelar Sarjana “Jurusan Seni” di Kampus Top Pertama Malaysia

11 Juni 2026
Edi Dimyati. MOJOK.CO

Kisah Pustakawan Menyulap Rumahnya di Pinggir Sungai Jakarta Timur agar Bisa Nongkrong Kalcer sambil Baca Buku

8 Juni 2026
Suzuki Satria Pro: Motor Aneh yang Meleburkan Cinta dan Benci MOJOK.CO

Suzuki Satria Pro: Motor Aneh yang Meleburkan Batas antara Cinta dan Benci

11 Juni 2026
Gaji 2 juta hasil kerja di Jogja habis buat ngasih makan naga (judi slot) karena ilusi jackpot MOJOK.CO

Gaji 2 Juta Jogja Selalu Lenyap buat Ngasih Makan Naga: Rela Kelaparan dan Susahkan Ortu-Teman demi Jackpot, Tapi Tak Mau Sadar

14 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.