Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Catatan

Punya Rumah dengan Halaman Luas di Desa Kerap Disalahpahami, Dinikmati Tetangga tapi Jadi Sumber Konflik Keluarga

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
25 Mei 2026
A A
Punya rumah dengan halaman luas di desa jadi sumber konflik tetangga dan keluarga MOJOK.CO

Ilustrasi - Punya rumah dengan halaman luas di desa jadi sumber konflik tetangga dan keluarga. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Halaman rumah saya di desa tidak cukup luas. Itu lah kenapa selama ini saya kerap membayangkan: Sepertinya enak jika punya halaman luas sebagai halaman rumah teman atau saudara di desa. 

Ingatan saya terlempar ke masa kecil. Dulu, jika ingin main bola, selain di sawah bekas panen atau lapangan, kami menggunakan halaman rumah salah satu teman sebagai alternatif.

Hanya saja, seringkali jika mood ibu teman saya sedang tidak baik, maka ia akan marah betul dan mengusir kami. Bahkan, di titik tertentu, bola plastik kami pernah disobek dengan pisau. 

Saya pernah kesal: Pelit amat, cuma menggunakan  untuk main bola saja dimarahi. Namun, kini, setelah mendengar pengakuan beberapa orang desa yang punya rumah dengan halaman luas, saya akhirnya tahu ternyata halaman luas kerap kali disalahpahami oleh orang lain. Dan itu amat merepotkan sekali. 

Kasus saya kecil di atas adalah salah satu contoh: Bagaimana kami—anak-anak desa—menyalahpahami halaman luas rumah orang sebagai ruang terbuka yang bisa diakses sesuka-suka. Begitu lah yang terjadi di desa, terutama berdasarkan keluhan dari tiga orang (laki-laki usia 24 dan 30, serta ibu-ibu umur 40 tahun) asal Rembang, Jawa Tengah. 

Menyapu halaman: perkara biasa saja tapi bisa jadi runyam

Menyapu halaman sebenarnya perkara biasa saja. Bahwa akan lebih capek karena terlalu luas, ya itu bagian dari konsekuensi punya rumah dengan halaman luas. Akan tetapi, di desa, persoalan ini bisa menjadi runyam karena sering kali harus berurusan dengan tetangga tidak tahu diri. 

Begini: Saat tetangga melepas ayam peliharaannya, ayam-ayam itu kemudian berseliweran di halaman rumah orang lain. Masalahnya, ayam-ayam itu meninggalkan tahi-tahi yang berceceran. 

Kondisi tersebut tentu sangat menyebalkan. Sebab, itu artinya memberi tambahan pekerjaan bagi si pemilik rumah saat sedang membersihkannya. 

Masalahnya lagi, saat si pemilik rumah protes ke tetangga pemilik ayam, jawabannya alih-alih melegakan dan penuh introspeksi tapi justru memancing emosi. 

“Namanya juga ayam, kalau nelek (berak) ya sembarangan. Wong nggak punya akal kayak manusia.” 

Jawaban macam apa itu. Iya, memang ayam tidak punya akal. Tapi kan pemiliknya punya. Maka jika tahi-tahi ayam itu sudah mengganggu kenyamanan orang lain, pemiliknya harusnya berpikir untuk mengandangi atau melokalisir gerak si ayam agar hanya di halama rumahnya saja, agar tidak nahi di halaman orang lain. 

Rumah dengan halaman luas di desa: tempat numpang apa saja

Rumah dengan halaman luas di desa juga kerap disalahpahami sebagai tempat terbuka yang bisa diakses oleh siapa saja. Akhirnya halaman tersebut kerap difungsikan sebagai tempat nitip. 

Tetangga bisa saja titip menjemur hasil panen/kebun (jagung, ketela, padi, dan lain-lain) di halaman rumah tetangga yang memang luas. 

Selain itu, luas kerap diartikan sebagai tempat parkir. Diartikan lagi sebagai tempat parkir gratis atas nama nilai sosial. 

Iklan

Yang paling merepotkan adalah ketika tetangga punya hajatan. Karena tidak punya halaman luas, akhirnya meminjam halaman luas rumah orang lain untuk menggelar hajatan. Hal itu membuat si pemilik rumah dengan halaman luas di desa akhirnya tidak punya privasi. 

Lebih-lebih, hajatan di desa seringkali berupa pesta besar lebih dari sehari. Selain tamu yang datang silih berganti, gangguan privasi muncul dari sound system yang memutar musik dangdut kencang-kencang sampai membuat jendela rumah bergetar dan memekakkan telinga. 

Sialnya, atas nama kehidupan bertetangga ala desa, si pemilik rumah yang halamannya dipinjam tidak akan bisa terus terang protes atau menolak dipinjam. Hanya bisa ngedumel sendiri dan memendam dalam hati. 

Urusan tanam-menanam di halaman: susah menikmati hasilnya

3 responden Mojok asal Rembang ini bercerita, mereka sebenarnya punya kesadaran untuk memfungsikan halaman rumah yang luas itu sebagai lahan produktif: untuk urusan tanam-menanam. 

Ya minimal bisa lah untuk menanam cabai-cabaian atau jenis sayuran lain yang bisa diolah di dapur. Bahkan juga untuk sekadar menanam bunga-bunga atau tanaman hias guna menambah estetika halaman rumah. 

Akan tetapi, bagi 3 responden Mojok, jangan harap bisa tenang. Pertama, tanaman-tanaman tersebut berpotensi dirusak oleh ayam-ayam tetangga. Sementara jika marah, respons tetangga hanya akan mentok pada argumen “Namanya juga ayam.”

Kedua, jika toh akhirnya ada tanaman—terutama sayuran—yang tumbuh, pasti ada saja tetangga yang salah paham: Menganggapnya sebagai sayuran gratis yang bisa diminta kapan saja. 

Bahkan ada pula yang dengan enteng “memanen” tanpa izin dengan dalih: Namanya juga hidup bertetangga. Dengan kata lain: Menganggap hidup bertetangga sama artinya dengan: Milik tetanggamu adalah milikku juga, bisa kupetik suka-suka. 

Rumah dengan halaman luas di desa: sumber konflik keluarga

Tidak hanya memancing konflik sosial dengan tetangga sebagaimana kasus-kasus di atas, rumah dengan halaman luas di desa juga bisa memicu konflik keluarga loh. 

Misalnya yang punya rumah dengan halaman luas tersebut adalah orang tua, maka anak-anaknya akan memasukkannya dalam daftar harta yang patut direbutkan. 

Sebab, melihat halaman yang masih terhampar kosong, pikiran anak-anaknya adalah bagaimana agar hamparan tanah kosong tersebut bisa jatuh di tangan mereka untuk kemudian dijadikan rumah. Yang terjadi berikutnya adalah saling sikut antarsaudara. 

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Membangun Rumah Megah demi Penuhi Standard Kesuksesan di Desa Malah Bikin Ibu Tersiksa: Terasa Sepi, Cuma “Memuaskan” Mata Tetangga atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 25 Mei 2026 oleh

Tags: halaman rumahmenanam di halaman rumahrumah desarumah di desarumah halaman luas
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Ilustrasi punya rumah megah di desa.MOJOK.CO
Catatan

Membangun Rumah Megah demi Penuhi Standard Kesuksesan di Desa Malah Bikin Ibu Tersiksa: Terasa Sepi, Cuma “Memuaskan” Mata Tetangga

21 April 2026
Pasang WiFi di rumah desa. Niat untuk kenyamanan dan efisiensi pengeluaran keluarga malah dipalak tetangga MOJOK.CO
Sehari-hari

Pasang WiFi di Rumah Desa Boncos: Password Dipalak-Dicolong Tetangga, Masih Dicap Egois kalau Mati Disuruh Gali Kubur Sendiri

14 April 2026
Bangun rumah bertingkat 2 di desa pelosok Grobogan gara-gara sinetron MOJOK.CO
Sehari-hari

Bangun Rumah Tingkat 2 di Desa demi Tiru Sinetron, Berujung Menyesal karena Ternyata Merepotkan

10 April 2026
Tinggalkan Jakarta demi punya rumah desa untuk slow living, berujung kena mental karena ulah tetangga MOJOK.CO
Urban

Orang Jakarta Nyoba Punya Rumah di Desa, Niat Cari Ketenangan Berujung Frustrasi karena Ulah Tetangga

7 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Nikah di KUA dianggap murahan. MOJOK.CO

Nikah di KUA adalah Solusi bagi Karjimut karena Gratis, tapi Keluarga Menentang Hanya karena Gengsi dan Dicap Nggak Niat

20 Mei 2026
Mahasiswa dapat beasiswa KIP Kuliah bohongi orang tua demi uang saku dobel MOJOK.CO

Dapat Beasiswa KIP Kuliah Jalur FOMO, Bohongi Ortu biar Dobel Uang Saku karena Gaya Hidup Tak Cukup Rp750 Ribu

20 Mei 2026
Pamer Harta Sudah Ketinggalan Zaman: Tren Terbaru Ibu-Ibu Gang Kampung Adalah Flexing Utang Bank Emok. MOJOK.CO

Pamer Harta Sudah Ketinggalan Zaman: Tren Terbaru Ibu-Ibu Gang Kampung Adalah Flexing Utang Bank Emok

22 Mei 2026
Cerita Mafatihatul Maghfirah: Mahasiswi Madura kuliah di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dengan jualan risol hingga lulus tanpa skripsi MOJOK.CO

Mahasiswi Madura Kuliah di Jakarta: Jualan Risol demi Biaya Kuliah, Bisa Mandiri Finansial hingga Lulus Terbaik Tanpa Skripsi

24 Mei 2026
Usia 68 Tahun Merasa Gaptek dan Tertinggal dari Anak Muda demi Gelar S2, Akhirnya Lulus dengan IPK 3,98 di UGM MOJOK.CO

Usia 68 Tahun Merasa Gaptek dan Tertinggal dari Anak Muda demi Gelar S2, Akhirnya Lulus dengan IPK 3,98 di UGM

22 Mei 2026
Job Hugging: Upaya Pegawai Merusak Perusahaan Toxic. MOJOK.CO

Bahaya Laten Pegawai Job Hugging: Kelihatannya Nurut dan Setia, padahal Menghancurkan Produktivitas di Tempat Kerja

21 Mei 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.