Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Catatan

Tinggalkan Warung Madura di Bekasi, Perantau Sumenep Pilih Kerja di Jogja Gara-gara Keseringan Nonton FTV, Sempat Kelaparan Kini Penghasilan Besar

Hammam Izzuddin oleh Hammam Izzuddin
5 Mei 2024
A A
perantau sumenep tinggalkan warung madura demi ke jogja gara-gara ftv.MOJOK.CO

Ilustrasi perantau dari Madura (Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Perantau Sumenep pilih tinggalkan warung Madura di Bekasi. Ia putuskan merantau kerja di Jogja gara-gara terpukau romantisme yang sering ia tonton di FTV. Jalani pekerjaan yang agak berbeda dari kebanyakan perantau Madura lainnya.

***

Pertemuan dengan Khoirul Rahman (28) menambah khazanah pengetahuan saya soal ketangguhan orang Madura di perantauan. Saya pernah wawancara dengan pengelola warung kelontong, penjual sate, penjual bubur kacang hijau, pemilik kedai kopi, dan beberapa profesi perantau Madura lain di Jogja.

Seperti saat mewawancarai beragam pelaku usaha di Jogja dari Pulau Garam lainnya, sosok yang akrab disapa Oman ini, menunjukkan keteguhan meski sempat gagal. Pantang pulang sebelum membawa hasil kerja di Jogja.

Setelah lulus pondok pesantren setara SMA pada 2017 silam, pikiran Oman hanya ingin segera merantau untuk bekerja. Tidak terpikirkan untuk kuliah.

Bermodalkan jaringan sesama perantau Sumenep, ia berangkat ke Bekasi untuk mengelola sebuah warung Madura. Di berbagai kota besar pulau Jawa, perantau dari Madura memang terkenal berjejaring berkat usaha toko kelontongnya yang buka 24 jam.

Oman, sapaan akrabnya, mengelola warung Madura milik seorang juragan dengan sistem bagi hasil. Namun, ternyata ia tidak terlalu cocok dengan pekerjaan yang menuntutnya harus banyak duduk di dalam ruangan sambil menanti pembeli. Tidak sampai setahun, ia sudah bosan dan memutuskan untuk kembali pulang ke Sumenep.

“Habis itu saya pulang Mas. Ya, sambil mikir mau ngapain setelah ini,” kata anak pertama dari dua bersaudara itu sambil memijat kaki saya pada Rabu (1/5/2024) lalu.

Ya, kini ia menjalani profesi sebagai tukang pijat panggilan. Namun, perjalanannya kerja di Jogja cukup panjang. Sebelum akhirnya yakin menekuni profesi yang tidak banyak dilakukan orang Madura di tanah rantau ini.

Saat orang Sumenep kepincut kerja di Jogja gara-gara keseringan nonton FTV

Di rumah, ia mengaku sempat bingung menentukan arah hidupnya setelah meninggalkan warung Madura di Bekasi. Banyak waktu yang ia habiskan di rumah. Menonton televisi. Salah satu program kesukaannya tentu program FTV di SCTV.

Program FTV memang kerap mengambil latar di Jogja. Banyak judul yang meromantisasi daerah tersebut, ada Gemulai Senja di Tanah Jogja, Terpikat Pesona Gadis Jogja, Cinta Mekar di Jogja, dan beragam judul lain yang meski tak menampilkan Jogja di judulnya tapi syuting di Kota Pelajar.

“Nah itu dia, FTV kan sering syuting di Jogja. Saya ini kok jadi kepikiran, kayaknya menarik kalau merantau kerja di Jogja. Kotanya ini seperti syahdu dan tentram,” katanya antusias.

mahasiswa uin jogja kerja di Jogja jadi tukang pijat.MOJOK.CO
Sosok Oman bersama seperangkat pendukung pijat (Hammam/Mojok.co)

Tercetus lah ide merantau ke Jogja. Pada 2018, ia pun berangkat dengan modal nekat untuk bekerja. Sampai di Jogja ia dijemput oleh seorang kenalan dan langung bekerja di sebuah kedai kopi milik sesama orang Madura.

Lagi-lagi, Oman mengaku tak betah lama bekerja. Ia punya ide lain untuk bertahan hidup yakni dengan berjualan pentol Madura. Beberapa bulan tinggal di Jogja, ia melihat sangat jarang orang berjualan makanan itu. Padahal, di kota lain, perantau dari daerahnya lazim berjualan pentol.

Iklan

Lagi-lagi, gara-gara FTV, ia menamai dagangannya secara cukup nyentrik. Namanya, “Pentol Cinta Entertainment”. Ia terbahak saat menceritakan masa lalunya, tanpa kehilangan fokus memijat badan saya.

“Nanti saya kasih lihat, ada di Facebook saya. Namanya ya kepikiran dari FTV. Logonya, pentol saya tambahin foto teman cewek saya yang cantik, saya izin ke dia dulu,” katanya terbahak.

Bisnis tanpa persiapan matang, ternyata membawanya kepada kegagalan. Dua bulan, modalnya perlahan habis untuk membeli bahan tanpa menghasilkan keuntungan.

Merasakan kelaparan dan tangis di perantauan

Akhirnya, usahanya resmi gulung tikar. Ada fase di mana ia benar-benar nyaris kehabisan uang. Harus menghemat demi bisa sekadar makan sehari sekali. Belum lagi, tanggungan untuk membayar sewa kos yang terus ditagih pemiliknya.

“Sulit, kerja di Jogja ternyata nggak seromantis FTV. Selama seminggu setelah gagal bisnis benar-benar kehabisan uang. Sehari makan sekali, itu pun mie instan. Sampai nangis itu saya di kos,” kenangnya.

Namun, solidaritas sesama perantau dari Madura ternyata kembali menyelamatkan lelaki Sumenep ini. Di saat sedang benar-benar kepepet, ada tawaran untuk bekerja di Jogja sebagai tukang masak sebuah kedai kopi. Tawaran yang tak bisa ia tolak.

Di kedai kopi itu, ia bertahan cukup lama. Bisa memenuhi kebutuhan hidup meski serbaterbatas, hingga akhirnya Oman terbesit untuk kuliah. Saat itu, alasannya sederhana, ia melihat ada temannya yang datang ke kedai kopi bersama kedua orang tua yang ke Jogja karena acara wisuda.

“Itu ya, saya langsung kepikiran, kayaknya kok menarik kalau orang tua saya bisa datang dari Sumenep ke sini untuk menghadiri wisuda saya,” kelakarnya.

Awalnya, Oman mencoba untuk daftar di UGM. Meski sempat ditertawakan temannya, ia tetap mencoba belajar dan mengikuti ujian.

Pada UTBK 2019, ia percaya diri memasukkan Jurusan Hukum dan Psikologi sebagai pilihannya. Namun, ternyata ia tak diterima di dua jurusan itu.

Temannya lantas menyarankan untuk mendaftar di UIN Sunan Kalijaga. Betul saja, ia akhirnya bisa lolos seleksi. Ia lalu menjalani kehidupan kerja sekaligus kuliah yang cukup menantang.

Baca halaman selanjutnya…

Banting setir jadi tukang pijat, pendapatannya bisa nabung nikah

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 7 Mei 2024 oleh

Tags: bekasiFTVJogjaMaduraperantau sumenepSumenepwarung madura
Hammam Izzuddin

Hammam Izzuddin

Reporter Mojok.co.

Artikel Terkait

Orang Jogja Syok Merantau ke Jakarta karena Nggak Bisa Sarapan Soto Bening yang Enak Mojok.co
Pojokan

Orang Jogja Syok Nggak Bisa Sarapan Soto Bening yang Enak di Jakarta

16 April 2026
Tukang parkir coffe shop di Jogja, parkir liar, desa.MOJOK.CO
Catatan

Tukang Parkir di Desa Lebih Amanah Ketimbang Jukir di Kota, Tak Ada Drama Getok Harga apalagi Makan Gaji Buta

14 April 2026
Gudeg, Kuliner Jogja yang Makin Tak Cocok untuk Orang Miskin (Unsplash)
Pojokan

Harga Gudeg Jogja Naik, Berpotensi Menguatkan Sisi Gelap kalau Kuliner Jogja Ini Memang Bukan Makanan Murah Lagi

9 April 2026
Jogja Bisa Ditinggalkan Wisatawan kalau Mengandalkan Jebakan Aji Mumpung MOJOK.CO
Esai

Jogja Ditinggalkan Wisatawan kalau Mengandalkan Jebakan Aji Mumpung 

8 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Derita perempuan di grup WA mahasiswa FH UI. Isinya kekerasan seksual. MOJOK.CO

Nasib Perempuan di Tongkrongan dan Grup WA yang Isinya Laki-laki Mesum: Jelek Dihina, Cantik Dilecehkan

15 April 2026
Orang Jakarta pilih bayar iPhone dengan cicilan

Tren “Aneh” Orang Jakarta: Nyicil iPhone Bukan karena Butuh, Alasannya Susah Dipahami Orang Miskin

14 April 2026
Bekerja di Jakarta vs Jogja

Meninggalkan Jogja demi Mengejar Financial Freedom di Jakarta, Berhasil Dapatkan Gaji Besar meski Harus Mengorbankan Kesehatan Mental

13 April 2026
Nasib pekerja gen Z dicap lembek oleh milenial

Gen Z Jadi Kambing Hitam Generasi Senior, Dicap Lembek dan Tak Bisa Kerja padahal Perusahaan yang “Red Flag”

16 April 2026
Pasang WiFi di rumah desa. Niat untuk kenyamanan dan efisiensi pengeluaran keluarga malah dipalak tetangga MOJOK.CO

Pasang WiFi di Rumah Desa Boncos: Password Dipalak-Dicolong Tetangga, Masih Dicap Egois kalau Mati Disuruh Gali Kubur Sendiri

14 April 2026
Arif Prasetyo, alumnus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta penerima LPDP. MOJOK.CO

Kerap Didiskriminasi Sejak Kecil karena Fisik, Buktikan Bisa Kuliah S2 di UIN Sunan Kalijaga dengan LPDP hingga Jadi Sutradara

13 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.