Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Catatan

Pengalaman Pertama ke Jakarta: Terlalu Iba Malah Berujung Ketipu Ojek Pangkalan, Bayar Tarif Dua Kali Lipat karena Buta Arah

Aisyah Amira Wakang oleh Aisyah Amira Wakang
17 April 2025
A A
Pengalaman warga Surabaya naik ojek pangkalan di Pasar Senen, Jakarta. MOJOK.CO

ilustrasi - ojek pangkalan di Pasar Senen, Jakarta. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Saya pertama kali tiba di Stasiun Pasar Senen, Jakarta pada tahun 2023 dari Stasiun Pasar Turi, Surabaya. Perjalanan saya menggunakan Kereta Api Airlangga membutuhkan waktu sekitar 12 jam. Dan saya baru tiba pukul 00.28 WIB.

Betapa lelah punggung saya karena harus duduk di kursi tegak selama berjam-jam. Kalau kata orang Jawa, sek enom tapi wes boyoken. Tapi ya sudahlah, punggung yang terasa sakit akan tergantikan dengan konser Kunto Aji di Stadion Gelora Bung Karno esok hari.

Saya memikul tas ransel dan memboyong satu tas jinjing berwarna kuning ke arah pintu keluar. Saya pikir suasana stasiun akan sedikit lengang karena sudah tengah malam, tapi malah sebaliknya. Sejumlah pedagang, ojek pangkalan, dan warga Jakarta pengguna kereta masih ramai berlalu lalang.

“Ojek, Neng? Yuk ojek yuk!” kata bapak-bapak tukang ojek pengkolan menawarkan jasanya ke para pengguna kereta api, termasuk saya.

Sebetulnya, saat itu saya sudah ingin memesan ojek lewat aplikasi online tapi karena tubuh sudah lelah dan tergiur dengan pengendara ojek pangkalan yang sudah ready, saya jadi pindah haluan. Ingin cepat-cepat istirahat di hotel.

Toh, pengemudi ojek pangkalan yang saya dapat memakai jaket hijau dengan brand aplikasi ojek online. Oleh karena itu, saya langsung saja menerima tawaran jasa ojek pangkalan tadi. Lebih-lebih, dia bilang harganya akan sama saja, baik lewat aplikasi maupun pangkalan.

Naik motor butut milik ojek di Jakarta

Awalnya saya masih ragu menggunakan jasa ojek pangkalan, tapi tubuh saya sudah benar-benar lelah dihajar perjalanan kereta api dari Stasiun Pasar Turi sampai Stasiun Pasar Senen. Saya malas memesan ojek online dan menunggu lama, jadi saya terima saja ajakan bapak tadi.

“Sama saja kok, Neng kalau lewat aplikasi. Sekalian bantu saya Neng dari tadi belum dapat pelanggan. Buat beli popok anak. Keluarga saya belum makan di rumah,” ujar mas-mas ojek pengkolan tersebut, Sabtu (17/9/2025).

Saya yang sedikit iba mendengar cerita tukang ojek tersebut, akhirnya manut-manut saja saat diboyong ke tempat parkir untuk mengambil sepeda motor yang ternyata (maaf) sudah butut. Kalau saya tidak salah, merk motornya seperti Honda Astrea yang jok motornya ceper. 

Itupun pijakan kakinya sudah mleyot, alias tidak berfungsi dengan baik. Terlebih, maaf sekali lagi, tubuh tukang ojek itu lebih besar dari motornya. Bau badannya pun ngeri-ngeri sedap dari belakang. Kalau soal bau saya tak terlalu soal, justru itu bukti nyata dari perjuangannya ya kan?

Masalahnya ada dikondisi motor tua tersebut. Tubuh saya jadi makin pegal, karena kaki saya harus menggantung lama sambil menahan tas jinjing. Belum lagi harus memikul tas di punggung yang tak kena jok motor. Dalam perjalanan pun saya hanya bisa membatin.

Bayar lebih untuk kesalahan yang entah apa

Sepanjang perjalanan itu kami tak terlalu banyak bercakap. Saya tiba di hotel sekitar 30 menit perjalanan dari Stasiun Pasar Senen. Mestinya, jaraknya tidak terlalu jauh dan saya bisa sampai dengan waktu 15 menit, tapi tukang ojek online tadi sempat nyasar.

Kami harus putar balik dua kali di jalan, di mana saya baru tahu kalau putar balik di Jakarta terutama daerah pusat itu jauhnya minta ampun tapi saya salut. Di hari yang sudah tengah malam itu, mas-mas ojek tersebut mencari orang yang bisa ditanya karena peta Google tak bisa diandalkan.

Ia juga berusaha mengantar saya di depan pintu yang tak jauh dari lobby. Masalahnya, tarif yang dipatok tukang ojek tadi jadi tak sesuai dengan yang ia janjikan tadi. Kalau saya lihat di aplikasi ojek online, seharusnya ongkos yang saya bayar Rp22 ribu tapi ia minta lebih yakni Rp50 ribu.

Iklan

“Kalau saya bayar Rp40 ribu boleh nggak, Bang?” tanya saya menawar.

“Watduh, nggak bisa Neng. BBM juga mahal sekarang, kasihan anak saya Neng. Buat beli popok,” rayunya.

Saya pun akhirnya membayar lebih dengan harapan alasan itu benar-benar terjadi. Capek juga kalau harus berdebat. Saya ingin cepat-cepat istirahat karena perjalanan jauh dari Surabaya. Jam juga sudah menunjukkan pukul 01.16 WIB.

Jangan terlihat linglung di Jakarta

Tak sampai dua hari saya di Jakarta, saya akhirnya pulang ke Surabaya dan naik kereta api lagi dari Stasiun Pasar Senen. Saat sesi menunggu itu, ada seorang ibu-ibu yang mendekati saya. Katanya, uangnya kurang untuk membeli tiket dan meminta saya menyumbang.

“Kak, ada Rp30 ribu nggak? Uang saya kurang buat beli tiket. Siapa tahu kakaknya ada,” kata ibu-ibu tadi yang mengenakan kaos oblong dan sandal jepit. 

Sialnya, saya ini memang tipe orang yang sulit menolak. Kalau kata anak zaman sekarang people pleaser. Jadi, langsung saja saya kasih ibu tadi Rp30 ribu. Saya baru sadar saat naik kereta, sepertinya saya kena tipu. Sebab kalau dilihat dari gelagatnya, ibu itu tak seperti orang yang bepergian. Tas saja tak bawa, kenapa juga saya tak tanya detail tujuannya untuk memastikan kalau ibu tadi benar-benar kesusahan? Tapi ya sudahlah, semoga pengalaman ini jadi pelajaran ke depan agar tak terlalu polos jadi orang.

“Besok-besok kalau di tempat baru jangan terlihat seperti orang linglung. Apa yang mereka lihat bisa membuka dua kemungkinan, yakni kamu dimanfaatkan atau malah dibantu,” ujar teman saya di Surabaya, usai mendengar rangkaian kejadian yang saya alami di Stasiun Pasar Senen, Jakarta.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Senayan Jakarta, Kawasan Elite tapi Bikin Perantau Asal Surabaya Kapok, Nyaris Ketipu Rp1 Juta atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan.

Terakhir diperbarui pada 21 April 2025 oleh

Tags: Ditipu di Jakartajakartaojek pangkalanStasiun Pasar SenenSurabaya
Aisyah Amira Wakang

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Artikel Terkait

kebayoran baru, jakarta selatan, jakarta.MOJOK.CO
Urban

Punya Kos Murah di Kebayoran Baru adalah Kemewahan, Biar Berisik tapi Setidaknya Menyelesaikan 3 Masalah Besar Perantau di Jakarta

3 Juli 2026
Kedai Kopi Dinasty di Surabaya milik alumnus Unesa. MOJOK.CO
Sosok

Bukan Sekadar Cari Cuan, Alumnus Unesa Ini Sukses Bikin Kedai Kopi Murah Sekaligus Berdayakan Ibu-ibu untuk Jual Kopi Keliling

30 Juni 2026
Naik BYD Menyusuri Jalanan Jakarta Bikin Saya Jadi Kampungan MOJOK.CO
Otomojok

Pengalaman Menahan Rasa Penasaran di Dalam Kabin Mewah BYD demi Tidak Terlihat Kampungan ketika Menyusuri Jalanan Jakarta

30 Juni 2026
Kudus, Magis Kaki Kanan yang Mengirim Tangis bagi Srikandi Kota Pahlawan.MOJOK.CO
Eksplor

Magis Kaki Kanan yang Mengirim Tangis bagi Srikandi Kota Pahlawan 

27 Juni 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Impact of Asia Limited (IOA) Global Pte Ltd Singapura jajaki kerja sama jangka panjang dengan Jawa Tengah lewat investasi manufaktur hingga pengembangan SDM MOJOK.CO

Peluang Investasi dan Kesempatan Pelatihan di China bagi Anak Muda Jateng

14 Juli 2026
Suzuki S-Presso memang mobil aneh karena jelek tapi keren MOJOK.CO

Ibarat kata, Suzuki S-Presso adalah “Crocs KW” yang jelek tapi keren dan kini menjadi benteng pertahanan terakhir melawan kegilaan dunia yang serba mahal ini

14 Juli 2026
Di Balik Pintu Toilet Masjid: Tempat Bersuci, tapi Berisiko bagi Perempuan MOJOK.CO

Di Balik Pintu Toilet Masjid: Tempat Bersuci, tapi Berisiko bagi Perempuan

14 Juli 2026
Kesepian Membuat Remaja Memilih AI sebagai Teman Curhat, Lalu Perlahan Menjauhi Manusia MOJOK.CO

Kesepian Membuat Remaja Memilih AI sebagai Teman Curhat, Lalu Perlahan Menjauhi Manusia

15 Juli 2026
Cerita Pencari Kerja Difabel datang ke Job Fair Ditemani Ibu: ‘Semua Orang Punya Kemampuan asal Diberi Kesempatan’.MOJOK.CO

Cerita Jobseeker Difabel datang ke Job Fair Ditemani Ibu: ‘Semua Orang Punya Kemampuan asal Diberi Kesempatan’

17 Juli 2026
Beralih dari profesi dokter ke petani di Klaten. MOJOK.CO

Resah Jadi Dokter: Tangani Pasien Petani dengan Keluhan Sama, Pilih Turun ke Sawah demi “Menyembuhkan” Tanah

13 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.