Sepanjang hidup (setidaknya hingga saat ini) saya tidak pernah mendapat banyak tuntutan bersifat materiil dan standar sukses tertentu dari orang tua. Terutama ibu. Namun, karena sudah bertahun-tahun merantau, ada pertanyaan dan permintaan ibu yang membuat batin saya kerap nelangsa dan dirundung rasa bersalah.
***
Minggu (25/3/2026) siang ibu dan adik saya mengunjungi saya dan istri di Jombang, Jawa Timur. Dari Rembang, Jawa Tengah, mereka diajak bareng oleh tetangga yang mudik ke rumah mertua di Jombang. Perjalanan berangkat itu cenderung lebih enak karena tetangga membawa mobil pribadi.
Lalu pada Senin (26/3/2026) siangnya, saya melepas ibu dan adik saya pulang. Saya sebenarnya menahan agar ibu pulang esok harinya. Namun, ibu memang tipikal orang yang tidak bisa menginap lama-lama di rumah yang bukan rumahnya sendiri.
Yang beda dari waktu berangkat, kepulangan ibu siang itu harus menempuh perjalanan yang melelahkan: naik bus Bagong reyot dari Jombang ke Babat (perbatasan Babat-Tuban) selama 3 jam. Kemudian pindah bus rute Surabaya-Semarang menuju Rembang selama 2,5 jam.
Rasa bersalah yang menyerang setelahnya…
Persis ketika bus Bagong melaju meninggalkan terminal, perasaan bersalah langsung menyerang batin saya.
Perasaan bersalah di permukaan lebih karena faktor materiil: gara-gara saya tidak kunjung membeli mobil—karena sejauh ini belum merasa butuh dan orang tua pun tidak pernah menuntut ini—saya malah jadi menyusahkan ibu.
Karena seandainya saya punya mobil sendiri, saya pasti bisa leluasa membawa anak dan istri melakukan perjalanan lintas kota-lintas provinsi. Walaupun ibu, sama seperti saya, mengaku lebih suka naik transportasi umum selagi kebutuhan akan mobil pribadi tidak urgen-urgen banget.
Saat pamit pulang siang itu, setelah mencium pipi kiri dan pipi kanan saya, ibu justru merasa merepotkan saya dan istri hanya karena kami keluar uang makan selama ia menginap, ongkos pulang ibu dan adik, dan bingkisan yang kami bawakan kepadanya.
Begitulah ibu. Padahal anak-anaknya yang kerap merepotkan dan menyusahkannya, tapi malah ia yang selalu merasa mengganggu kehidupan anak-anaknya.
Adapun perasaan nelangsa dan bersalah yang paling dalam di batin saya, setidaknya selama saya merantau, adalah dari pertanyaannya yang selalu tidak bisa saya jawab sekaligus permintaan yang entah kapan bisa saya penuhi.
“Libur/di rumah sampai kapan?”, pertanyaan ibu sepanjang saya merantau yang sederhana tapi berat dijawab
Jauh sebelum menikah, selama saya merantau untuk bekerj, pertanyaan ini cukup sering ditanyakan ibu. Biasanya di malam kedua saya di rumah, saat saya sedang duduk sendiri di teras sembari mengisap rokok.
Jawaban dari pertanyaan tersebut sepintas amat enteng belaka. Saya bisa menjawab apa adanya: misalnya, libur tiga hari, atau di rumah sampai tanggal sekian. Akan tetapi, yang berat adalah reaksi ibu setelah menerima jawaban tersebut.
Jika kepulangan saya sangat sebentar, ibu biasanya akan langsung menjawab, “Lah kok cepet”/”Lah kok cuma sebentar di rumah”. Lalu yang tersisa di wajahnya adalah guratan kesedihan, karena hanya punya waktu singkat dengan anaknya. Sementara kalau sudah kembali ke kota, anaknya butuh waktu lama untuk pulang lagi.
Itulah yang membuat jawaban dari pertanyaan sederhana ini menjadi terasa berat dijawab. Sering kali saya hanya bisa menambahi keterangan: “Gimana lagi, rezekinya dari merantau, jadi ya lebih banyak di kota orang ketimbang rumah sendiri.”
“Kapan pulang?”, pertanyaan ibu yang tidak pernah bisa saya jawab dengan pasti
Sejak merantau untuk kerja hingga berkeluarga, pertanyaan ibu tentang “pulang” tidak pernah bisa saya jawab dengan pasti.
Persoalannya lebih karena kesibukan (sok sibuk). Karena kalau soal budget pulang, selama ini itu tidak pernah menjadi persoalan bagi saya. Punya atau tidak punya uang, saya tetap bisa pulang.
Apalagi setelah berkeluarga dan sama-sama merantau, pertanyaan “Kapan pulang?” (maksudnya pulang ke Rembang) menjadi pertanyaan yang makin sulit dijawab. Karena saya juga harus membagi waktu untuk pulang ke rumah orang tua istri di Jombang.
Bagi saya dan istri, selagi ada waktu, WAJIB hukumnya menjenguk orang tua satu sama lain. Sedapat-dapatnya waktu yang tersedia.
Beberapa kali istri sengaja mengatur kepulangan sendiri-sendiri (saya ke Rembang sendiri, istri ke Jombang sendiri). Semata karena ia ingin memberi saya ruang untuk bertemu dengan ibu di Rembang (ah, banyak hal bijak dari istri yang selalu membuat saya meleleh).
Namun, lama-lama saya juga merasa bersalah dengan istri kalau sering-sering membiarkannya melakukan perjalanan Jogja (tempat kami merantau sekarang) ke Jombang sendirian.
Permintaan yang entah kapan terpenuhi
Pertanyaan “Kapan pulang?”, di hari-hari ini, kemudian disertai ibu dengan satu permintaan yang membuat saya merasa semakin sedih dan nelangsa.
Di desa kami di Rembang, ibu dan bapak sebenarnya sudah menyediakan satu rumah untuk saya dan istri tinggali (meski ibu tahu, saya dan adik adalah orang yang tidak pernah peduli soal warisan). Karena ibu selalu berharap, kelak ada masanya saya berhenti merantau untuk menetap di desa.
Maka ia kerap berbisik, kalau bisa suatu saat saya diminta meninggali rumah tersebut.
Saya sungguh ingin menetap di rumah tersebut. Namun, ada banyak hal yang harus saya persiapkan kalau memutuskan pulang ke desa. Misalnya plan atau modal untuk hidup setelah berhenti merantau.
Masalahnya, sekalipun punya modal memadai, tapi Rembang adalah kota setengah sekarat. Betapa banyak orang Rembang memilih merantau untuk mencari penghidupan di kota orang. Karena Rembang nyaris tidak memberi banyak kemungkinan baik.
Jika permintaan tinggal di Rembang itu keluar dari ibu, saya hanya mentok di dua jawaban:
- “Ya sementara ini rezekinya masih merantau.” Atau jawaban paling buruk:
- “Kalau tinggal di Rembang belum tahu mau ngapain.”
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Jadi Gembel di Perantauan tapi Berlagak Tajir saat Pulang, Bohongi Ortu biar Tak Kepikiran Anaknya Remuk-remukan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














