Rasa-rasanya hanya orang-orang tabah dan tahan derita yang masih setia naik bus ekonomi untuk rute Surabaya ke Semarang, seperti bus Indonesia atau Sinar Mandiri. Sebab, sepanjang perjalanan, tidak hanya fisik yang remuk karena diperlakukan seperti ikan pindang, tapi juga batin yang dibuat dongkol dan frustrasi.
***
Gara-gara jalur pantura Pati-Kudus terendam banjir pada pertengahan Januari 2026 lalu, atas saran teman rumah, untuk pertama kalinya saya menempuh perjalanan Jogja-Rembang (juga sebaliknya) menggunakan travel mobil pribadi yang mengambil rute Rembang-Blora-Purwodadi-Sragen-Solo-Klaten (rute selatan).
Ada satu momen ketika saya berbincang dengan salah seorang penumpang, mahasiswa Jogja, yang titik turunnya sama dengan saya: Masjid Jami Lasem. Karena merasa sama-sama terhubung dengan “Lasem”, tak pelak jika perbincangan kami menjadi agak panjang.
Salah satu yang cukup panjang adalah: kekapokannya menempuh perjalanan Lasem-Jogja dengan menggunakan bus-bus pantura Surabaya ke Semarang seperti Indonesia atau Sinar Mandiri. Ia heran kenapa saya masih tahan—dan terkesan istikamah—bepergian dengan bus ekonomi tersebut.
Panjang dan melelahkan, tapi jadi siasat hemat
Saya bukan busmania. Akan tetapi, saya memang menikmati bepergian naik bus—terutama kelas ekonomi. Kalau rute Surabaya ke Semarang, sudah sejak kuliah (2017-2023) saya naik bus seperti Indonesia, Jaya Jaya Utama, atau Sinar Mandiri untuk berangkat/pulang Surabaya-Rembang.
Begitu juga ketika pindah ke Jogja sejak 2024. Perjalanannya memang terasa sangat panjang dan melelahkan. Dari Rembang, saya harus naik bus arah Semarang kurang lebih sekitar 3-4 jaman. Dari Semarang, saya kemudian menyambung bus lain (hanya tersedia PATAS) arah Jogja dengan durasi yang hampir sama.
Tarif Rembang-Semarang Rp40 ribu. Sedangkan tarif Semarang-Jogja Rp70 ribu karena memang PATAS. Total, saya harus merogoh uang Rp110 ribu untuk perjalanan tersebut.
Biasanya saya berangkat dari Rembang jam 10 pagi. Lalu akan tiba di Jogja jam 8 malam. Panjang dan melelahkan memang. Lebih-lebih, tidak bisa leluasa juga karena jam bus Semarang-Jogja terbatas: keberangkatan terakhir jam 3 atau setengah 4 sore. Telat sedikit saja, maka pilihannya tinggal naik travel yang tentu dengan biaya lebih mahal.
Naik bus ekonomi Surabaya ke Semarang seperti Indonesia atau Sinar Mandiri di akhir pekan: harus hadapi siksaan
Tapi saya mewajari kenapa mahasiswa Jogja asal Lasem yang saya temui di mobil travel itu kapok dan dongkol betul naik bus ekonomi Surabaya-Semarang seperti Indonesia atau Sinar Mandiri.
Saya beri contoh gambaran situasinya dalam perjalanan saya pada momen long weekend pekan lalu:
Naik bus ekonomi seperti Indonesia atau Sinar Mandiri di akhir pekan atau libur panjang memang harus siap fisik dan mental. Sebab, ketika bus dari arah Surabaya baru tiba di Terminal Terboyo, Semarang, dan baru hendak putar balik untuk angkut penumpang ke arah Surabaya lagi, puluhan penumpang sudah berdiri saling berdesakan.
Tidak peduli kamu perempuan atau lansia. Semua saling berebut masuk lebih dulu, menduduki kursi lebih dulu. Jika ada orang tua yang membopong balita atau lansia yang tidak kebagian tempat duduk, jangan harap ada yang peduli. 100:1 lah orang yang bakal merelakan tempat duduknya.
Sebab, mereka sadar, jika sopir bus sudah menginjak gas, maka sepanjang perjalanan nantinya akan menjadi “siksaan” yang seolah tiada akhir. Dan itu selalu terjadi di setiap akhir pekan dan libur panjang: saat banyak orang di perantauan memang memburu waktu untuk pulang ke kampung halaman.
Dijejal-jejal dan tergencet karena tipuan kernet dan sopir
Meski sudah terbiasa naik bus ekonomi dengan suasana semacam itu, saya tidak menampik bahwa sesekali saya juga merasa dongkol dan frustrasi, sampai menghela napas berkali-kali.
Bus meninggalkan Terminal Terboyo, Semarang, dengan kondisi sudah penuh sesak oleh penumpang. Kursi-kursi penuh. Dari depan sampai belakang pun sudah berdesakan para penumpang yang mau tidak mau harus berdiri.
Sopir, kernet, dan kondektur bus bukannya tidak melihat kalau busnya sudah penuh sesak. Namun, setiap lambaian tangan di tepi jalan selalu tampak sebagai “uang menggiurkan” untuk mengejar target setoran.
Maka, setiap penumpang yang ditemui di jalan pasti akan diangkut, dengan sedikit rayuan dan tipuan.
“Ayo naik, tengah kosong, tengah kosong!” Teriak si kernet.
“Ayo naik, ini bus terakhir, terakhir!”
“Masih muat, ayo cepet. Masih muat ini, tengah-belakang kosong!” Seru kernet tiap ada calon penumpang yang bertanya sangsi, “Sudah penuh begitu, apa masih bisa?”
Kebanyakan penumpang—karena memang memburu waktu—tertipu dengan seruan si kernet. Tak pelak saat naik dan melihat deretan manusia dijejal-jejal, si penumpang hanya bisa mendengus kesal. Bagaimana lagi, persis ketika satu kakinya menginjak pintu masuk bus, sopir akan langsung menginjal gas. Sekali terlanjur naik, tidak bisa serta-merta minta turun.
Para penumpang yang berada di dalam, yang sudah tergencet satu sama lain, jauh lebih kesal lagi. Hanya bisa gremeng-gremeng: “Kosong matane! Wong wis kebak iseh disesel-sesel (Kosong matanya! Orang sudah penuh masih dijejal-jejal).”
Sudah dijejal-jejal, tidak ada AC, setiap penumpang sudah pasti bermandi keringat. Aroma tak sedap dari tubuh pun menguar memenuhi bus.
Berdiri sepanjang jalan sampai mau pingsan
Masalah bagi penumpang yang berdiri sejak dari Semarang: jangan harap akan lekas mendapat tempat duduk. Sebab, kebanyakan penumpang baru akan turun di Pati dan Juwana. Artinya, jika tujuannya adalah Pati atau Rembang ke Timur, maka harus pasrah berdiri sepanjang perjalanan Semarang, Demak, dan Kudus.
Pada Sabtu malam pekan lalu itu, seorang ibu-ibu menjelang 50-an tahun dengan tujuan Juwana berdiri sampai mengeluhkan kakinya sangat linu, kepalanya pening, sampai kemudian mengaku mau pingsan.
Tidak ada yang berbagi kursi. Sementara jarak antara ia berdiri dengan kursi saya agak jauh dan sudah terkepung gencetan penumpang. Si ibu-ibu itu pun memutuskan duduk di bawah, meski itu justru membuatnya semakin tersiksa karena semakin kegencet.
Saya pun pernah mengalaminya pada masa awal merantau di Surabaya. Dalam kondisi puasa dan belum berbuka di hari-hari terakhir menjelang lebaran, saya harus berdiri dari Surabaya hingga Tuban.
Jika dari arah Semarang bus baru akan terasa lega setiba di Pati, daru arah Surabaya bus baru akan lega di Tuban. Artinya, jika sudah berdiri sejak di Terminal Bungurasih, maka harus pasrah berdiri sepanjang Surabaya, Gresik, dan Lamongan.
Pada momen saat hendak pingsan itu, saya pun memutuskan duduk nyempil di sela-sela kaki penumpang yang berdesakan. Alih-alih ada yang bersimpati, saya justru diberondong amarah karena dianggap nyrimpeti.
Tidak bisa mengeluh atau protes kalau tidak mau kena masalah
Mendapatkan kru bus ekonomi Surabaya ke Semarang seperti Indonesia dan Sinar Mandiri yang grapyak itu untung-untungan. Sering kali mendapat kru yang galak dan sengak.
Sekadar bertanya perkiraan tiba di lokasi tujuan atau tarif yang harus dibayar saja bisa jadi kesan tidak enak yang didapat penumpang. Apalagi jika penumpang protes.
Saya beberapa kali menyaksikan, ketika ada penumpang protes karena dijejal-jejal, atau mengeluh saat sopir bus ugal-ugalan, yang terjadi adalah si penumpang diberondong makian oleh kernet atau sopirnya langsung.
“Cangkeman, asu! Isa meneng ora kowe? (Berisik, anjing! Bisa diem nggak kamu?).”
“Cangkemmu iso meneng ora? Mbok sopir dewe ae piye? (Mulutmu bisa diam, nggak? Kamu sopir sendiri gimana?).”
Daripada kena masalah kan. Paling mentok penumpang hanya bisa gremeng-gremeng atau menghela napas panjang berkali-kali seperti saya.
Untung-untungan dapat bus ekonomi Surabaya ke Semarang yang tidak seperti Indonesia atau SInar Mandiri
Bus Sinar Mandiri memang sudah menjadi bahan rasan-rasan karena armadanya yang ringsek luar-dalam, ugal-ugalan, dan sering mengalami kecelakaan lalu lintas (laka lantas). Sementara bus Indonesia memang relatif hanya dikeluhkan saat sudah mulai menjejal-jejal penumpang.
Keduanya memang tidak melakukan peremajaan armada. Sehingga jangan harap ada kenyamanan lebih setiap naik dua armada bus tersebut.
Namun, bukannya tidak ada bus ekonomi Surabaya ke Semarang yang menawarkan kenyamanan lebih. Ada bus Jaya Utama yang tiga tahun belakangan melakukan peremajaan di banyak armada.
Dengan tarif ekonomi, armada baru Jaya Utama sudah menawarkan bus bagus, kursi nyaman, dan tentu saja AC. Bahkan, dalam beberapa kali kesempatan naik armada baru Jaya Utama, saya mendapati kesan menyenangkan dari awak bus. Terutama dari sopir dan kernet yang grapyak dan gemar bercanda dengan penumpang—terutama pada saat hendak menurunkan penumpang dari pintu depan.
Masalahnya, keberangkatan bus di pantura Surabaya-Semarang memang susah ditebak penumpang. Kalau bisa milih, jelas penumpang ingin menempuh perjalanan dengan armada baru Jaya Utama. Tapi kalau yang tersedia ternyata Indonsia atau Sinar Mandiri, mau apa?
Kalau mau mahal dikit dapat perjalanan tanpa siksaan
Kembali ke mobil travel yang mengantar saya ke Lasem…
Pada akhirnya, siksaan-siksaan itu membuat mahasiswa Jogja asal Lasem itu kapok naik bus ekonomi Surabaya-Semarang lagi. Ia memilih beralih menggunakan travel.
Bayarnya memang lebih mahal. Tarif untuk Rembang-Jogja ada di angka Rp185 ribu.
Akan tetapi, ia bisa merasakan perjalanan yang lebih nyaman, anti berdesakan, anti sumuk, dan siksaan-siksaan lain. Terasa lebih ringkas juga waktunya.
Ia kerap melakukan perjalanan di jam 6 pagi. Maka akan tiba di Jogja/Lasem di jam 12 siang. Secara durasi sebenarnya sama saja dengan naik bus. Bedanya, jam keberangkatan travel start dari jam 6 pagi dan langsung bisa bablas ke Jogja.
Berbeda dengan bus yang terbatas, khususnya untuk arah Jogja. Kadang harus nunggu lama, kadang malah ketinggalan jam. Begitu juga dari arah Jogja ke Semarang, waktunya terbatas.
Maka, jika ingin mempercepat kepulangan, naik travel menjadi pilihan mahasiswa Jogja tersebut. Lumayan, setengah hari sudah tiba di Lasem.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Jika Bus Sinar Mandiri Ketemu Jaya Utama, Sumber Selamat Kalah Ngawur: Jalan Rusak Pantura Jadi Arena Balapan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














