Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Catatan

Duka Dianggap Hanya Terjadi saat Menangis, padahal Perasaan Sedih Bisa Muncul secara Random dan Absurd

Shofiatunnisa Azizah oleh Shofiatunnisa Azizah
10 Maret 2026
A A
Perasaan duka

Ilustrasi - Perasaan duka (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Kehilangan salah satu penyanyi Indonesia, Vidi Aldiano, beberapa waktu lalu menjadi momen menyedihkan. Namun juga, mengherankan bagi sebagian orang. Alasannya, orang-orang terdekat tidak menunjukkan perasaan duka dalam cara “konvensional”, padahal kesedihan punya konsep abstrak yang tidak akan pernah bisa dipahami dengan mutlak oleh satu orang pun di dunia.

***

Iklan

Sebelum memperkenalkan duka yang tidak berkonsep. Ada satu bagian penting, bahwa saya baru saja kehilangan makhluk berbulu bernama Bala, kucing yang sudah berusia hampir empat tahun dan berjiwa bebas. 

Bala selalu pulang ketika lapar dan mengantuk. Jadi, kami sekeluarga tidak pernah khawatir sekalipun kucing mujaer itu berkelana berhari-hari. Namun naasnya, hari itu (12/1/2026), Bala ditemukan dalam kondisi kritis, tubuh dingin dan tidak berdaya tertutupi di antara dua meja sebuah ruko kosong di pinggir jalan.

Saat itu juga, saya menangis dan menghubungi orang-orang rumah, “Bala ketemu. Udah nggak ada.”

Saya salah. Bala masih ada, tetapi sudah menjajaki stase terminal. Bala sempat dibawa ke dokter hewan, tetapi tidak bertahan sampai tiga hari, tetapi saya sudah tahu kalau kucing jantan ini memang akan pergi dalam waktu dekat. Setelahnya, saya melalui duka, tapi tidak ada tangisan, kecuali saat pertama kali menemukan dan mengetahui Bala tidak ada.

Menangis sebagai respons alami duka

Menangis saat pertama kali dihantam duka adalah reaksi wajar.  Penulis Sophia Dembling menyetujui ini, “Menangis itu ciri khas duka, praktis cara mengekspresikan pengalaman tersebut,” katanya, dilansir dari Psychology Today.

“Kita berduka, oleh karena itu kita menangis. Air mata adalah ekspresi lahiriah dan spontan dari perasaan yang terlalu mendasar untuk diungkapkan dengan cara lain,” tambah dia. 

Menangis adalah salah satu ekspresi duka, tapi itu adalah salah satu juga dari yang pertama. Bukan yang seterusnya. 

Maka ketika melihat berita duka mengenai Vidi Aldiano, mata sembab tidak menjadi patokan mereka benar-benar berduka. Wajah orang terdekatnya yang tampak tersenyum juga bukan berarti seseorang tidak berduka, jadi berfoto dengan ekspresi senyum di pemakaman jelas tidak bisa dipahami kalau seseorang sudah sembuh dengan dukanya.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by OO MA OO!!! (@rezachandika)

Duka juga bisa dirasakan dalam ekspresi bahagia

Dari Instagram, duka itu dibawa ke media sosial berbeda. Ada komentar dari salah satu akun yang mengunggah ulangnya, kira-kira begini tulisannya:

“Kok bisa foto begini…”

Padahal, duka tidak selalu mengalir. Ia bisa dihambat atau disimpan untuk waktu lain. Konselor asal AS, Andrea Matthews, bilang, perjalanan duka memang berlangsung panjang dan lama. Dalam satu waktu, seseorang yang berduka bisa jadi tidak mempunyai waktu untuk menangis karena hidup harus terus berjalan.

“Suatu ketika, kamu nggak punya waktu menangis. Kamu nggak sempat menangis. Kamu harus bertahan hidup,” kata Andrea, seperti dikutip dari Psychology Today, Selasa (10/3/2026).

Iklan

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Nazira C. Noer (tigerlilybubu) (@naziracnoer)

Dari cerita Nazira C. Noer, wujud duka mereka tidak tampak dengan kesedihan. Melainkan, dalam bentuk keteraturan yang hangat, menunjukkan bahwa tidak ada pakem khusus mengenai bagaimana bersikap tentang ini.

“Taunya semua sahabat-sahabatnya Vidi sudah mengatur segala flow-nya dengan sangat baik. Masuknya dibagi per kelompok,” kata Nazira melalui Instagramnya, sebelum membagikan bagaimana alur rumah duka tidak disertai duka sama sekali.

Ada yang menyambut antrean pelayat yang datang, menceritakan hari-hari terakhir mendiang, sampai mengarahkan menuju tempat peristirahatan terakhir. Nazira bercerita, justru mereka yang berduka menguatkan orang-orang yang tidak lebih berduka dari keluarga terdekatnya.

“Tidak ada tangisan untuk diri sendiri, padahal mereka berhak untuk itu. Mereka malah menguatkan kami, di saat seharusnya kami yang menguatkan mereka,” kata dia.

Mereka yang tidak tahu terkadang merasa paling mengerti

Sementara itu, melihat komentar di ruang digital yang menyebutkan sanak-saudara dan kerabat terdekat penyanyi kondang, Vidi Aldiano, tidak bersedih karena tidak terlalu menangis. Saya rasa, ada kesalahan dalam memaknai duka di sini.

Selain karena tangisan hanyalah salah satu dari respons terhadap kehilangan. Ada berbagai reaksi yang tidak harus berupa air mata, bisa jadi kekosongan yang tidak bisa diutarakan, bisa jadi rasa hilang nafsu makan mengingat orang terkasih terbaring lemah di satu sudut dingin sendirian. Ia beragam, dan tidak pasti.

Begitu pula dari sudut pandang ini. Bayangkan, menemani seseorang yang telah tujuh tahun menjalani perawatan. Orang-orang terdekatnya bukan lagi sudah mempersiapkan, tetapi sudah tahu kalau sewaktu-waktu, dia akan pergi.

“Kita sama-sama tahu hari ini pasti akan datang,” kata Enzy Storia, seperti dikutip dari Instagramnya pada Selasa (10/3/2026).

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Enzy Storia Leovarisa (@enzystoria)

Persis seperti yang saya rasakan soal Bala. Saya sudah tahu kucing itu akan pergi dalam waktu dekat, jadi kesedihan tidak berlangsung lama secara tampak mata. Namun sebenarnya, hanya mereka yang berdukalah yang mengetahui betapa hari-hari terasa suram.

Ingin menangis, tapi tahu harus terus melanjutkan hidup. Ingin tetap bahagia, tapi tidak bisa menanggalkan kesedihan. Lagi-lagi, namanya juga duka: ia absurd dan muncul secara random pada waktu-waktu yang tidak diketahui.

Penulis: Shofiatunnisa Azizah

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Bagi Ibu, Tak Apa Membayar Tiket Mahal untuk Mudik demi Bisa Kumpul Bersama “Anak Kecilnya” yang Berjuang di Perantauan atau artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 10 Maret 2026 oleh

Tags: berdukacerita sedihIndonesia berdukakebaikan vidi aldianokenangan vidi aldianokesedihanperasaanperasaan dukasedihtanda berkabungVidi Aldiano
Shofiatunnisa Azizah

Shofiatunnisa Azizah

Artikel Terkait

Mendambakan seperti suami Sheila Dara, Vidi Aldiano. Cara hidup dan perginya bikin iri banyak orang MOJOK.CO

Mendambakan Menjadi Seperti Vidi Aldiano, Cara Hidup dan Pergi bikin “Iri” Banyak Orang

9 Maret 2026
Film Tukar Takdir Nggak Sekadar Adegan Mesra Nicholas Saputra dan Adhisty Zara dalam Mobil! Mojok.co

Film Tukar Takdir Nggak Sekadar Adegan Mesra Nicholas Saputra dan Adhisty Zara!

8 Oktober 2025
Gagal Berkenalan Karena Sifat Cuekku yang Meresahkan. MOJOK.CO

Gagal Berkenalan Karena Sifat Cuekku yang Meresahkan

14 Mei 2023
Buya Syafii Maarif

Indonesia Berduka, Buya Syafii Maarif Wafat Jelang Usia ke-87

27 Mei 2022
Ring road Yogyakarta menjadi tempat pelampiasan untuk melepas kesedihan

Ring Road Yogya dan Melarung Kesedihan Lewat Tangisan Sepanjang Jalan

20 April 2021

Berpisah: Panduan Mempersiapkan Perpisahan #MojokBercerita

17 Oktober 2020
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Honda Beat adalah motor paling boring di indonesia MOJOK.CO

Honda Beat adalah motor paling boring di indonesia tapi justru karena itu saya sayang banget sama motor ini

18 Agustus 2026
Kontingen Prambanan tunjukkan jejak Mataram Kuno di Karnaval Budaya Klaten 2026. MOJOK.CO

Potret Kejayaan Mataram Kuno dalam Karnaval Budaya Klaten, 26 Kecamatan Adu Keunggulan Wilayah

19 Agustus 2026
Bakpia barangkali menjadi oleh-oleh khas Jogja yang biasa saja dan gitu-gitu aja. Tapi punya nilai sosial bagi perantau Jogja asal desa MOJOK.CO

Bakpia Jogja Memang Oleh-oleh Biasa dan Gitu-gitu Aja, Tapi Sangat Berharga buat Orang di Desa

22 Agustus 2026
Pesan veteran Indonesia di momen kemerdekaan. MOJOK.CO

Dari Veteran Indonesia ke Generasi Muda yang Pesimis Rayakan Kemerdekaan: Bacalah Buku Sejarah!

19 Agustus 2026
Kiprah dosen pembimbing mahasiswa KKN UGM di Sangurejo. MOJOK.CO

Dulu Dicap Kampung Kumuh, Kini Produk Kulit Salak Kampung Sangurejo Sampai Belanda

21 Agustus 2026
Alma Odai "Cucurella" Diburu Fans, Pemain Thailand Disukai karena Lucu-lucu MOJOK.CO

Alma Odai “Cucurella” Diburu Fans di Srikandi Merdeka Cup, Pemain Thailand Disukai karena Lucu-lucu

22 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.