Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Catatan

Angkringan Lempuyangan Jogja Berisi Rindu, Kegagalan, dan Beban Finansial Para Pejuang Perantauan

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
22 Juni 2026
A A
Angkringan di Stasiun Lempuyangan Jogja jadi tempat meleram kegelisahan MOJOK.CO

Ilustrasi - Angkringan di Stasiun Lempuyangan Jogja jadi tempat meleram kegelisahan. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Beberapa bulan terakhir, karena ditulari oleh teman komunitas di Jogja, saya jadi punya kebiasaan: tiap turun dari kereta di Stasiun Lempuyangan, Jogja, saya akan langsung jujuk angkringan, alih-alih lekas memesan ojek online (ojol) untuk ke kos sebagaimana yang saya lakukan selama ini. 

Awalnya, kebiasaan jujuk di angkringan Lempuyangan itu hanya sekadar untuk ngaso sejenak. Meregangkan badan usai perjalanan 4 jam dari Jombang (atau berjam-jam dari arah lain). Namun, semakin ke sini, momen duduk di angkringan justru menjadi semacam ritual untuk meleram kegelisahan batin.

Iklan

Satu hal yang amat menggelisahkan batin saya tiap baru kembali ke perantauan (untuk saat ini ya Jogja): sudah kangen saja dengan keluarga. Baru turun dari kereta, sudah berhitung saja, kapan saya bisa lekas pulang lagi: untuk bermain dengan anak yang sedang lucu-lucunya, jalan-jalan dengan istri berdua, dan bercengkrama dengan orang tua di teras rumah kami.​

Setelah akhirnya menjadi kebiasaan, saya akhirnya menemui: ternyata banyak orang melakukan hal serupa. Duduk di angkringan di sekitar Stasiun Lempuyangan, Jogja, menjadi ruang jeda sebelum kembali menjalani hiruk-pikuk di hari-hari berat kedepan. 

Di ambang putus apa, tapi tidak tahu harus berbuat apa

Sekembali dari Jombang usai libur Iduladha Mei 2026 lalu, saat mampir di sebuah angkringan di sekitar Stasiun Lempuyangan, Jogja, pada pukul setengah 8 malam, seorang bapak-bapak tukang ojek pengkolan 50-an tahun tengah duduk di sisi angkringan. 

Saya duduk persis di sebelahnya sembari menenggak es teh yang baru saya pesan. Bapak tukang ojek itu lantas menanyakan: ke mana tujuan saya setelah ini? Barangkali saya mau menggunakan jasanya. 

Sayangnya memang ia tidak mengambil rute jauh hingga Jalan Kaliurang atas. Maka, setelah pertanyaan soal tujuan itu, obrolan kami pun mengalir begitu saja. 

“Susah, Mas, makin susah,” keluh si tukang ojek disertai hela napas berat bercerita soal susutnya penumpang dari tahun ke tahun. “Orang sudah beranggapan kalau kita-kita ini (ojek pengkolan) nuthuk rega (markup harga).”

Saat banyak tukang ojek pengkolan lain memilih menanti di pintu kedatangan, bukan tanpa alasan kenapa bapak-bapak ojek itu memilih menanti di angkringan. Tidak jauh dari pintu keberangkatan. 

Harapannya lebih mudah mendapat penumpang dengan model pendekatan ke penumpang-penumpang yang rehat di angkringan—sebagaimana yang ia lakukan ke saya. Malam itu, saya perhatikan, beberapa kali ia juga beranjak dari duduknya, menghampiri orang-orang yang tampak baru tiba, menawarkan jasa. 

Ternyata ia selalu bisa menebak: 90% pasti berujung penolakan. Artinya sudah di ambang putus asa. Ia menawarkan jasanya pun dengan putus asa. Tapi ia tidak tahu harus berbuat apa. Hidup seperti itulah yang kini sedang ia hadapi: semakin tidak pasti, sementara kebutuhan tidak pernah berhenti—bahkan semakin tidak terpenuhi. 

Duduk di angkringan Lempuyangan, Jogja: meleram pertanyaan “merantau sampai kapan?”

Kegelisahan-kegelisahan hidup, di kemudian waktu, ternyata banyak saya jumpai tiap kali jujuk di angkringan di sekitar Stasiun Lempuyangan, Jogja. 

Misalnya pada Minggu (21/6/2026) malam saat saya duduk berjejer dengan seorang pemuda menjelang 27-an tahun di salah satu angkringan Lempuyangan. Ia baru tiba dari Cirebon. Kosnya di daerah Kotagede, Kota Jogja. 

“Aku nggak pernah makan di kereta. Paling ganjal perut pakai roti yang kubawa dari rumah. Turun stasiun, makan dulu di angkringan, biasanya memang begitu,” ujar pemuda bernama Buana itu yang bekerja di sektor swasta. 

Iklan

Buana mengaku, setiap kembali ke perantauan (Jogja), selalu ada perasaan hampa. Awalnya Buana mengira perasaan tersebut akan sirna seiring semakin terbiasa merantau. Karena ia memang sudah merantau ke Jogja sejak masa kuliah hingga sekarang bekerja di Jogja. 

Nyatanya tidak begitu. Bahkan sejak kereta meninggalkan Cirebon menuju Jogja, perasaan hampa itu sudah menyerang. “Aku selalu tanya ke diri sendiri, mau sampai kapan begini? Mau sampai kapan merantau? Masalahnya mau pulang nggak ada kerjaan, lama merantau di Jogja juga begini-begini aja.” Tuturnya. 

Momen duduk di angkringan sebelum kembali ke kosan menjadi momen untuk mendudukkan kegelisahan-kegelisahan tersebut. Ia harus lekas berdamai dengan kegelisahan batinnya soal perantauan. 

Dengan duduk di angkringan, berbincang dengan orang-orang random, Buana selalu bisa menemukan pengayem-ayem: bahwa Buana tidak sendiri. Di tengah hiruk-pikuk Stasiun Lempuyangan, banyak di antaranya adalah para pejuang rupiah yang harus rela jauh dari rumah. 

Ada orang yang harus berjauhan dengan orang tuanya. Berjarak dengan anak-istrinya. Situasi yang sebenarnya tidak diinginkan, tapi hidup memaksa demikian. 

Duduk di angkringan Lempuyangan, Jogja: berdamai dengan kegagalan dan beban finansial

Mundur lagi ke belakang, pada pertengahan Mei 2026, saat hendak perjalanan dini hari dari Jogja ke Jakarta, saya bertemu dengan laki-laki 30-an tahun yang sama-sama menanti jam keberangkatan dengan minum teh hangat di angkringan di depan Stasiun Lempuyangan. 

Ia tampak akrab sekali dengan si penjual. Katanya memang sudah langganan. 

Laki-laki itu mengaku kerja di Jakarta. Keluarganya ia tinggal di Jogja. Tiap hendak kembali ke Jakarta, kegelisahan yang mengganggu batinnya adalah perasaan gagal, baik sebagai anak, suami, maupun bapak bagi dua anaknya. 

Semakin ke sini, beban finansial makin besar dan terasa makin berat. Itu membuatnya merasa agak keteteran untuk memberi kehidupan layak untuk keluarganya. 

“Wis direwangi tahunan nang Jakarta, Mas (Sudah diusahakan bertahun-tahun di Jakarta, Mas). Capek. Hidup kok makin berat,” ujarnya waktu itu. 

Sebelum naik ke kereta, duduk di angkringan lantas menjadi momen laki-laki itu untuk berdamai dengan situasi. Selain menggerutui nasib, pilihannya hanya tersisa menjalaninya. Hanya itu. Mau apa lagi? 

Toh, katanya, keluarganya selalu berdiri di belakangnya. Itu memberinya energi untuk kembali menatap perantauan. 

Sumpek tanpa alasan

Begitulah gambaran kegelisahan yang ditumpahkan orang di angkringan Lempuyangan. Menatap realitas hidup memang butuh energi, sesederhana dengan es teh, gorengan, atau nasi kucing khas angkringan. 

Saya pun sama halnya. Tidak hanya persoalan kangen, saya biasanya meleram kekalutan juga di angkringan, dengan cara berbincang dengan orang-orang yang tidak saya kenal. 

Perasaan sumpek tanpa alasan sering tiba-tiba menyerang, terutama ketika saya merasa sangat kelelahan. Sumpek saja. Saya tidak tahu persis apa pemicunya. 

Namun, obrolan di angkringan Jogja, dengan orang-orang yang bernasib serupa pada akhirnya sedikit melegakan. Kadang memantik rasa syukur, seringkali juga memberi saya banyak suntikan energi positif dari cara pandang para petarung kehidupan. 

Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Jembatan Lempuyangan Saksi Orang-orang yang Kerja Pagi sampai Pagi untuk Hidup di Jogja atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 22 Juni 2026 oleh

Tags: angkringanangkringan jogjaangkringan lempuyanganStasiun Lempuyangan
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Nasihat rezeki dan keuangan dari ibu-ibu penjual angkringan di Jogja yang bisa haji 2 kali MOJOK.CO
Sosok

Wejangan Rezeki dan Uang dari Ibu Penjual Angkringan, Membalik Logika Ekonomi Anak Muda yang Anxiety in this Economy

11 Mei 2026
Menormalisasi pakai jasa porter di stasiun kereta api MOJOK.CO
Urban

Pakai Jasa Porter di Stasiun meski Bisa Bawa Barang Sendiri: Sadar 50 Ribu Itu Tak bikin Rugi, Tapi Justru Belum Seberapa

23 April 2026
3 Alasan yang Membuat Stasiun Lempuyangan Lebih Unggul Dibanding Stasiun Tugu Jogja Mojok.co
Pojokan

3 Alasan yang Membuat Stasiun Lempuyangan Lebih Unggul Dibanding Stasiun Tugu Jogja

26 Maret 2026
Stasiun Tugu Jogja nggak cocok untuk orang kaya tak bermoral. MOJOK.CO
Catatan

Pintu Timur Stasiun Tugu Jogja Nggak Cocok untuk User Eksekutif Nirempati dan Ojol yang Kesabarannya Setipis Tisu

26 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

dosen.MOJOK.CO

Butuh Biaya Puluhan Juta Demi Ijazah S2-S3, tapi Negara Malah “Melegalkan” Dosen Digaji di Bawah UMR

23 Juni 2026
Kirab pusaka malam 1 Suro di kawasan Pura Mangkunegaran, Surakarta, Jawa Tengah, tidak hanya upaya menjaga warisan budaya-tradisi turun-temurun. Tapi juga jadi penggerak ekonomi daerah MOJOK.CO

Nilai Lain Kirab Malam 1 Suro di Surakarta: Jadi Daya Tarik Lintas Zaman, Penggerak Pariwisata dan Ekonomi Daerah Jateng

17 Juni 2026
Gotong Royong ala Serigala Putih: Napas Kultural Uzbekistan di Pentas Piala Dunia.MOJOK.CO

Sepak Bola Gotong Royong Bernama Mahalla, Senjata Taktis Uzbekistan di Piala Dunia

17 Juni 2026
“A Decade of Leisures”, Perayaan 10 Tahun Land of Leisures dengan Tujuan Memperkuat Ekosistem Kreatif Lokal

“A Decade of Leisures”, Perayaan 10 Tahun Land of Leisures dengan Tujuan Memperkuat Ekosistem Kreatif Lokal

19 Juni 2026
gagal jastip saat war tiket konser BTS. MOJOK.CO

Pertama Kali War Tiket Konser BTS: Trust Issue Pakai Jastip karena Selalu Gagal, Justru Hoki Berkat Teman yang FOMO

23 Juni 2026
Derita 17 Hari Naik Honda Revo Jadi Penagih Utang MOJOK.CO

17 Hari Menjadi Penagih Utang dengan Risiko Kehilangan Nyawa Naik Honda Revo Biru Sudah Cukup Membuat Saya Menyerah

23 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.