Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Bidikan

“Jajanan Murah” yang Tak Pernah Surut Pembeli di Kampung Ramadan Masjid Mlinjon Klaten

Aisyah Amira Wakang oleh Aisyah Amira Wakang
17 Maret 2026
A A
Suasana Kampung Ramadan Masjid Mlinjon, Klaten. MOJOK.CO

Pengendara sepeda melintas di sekitar jalan Masjid Mlinjon untuk berburu takjil. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Membidik Cerita: Di tengah banyaknya pilihan jajanan Korea di acara Kampung Ramadan Masjid Mlinjon, Klaten pada Sabtu (7/3/2026) kemarin, saya akhirnya menemukan beberapa kuliner khas Indonesia. Salah satunya adalah pecel.

Sebagai orang Surabaya, saya merindukan makanan tradisional yang terdiri dari sayuran rebus dan sambal kacang ini. Jujur saja, sejak merantau ke beberapa kota di luar Jawa Timur, saya belum menemukan pecel dengan rasa yang pas. 

Pedagang pecel. MOJOK.CO
Rini, pedagang pecel dan plecing di Kampung Ramadan Masjid Mlinjon, Klaten. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Yang ada malah pecel berganti istilah jadi “pecel lele” alias penyetan. Oleh karena itu, saya sangat jeli dalam memperhatikan lapak pedagang pecel di Kampung Ramadan Masjid Mlinjon, Klaten agar tidak kena zonk lagi.

Untungnya, saya tidak salah pilih. Rini (53), penjual pecel di Kampung Ramadan Masjid Mlinjon itu begitu ramah menawarkan dagangannya ke setiap pelanggan yang lewat. Ia pun dengan senang hati menjelaskan kuliner lain yang ia jual pada saya, misalnya plecing.

Rini penjual plecing yang 3 tahun ikut Kampung Ramadan Masjid Mlinjon, Klaten. MOJOK.CO
Rini sedang membuat plecing pesanan pembeli. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

“Kalau plecing ini masakan khas Lombok dan Bali. Mirip seperti pecel, bahannya dari sayuran rebus (biasanya kangkung air) tapi bumbunya bukan kacang. Bahan dasar bumbunya dari  cabai rawit, terasi, tomat, sama perasan jeruk limau,” kata Rini sembari menyiapkan pesanan dari pelanggannya yang antre.

Warung Bu Topo dekat masjid mlinjon. MOJOK.CO
Warung Bu Topo di Klaten. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Selain pecel dan plecing, Rini juga menjual aneka baceman, gembus, dan bakmi. Berdasarkan pengamatan Mojok, ada satu lagi lapak yang menjual kuliner serupa dengan Rini di kampung Ramadan Masjid Mlinjon, yakni warung Bu Topo. Harganya pun sama, yakni Rp5 ribu per porsi untuk tiap kuliner.

Pasar Ramadan di depan masjid Mlinjon Klaten. MOJOK.CO
(Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

“Saya sebetulnya sehari-hari jualan baju di Pasar Gedhe Klaten, terus kalau minggu di car free day, tapi karena puasa saya ambil peluang jual makanan. Khususnya pecel, bakmi, sama plecing. Soalnya saya lihat yang lain pada jual makanan kekinian,” ucap Rini yang sudah 4 tahun ini jualan pecel di Kampung Ramadan Masjid Mlinjon, Klaten.

Sate Kere Bu Misinem Merbung (Purnomo) di Klaten. MOJOK.CO
Purnomo sedang membakar sate di lapaknya. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Selain pecel dan plecing, saya juga menemukan kuliner tradisional lain, yakni Sate Kere Bu Misinem Merbung. Kuliner khas Solo dan Jogja yang terbuat dari tempe gembus (ampas tahu) atau jeroan sapi.

“Satu porsi isi 8 tusuk, harganya Rp10 ribu,” kata Purnomo (43), penjual Sate Kere Bu Misinem Merbung di Kampung Ramadan Masjid Mlinjon, Klaten.

Pembeli sate kere. MOJOK.CO
Pembeli sate kere. MOJOK.CO

Melansir dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), sate kere sudah ada sejak zaman kolonial. Kala itu, sate merupakan makanan mewah yang hanya bisa disantap oleh kalangan menengah ke atas. Oleh karena itu, muncul istilah sate “kere” (miskin) yang terbuat dari jeroan sapi alih-alih daging, sehingga bisa disantap oleh kalangan bawah.

pembeli di Kampung Ramadan Masjid Mlinjon, Klaten. MOJOK.CO
Seorang pembeli di Kampung Ramadan Masjid Mlinjon, Klaten. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Meski kuliner tradisional seperti pecel, plecing, dan sate kere terbilang murah serta menggunakan bahan yang sederhana, tapi penikmatnya tak pernah surut dari berbagai generasi. 

Jajanan Korea. MOJOK.CO
Lapak pedagang selain jajanan tradisional Indonesia. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Terutama saat Mojok ikut antre membeli kuliner tersebut di Kampung Ramadan Masjid Mlinjon, Klaten. Di tengah banyaknya jajanan kekinian, kuliner itu masih memiliki rasa autentik yang belum bisa tergantikan. Adapun, harganya juga masih terjangkau.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchammad Aly Reza

Iklan

BACA JUGA: Sate Kere Merbung di Klaten: Warisan Terakhir Ibu yang Menyelamatkan Saya dan Keluarga dari Jurang PHK dan artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 17 Maret 2026 oleh

Tags: jajanan pasarjajanan tradisionalkampung ramadanklatenKulinerkuliner ramadanmasjid mlinjontakjil puasa
Aisyah Amira Wakang

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Artikel Terkait

Seni Bertahan Hidup Penjual Mie Ayam Menghadapi Pindah Harga dan Tangisan di Hari Senin MOJK.CO
Esai

Seni Bertahan Hidup Penjual Mie Ayam Menghadapi Pindah Harga dan Tangisan di Hari Senin

8 Mei 2026
usaha mie ayam wonogiri.MOJOK.CO
Kuliner

Buka Usaha di Luar Pulau Jawa Kerap Gagal Bukan karena Klenik “Dikerjain” Akamsi, Ada Faktor Lain yang Lebih Masuk Akal

6 Mei 2026
Petani di Delanggu, Klaten maju berkat sistem permakultur. MOJOK.CO
Lipsus

Belajar Bertani dari Dasar, Akhirnya Hidupkan Ketahanan Pangan dari Lahan Kosong di Delanggu Klaten

6 Mei 2026
Klaten International Cycling Festival (KLIC Fest) 2026 undang pecinta sepeda dari seluruh negeri hingga internasional MOJOK.CO
Kilas

Klaten International Cycling Festival 2026: Gowes Asyik Sepeda Klasik di Klaten bareng Pencinta Sepeda Mancanegara

28 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Catatan Getir Dosen Kalcer: Tampil Keren, tapi Cemas Mahasiswanya Jadi Sarjana Menganggur MOJOK.CO

Catatan Getir Dosen Kalcer: Tampil Keren, tapi Cemas Mahasiswanya Jadi Sarjana Menganggur

20 Mei 2026
Ironi jadi orang tunawicara (bisu) di desa, disamakan seperti orang gila MOJOK.CO

Ironi Orang Tunawicara (Bisu) di Desa: Dianggap Gila, Punya Otak Cerdas Tetap Dianggap Tak Bisa Mikir Hanya karena Sulit Bicara

15 Mei 2026
Kicau Mania Rp2 Triliun: Bukti “Ora Gantang Ora Mangan” Bukan Hobi Iseng MOJOK.CO

Kicau Mania Rp2 Triliun: Bukti “Ora Gantang Ora Mangan” Bukan Hobi Iseng

15 Mei 2026
omong kosong srawung di desa.MOJOK.CO

Omong Kosong Slogan “Srawung” di Desa: Cuma Jahat ke Warga Miskin, Kalau Kamu Tajir Tak Perlu Membaur buat Dihormati

18 Mei 2026
Melalui Seminar Literasi di Pesta Buku Jogja, IKAPI DIY dorong Yogyakarta jadi Ibu Kota Buku UNESCO karena punya ratusan penerbit MOJOK.CO

Jogja dan Produksi Pengetahuan Lewat Ratusan Penerbit Buku, Modal Jadi Ibu Kota Buku UNESCO

16 Mei 2026
Saat ini kita sangat butuh sentuhan rasa manusia dalam komunikasi digital sehari-hari MOJOK.CO

Komunikasi Digital Sangat Butuh “Sentuhan Rasa Manusia”: Agar Tak Cuma Perbincangan Datar tapi Juga Merasa Didengar, Dihargai dan Dipahami

19 Mei 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.