Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan

Bermacam Alasan Orang Pilih Sapaan ‘Mba’ daripada ‘Mbak’ 

Prima Sulistya oleh Prima Sulistya
15 Maret 2021
A A
mengapa orang jakarta memilih menyapa dengan sapaan mba daripada mbak bahasa jawa mojok.co

mengapa orang jakarta memilih menyapa dengan sapaan mba daripada mbak bahasa jawa mojok.co

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

“Mbak” adalah sapaan khas Jawa yang lumrah digunakan sebelum “kak” semakin populer. Panggilan ini biasa ditujukan kepada perempuan yang lebih tua atau kepada perempuan yang masih asing.

Umumnya “mbak” dilafalkan sebagaimana ia ditulis. Dengan bunyi /k/ yang terdengar di akhir. Walau memang di sebagian tempat ada variasi penyebutan. Misalnya di wilayah ngapak Banyumas-Cilacap-Tegal-Purbalingga-Banjarnegara dan sebagian Kebumen, “mbak” diucapkan dengan tekanan yang lebih dalam pada bunyi /b/.

Namun, jika kamu orang Jawa yang sering berinteraksi dengan orang non-Jawa, terutama yang berdomisili di Jakarta dan Jawa Barat, kamu akan menyadari mereka biasa mengucapkan “mba” tanpa bunyi /k/ itu. Atau sebaliknya, jika kamu penghuni Jakarta dan sekitarnya, lalu merantau ke Jogja, Jawa Tengah, maupun Jawa Timur, kamu akan merasa, “Kok di sini ‘mbak’-nya pake /k/ banget ya?” alias sangat medok.

Preferensi memakai “mba” ketimbang “mbak” itu juga terasa sampai ke ketikan. Ada orang yang lebih nyaman ngetwit atau chatting dengan “mba”. Kemungkinan besar kamu pernah menemukannya, cuma nggak ngeh aja.

Kenapa sih “mba” dan bukan “mbak”? Fenomena ini bikin Mojok penasaran. Karena itu, kami coba menjawabnya dengan bertanya kepada anak-anak di Jakarta tentang kecenderungan mereka tersebut.

Yang pertama adalah Meidiana, remaja Jakarta yang sedang kuliah di Magelang, Jawa Timur Tengah dan kini sudah menginjak semester 6. Sejak dulu ia biasa memakai pelafalan “mba” ketimbang “mbak”, termasuk melakukannya saat chatting. Tersebab sudah biasa, tinggal tiga tahun di Jawa Tengah masih sulit mengubah kebiasaan Meidiana. Ia mengaku sampai saat ini masih menulis “mba” tanpa k.

Alasan Meidiana sih, ia condong memakai “mba” karena terbawa lingkungan di Jakarta. “Di Jakarta jarang sekali ada yang menggunakan kata ‘mbak’ dengan bahasa yang medok, kalau di Jawa kan memang logatnya mereka yang sudah sering kali menggunakan huruf k di akhiran kata ‘mba’,” jelasnya.

Iqbal, mahasiswa asal Bekasi yang sudah empat tahun menetap di Magelang, juga punya alasan sama. Ia tetap menggunakan lafal “mba” karena sudah dari kecil melihat keluarganya melakukan itu, termasuk saat mengetik di WhatsApp. Ia bahkan baru mengenal lafal /mbak/ sejak merantau ke Magelang.

“Menurut aku untuk diri aku sendiri aneh untuk diganti jadi ‘mbak’ gitu. Karena kan udah terbiasa pakai ‘mba’. Jadi mending tetap pakai pelafalan ‘mba’ aja. Kalau berbicara kan sama saja (artinya), cuma beda di medok atau nggaknya,” kata Iqbal.

Di kampung mereka, baik Iqbal dan Meidiana bilang sebenarnya “mbak” rada nggak umum dipakai buat menyapa. Mereka justru lebih biasa memanggil perempuan lebih tua dengan sapaan “kak”. Lagian, kata Iqbal, panggilan “kak” lebih berterima buat banyak orang.

“Kan banyak juga ya orang-orang yang tidak mau dipanggil dengan sebutan ‘mba’, jadinya kalau ada orang yang baru aku kenal di Jakarta, menyapanya dengan panggilan ‘kak’ aja gitu sih,” ujar Iqbal.

Lain lagi dengan Fanny, remaja kelahiran Jogja yang sempat tinggal di Jakarta, namun kini kembali berdomisili di Jawa Tengah. Justru Fanny merasa rada aneh jika ada orang yang menyebut atau typing dengan kata “mba”. Ya gimana, dia lebih sering mendengar “mbak” digunakan. Ia sendiri lebih sering menjumpai “kak” dipakai di Jakarta ketimbang “mbak”.

Tapi Fanny maklum, menduganya karena kebiasaan. “Aku waktu di Jakarta jarang denger orang manggil ‘mba’. Lebih sering dipanggil atau manggil dengan sebutan ‘kak’ untuk perempuan. Jadi menurut aku, lingkungan tempat tinggal dan kebiasaan juga mempengaruhi dalam penyebutan seseorang,” ujar Fanny.

Alhasil Fanny jadi terbawa. Jika bertemu orang yang baru dikenal, ia selalu melihat orangnya terlebih dahulu. Saat bertemu orang usianya lebih muda, ia akan menyapa “dek”. Tapi apabila si tamu berusia sama atau lebih tua sedikit dari dia, ia menyapanya dengan sebutan “kak”. Ia baru memakai “mbak” jika sedang di daerah selain Jakarta, dan hanya kepada perempuan yang menurutnya berusia lebih tua tetapi belum menikah.

Iklan

Di luar soal kebiasaan, ada juga yang pernah menjumpai bahwa “mbak” di Jawa Barat memang punya stereotip jadi panggilan khusus untuk pembantu dan pedagang kaki lima. Itu dialami Lia, warga Kabupaten Cilacap yang terkenal dengan tekanan /k/-nya yang khas itu. Lia sempat menetap di Bandung sebentar, lalu sejak tiga tahun lalu tinggal di Jakarta dan Banten.

“Aku jadi inget dulu manggil ‘mbak’ ke tetangga kosanku di jatinangor, dia orang Sunda gitu. Terus sama kakakku akunya diomelin. Katanya, jangan manggil ‘mbak’, soalnya temenku yang orang Sunda terbiasanya ‘mbak’ itu untuk pembantu atau bakul apa gitu yang di pinggir jalan. Takut dia tersinggung. Akhirnya aku bukannya ngubah ‘mbak’ jadi ‘mba’, sekalian ubah manggil teteh. Wkwk,” cerita Lia.

Menurut Lia, bunyi /k/ yang hilang itu mungkin-mungkin aja dipilih karena netral. “Mungkin karena /k/ itu kesannya terlalu Jawa gitu nggak sih? Jadi nganggep ‘mba’ itu udah paling netral, nggak pakai logat gitu….”

Konotasi “mbak” dan pembantu juga mudah ditemukan di Jakarta. Jika menyimak ujaran para artis, bahkan “mbak” sudah menjadi kata ganti untuk pembantu. Tapi karena laporan ini dibuat bukan untuk menghakimi, kalau ada pesan moralnya ya hanya satu: jika kamu orang Jakarta atau Jawa Barat yang disapa “mbak” oleh orang Jawa, jangan tersinggung ya. Di Jawa sapaan itu justru tanda hormat kok 🙂

Reporter: Indah Khusuma Wardani

BACA JUGA Kisah Sopir Jogja-Kaliurang yang Tak Lagi Punya Penumpang dan liputan menarik lainnya di rubrik SUSUL.

Terakhir diperbarui pada 15 Maret 2021 oleh

Tags: bahasa jawajakartajawajawa baratMBAmbakpanggilansapaan
Prima Sulistya

Prima Sulistya

Penulis dan penyunting, tinggal di Yogyakarta

Artikel Terkait

Sikap atau reaksi pekewuh dan basa-basi ala orang Jawa jadi karakter yang justru merepotkan diri sendiri MOJOK.CO
Catatan

Sikap Pekewuh dan Basa-basi Ala Orang Jawa bikin Repot Diri Sendiri, Sialnya Tak Gampang buat Terus Terang

21 Mei 2026
Jogja berbenah saat Jakarta alami kemunduran. MOJOK.CO
Urban

25 Tahun Adu Nasib di Jakarta sebagai Orang Gila Kerja, Ternyata Hidup Lebih Waras Saat Pindah ke Jogja

20 Mei 2026
Anak Jakarta vs Anak Kabupaten.MOJOK.CO
Urban

4 Tahun Merantau di Jakarta Bikin Sadar, “Orang Kabupaten” Jauh Lebih Toksik dari Anak Jaksel: Sialnya, Susah di-Cut Off

19 Mei 2026
Anak Muda Ogah Angkat Panggilan Telepon, Dianggap Ganggu dan Cuma Bikin Cemas Mojok.co
Pojokan

Anak Muda Ogah Angkat Panggilan Telepon, Dianggap Ganggu dan Cuma Bikin Cemas

18 Mei 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pandeglang, Mati-matian Bertahan di Jogja Buat Apa? MOJOK.CO

5 Tahun Merantau, Sadar Kalau Pandeglang dan Jogja Itu Mirip: Tak Ramah Buat Cari Duit, Masyarakatnya pun Pasrah sama Nasib 

17 Mei 2026
Penjelasan Kemendiktisaintek soal pengubahan program studi (prodi) Teknik menjadi Rekayasa MOJOK.CO

Mengubah Nomenklatur Prodi Teknik Jadi Rekayasa, Apa Tujuannya?

16 Mei 2026
Penjual Makanan Laris Dikit Dituduh Pesugihan, Kebodohan yang Kita Pelihara dan Rayakan

Penjual Makanan Laris Dikit Dituduh Pesugihan, Kebodohan yang Kita Pelihara dan Rayakan

18 Mei 2026
Melalui Seminar Literasi di Pesta Buku Jogja, IKAPI DIY dorong Yogyakarta jadi Ibu Kota Buku UNESCO karena punya ratusan penerbit MOJOK.CO

Jogja dan Produksi Pengetahuan Lewat Ratusan Penerbit Buku, Modal Jadi Ibu Kota Buku UNESCO

16 Mei 2026
omong kosong srawung di desa.MOJOK.CO

Omong Kosong Slogan “Srawung” di Desa: Cuma Jahat ke Warga Miskin, Kalau Kamu Tajir Tak Perlu Membaur buat Dihormati

18 Mei 2026
Mahasiswa dapat beasiswa KIP Kuliah bohongi orang tua demi uang saku dobel MOJOK.CO

Dapat Beasiswa KIP Kuliah Jalur FOMO, Bohongi Ortu biar Dobel Uang Saku karena Gaya Hidup Tak Cukup Rp750 Ribu

20 Mei 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.