Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Kabar

Suara-suara dari Bawah yang Tak Terdengar oleh Petinggi Muhammadiyah, Tolak Tambang malah Dicap Radikal

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
25 Juli 2024
A A
Alih-alih dengar Suara dari Bawah, Muhammadiyahb malah Pilih Susul PBNU Urus Tambang MOJOK.CO

Ilustrasi - Suara-suara dari bawah yang tak terdengar petinggi Muhammadiyah di simpang jalan menyusul PBNU urus tambang. (Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Organisasi massa (Ormas) Muhammadiyah tengah jadi sorotan atas isu izin tambang. Jika isu tersebut benar, Muhammadiyah bisa dibilang tutup telinga atas suara-suara dari bawah, yang mendesak agar Persyarikatan tak menyusul PBNU.

***

Tempo menjadi yang paling awal menaikkan berita bahwa Persyarikatan sudah memutuskan menerima izin tambang dari pemerintah untuk ormas pada Kamis (25/7/2024). Dalam beritanya, Tempo mewawancara langsung Anwar Abbas selaku Pengurus PP Muhammadiyah.

Anwar Abbas menyebut, dalam rapat pleno Persyarikatan, salah satu ormas Islam terbesar di Indonesia tersebut telah memutuskan menerima izin tambang. Setidaknya begitulah kata Abbas. Tentu dengan catatan, di antaranya yakni berkomitmen untuk meminimalisir kerusakan lingkungan.

Berita Tempo yang telah tayang lebih dulu tersebut sontak membuat gempar jagad media sosial. Kata kunci “Muhammadiyah” trending topic di X. Komentar negatif memborbardir ormas berlogo matahari terbit itu. Bahkan—seperti yang PBNU alami sebelumnya—logo Muhammadiyah turut diubah dengan atribut pertambangan.

Muhammadiyah belum resmi bersikap

Satu jam usai Tempo menaikkan berita, website resmi Pengurus Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah menyusul menaikkan berita dengan judul “Muhammadiyah Terima Izin Usaha Pertambangan dari Pemerintah! Apa Dampaknya?”. Namun, beberapa jam kemudian, link berita tersebut jika diklik sudah tak muncul beritanya lagi.

Ternyata, sebenarnya Persyarikatan masih belum resmi mengambil sikap. Belum ketok palu. Setidaknya begitulah keterangan dari Ketua PP Muhammadiyah, Dahlan Rais.

“Memang ada kecenderungan menerima. Tapi belum ada keputusan. Sikap orang-orang di internal masih berbeda-beda,” jelasnya kepada awak media, Kamis (25/7/2024).

Atas kegaduhan yang sudah menyebar luas, para petinggi Persyarikatan meminta publik dan awak media untuk menunggu pernyataan resmi dari Pimpinan Pusat. Jangan terburu-buru menyimpulkan seolah-olah Persyarikatan sudah fiks mengambil konsesi tambang.

Namun, saat artikel ini tayang, Persyarikatan memang belum memberi pernyataan secara resmi dan belum membocorkan kapan akan memberi pernyataan.

Tanda-tanda susul PBNU sudah terbaca sejak lama

Sejak Juni 2024 lalu, tak lama setelah PBNU mengambil izin tambang, Muhammadiyah memang menunjukkan kecenderungan akan menyusul. Bedanya dengan PBNU, Persyarikatan tidak mau buru-buru.

“Justru kalau ingin menunjukkan uswah hasanah (teladan baik), kita harus menunjukkan bahwa kita bisa. Jadi ini soal kebijakan,” ungkap Ketum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, mengomentari polemik ormas mengelola tambang dalam Sidang Senat Terbuka Milad ke-21 di Universitas Muhammadiyah Sukabumi (UMMI) Kamis, (13/6/2024), seperti terdokumentasikan dalam website resmi Persyarikatan.

Dalam kesempatan tersebut Haedar menjelaskan bahwa umat Islam harus berdaya, di antaranya dengan bisa mengelola sumber daya alam sendiri. Penjelasan yang saat itu sudah terbaca sebagai tanda-tanda Persyarikatan bakal menyusul PBNU. Meski saat itu memang masih belum bersikap secara tegas.

Suara-suara yang tak terdengar ke petinggi Muhammadiyah

Sejak PBNU resmi mengambil izin tambang, meski Persyarikatan belum bersikap, sebenarnya banyak kalangan di Muhammadiyah yang mendesak agar Pimpinan Pusat menolak.

Iklan

Bahkan Kader Hijau Muhammadiyah (KHM) melalui website resminya secara konsisten menerbitkan tulisan-tulisan untuk mempertegas desakan tersebut.

Karena jika misalnya Muhammadiyah mengambil izin tambang, maka bertentangan dengan Keputusan Muktamar ke 44 tahun 2000 dan Muktamar ke 48 tahun 2022. Isinya secara ringkas yakni penegasan bahwa Persyarikatan menentang segala bentuk pengrusakan alam.

KHM juga menerbitkan dokumen Kertas Posisi mendesak Pimpinan Pusat menolak tambang, yang mencakup poin-poin berikut:

  1. Menolak kebijakan pemerintah memberikan izin kepada organisasi masyarakat keagamaan untuk mengelola pertambangan seperti ekstraksi batubara karena akan merusak alam dan organisasi masyarakat keagamaan yang seharusnya menjaga marwah sebagai institusi yang bermoral.
  2. Pemberian izin tambang pada ormas keagamaan, berpotensi hanya akan menjadi sumber konflik interest dan menguntungkan segelintir elit ormas, menghilangkan tradisi kritis ormas, dan pada akhirnya melemahkan organisasi keagamaan sebagai bagian dari kekuatan masyarakat sipil yang bisa mengontrol dan mengawasi pemerintah.
  3. Mendesak PP Muhammadiyah bersikap tegas untuk menolak kebijakan pengelolaan tambang untuk ormas keagamaan dan membatalkan Izin Usaha Pertambangan (IUP) yang telah ditawarkan pemerintahan Jokowi karena akan menjerumuskan Muhammadiyah pada kubangan dosa sosial dan ekologis.
  4. Mendesak PP Muhammadiyah agar kembali khittah perjuangan dan tidak menerima tawaran konsesi tambang, yang kemudian hari akan membuat Muhammadiyah terkooptasi menjadi bagian dari alat pemerintah untuk mengontrol masyarakat, serta terus mendorong penggunaan energi terbarukan.
  5. Meminta Muhammadiyah untuk menata organisasi secara lebih baik dan profesional dengan mendayagunakan potensi yang ada demi kemandirian ekonomi tanpa harus masuk dalam bisnis kotor tambang yang akan menjadi warisan kesesatan historis.
  6. Muhammadiyah untuk semua, milik banyak orang—Pimpinan Wilayah, Daerah, Cabang, Ranting hingga individu-individu yang berkhidmat pada Muhamadiyah—bukan hanya milik Pimpinan Pusat dan elite-elitnya. Kita semua punya caranya sendiri mencintai Muhammadiyah sebagai wadah untuk menjaga kelestarian lingkungan.
  7. Menyerukan seluruh Pimpinan Wilayah, Daerah, Cabang hingga Ranting Muhammadiyah serta seluruh elemen masyarakat untuk berkonsolidasi dan terus berupaya membatalkan peraturan yang rawan menyebabkan kebangkrutan sosial dan ekologi.

Sayangnya, KHM merasa bahwa suara-suara dari bawah tak benar-benar didengar oleh orang-orang pusat Persyarikatan.

“Nampaknya, peringatan “keras” ini tidak mendapatkan atensi lebih dari para elite Muhammadiyah. Prof. Haedar Nashir bahkan dalam artikelnya di situs Muhammadiyah.or.id berjudul “Pengaruh Ideologi Kiri LSM” melabeli gerakan yang kritis dan anti dalam pengelolaan sumber daya alam, termasuk dalam pengelolaan minerba, adalah LSM radikal-kiri beraliran Marxisme dan Neo-Marxisme,” keluh KHM dalam dokumen resminya baru-baru ini.

Imbas dari artikel Haedar, KHM menyebut ada sekitar 1.340 anak muda Persyarikatan dari lintas badan otonom yang  bergerak bersama mendesak Pimpinan Pusat menolak tawaran tambang. Salah satunya melalui gerakan #alleyesonmuhammadiyah. Menyusul kemudian terbitanya Surat Terbuka dari Kader Berau oleh Rahmatullah Al-Barawi di KHM.

“Apakah jika Muhammadiyah menerima tambang, ini akan membuat Muhammadiyah keluar dari khittahnya sebagai organisasi kemasyarakatan dakwah amar ma’ruf nahi munkar? Sebab penambangan lebih banyak bermuara pada kemunkaran dan mafsadat daripada yang ma’ruf dan maslahat,” demikian bunyi salah satu baris kalimat dalam surat tersebut.

Ini belum termasuk suara-suara dari kader-kader Muhammadiyah lain yang mayoritas mendesak Pimpinan Pusat menolak tambang. Jika pada akhirnya ternyata menyusul PBNU, suara-suara itu seperti tak terdengar.

Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Hammam Izzuddin

BACA JUGA: Pahitnya Jadi Anggota Banser, Tulus Berbuat Baik dan Tak Rugikan Orang tapi Kerap Dicaci Maki

Ikuti berita dan artikel Mojok lainnya di Google News.

 

Terakhir diperbarui pada 26 Juli 2024 oleh

Tags: konsesi tambangMuhammadiyahormas nambangpbnupilihan redaksitambang
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Evakuasi anjing terbuang dari tangan para jagal di Jogja MOJOK.CO
Suara Bawah Tanah

Evakuasi Anjing Terbuang dari Operasi Senyap Para Jagal di Jogja, Kebal Intimidasi dan Caci Maki

10 Juni 2026
Ketika Hukum Mandul dan Sang Jenderal Jagal Terus "Menyangkal", Hantu Masa Lalu Datang Memberi Keadilan.MOJOK.CO
Seni

Ketika Hukum Mandul dan Sang Jenderal Jagal Terus “Menyangkal”, Hantu Masa Lalu Datang Memberi Keadilan

10 Juni 2026
Mengajar di Wamena: Dari Perang Suku hingga Jalan Kaki 7 Hari demi Menjadi Sarjana
Esai

Mengajar di Wamena: Dari Perang Suku hingga Jalan Kaki 7 Hari demi Menjadi Sarjana

10 Juni 2026
Para Jagal Anjing di Jogja dan Mitos yang Terus Dipelihara.MOJOK.CO
Suara Bawah Tanah

Para Jagal Anjing di Jogja dan Mitos yang Terus Dipelihara

8 Juni 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Organisasi Nahdlatul Ulama (NU) perlu menghidupkan kembali adab yang selama ini menjadi ciri khas pesantren, tidak cukup perbaikan sistem MOJOK.CO

NU Perlu Hidupkan Tata Krama Organisasi di Tengah Dinamika yang Semakin Kompleks, Perbaikan Sistem Saja Tak Cukup

7 Juni 2026
Jawa Tengah dan Bappenas bersinergi dalam percepatan pembangunan infrastruktur di Pantura dan Pansela MOJOK.CO

Pembangunan Infrastruktur Pantura dan Pansela Jadi Prioritas karena Jateng Punya Banyak Potensi Ekonomi

9 Juni 2026
Para Jagal Anjing di Jogja dan Mitos yang Terus Dipelihara.MOJOK.CO

Para Jagal Anjing di Jogja dan Mitos yang Terus Dipelihara

8 Juni 2026
Peluncuran program pendidikan koperasi (perkoperasian) untuk sekolah-sekolah yang dipelopori Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (Pemprov Jateng) MOJOK.CO

Jawa Tengah Bikin Pendidikan Koperasi di Sekolah: Bekal Kewirausahaan dan Alternatif Lapangan Kerja untuk Gen Z-Gen Alpha

5 Juni 2026
Katanya Sekolah Itu Tiket VIP Hidup Mapan, Ternyata Jadi Ibu Rumah Tangga yang Bikin Goyah Negara MOJOK.CO

Katanya Sekolah Itu Tiket VIP Hidup Mapan, Ternyata Jadi Ibu Rumah Tangga yang Bikin Goyah Negara

5 Juni 2026
Mengajar di Wamena: Dari Perang Suku hingga Jalan Kaki 7 Hari demi Menjadi Sarjana

Mengajar di Wamena: Dari Perang Suku hingga Jalan Kaki 7 Hari demi Menjadi Sarjana

10 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.