Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Kabar

Menteri ESDM Bahlil Bikin Kebijakan Ngawur yang Mematikan Pedagang Kecil

Aisyah Amira Wakang oleh Aisyah Amira Wakang
4 Februari 2025
A A
Pembatasan Gas LPG oleh Menteri ESDM Bahlil Lahadalia. MOJOK.CO

ilustrasi - pemerintah membatasi penjualan gas LPG 3 Kg ke pengecer. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Pakar ekonomi energi menyebut Menteri ESDM Bahlil Lahadalia bikin kebijakan ngawur. Akibat kebijakan ini, sejumlah pedagang usaha makanan kecil mengeluh karena kesulitan mendapatkan gas elpiji (LPG) 3 kilogram (kg).

Kebijakan Bahlil dinilai jauh dari komitmen Presiden Prabowo yang berpihak pada rakyat kecil. Alih-alih membantu akar rumput, kebijakan ini justru mematikan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Iklan

***

Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), Dinda (41) mengaku kebingungan beberapa hari terakhir, karena penjual gas LPG 3 Kg eceran dekat rumahnya selalu kehabisan stok. Bahkan ada yang sudah tidak menjual gas melon tersebut. Padahal, biasanya gas LPG 3 Kg mudah ditemui di dekat rumahnya.

“Saya selalu kehabisan stok, bingung juga kenapa sampai langka seperti ini? Apa harganya mulai naik atau bagaimana?” ujar Dinda kepada Mojok, Selasa (4/2/2025).

Apa yang Dinda alami juga dirasakan oleh banyak orang. Hal ini imbas dari pemerintah yang mengubah “aturan main” penjualan liquefied petroleum gas (LPG) 3 kilogram (Kg) secara eceran. Kebijakan ini berlaku sejak Sabtu (1/2/2025) kemarin.

“Dengan menghilangkan peran pengecer dalam rantai pasokan gas bersubsidi, pemerintah ingin memastikan bahwa masyarakat mendapatkan harga yang telah ditetapkan dan mencegah spekulasi harga yang merugikan konsumen,” ujar Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung pada Jumat, (31/1/2025), dikutip dari Antara.

Dengan begitu, masyarakat wajib membeli gas bersubsidi atau LPG 3 Kg di pangkalan resmi yang telah terdaftar di Pertamina. Alih-alih membantu, beberapa pedagang justru mengeluhkan kebijakan tersebut. Seperti Dinda maupun Miftah (24) yang memiliki usaha makanan.

Kebingungan dengan kelangkaan gas LPG 3 Kg

Dinda merupakan pelaku UMKM keripik basreng di Bandung. Ia bisa menghabiskan 2 hingga 3 tabung LPG 3 Kg dalam waktu kurang dari seminggu. Jika bisnisnya lancar, ia bisa masak seharian tanpa henti dan menghabiskan 1 tabung gas dalam dua hari.

Guna menjalankan usaha basrengnya, Dinda terbiasa membeli gas elpiji di pangkalan resmi yang lokasinya sekitar 3 kilometer dari rumahnya. Sebab, harga di pangkalan lebih murah dibandingkan dengan eceran. 

Di pangkalan, Dinda bisa membeli satu tabung gas LPG 3 Kg seharga Rp18 ribu. Namun lagi-lagi, pada situasi yang tak menentu ia harus menggunakan opsi lain dengan membeli gas di toko eceran, yakni seharga Rp22 ribu.

“Kadang-kadang kalau darurat, seperti ada pesanan yang jatuh tempo. Maka, saya harus beli di pengecer, karena lebih dekat dengan rumah,” ucapnya.

Beli gas LPG 3 Kg di eceran lebih efisien

Kebingungan Dinda juga dialami oleh penjual warung makan di Surabaya, Miftah (24). Meski belum merasakan dampaknya secara langsung, Miftah mengaku kebijakan yang dicanangkan oleh Bahlil Lahadalia tidak efisien. Malah mempersulit masyarakat yang memiliki usaha makanan.

“Kalau tujuannya untuk mencegah permainan harga, kan bisa cari solusi lain dengan sidak harga ke toko-toko tersebut misalnya?” ujar Miftah. 

Iklan

Kebijakan itu kurang menguntungkan bagi Miftah yang harus membeli gas elpiji setiap hari. Ia merasa pekerjaannya akan lebih terbantu jika membeli gas di warung eceran dibandingkan di pangkalan. Keluar sedikit saja dari warungnya, ia sudah bisa membeli gas di toko-toko klontong.

“Sekitar 400 meter dari warungku, sudah ada Warung Madura berjejer. Biasanya, aku beli gas di sana,” kata dia.

Sementara, jika membeli gas di pangkalan yang jaraknya 1,4 kilometer dari warungnya, Miftah harus membuang banyak waktu. Belum lagi, setelah membeli gas, ia harus membantu memasak dan menjual makanan di warung milik ibunya, sehingga mengharuskannya kerja cepat.

Meskipun, ia tetap bisa menggunakan sepeda motor, tapi jalanan di kawasan rumahnya, tepatnya di Jalan Margomulyo, banyak dilalui oleh truk-truk dan trailer besar. Jadi harus hati-hati membawanya. 

Saat bulan puasa, khawatir situasi semakin chaos

Di Jogja, kelangkaan gas LPG memang belum sepenuhnya dirasakan. Hal ini diungkapkan Marsidah, ibu rumah tangga yang tinggal di Condongcatur, Sleman.

Ia mengaku masih bisa membeli gas elpiji 3 Kg di pengecer, seperti Warung Madura. Namun, ia sudah mendapatkan ultimatum bahwa stok bisa saja habis dalam waktu dekat.

“Bilangnya, ‘ini stok terakhir hari ini, besok belum tentu tersedia’,” ujarnya, Selasa (4/2/2025) pagi, mengulang kalimat penjual tempatnya membeli gas.

Kondisi ini pun bikin dia was-was. Apalagi, waktu sudah semakin dekat dengan Bulan Ramadan. Jika kelangkaan gas LPG terjadi secara berlarut-larut, ibu dua anak ini khawatir situasi bakal makin kacau.

“Bulan puasa itu kebutuhan masaknya besar. Apalagi buat buka puasa dan sahur. Kebayang kalau mau masak sahur tapi gas habis, susah carinya.”

Prabowo Subianto harus tegur Bahlil

Apa yang dialami oleh Dinda, Miftah, dan kekhawatiran Marsidah, memperkuat pendapat Ekonom Energi, Fahmy Radhi. Dosen Ekonomi Energi Universitas Gadjah Mada (UGM) itu mengatakan kebijakan pelarangan pengecer menjual LPG 3 Kg dapat merugikan rakyat kecil, baik pengusaha kecil maupun konsumen. Di mana, kebanyakan dari mereka berasal dari golongan miskin.

“Larangan bagi pengecer menjual LPG 3 Kg mematikan usaha mereka,” ucapnya, dikonfirmasi Mojok, Selasa (4/2/2025).

Ia khawatir kebijakan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia tersebut dapat menghilangkan pendapatan dan berisiko menambah angka pengangguran. Lagi-lagi, rakyat kecil yang dirugikan. Terbukti, banyak pedagang yang kesulitan membeli gas LPG 3 kg, khususnya mereka yang tinggal jauh dari pangkalan resmi. 

Selain itu, kata Fahmy, mustahil bagi pengusaha kecil untuk beralih membeli gas di pangkalan resmi. Sebab, membutuhkan modal besar untuk membeli LPG 3 dalam jumlah besar. 

“Prabowo harus menegur Bahlil atas kebijakan blunder ini, agar kebijakan serupa tidak terulang kembali,” ucapnya.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Suara Pedagang Kecil di Jogja, Pasokan LPG Aman Cuan Lancar atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan.

Terakhir diperbarui pada 6 Februari 2025 oleh

Tags: Bahlil Lahadaliagas elpijigas lpg 3 kggas lpg langkagas melonMenteri ESDMpangkalan gas resmi
Aisyah Amira Wakang

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Artikel Terkait

Terima Kasih No Na! "Udah Siap Belum?" Akhirnya Mengalahkan "Mas Bahlil Ganteng" di Kepala Bocil
Esai

Terima Kasih No Na! “Udah Siap Belum?” Akhirnya Mengalahkan “Mas Bahlil Ganteng” di Kepala Bocil

6 Juli 2026
Jingle MBG Mas Bahlil Ganteng: ejekan ke figur politik tapi jadi alat reproduksi popularitas, buktinya Partai Golkar senang MOJOK.CO
Kabar

MBG Mas Bahlil Ganteng Sudah Over-eksposur: Bahasa Kritik tapi Jadi Alat Reproduksi Popularitas, Bikin Golkar Senang

28 Mei 2026
Evolusi Meme Mas Bahlil Ganteng: Saat Algoritma Menyelamatkan Citra Kanda Buahlil MOJOK.CO
Esai

Evolusi Meme Mas Bahlil Ganteng: Saat Algoritma Menyelamatkan Citra Kanda Buahlil

27 Mei 2026
SPBU Diserbu Jadi Bukti Buruknya Komunikasi Pemerintah MOJOK.CO
Tajuk

SPBU Diserbu: Isu Stok BBM 20 Hari Bikin Panik Menjadi Wujud Buruknya Komunikasi Pemerintah dan Publik Sulit untuk Percaya

9 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kerajinan lokal Yogyakarta di INACRAFT. MOJOK.CO

INACRAFT Jogja: Jembatan bagi Perajin Lokal Menembus Pasar Global Lewat Karya yang Tak Biasa

15 Juli 2026
Cerita alumnus Unika, side hustle untuk temukan kebermaknaan. MOJOK.CO

Kisah Alumnus Unika Pilih Side Hustle dengan Mengubah Sampah Plastik Jadi Kerajinan agar Waras dari Kerjaan Freelance

15 Juli 2026
Pengalaman buruk investasi saham habis 50 juta cuma untung 27 ribu MOJOK.CO

Pengalaman menyedihkan investasi saham habis 50 juta cuma untung 27 ribu per bulan bikin saya kapok dan memutuskan pindah ke deposito demi ketenangan hidup

16 Juli 2026
Pakai jastip Mie Gacoan di Jombang: bayar lebih mahal untuk menu membagongkan MOJOK.CO

Pakai Jastip Mie Gacoan Ala Orang Jombang Pinggiran: Niat Hindari Kenorakan, Yang Datang Menu Membagongkan

20 Juli 2026
Cerita Pencari Kerja Difabel datang ke Job Fair Ditemani Ibu: ‘Semua Orang Punya Kemampuan asal Diberi Kesempatan’.MOJOK.CO

Cerita Jobseeker Difabel datang ke Job Fair Ditemani Ibu: ‘Semua Orang Punya Kemampuan asal Diberi Kesempatan’

17 Juli 2026
Pom mini warung madura kini jadi solusi di tengah antrean panjang SPBU yang tidak masuk akal MOJOK.CO

Strategi Hindari Antrean SPBU Tak Efektif Lagi, Isi Bensin di Pom Mini Warung Madura Jadi Solusi Asal Tak Pakai Logika Takaran

18 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.