Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Aktual

3 Hal Bermanfaat yang Bisa Dilakukan dengan Uang Rp900 Juta Ketimbang Dikasih ke “Calo” Polisi

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
5 Januari 2025
A A
3 Hal Bermanfaat yang Bisa Dilakukan dengan Uang Rp900 Juta Ketimbang Dikasih ke “Calo” Polisi.MOJOK.CO

Ilustrasi - 3 Hal Bermanfaat yang Bisa Dilakukan dengan Uang Rp900 Juta Ketimbang Dikasih ke “Calo” Polisi (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Nasib naas menimpa pasangan suami istri asal Pemalang, Jawa Tengah bernama Suratmo (56) dan Sutijah. Niat hati ingin daftarkan anaknya menjadi aparat, mereka malah ketipu calo polisi. Jumlah uang yang telah mereka setorkan ke anggota polisi tersebut tak main-main: Rp900 juta.

Awalnya, pengrajin gerabah ini mengaku punya keinginan anaknya bekerja sebagai polisi. Sayangnya, kedua anaknya selalu gagal saat seleksi. 

Pada momen tersebut, secara tak sengaja mereka bertemu dengan WT. Dia merupakan anggota polisi asal Pemalang yang mengaku bisa “meloloskan” anak Suratmo menjadi polisi.

Akhirnya, Suratmo pun menjual tanah seluas 2,6 ribu meter persegi. Hasil penjualannya dipakai untuk menyetor duit ke WT. Rinciannya, Suratmo menyetor sebanyak empat kali: Rp75 juta, Rp275 juta, Rp500 juta, dan Rp50 juta.

Setelah uang disetor, sayangnya WT tak menepati janjinya. Kedua anak Suratmo nyatanya tetap saja kandas dalam tes Bintara Polri. Bahkan, salah satunya sudah dinyatakan gugur dalam seleksi administrasi tingkat Polres. Sementara anaknya yang lain tersingkir di Semarang.

Suratmo pun telah melaporkan kasus ini. Sementara WT telah ditetapkan sebagai tersangka. Dia terancam hukuman pidana dan kode etik dari kepolisian.

3 hal bermanfaat dengan Rp900 juta ketimbang buat daftar polisi

Setelah berita itu tersebar di media sosial, respons warganet pun bertebaran. Ada yang mengaku ini sudah jadi rahasia umum dan tak sedikit juga yang menganggapnya maklum jika melihat kualitas polisi di Indonesia hari ini.

Kebetulan, berita tersebut muncul saat kredibilitas kepolisian sedang dipertanyakan. Mulai dari rekayasa kasus penembakan GR di Semarang, pemerasan polisi di DWP Jakarta, sampai kasus penembakan bos rental mobil setelah polisi menolak laporan.

Tapi yang lebih unik, banyak juga warganet yang berandai-andai: “Daripada buat daftar polisi, kira-kira Rp900 juta bisa dipakai buat apa, ya?”

Setelah melakukan komparasi, reporter Mojok membuat daftar tiga hal bermanfaat yang bisa dipakai dengan duit Rp900 juta, ketimbang dikasih calo polisi. Berikut ini daftarnya:

#1 Menggaji 3.000 guru honorer lebih punya manfaat

Mojok pernah membuat banyak liputan terkait guru honorer. Kebanyakan tulisan tersebut adalah soal duka dan keluhan mereka yang mendapat upah tak layak.

Salah satunya adalah Hani (25), guru honorer asal Bantul yang bahkan cuma diupah rata-rata Rp300 per bulan. Menurut Hani, apa yang dialaminya bukan fenomena tunggal. Nyatanya, ada banyak kawan-kawan seprofesinya yang punya nasib serupa.

“Bahkan yang lebih buruk pun tak kalah banyak,” jelas lulusan UNY ini, saat Mojok hubungi Sabtu (4/1/2024).

Kalau mengacu Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 83/PMK.02/2022 tentang Standar Biaya Masukan Tahun Anggaran 2023, keluhan Hani memang valid.

Iklan

Berdasarkan PMK tersebut, besaran gaji pengajar honorer yang berasal dari luar satuan kerja penyelenggara adalah sebesar Rp300.000. Sementara pengajar honorer yang berasal dari dalam satuan kerja penyelenggara adalah Rp200.000.

Dengan demikian, jika dihitung, duit Rp900 juta yang Suratmo pakai buat membayar calo polisi, bisa buat menggaji 3.000 guru honorer. 

Ya, tetap saja tak menutup fakta bahwa gaji guru honorer amat kecil. Tapi setidaknya, lebih bermanfaat daripada buat ngasih makan calo polisi, bukan?

#2 Meluluskan puluhan mahasiswa UNY

Makin ke sini, semakin banyak yang mengeluh soal tingginya biaya kuliah. Mahasiswa UNY pun banyak yang mengalaminya. Bagi mereka, uang kuliah tunggal (UKT) di UNY memang tak murah lagi.

Per 2024, UKT terendah di UNY adalah sebesar Rp500 ribu. Sementara yang tertinggi rata-rata berada di kisaran Rp6 juta. 

Sebagai catatan, itu belum termasuk uang pangkal bagi mahasiswa jalur seleksi mandiri yang nominalnya amat besar. Ada yang dapat Rp10 juta, Rp25 juta, dan yang Rp50 juta pun juga banyak. 

Mojok sendiri menemui salah satu mahasiswa UNY bernama Dandi (20). Dia merupakan mahasiswa jalur SNBT dan mengaku “aman” dari uang pangkal. UKT-nya pun sebesar Rp2,4 juta; nominal yang menurutnya masih ringan ketimbang kebanyakan temannya. 

Dandi juga merupakan tipikal mahasiswa yang aktif. Baik di organisasi internal, maupun di ekstrakampus. IPK-nya pun juga cenderung tinggi buat mahasiswa semester empat, yakni 3,7.

Dengan asumsi Dandi menghabiskan Rp20 juta untuk membayar UKT sampai lulus (idealnya delapan semester). Artinya, duit Rp900 juta yang dipakai Suratmo buat membayar calo polisi bisa dipakai buat meluluskan 45 Dandi lain di UNY. Sementara yang UKT-nya lebih rendah dari Dandi, bisa jadi jumlahnya bisa ratusan mahasiswa.

Memang, ini tak bisa menutup fakta kalau biaya kuliah di UNY itu mahal. Tapi, meluluskan mereka setidaknya jauh lebih bermanfaat daripada nyetor duit ke calo polisi, bukan?

#3 Mending buat menggaji anggota Damkar di 10 kabupaten, atau daftar polisi?

Di media sosial, warganet menganggap polisi dan pemadam kebakaran (Damkar) adalah entitas yang saling berkebalikan. Jika polisi dianggap “evil”-nya, maka petugas Damkar adalah kebalikannya. Mereka dianggap lebih sigap, lebih mengayomi, dan di titik paling ekstrem: dianggap lebih punya manfaat daripada polisi.

Sayangnya, kalau ngomongin kesejahteraan, mereka masih di bawah polisi. Belakangan, banyak petugas Damkar yang mengeluh karena minimnya fasilitas yang mereka dapat. Sementara polisi, dalam penganggaran besaran APBN saja berada di posisi kedua. Pengadaan fasilitas penunjang seperti gas air mata, senjata, dan sejenisnya, juga tak pernah kurang-kurang.

Bahkan kalau membicarakan upah, petugas Damkar rata-rata hanya mendapatkan Rp2 juta per bulan (sesuai PP Nomor 5 Tahun 2024). Dengan demikian, duit Rp900 juta yang disetor Suratmo ke calo polisi, bisa buat menggaji 450 petugas Damkar.

Kalau rata-rata jumlah personel Damkar di tiap kabupaten adalah 40 orang (di Sleman 39), maka jumlah itu setara dengan 10 kabupaten.

Jadi, mending mana, Rp900 juta buat daftar polisi, atau mengupah petugas Damkar di 10 kabupaten?

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Bagi Saya, Polisi yang Baik Hati Hanya Ada di Lagu Slank atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 5 Januari 2025 oleh

Tags: calo polisidaftar polisiDamkarguru honorerPolisipolisi nipu
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

guru, stem, guru honorer, pns.MOJOK.CO
Edumojok

Indonesia Hadapi Darurat Kualitas Guru dan “Krisis Talenta” STEM

31 Januari 2026
guru BK.MOJOK.CO
Ragam

Menjadi Guru BK Capek Mental dan “Tak Menghasilkan”, Memilih Resign dan Kerja Kantoran Meski Harus Mengubur Cita-Cita

29 Januari 2026
Curhat Guru PPPK Paruh Waktu: Status ASN, Kontrak Setahun, Gaji Masih Teka-teki MOJOK.CO
Esai

Curhat Guru PPPK Paruh Waktu: Status ASN, Kontrak Setahun, Gaji Masih Teka-teki

23 Januari 2026
Ketulusan Guru BK di SMP Pelosok Ponorogo MOJOK.CO
Ragam

Curhatan Guru BK Hari Ini: Profesi Dipandang “Sepele”, Padahal Harus Hadapi Gen Z yang Masalahnya Makin Kompleks

8 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Ribetnya punya mobil di desa. Bisa menjadi musuh masyarakat perkara parkir. Rawan jadi korban iseng bocil-bocil nakal MOJOK.CO

Repotnya Punya Mobil di Desa: Bisa Jadi “Musuh Masyarakat” Perkara Parkir dan Garasi, Masih Rawan Jadi Korban Kenakalan Bocil-bocil

15 April 2026
Lulusan SMK cuma kerja jadi pegawai di SPBU, diremehkan saudara tapi malah jadi tempat ngutang MOJOK.CO

Lulusan SMK Kerja di SPBU Diremehkan, Malah Jadi Tempat Ngutang buat Kuliah Anak Saudara karena Dikira Punya Segepok Uang

21 April 2026
kuliah, wisua, sarjana di desa.MOJOK.CO

Jadi Sarjana di Desa, Bangga sekaligus Menderita: Dituntut Bisa Segalanya, tapi Juga Tak Dihargai Tetangga dan Dicap “Beban Keluarga”

15 April 2026
Ilustrasi punya rumah megah di desa.MOJOK.CO

Membangun Rumah Megah demi Penuhi Standard Kesuksesan di Desa Malah Bikin Ibu Tersiksa: Terasa Sepi, Cuma “Memuaskan” Mata Tetangga

21 April 2026
Kebusukan Mahasiswa FH UI Membuka Luka Lama Para Penyintas, Tak Ada yang Lebih Aman dari “Rahim” seorang Ibu bagi Korban Kekerasan Seksual MOJOK.CO

Bayangkan Kalau Korban adalah Ibumu, Itu Nasihat Paling Nggak Guna bagi Pelaku Kekerasan Seksual

19 April 2026
Pertamax Turbo Naik, Curiga Pertamax dan Pertalite Langka Stres

Kata Siapa Pemakai Pertamax Turbo Nggak Ngamuk Melihat Kenaikan Harga? Saya Juga Stres karena Curiga Pertamax dan Pertalite Akan Jadi Barang Langka

19 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.