Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Kotak Suara

Benarkah Keluarga Berencana Jadi Solusi dari Perubahan Iklim?

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
10 Februari 2023
A A
KB dan perubahan iklim

Ilustrasi Program Keluarga Berencana (Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK – Pertumbuhan jumlah penduduk yang signifikan diklaim telah mempercepat proses perubahan iklim. Keluarga Berencana (KB), sebagai salah satu program untuk menekan pertumbuhan penduduk, disebut mampu menjadi solusi atas masalah itu. Benar begitu?

Overpopulasi atau pertambahan penduduk yang berlebihan ditengarai telah bertanggungjawab dalam mempercepat perubahan iklim. Sebuah studi yang dipublikasikan pada 2010 lalu menyimpulkan, bahwa bertambahnya jumlah penduduk akan ikut mempengaruhi terjadinya perubahan iklim.

Menurut penelitian berjudul “Climate change impacts are sensitive to the concentration stabilization path”, bertambahnya jumlah penduduk diindikasikan dapat meningkatkan jumlah kebutuhan energi, yang selama ini lebih didominasi oleh sumber energi dari bahan bakar fosil.

Penggunaan sumber energi kotor dari bahan bakar fosil akan memicu terjadinya emisi gas rumah kaca. Ini adalah penyebab pemanasan global dan perubahan iklim.

“Semakin banyak jumlah manusia di muka bumi, maka akan menyebabkan semakin bertambahnya jumlah penggunaan sumber energi dari bahan bakar fosil,” tulis Brian O’Neill dan Michael Oppenheimer, dalam penelitian yang terbit di Proceedings of the National Academy of Sciences, dikutip Kamis (9/2/2023).

Sebaliknya, penelitian tersebut juga mengungkap bahwa lambatnya pertumbuhan penduduk dapat mengurangi laju emisi gas rumah kaca hingga mencapai angka 16-29 persen, dan dapat menjaga suhu global dari efek-efek serius tertentu. Meski begitu, rendahnya pertumbuhan penduduk juga tidak serta-merta dapat mencegah terjadinya perubahan iklim.

KB untuk menekan pertumbuhan penduduk

Penelitian O’Neill dan Oppenheimer tersebut memperkirakan bahwa pada 2050, jumlah penduduk akan bertambah sebanyak 3 miliar dari jumlah yang sekarang. Hal itu berarti akan ada 9 miliar manusia pada 2050 dan ini menjadi angka yang mengkhawatirkan.

Namun, sebenarnya pertumbuhan penduduk ini masih dapat ditekan. Jika pertumbuhan itu dapat ditekan, misalnya menjadi 8 miliar saja, maka emisi gas rumah kaca pun dapat ditekan hingga angka 29 persen.

Salah satu kebijakan pengendalian penduduk adalah melalui program Keluarga Berencana. Program yang kerap disingkat KB ini merupakan program skala nasional. Tujuannya untuk menekan angka kelahiran dan mengendalikan pertambahan penduduk di suatu negara.

Di Indonesia sendiri, program KB telah diatur dalam UU N0 10 tahun 1992, yang dijalankan dan diawasi oleh Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN).

Menurut Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan (PSKK) UGM, program KB dapat menjadi solusi untuk mengatasi pertumbuhan penduduk. Program ini sekaligus dapat menghadirkan dimensi gender, dengan partisipasi perempuan di dalamnya, untuk mengatasi permasalahan iklim.

“Salah satu kebijakan pengendalian penduduk adalah melalui program Keluarga Berencana (KB),” tulis PSKK UGM, dikutip Kamis (9/2/2023).

“Dari situlah dimensi gender, melalui partisipasi perempuan dalam program KB, menjadi pertimbangan penting dalam upaya pengendalian penduduk,” sambungnya.

Jangan dipandang sebagai solusi utama

Meski dapat menekan pertumbuhan penduduk—dan pada gilirannya diklaim memperlambat perubahan iklim—PSKK UGM tetap menekankan bahwa harus ada kehati-hatian di dalamnya.

Iklan

Menurutnya, KB jangan dipandang sebagai satu-satunya cara untuk mengatasi perubahan iklim. Terlebih membingkai ulang perubahan iklim sebagai sekadar masalah overpopulasi, justru dapat mengarahkan pada kebijakan yang memaksa karena tubuh perempuan semata-mata menjadi alat untuk mengurangi fertilitas dan jumlah penduduk.

Ini sesuai dengan yang disampaikan organisasi global GenderCC – Woman for Climate Justice, yang menyebut bahwa benar perempuan harus memiliki akses terhadap keluarga berencana. Namun, hal ini tidak boleh diperlakukan atau dibingkai ulang sebagai solusi utama perubahan iklim.

Kesehatan, kesejahteraan, dan hak-hak perempuan harus menjadi inti dari semua program KB. Jangan sampai kebijakan keluarga berencana yang berpusat pada iklim (climate-centric family planning) justru mengancam kesehatan seksual dan reproduksi perempuan.

Jika itu terjadi, maka program itu hanya bakal memperlemah pendekatan berbasis hak (right-based approach) yang telah disahkan dalam Konferensi Internasional tentang Kependudukan dan Pembangunan di Kairo, Mesir,  pada 1994.

“Oleh karena itu, peningkatan akses terhadap layanan keluarga berencana dan kesehatan reproduksi harus dapat memberikan banyak manfaat. Seperti peningkatan pilihan dan hasil kesehatan bagi perempuan,” jelas GenderCC dalam siaran persnya.

Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Amanatia Junda

BACA JUGA Plis, Ya! Pakai Alat Kontrasepsi Bukan Kewajiban Perempuan, Aja!

Terakhir diperbarui pada 10 Februari 2023 oleh

Tags: kbkeluarga berencanaoverpopulasiPemilu 2024pertambahan pendudukperubahan iklim
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

perubahan iklim, cuaca ekstrem mojok.co
Sosial

Cuaca Ekstrem Tak Menentu, Pakar UGM: Bukti Nyata Perubahan Iklim

24 April 2026
Pabrik Semen, Pracimantoro, Wonogiri.MOJOK.CO
Ragam

Pabrik Semen Mengancam Wonogiri, Bisa Hancurkan Sumber Air dan Bentang Karst

23 Januari 2025
Rasanya Satu Kelompok KKN dengan Anak Caleg, KKN Undip.MOJOK.CO
Kampus

Rasanya Satu Kelompok KKN dengan Anak Caleg, Semua Urusan Jadi Mudah Meski Suasana Bikin Tak Betah

14 Juli 2024
Komeng: Olok-Olok Rakyat Biasa untuk Menertawakan Politik MOJOK.CO
Esai

Komeng Adalah Bentuk Olok-Olok Paling Menohok yang Mewakili Lapisan Masyarakat Biasa untuk Menertawakan Politik

19 Februari 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kerja di Jakarta, Cara Terbaik Buat Melihat Sisi Buruk Manusia adalah Kerja di F&B.mojok.co

FnB di Jakarta Bikin Sengsara Pekerjanya: Bisnis Elite tapi Gaji Karyawannya Seuprit, yang Dimiliki Artis bahkan Lebih Tak Manusiawi

2 Juni 2026
pekerja kantoran.MOJOK.CO

Akal-akalan “Kantor adalah Keluarga”, Menguras Mental dan Menggerogoti Karier

4 Juni 2026
Sejumlah titik ruas jalan rusak di Jawa Tengah (Jateng) dapat perbaikan di 2026 MOJOK.CO

Jalan Rusak di Jawa Tengah Dapat Perbaikan di 2026: Rusak Berat Diprioritaskan, Pengerjaan Dilarang Asal-asalan

5 Juni 2026
Usai lulus SMA jadi fotografer di Kota Lama Surabaya. MOJOK.CO

Jadi Fotografer Lepas di Kota Lama Surabaya usai Lulus SMA, Gaji Tak Seberapa asal Bisa Menabung untuk Masa Depan yang Lebih Cerah

4 Juni 2026
Tempat kerja, Standard Good Looking dan Berpenampilan Menarik yang Diskriminatif dan Merugikan Pekerja Perempuan

Standard Good Looking dan Berpenampilan Menarik yang Diskriminatif dan Merugikan Pekerja Perempuan

3 Juni 2026
Organisasi Nahdlatul Ulama (NU) perlu menghidupkan kembali adab yang selama ini menjadi ciri khas pesantren, tidak cukup perbaikan sistem MOJOK.CO

NU Perlu Hidupkan Tata Krama Organisasi di Tengah Dinamika yang Semakin Kompleks, Perbaikan Sistem Saja Tak Cukup

7 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.