Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Kampus

Rasanya Satu Kelompok KKN dengan Anak Caleg, Semua Urusan Jadi Mudah Meski Suasana Bikin Tak Betah

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
14 Juli 2024
A A
Rasanya Satu Kelompok KKN dengan Anak Caleg, KKN Undip.MOJOK.CO

Ilustrasi Rasanya Satu Kelompok KKN dengan Anak Caleg, Semua Urusan Jadi Mudah Meski Suasana Bikin Tak Betah (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Kuliah Kerja Nyata (KKN) selalu meninggalkan kenangan tersendiri bagi para mahasiswa yang menjalaninya. Ada kenangan manis, tapi tak jarang juga kenangan pahit yang mereka dapatkan. Bagi Aini (21), momen KKN Undip 2022/2024 lalu rasanya “amat hambar tapi masih terngiang-ngiang”.

Dibilang manis enggak juga, tapi kalau dikatakan pahit sepertinya tidak adil. Sebab, setelah KKN berakhir, masih ada cerita-cerita absurd yang bikin dia tersenyum kalau mengingatnya.

Iklan

Pada KKN Undip 2023/2024 lalu, Aini satu kelompok dengan anak salah caleg yang maju dalam Pemilu DPRD Pemalang–tempatnya melangsungkan kegiatan KKN. 

Ada dua kebetulan yang mahasiswa Undip ini alami. Kebetulan pertama, desa tempatnya KKN adalah dapil dari sang caleg. Sementara kebetulan kedua, anak sang caleg tadi terpilih sebagai ketua kelompoknya. 

Dua kebetulan tersebut yang akhirnya membawa Aini pada “pengalaman tak terlupakan” selama KKN.

Awalnya berpikir KKN akan berjalan lancar karena diketuai anak caleg kaya raya

Sekitar November 2023 lalu, pengumuman pembagian kelompok KKN Undip berserta lokasi penerjunannya diterima oleh mahasiswa. Tak lama setelahnya, Aini diundang dalam sebuah grup KKN yang penempatannya ke salah satu desa di Kabupaten Pemalang.

Di awal, semua masih berjalan lancar. Laiknya sebuah kelompok KKN, Aini dan teman-temannya mulai mengenal satu sama lain setelah beberapa kali mengadakan rapat.

Namun, dari semua anggota di kelompoknya, ada satu nama yang mencuri perhatian Aini. Sebut saja Arif, yang belakangan disepakati sebagai ketua kelompok mereka.

Bagaimana tidak mencuri perhatian, soalnya Arif adalah mahasiswa yang tajir melintir. Itu terlihat dari outfit dan tunggangannya. Di antaranya teman-teman di kelompoknya, cuma Arif yang punya mobil.

Bahkan, setiap ada rapat pra-penerjunan pun, Arif selalu mentraktir dia dan teman-temannya. Padahal pengeluaran buat pesan makan dan minum di kafe tidaklah sedikit.

“Pokoknya setiap ada rapat di kafe, dia selalu yang bayarin. Pokoknya seumur-umur aku berteman dengan mahasiswa, kayaknya dia deh yang paling kaya,” kata Aini, bercerita kepada Mojok, Sabtu (13/7/2024) pagi.

Aini pun langsung optimis kalau KKN-nya bakal berjalan lancar. Ia berpikir setidaknya tidak akan ada kendala dalam hal akomodasi, sebab di kelompoknya sudah punya “ATM berjalan”.

Si Kaya ternyata anak caleg, bikin kelompoknya kikuk

Saat kelompoknya mulai terjun ke desa penempatan, Aini dan teman-temannya baru tahu kalau Arif adalah anak salah satu caleg di Pemilu DPRD Pemalang.

Semua berawal saat memasuki salah satu kawasan di Pemalang, foto banner caleg terpasang di mana-mana. Kebetulan memang waktu KKN Aini bertabrakan dengan jadwal kampanye Pemilu 2024.

Iklan

“Nah itu jadi awkward moment, soalnya kan di mobil dia, kami semua roasting satu-satu banner-banner para caleg di pinggir jalan,” ungkap Aini.

“Nah, pas ada satu banner caleg kami kata-katain, tiba-tiba Arif marah. Nggak terima. Pokoknya baper gitu. Eh dia ngaku kalau yang kita roasting tadi foto bapak dia.”

Setelah Arif marah-marah, suasana di dalam mobil menjadi hening. Aini mengingat hampir tak ada obrolan lagi sepanjang perjalanan ke lokasi. Aini merasa kalau Arif sangat kesal dengan yang lain. 

Sesampainya di desa lokasi KKN pun, situasi di kelompoknya tak asyik lagi. Semua serba kikuk.

“Kebayang kan paniknya kami. Sejak awal Arif udah seperti donatur KKN kami, apalagi dia juga ketua kelompok. Kalau dia ngambek kan bahaya dong.”

Beda pandangan politik bikin kelompok terpecah

Selain kikuk, Aini juga merasakan kelompok KKN-nya menjadi panas. Terjadi perbedaan pendapat dikit saja, pasti langsung ada mulut. 

Situasi itu bikin dia merasa tak nyaman. Bahkan, beberapa temannya yang perempuan mengaku tidak betah, meski nekad bertahan karena nggak mungkin berhenti di tengah jalan.

Menurut Ani, sebenarnya program kerja kelompoknya sangat fair. Alias, tak ada proker-proker yang menjurus kampanye politik meski desa tersebut adalah dapil dari ayahnya Arif.

Aini merasa ketegangan di kelompoknya terjadi karena dua hal. Pertama, sikap Arif yang masih baper setelah ayahnya diroasting berjamaah. Dan kedua, teman-teman KKN-nya punya preferensi politik yang beda dengan Arif.

“Gampangnya begini. Teman-teman yang lain nggak suka partai A, eh, bapaknya Arif ternyata dari partai A. Mana hampir tiap hari debat masalah beginian,” kenangnya.

Aini sendiri mengaku tak terlalu mengikuti perpolitikan menjelang pemilu. Jadi, dia cuma menikmati saja perdebatan Arif dan teman-teman di kelompoknya nyaris tiap malam.

Indahnya KKN justru didapat setelah kegiatan selesai

Selama masa KKN Undip berlangsung, Aini mengaku tak ada yang bisa dia nikmati. Tak ada kenangan yang dia dapatkan selain cerita absurd satu kelompok dengan anak caleg.

“Gimana mau nikmatin KKN coba, tiap hari berantem. Kelompok juga anyep-anyep aja.”

Karena merasa tak saling akrab, setelah KKN selesai akhir Februari 2024 lalu, Aini dan teman-temannya nyaris tak kontakan lagi. 

Hampir tak ada obrolan di grup KKN. Dan, jangankan nongkrong, chat dengan teman-teman yang lain pun juga seperlunya saja.

Namun, ada satu orang di kelompoknya yang sampai saat ini masih kontakan dengannya. Dan, teman kelompoknya itulah yang sekarang jadi pacarnya.

“Orang kan bilang cinlok itu di KKN. Lah, aku malah cinloknya setelah KKN. Soalnya baru mulai PDKT setelah KKN, sih,” pungkasnya.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA Lebihi Drama KKN, Kenangan Trauma Mahasiwa Bandung Magang Kuliah di Batam Malah Berakhir Nemu Mayat

Ikuti artikel dan berita Mojok lainnya di Google News

Terakhir diperbarui pada 15 Juli 2024 oleh

Tags: calegCerita KKNKKNkkn undipkkn undip 2023/2024mahasiswa undipPemilu 2024Undip
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Mahasiswa KKN di desa
Sekolahan

Serba Salah KKN di Desa: Terlalu Pendiam Dianggap Nggak Guna, Banyak Omong Dicap Sok Tahu

24 Juli 2026
Mahasiswa muak dengan KKN di desa. Mending magang saja MOJOK.CO
Sekolahan

Mahasiswa Sudah Muak dengan KKN: Tak Dapat Faedah di Desa, Buang-buang Waktu dan Tak Dibutuhkan Warga

9 April 2026
Mahasiswa KKN di desa
Catatan

KKN Itu Menyenangkan, yang Bikin Muak adalah Teman yang Jadi Beban Kelompok dan Warga Desa yang “Toxic”

9 April 2026
Perjuangan UTBK SNBT demi lolos universitas terbaik di Semarang (Universitas Diponegoro alias Undip). Numpang di masjid hingga andalkan makan dari warga saat kelaparan MOJOK.CO
Sekolahan

UTBK SNBT Modal Nekat dan Keberuntungan demi Undip: Tak Bawa Uang, Numpang Tidur di Masjid-Bergantung Makan dari Warga saat Kelaparan

30 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Biaya kos, kisah mahasiswa.MOJOK.CO

Bertahan di Kos Tanpa Jendela yang Berisik dan Sepanas Oven, Semua Demi Ngirit dan Lolos Ancaman DO Kampus

30 Juli 2026
Budi daya ikan nila cuan 18 juta tiap 4 bulan tapi jangan ngasal MOJOK.CO

Budi daya ikan nila bisa cuan 18 juta tiap 4 bulan tapi jangan sampai merusak sumber daya 40 tahun ke depan

30 Juli 2026
Nasirun, pelukis-seniman maestro berpulang dengan meninggalkan ingatan kebaikan MOJOK.CO

Hadiah Lukisan Topeng dari Membetulkan Antena TV dan Laku Hidup Seorang Nasirun

1 Agustus 2026
Dugaan Korupsi Bupati Sukoharjo: Warisan Bernama Korupsi MOJOK.CO

Bupati Pemalang Kena OTT KPK, Mengapa Kasus Korupsi Kepala Daerah Terus Berulang?

29 Juli 2026
Akademisi UGM kritik RUU Sisdiknas karena belum menjawab tantangan pendidikan nasional di masa mendatang MOJOK.CO

RUU Sisdiknas Dinilai Belum Jawab Tantangan Pendidikan hingga Menyoal Relevansi Perguruan Tinggi Kedinasan

28 Juli 2026
Dari Kebun Binatang Surabaya, Kita Belajar Cara Penguasa Melakukan Social Murder MOJOK.CO

Dari Kebun Binatang Surabaya, Kita Belajar Cara Penguasa Melakukan Social Murder

31 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.