Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Kilas

Sosiolog UGM: Tidak Turun ke Jalan Bukan Berarti Mahasiswa Apolitis 

Kenia Intan oleh Kenia Intan
24 November 2022
A A
Mahasiswa Mojok.co

Ilustrasi

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Gerakan mahasiswa dihadapkan berbagai tantangan di tengah era disrupsi dan kebebasan mendapatkan akses informasi. Salah satunya, mahasiswa dituntut menemukan cara baru dalam menyampaikan aspirasi politiknya. 

Sosiolog Universitas Gadjah Mada (UGM) Arie Sudjito menjelaskan, gerakan mahasiswa di era 90-an berbeda dengan kemunculan gerakan mahasiswa di era demokratisasi yang terjadi sekarang ini. Aktivis mahasiswa sekarang ini dihadapkan pada kondisi untuk memikirkan banyak hal dan ragam pilihan dalam menyampaikan ekspresi dan aktivitasnya. 

Saat Orde Baru, gerakan mahasiswa muncul karena proses demokrasi tidak berjalan sebagaimana mestinya dan tindakan represif negara cukup keras terhadap gerakan mahasiswa di kala itu. Namun saat ini, Arie melihat liberalisasi politik sudah berjalan dengan baik, berbeda ketika Orde Baru. Ditandai dengan adanya kebebasan pers, desentralisasi, dan demiliterisasi. 

“Karenanya saat ini gerakan sosial mahasiswa tidak lagi identik memobilisasi massa secara fisik. Sekarang tersedia instrumen untuk mendistribusi informasi. Setiap sejarah punya cara sendiri,” katanya dalam Diskusi Buku Aldera Potret Gerakan Politik Kaum Muda 1993-1999 yang digelar di Auditorium Mandiri Fisipol UGM, Jumat (18/11/2022). 

Tidak banyaknya aksi  turun ke jalan bukan berarti aktiviis mahasiswa tidak sedang tidak berpolitik atau apolitis.  Mereka hanya punya cara pandang  yang berbeda.

Oleh karena itu, Arie melihat diperlukan ruang lintas generasi agar mahasiswa tidak mengalami gap soal sejarah gerakan di masa lalu. Jangan sampai ada patahan membaca sejarah. 

“Jangan sampai seorang aktivis menyampaikan mengatakan enak (kebebasan dan kesejahteraan) zaman Orde Baru. Padahal, banyak orang diculik dan diangkut,” jelas dia seperti dikutip dari laman resmi UGM, Senin (21/11/2022). 

Saat Order Baru, tindakan represif dari berbagai aspek terjadi, upaya penjinakan aktivis mahasiswa lewat senat mahasiswa  dan kebijakan NKK-BKK. Oleh karenanya, banyak mahasiswa tidak berani berorganisasi di kampus, banyak yang keluar. Turun ke jalan adalah salah satu cara bersiasat. 

Membaca kondisi saat ini, penulis buku dan mantan aktivis Aldera Teddy Wibisana mengungkapkan, aktivis mahasiswa tidak boleh gentar dalam menyampaikan aspirasi dan pandangannya di sosial media sepanjang pandangannya ia anggap benar. Bahkan, jangan sampai takut menyampaikan pandangan atau kritik yang berisiko berhadapan dengan hukum.  

“Selalu yakin dengan apa yang diperjuangkan. Jika merasa benar, semua tidak akan menjadi masalah. Kegalakan di sosial media memang sering berisiko berhadapan di depan hukum. Jangan sampai langsung membuat kita kendor,” ungkap dia dalam kesempatan yang sama. 

Sementara mantan aktivis 98 Nezar Patria menilai, berjalannya proses demokratisasi di Indonesia adalah buah reformasi menjadikan partai politik sekarang ini terlihat lebih dominan. Bahkan, keberadaannya lebih kuat dibandingkan dengan peran lembaga nonpemerintah (NGO) seperti di era tahun 90-an. 

“Kita bisa hitung sendiri, hanya NGO yang bergerak dalam gerakan HAM saja yang nampak sekarang ini, YLBHI dan Kontras. Dulu banyak sekali. Sekarang NGO banyak bergerak ke isu lingkungan,” katanya.

Penulis: Kenia Intan
Editor: Purnawan Setyo Adi

BACA JUGA Yang Anarko Bisa Lakukan ketika Job Demo Sepi

Terakhir diperbarui pada 24 November 2022 oleh

Tags: AktivisDemoMahasiswa
Kenia Intan

Kenia Intan

Content Writer Mojok.co

Artikel Terkait

Mahasiswa gen Z kuliah malas baca jadi brain rot
Sekolahan

Mahasiswa Gen Z Bukan Tak Bisa Membaca, tapi “Brain Rot” karena Sering Disuapi dan Kecanduan AI

23 April 2026
Alasan Gelar Sarjana Tak Lagi Jadi Jaminan Mudah Dapat Kerja MOJOK.CO
Esai

Alasan Gelar Sarjana Tak Lagi Jadi Jaminan Mudah Dapat Kerja

20 April 2026
Meminta Dosen-Mahasiswa Jalan Kaki ke Kampus ala Eropa: Antara Visi Elit dan Realitas yang Sulit MOJOK.CO
Esai

Meminta Dosen-Mahasiswa Jalan Kaki ke Kampus ala Eropa: Antara Visi Elite dan Realitas yang Sulit

10 April 2026
Kerja di Pabrik, Kuliah S2, dan Dihajar Asam Lambung MOJOK.CO
Esai

Kerja di Pabrik, Kuliah S2, dan Dihajar Asam Lambung

6 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kerja di Jakarta.MOJOK.CO

Jakarta Tak Cocok bagi Fresh Graduate yang Cuma “Pengen Cari Pengalaman”: Bisa Bikin Finansial dan Mental Layu Sebelum Berkembang

26 April 2026
perubahan iklim, cuaca ekstrem mojok.co

Cuaca Ekstrem Tak Menentu, Pakar UGM: Bukti Nyata Perubahan Iklim

24 April 2026
pasar wiguna.MOJOK.CO

Pasar Wiguna Sukaria Edisi 102 Padati Vrata Hotel Kalasan, Usung Semangat “Wellness” dan Produk Lokal

26 April 2026
Menormalisasi pakai jasa porter di stasiun kereta api MOJOK.CO

Pakai Jasa Porter di Stasiun meski Bisa Bawa Barang Sendiri: Sadar 50 Ribu Itu Tak bikin Rugi, Tapi Justru Belum Seberapa

23 April 2026
Solo date lebih asik daripada nongkrong bareng teman. MOJOK.CO

“Solo Date” Menjelang Usia 25: Meski Tampak Menyedihkan, Nyatanya Lebih Bermanfaat daripada Nongkrong Bersama

23 April 2026
Tahlilan ibu-ibu di desa: acaranya positif tapi ternodai kebiasaan gibah dan maido MOJOK.CO

Tahlilan Ibu-ibu di Desa: Kegiatan Positif tapi Sialnya Jadi Kesempatan buat Flexing Perhiasan, Mengorek Aib, hingga Saling Paido

28 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.