Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Kilas

5 Fakta Selokan Mataram Jogja, Akal-akalan Sultan HB IX Menghindari Romusha

Kenia Intan oleh Kenia Intan
13 September 2023
A A
Fakta Selokan Mataram Jogja MOJOK.CO

Fakta Selokan Mataram Jogja (jogjaprov.go.id)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Selokan Mataram bukan sekadar saluran irigasi untuk persawahan. Kanal air yang membelah Yogyakarta itu merupakan siasat Sultan HB IX untuk menyelamatkan warga dari Romusha atau kerja paksa. 

Siapa pun yang pernah tinggal di Jogja pasti tidak asing dengan Selokan Mataram. Kanal air sepanjang 30,8 kilometer (km) itu membentang dari sisi barat ke timur Yogyakarta. Kanal air ini menghubungkan Sungai Progo yang berada di sisi barat dan Sungai Opak yang berada di sisi timur.

Menilik sejarahnya, kanal air ini tidak sekadar menjadi irigasi sawah warga. Pembangunan Selokan Mataram pada 1942-1944 adalah siasat Sultan HB IX agar Jepang tidak memanfaatkan warganya untuk Romusha.

Siasat Sultan HB IX

Raja Keraton Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono IX, menjadi sosok yang menyarankan pembangunan kanal air ini. Rencana pembangunan ini sengaja ia ajukan ke Jepang agar rakyatnya terhindar dari Romusha yang terkenal kejam. Sultan HBX meyakinkan Jepang bahwa Yogyakarta memerlukan kanal air karena daerahnya yang kering. Adanya saluran irigasi yang baik bisa mengerek setoran hasil bumi ke penjajah. Jepang pun menyetujui rencana itu.

Akhirnya, tenaga rakyat pada waktu itu banyak terserap untuk pembangunan Selokan Mataram. Walau rakyat menerima imbalan yang sedikit atau bahkan tidak dibayar sama sekali, kondisi itu masih lebih baik daripada ikut Romusha. Kerja paksa ala Jepang itu memang terkenal kejam. Bahkan, bukan tidak mungkin pekerja Romusha bisa kehilangan nyawa.

Menelan dana 1,6 juta gulden

Tidak hanya menyetujui rencana pembangunan kanal air, Jepang juga turut mendanainya. Perkiraan dana yang Jepang gelontorkan untuk pembangunan ini mencapai 1,6 juta gulden. Jumlah yang tidak sedikit pada saat itu.

Dana jutaan gulden itu salah satunya untuk mengupah pekerja yang sangat banyak. Setidaknya ada 1,2 juta buruh yang terlibat dalam pembangunan Selokan Mataram. Mereka diupah 0,35 gulden hingga 0,45 gulden. Jutaan buruh itu belum termasuk 68.000 pekerja sukarela yang tidak mendapat imbalan. Mereka hanya mendapat jatah makan satu kali sehari.

Selokan Mataram punya beragam sebutan

Sebelum terkenal dengan nama Selokan Mataram. Kanal air ini memiliki beberapa sebutan, salah satunya Kali Malang. Nama itu terinspirasi dari latar belakang pembangunan yang bertujuan mencegah warga Jogja dari kemalangan Romusha. Sumber lain menyebutkan, Kali Malang terinspirasi dari lokasinya yang “malang” atau  melintang dalam Bahasa Indonesia.

Selain bernama Kali Malang, Selokan Mataram juga terkenal sebagai kanal Yoshihiro di kalangan penjajah Jepang. Penamaan itu diambil dari Jenderal Perang Shimazu Yoshihiro (1535-1619), sosok yang dianggap penting oleh orang Jepang. Jenderal itu berhasil mengalahkan 3.000 pasukan hanya dengan 300 pasukan.

Ada dalam ramalan

Pembangunan selokan mataram sesuai dengan ramalan Raja Joyoboyo dari Kediri. Ramalan itu menyebut, adanya penyatuan suda sungai di tanah Mataram akan mendatangkan kemakmuran pada rakyatnya.

Adapun saluran irigasi ini memang mampu mengairi 15.734 ha persawahan di Yogyakarta. Kali ini mengairi seluruh kecamatan di sisi utara kecuali Tempel , Pakem, Turi, dan Ngaglik. Di wilayah barat kali ini mengairi kecamatan Moyudan, Minggir, Seyegan, Mlati. Sementrara di sisi selatan mengairi persawahan Kabupaten Bantul dan sekitarnya serta daerah Prambanan, Kalasan, di wilayah timur.

Jalur Selokan Mataram dibelokan karena makam kiai

Salah satu titik Selokan Mataram konon ada yang sengaja dibelokan untuk menghindari makam keramat. Mojok pernah menelusuri makam ini, terletak tidak jauh dari Kantor Kelurahan Margokaton, Seyegan, Sleman. Tempat keramat itu adalah makam Kiai dan Nyai Baedhowi.

Cerita secara temurun yang Mojok peroleh dari warga setempat, Kiai Baedhowi banyak berjasa saat Perang Jawa sekitar 1825-1830. Pangeran Diponegoro sempat mengirim beberapa utusannya untuk meminta bantuan logistik berupa beras pada Kiai Baedhowi. Padahal, Kiai Baedhowi bukan dari kalangan berada.

Uniknya, Kiai Baedhowi justru para utusan Pangeran Diponegoro untuk mengisi karung dengan pasir yang ada di sekitar kali. Para utusan menurut saja, mereka mengisi penuh karung-karung itu lalu mengangkatnya ke atas gerobak. Dalam perjalanan pulang, mereka memerika karung-karung tadi sudah berubah menjadi beras.

Iklan

Penulis: Kenia Intan
Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA Kanal Van Der Wijck, Alasan Mengapa Masakan di Yogya Memiliki Rasa Manis
Cek berita dan artikel Mojok lainnya di Google News

Terakhir diperbarui pada 13 September 2023 oleh

Tags: Jogjaselokan mataramSultan HB IX
Kenia Intan

Kenia Intan

Content Writer Mojok.co

Artikel Terkait

Biaya kos, kisah mahasiswa.MOJOK.CO
Sekolahan

Bertahan di Kos Tanpa Jendela yang Berisik dan Sepanas Oven, Semua Demi Ngirit dan Lolos Ancaman DO Kampus

30 Juli 2026
Kos 150 Ribu di Jogja Saksi Perjuangan Lolos SNBT, Rela Mandi Air yang Bikin Gatal Demi PTN Impian.MOJOK.CO
Sekolahan

Kos 150 Ribu di Jogja Saksi Perjuangan Lolos SNBT, Rela Mandi Air yang Bikin Gatal Demi PTN Impian

29 Juli 2026
Usaha jasa kebersihan, Ready Clean Jogja sampai ke Turki. MOJOK.CO
Sosok

Berawal dari Kegabutan dan UMK Jogja yang “Ngenes”, Kini Mampu Kirim Pegawai ke Turki agar Gelar Sarjana Tak Sia-sia

28 Juli 2026
Nikahkan anak di Lapas Wirogunan Yogyakarta. MOJOK.CO
Kabar

Penuhi Tanggung Jawab sebagai Ayah, Seorang Napi Nikahkan Putrinya di Lapas Wirogunan Jogja

28 Juli 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kampung Menari Hasta Budaya, Wadah Gratis Warga Gowongan Lestarikan Tari Klasik Jogja.MOJOK.CO

Kampung Menari Hasta Budaya, Wadah Gratis Warga Gowongan Lestarikan Tari Klasik Jogja

6 Agustus 2026
KAFEIN Gelar Workshop Kritik Film di DIY, Sasar Pelajar hingga Komunitas MOJOK.CO

KAFEIN Gelar Workshop Kritik Film di DIY, Sasar Pelajar hingga Komunitas

3 Agustus 2026
Nasirun, pelukis-seniman maestro berpulang dengan meninggalkan ingatan kebaikan MOJOK.CO

Hadiah Lukisan Topeng dari Membetulkan Antena TV dan Laku Hidup Seorang Nasirun

1 Agustus 2026
Kenapa aktivis yang memulai bisnis kerap dicap sebagai kapitalis? MOJOK.CO

Kenapa aktivis harus miskin dan yang memulai bisnis kerap dicap sebagai kapitalis?

4 Agustus 2026
77 persen lulusan sekolah vokasi (sarjana terapan) tembus dunia kerja. Lebih dari dari lulusan S1 MOJOK.CO

Lulusan Sekolah Vokasi (Sarjana Terapan) Lebih Laris di Dunia Kerja dari S1, Industri Butuh yang Berketerampilan

7 Agustus 2026
kekerasan di matraman, kos di jakarta.MOJOK.CO

10 Tahun Merantau Bikin Sadar, Kita Benar-benar Sendiri di Kota Orang: Adanya Teman “Benalu” dan Kalau Susah pun Haram Diketahui Ortu

3 Agustus 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.