Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Kilas Memori

Menelusuri Sejarah Kampung Musikanan: Kala Musik Barat Pernah Berjaya di Keraton Yogyakarta

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
21 Oktober 2023
A A
Menelusuri Sejarah Kampung Musikanan: Kala Musik Barat Pernah Berjaya di Keraton Yogyakarta MOJOK.CO

Penampilan Yogyakarta Royal Orchestra dalam sebuah acara. (Dok. Yogyakarta Royal Orchestra)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Di lingkungan Keraton Yogyakarta, ada sebuah kampung di mana dahulu para abdi dalemnya merupakan musisi. Tak tanggung-tanggung, jenis musik yang mereka mainkan adalah musik barat, bukan gamelan sebagaimana budaya Jawa. Nama kampung itu, Kampung Musikanan.

Oleh karena keahlian para Abdi Dalem-nya itu, nama kampung ini dinamai “Kampung Musikan”. Konon, nama ini berasal dari kata musikan (bahasa Belanda) atau musician (bahasa Inggris).

Secara administratif, ia terletak di Kelurahan Panembahan, Kemantren Keraton, Kota Yogyakarta. Kalau kalian penasaran ingin berkunjung, lokasinya tepat di sebelah barat SD Keputran. 

Pada era kolonial Hindia Belanda, kampung ini tak pernah sepi dari bunyi-bunyian instrumen musik Eropa seperti flute, trombon, trumpet, saxophone, dan klarinet. 

Sultan bahkan menyukai dan menikmati jenis musik tersebut. Malahan, pada berikut hari muncul musisi-musisi kondang dari Kampung Musikanan, antara lain FA Warsana, Waryadi, Mas Sardi, Idris Sardi, Suhardjo, Iramayadi, Yudhianto dan sebagainya.

Lantas, seperti apa kisahnya hingga musik Barat dapat begitu berjaya di lingkungan Keraton Yogyakarta?

Untuk menyambut Gubernur Jenderal Hindia Belanda

Mengutip riset Tim Peneliti Akademi Musik Indonesia Yogyakarta berjudul “Musik Diatonik dalam Kraton Kasultanan Yogyakarta” (1982), para abdi dalem yang khusus memainkan musik barat kemungkinan mulai muncul pada masa pemerintahan Sultan HB VIII sekitar 1923. 

Saat itu, Keraton Yogyakarta bersiap menyambut Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Dirk Fock, yang ingin berkunjung.

Untuk menghormati kunjungan itu, Sultan pun berinisiatif mengadakan pementasan musik Barat atau Eropa. Maka, mulailah Sultan membeli alat-alat musik Eropa dari Batavia. Ia juga membentuk Abdi Dalem Musikan, yang nantinya akan mengiringi musik untuk sang gubernur jenderal.

Tak sampai di situ, Sultan bahkan juga mendatangkan seniman multitalenta asal Jerman bernama Walter Spies pada November 1923. Spies ia minta untuk bekerja sebagai instruktur dan dirigen musik.

Selama di Yogyakarta, Spies tinggal di rumah KRT Jayadipura. Untuk pekerjaannya itu, ia mendapat gaji 100 ribu gulden per bulan.

Kraton Orcest Djogja terbentuk di Kampung Musikanan

Kehadiran Spies memberikan pengaruh yang cukup besar. Kala itu, ia berhasil membuat kesatuan musik Eropa di keraton yang memiliki 40 anggota. Kelompok orkesnya itu ia namai Kraton Orcest Djogja, yang bertugas mengiringi perarakan gunungan saat Garebeg Sawal, hingga berbagai pementasan saat menyambut tamu resmi.

Para Abdi Dalem yang tergabung dalam Kraton Orcest Djogja juga diberi nama dengan kata-kata dari bahasa Belanda. Misalnya, mereka menggunakan nama-nama hari seperti Zondag (Minggu), Maandag (Senin), dan Dinsdag (Selasa), dan seterusnya. 

Ada juga yang menggunakan nama-nama dari istilah dalam opera. Misalnya, Aida, nama opera karya G. Verdi yang muncul tahun 1871 di Italia; Carmen, judul opera karya Georges Bizet yang muncul pada tahun 1875 di Perancis; atau Leoni, nama seorang komposer berkebangsaan Italia yang hidup antara tahun 1864-1949 bernama Franco Leoni.

Iklan

Selain mengiringi acara seremonial, Kraton Orcest Djogja juga punya kegiatan rutin lain. Seperti pementasan di Pagelaran Kraton atau Pasowanan. Ada juga pementasan dua kali sebulan di Societeit de Vereeniging (kini Taman Budaya Yogyakarta).

Spies wariskan kejayaan musik Barat di Keraton Yogyakarta

Sayangnya, Spies hanya tiga tahun bekerja di Keraton Yogyakarta. Pada 1927 ia memutuskan pindah dan menetap di Bali. Namun, sebelum pindah ia sempat ia meninggalkan beberapa manuskrip notasi gamelan untuk dimainkan dengan piano.

Setelah Spies berhenti bekerja, jabatan dirigen kemudian beralih ke abdi dalem bernama Mas Lurah Regimentsdochter. Saat Mas Lurah Regimentsdochter wafat pada tahun 1931, jabatan dirigen turun pada putranya yang bernama Leoni. 

Setelah menjadi dirigen, Leoni kemudian bergelar Raden Lurah Regimentsdochter II.

Memasuki masa pendudukan Jepang (1942-1945), kejayaan musik Barat di keraton mulai pudar. Alasannya, Jepang melarang segala hal yang berbau Eropa. Imbasnya, jumlah pementasan terus menurun, jumlah anggota Kraton Orcest Djogja juga dipangkas, dan nama-nama Abdi Dalem yang berbau Belanda harus diganti.

Kraton Orcest Djogja memang masih diizinkan pemerintah Jepang untuk pentas. Namun, lagu-lagu yang mereka mainkan pun harus lagu-lagu berbahasa Jepang, seperti “Kimigayo”, “Mioto”, “Akatsuki”, “Gunkan”, dan sebagainya.

Setelah Indonesia merdeka, ada usaha untuk menghidupkan kembali kelompok orkestra ini. Salah satunya dengan bikin konser tur ke Jakarta pada 1949. Sayangnya, pada 1950 musik mereka tak terdengar lagi dan mengalami masa surut. 

Sekitar 70 tahun kemudian, atau tepatnya 21 Juni 2021, Keraton Yogyakarta menghidupkan kembali kelompok musik ini yang kemudian dinamai Yogyakarta Royal Orchestra.

Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA Yogyakarta Royal Orchestra akan Gelar Konser Musik di Pelabuhan Sunda Kelapa

Cek berita dan artikel Mojok lainnya di Google News

Terakhir diperbarui pada 21 Oktober 2023 oleh

Tags: kampung musikanankeraton YogyakartaMusikYogyakarta Royal Orchestra
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Musisi Tak Lagi Punya Nyali: Saat Lagu Indonesia Kehilangan The Mercy’s, Slank, dan Iwan Fals MOJOK.CO
Esai

Musisi Tak Lagi Punya Nyali: Saat Lagu Indonesia Kehilangan The Mercy’s, Slank, dan Iwan Fals 

15 April 2026
Geger Sepehi 1812: Bukti Keteguhan Sri Sultan Hamengkubuwono II Menolak Tunduk pada Penjajah.MOJOK.CO
Sosial

Geger Sepehi 1812: Bukti Keteguhan Sri Sultan Hamengkubuwono II Menolak Tunduk pada Penjajah

5 April 2026
Mencintai Musik Underground di Madura: Merayakan Distorsi di Tengah Kepungan Dangdut MOJOK.CO
Esai

Mencintai Musik Underground di Madura: Merayakan Distorsi di Tengah Kepungan Dangdut dan Tagihan Shopee PayLater

3 April 2026
Musik BTS bukan K-Pop. MOJOK.CO
Sehari-hari

Kisah Pembenci Musik K-Pop yang Hidupnya Terselamatkan oleh Lagu BTS: Mereka Itu Aslinya “Motivator Mental Health”

31 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Derita Bisnis Laundry: Cuan 15 Juta Hilang karena Kebodohan MOJOK.CO

Pengalaman Bisnis Laundry yang Cukup Menyedihkan, Berharap Cuan Besar 15 Juta per Bulan tapi Cuma Dapat 3 Juta: Boncos karena Kebocoran-Kebocoran Sepele

4 Juni 2026
Sejumlah titik ruas jalan rusak di Jawa Tengah (Jateng) dapat perbaikan di 2026 MOJOK.CO

Jalan Rusak di Jawa Tengah Dapat Perbaikan di 2026: Rusak Berat Diprioritaskan, Pengerjaan Dilarang Asal-asalan

5 Juni 2026
pabrik semen, pracimantoro, wonogiri.MOJOK.CO

Babak Baru Perlawanan Warga Wonogiri Tolak Pabrik Semen di Pracimantoro, Bawa Ancaman Karst Gunungsewu ke Markas UNESCO

9 Juni 2026
Usai lulus SMA jadi fotografer di Kota Lama Surabaya. MOJOK.CO

Jadi Fotografer Lepas di Kota Lama Surabaya usai Lulus SMA, Gaji Tak Seberapa asal Bisa Menabung untuk Masa Depan yang Lebih Cerah

4 Juni 2026
Para Jagal Anjing di Jogja dan Mitos yang Terus Dipelihara.MOJOK.CO

Para Jagal Anjing di Jogja dan Mitos yang Terus Dipelihara

8 Juni 2026
Event lari Merbabu Skyrace makin diminati banyak orang lintas negara, jadi potensi sport tourisme di Jawa Tengah dengan daya tarik lari lintas alam di Gunung Merbabu MOJOK.CO

Merbabu Skyrace: Event Lari Melintasi Keindahan Gunung Merbabu, Sport Tourism yang Bikin Sebuah Dusun Mendunia

6 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.