MOJOK.COMending mana, dapat gaji 6 juta di jakarta dengan segala hiruk pikuk kemacetan dan sumber keborosannya, atau gaji 3 juta di Jogja dengan biaya hidup yang lebih murah, dan waktu luang yang lebih melimpah?

Sahabat Celengers yang ingin punya banyak waktu luang dan hidup berkecukupan,

Sekitar 18 tahun silam ada survei dari satu lembaga yang melakukan benchmark gaji di tiap industri, dengan hasil cukup mengejutkan. Jangan tanya lembaganya apa karena saya sudah lupa. Hasilnya yang tidak pernah saya lupa, mengingat waktu itu, saya jadi bagian dari pekerja yang shock setelah membaca hasil surveinya.

Inti surveinya, tidak peduli kamu bekerja di industri perbankan, retail, minyak dan gas, atau  pegawai negeri. Sepanjang oleh perusahaan hanya digaji sebesar 2,5 juta per bulan, itu dapat dikatakan underpaid.

Jumlah 2,5 juta itu yang bikin kaget karena uang 2,5 juta di tahun itu bukan jumlah kecil, lho. Kalau ditarik ke nilai sekarang, setara 8-9 juta. Sementara gaji awal saya waktu itu hanya 1 juta.

Saya ingat betul, industri perbankan dan perusahaan multinasional saat itu masih mampu menggaji karyawan di rentang 2,5-4 juta untuk fresh graduate  atau sekitar 8-14 juta jika dinilai sekarang. Saya tidak hendak melakukan provokasi, tapi konon kabarnya gaji fresh graduate untuk industri perbankan saat ini hanya ada di kisaran 6-7 juta per bulan. Secara jumlah naik, tetapi secara riil justru mengalami penurunan hahaha. Mengapa bisa begitu padahal laba perusahaan terus membubung?

Hayolohh, tidak adakah keinginan untuk bikin demo bersama dengan para buruh lain buat menuntut kenaikan gaji, nih? Mumpung masih aura-aura mayday, lho. Hahaha.

Baik, baik lupakan. Hahaha.

Kali ini yang kita akan kita bahas adalah soal besaran gaji. Berapa sih sebenarnya angka yang sesuai? Pilih mana seandainya ada pertanyaan, kerja dengan gaji 3 juta di Jogja atau kerja dengan gaji 6 juta di jakarta?

Ilmu ekonomi secara sederhana dapat juga disebut ilmu untuk mencukup-cukupkan. Bagaimana dengan resources terbatas, manusia mengusahakan untuk dapat memenuhi kebutuhannya.

Cukup jangan diterjemahkan pengin beli mobil uangnya cukup, pengin jalan ke luar negeri uangnya cukup, pingin bermalam di kutub? Eh malah tidak cukup nyali. Hahaha.

Sebenarnya yang penting untuk jadi pertimbangan adalah: hidup di mana pun kalau cicilannya lebih banyak dari penghasilan tetap akan mengatakan gajinya kurang. Gaji banyak kalau mampu mengelola aliran kasnya dengan baik, maka tujuan keuangannya akan dapat tercapai dengan mudah. Sebaliknya gaji kecil pun kalau kita pandai mengelolanya akan cukup juga. Cukup membuat semakin kurus tubuh kita maksudnya. Hahaha. Ini bukan tertawa lucu ya, tapi miris.

Baca juga:  Terombang-ambing dalam Keresahan Quarter Life Crisis

Tolok ukur cukup bisa jadi sangat sederhana. Kalau pengeluaran kita lebih dari 25% masih digunakan untuk pengeluaran biaya makan, asumsi sehari makan 3 kali, itu berarti kesejahteraan kita belum begitu baik. Masih masuk kategori pas-pasan. Pas pingin makan di restoran, duwitnya hanya cukup untuk makan di warteg dengan lauk satu macam. Pas pingin ngopi di coffeeshop, duwitnya hanya cukup untuk ngopi di Ndomieshop aka Warmindo.

Tentu saja itu berlaku juga untuk kelas menengah kita yang bekerja di perusahaan bonafid. Tidak sedikit pegawai, karena menuruti gengsinya, makan pun pilih-pilih. Minimal makan siang di food court di mal-mal yang tentu saja daya gerogotnya terhadap rekening kita juga rakus. Belum sehabis jam kantor masih ada kencan atau sekadar nongkrong-nongkrong cantik.

Gaya hidup, kalau kita tidak bijaksana dalam mengelolanya, bisa jadi akan menggerogoti penghasilan bulanan lebih dari 50%. Maka kalian yang di Jogja tidak perlu heran bertanya-tanya terhadap teman yang sanggup jajan mahal dan rutin mengunjungi Liquid, eh tiba-tiba meminjam sejumlah uang untuk menambal pengeluaran lain yang bisa jadi jauh lebih penting. Entah untuk membiayai sekolah anak, entah untuk bayar kredit kendaraan.

Itu di Jogja. Apalagi di Jakarta… Tempat di mana keriangan dalam berbagai wujud begitu tumpah ruah mbleber-mbleber mudah diakses. Kebocoran rekening untuk pengeluaran yang tidak seharusnya menjadi prioritas akan lebih mudah terjadi. Jika itu terjadi, kalian akan sering mengalami amnesia finansial. Satu kondisi dimana sepertinya gajiannya baru minggu kemarin, minggu ini sudah menginginkankan gajian lagi.

Itu belum menghitung biaya untuk tempat tinggal dan transport. Semakin jauh dari tempat kerja, ada kemungkinan biaya kosnya lebih murah tapi biaya transportnya jadi lebih mahal dan stress.

Biaya stress ini sering lupa diperhitungkan karena memang tidak terkait dengan pengeluaran langsung. Tetapi yang jelas kerap merusak kebahagiaan. Stress di tempat kerja dan stress pengeluaran mengakibatkan mereka lebih sering memangsa berita politik tanpa mendapatkan hasil apa pun. Bandingkan jika waktunya dihabiskan untuk membangun kisah cinta. Habis stress di tempat kerja, setidaknya masih bisa yang-yangan sama mbaknya.

Untuk yang berkeluarga, biaya tetapnya akan jauh lebih mengerikan lagi. Hahaha, sik, saya harusnya memotivasi atau menebarkan rasa takut berkeluarga nih?

Berdasarkan survei, pengeluaran per kapita di Kota Jogjakarta ada di kisaran 1,5 juta selisih 200ribu saja dari UMR. Sementara di Jakarta, pengeluaran per kapita ada di angka 2,5juta, selisih 1 juta lebih dari angka UMR yang sebesar 3,7juta.

Baca juga:  Dilema Gaji Fresh Graduate: Takut Ketinggian, tapi Ogah Kekecilan

Apa dapat disimpulkan mending hidup di Jakarta dengan gaji 6 juta dibandingkan dengan gaji 3 juta hidup di Jogja?

Jogja terlalu lama menyandang predikat kota murah. Padahal murah itu persepsi orang dari luar Jogja. Orang dari daerah dengan standar biaya hidup lebih tinggi dari Jogja

Secara hitungan matematika, berdasar ilustrasi di atas, Gaji 6 juta di Jakarta memberikan manfaat lebih  jika dibandingkan dengan gaji 3 juta di Jogja. Tetapi bukankah bekerja bukan semata persoalan materi saja?

Begitulah kata orang bijak. Bekerja memang tidak hanya persoalan materi, tetapi persoalan bagaimana agar rekening kita selalu terisi, eh. Maksudnya mencari nafkah penting, tapi jangan sampai pekerjaan membuat kita melupakan keseimbangan dalam hidup.

Di Jogja, dalam satu hari menghendaki pergi ke beberapa tempat sangat memungkinkan. Ada acara setelah jam kantor pun, sampai rumah biasa diusahakan tidak larut. Kemacetan juga sudah terjadi, tetapi masih terlalu jauh jika dibandingkan dengan Jakarta. Tapi jangan salah di Jakarta pun juga bisa. Tentu kalau setengah penghuninya sudah tertidur. Eh.

Pertanyaannya, maukah waktu luang anda sebulan dinilai dengan 1-2 juta? Saya sih mau saja, toh sudah menjalani kehidupan di Jakarta hampir separuh hidup saya. Lagi-lagi kata-kata bahwa hidup itu adalah pilihan sering terkonfirmasi dengan preferensi masing-masing Iindividu.

Tidak semua orang menyukai waktu luang. Sering orang salah menduga bahwa Jakarta merupakan tempat terbaik untuk merusak kebahagiaan. Bagaimana tidak, sebagian besar penduduknya digambarkan pergi saat matahari belum terbit dan pulang ke rumah setelah matahari terbenam.

Dalam hal kesempatan, banyak peluang dan variasi pekerjaan yang dapat diperoleh di Jakarta. Dari mulai tukang tambal ban hingga tambal gigi, dari badut ultah hingga stand up comedian, dari pekerja bangunan hingga pegawai bank. Ya, tentu saja pekerjaan seperti itu pun sebenarnya ada di kota lain.

Jakarta sampai sejauh ini masih menjadi tempat menggantungkan banyak harapan. Kota ini seperti mulut raksasa, berapa pun banyaknya orang antri untuk memasuki kota tersebut akan dilumat habis. Tidak heran kalau daya dukungnya semakin melemah dan lamban.

Jadi, jawabannya mending pilih 3 juta di Jogja atau 6 juta di Jakarta? Ya di mana pun bagus, asal bersamamu. Hahaha. Selama kita berdua, kita akan terus saling menguatkan, berkarya, dan bahagia. Apa lagi kalau gajimu aslinya 30 juta hahaha.



Loading...



No more articles