• 675
    Shares

MOJOK.CO – Walaupun konflik Si Doel The Movie sederhana dan penyelesaiannya biasa saja, film ini tetap pantas ditonton. Sebabnya? Ya karena ada Mandra.

Falcon Pictures si PH tukang reboot kembali mengajak penonton film Indonesia untuk bernostalgia. Kali ini yang dapat giliran adalah Si Doel Anak Sekolahan. Setelah gagal meraup untung dari Benyamin Biang Kerok yang bikin rugi bandar, Falcon melirik karya Benyamin Sueb yang lain. Kebetulan Rano Karno juga sedang istirahat setelah kekalahan dalam pertarungan merebutkan kursi orang nomor satu di Provinsi Banten. Jadilah film ini diproduksi dengan cerita ditulis langsung oleh Rano Karno.

Sejak trailer, saya mencium bau-bau AADC2 di Si Doel The Movie. Sebab Doel dan Sarah bertemu kembali di museum setelah bertahun-tahun tak bersua. Persis Rangga yang reuni dengan Cinta di museum (yang bikin Milly pusing). Apakah ini hanya kebetulan semata atau memang disengaja?

Seperti kita ketahui, museum memang menjadi tempat kembali ke masa lalu untuk melihat koleksi dan kekayaan warisan sejarah. Sukses menjadi karya legendaris, AADC dan Si Doel sudah pantaslah dimuseumkan. Oh, apakah ini filosofi dari adegan reuni di museum dari kedua film tersebut?

Adegan dalam film Si Doel The Movie dibuka dengan penampakan rumah Si Doel yang mempertahankan gaya Betawi, disisipi beberapa potongan suara dari sinetronnya. Salah satunya adalah dialog viral dari Benyamin yang memerankan Sabeni alias Babe ketika ceramahi Si Doel.

“Biar Babe tukang ngomel, namanye ame anak, biar kate kaki bakal kepale, kepale bakal kaki, demi lo, Babe ikhlas. Supaya lo bisa pinter sekolahnye, bisa tinggi sekolahnye. Jadi orang berpangkat. Jangan kayak Babe jadi supir. Sekali-sekali lo jadi gubernur gitu.”

Ternyata ucapan memang doa. Dan doa Babe pun terwujud. Pemeran Si Doel, Rano Karno beneran jadi gubernur. Tapi ya sesuai doa Babe, jadi gubernurnya juga sekali-sekali. Itu juga karena gantikan gubernur sebelumnya. Berterima kasihlah kepada Ratu Atut karena dia korupsi. Kalau dia tidak korupsi dan tidak ketahuan korupsi, Rano Karno tidak akan naik jadi gubernur.

Baca juga:  Ada Apa dengan Cinta dan Alasan-alasan Mengapa Kita Tak Perlu Move On

Masih di adegan pembuka film, nama-nama pemeran ditampilkan lengkap dengan gelarnya masing-masing. Lebih dari setengah dari jumlah pemain filmnya sudah bergelar haji. Ternyata main sinetron bikin orang mampu naik haji. Apalagi Si Doel Anak Sekolahan termasuk sinetron terlama yang ditayangkan di televisi. Bayangkan honor para pemain dan krunya. Bayangkan.

Dalam versi film, kita mendapatkan jawaban akhir dari kisah cinta Doel yang memilih Zaenab sebagai istrinya. Namun, sebelumnya, ternyata Doel pernah menikah dengan Sarah. Sayangnya, tak lama setelah menikah, Sarah kabur ke Belanda. Inilah yang membuat Doel bimbang dan menjadi konflik utama.

Padahal Doel tidak perlu galau memilih dua cinta, cukup baca dua jilid novel Ayat-Ayat Cinta, juga versi layar lebarnya, hayati ceritanya, lalu lakukan apa yang dicontohkan oleh Fahri; poligami, Doel!

Setelah 14 tahun, Doel mendapatkan undangan dari kawan lamanya, Hans, untuk berkunjung ke Belanda dan menemui Sarah. Untungnya, selama perjalanan, Doel ditemani oleh pamannya, Encang Mandra. Sehingga Doel tidak repot-repot mengeluarkan kata-kata, sebab jatah dialog diembat semua oleh Mandra.

Namun, rasanya tidak masalah jika hanya Mandra yang kebanyakan ngomong sepanjang film. Sebagai ciri khas orang Betawi, setiap ucapan Mandra jadi punchline karena keunikan logat dan intonasi. Lucu, lucu, lucu semua kata-kata Mandra. Persis Sule sewaktu masih gabung grup lawak SOS di API (Audisi Pelawak TPI). Dengan kata lain, pemain lain hampir nggak kebagian ngomong. Yang penting lucu dulu.

Ketika sampai di Belanda, Rano Karno melakukan apa yang menjadi arti dari namanya: run no, car no. Nggak mau lari, nggak mau naik mobil. Ya, Rano Karno naik sepeda, bonceng Mandra.

Akting Rano Karno di film ini cuma cemberut doang. Literally, Rano menampilkan wajah kusut dari awal sampai akhir film. Sekalinya ngomong panjang, voice over. Bibir Doel tetaplah terkatup.

Ada sih dialog Doel sewaktu berbincang dengan Sarah.

“Maafkan aku yang tidak bisa jadi istri yang baik,” ucap Sarah.

Lalu, tibalah ke dialog Doel yang ditunggu-tunggu.

“Bukan kamu yang salah, tapi saya,” kata Doel singkat.

Baca juga:  Lika-liku Romantisme Bupati Nganjuk dengan KPK

Untungnya, dialog bernada sendu tersebut tidak diganggu oleh Hans yang tiba-tiba nimbrung sambil tepuk tangan:

“Hebat. Diskusi kalian memang berbobot.”

Ya jadinya bakalan nggak seru kan kalau adegan Doel dan Sarah yang sedang rekonsiliasi masalah rumah tangga, malah diacungi jempol sama Hans.

Hal yang bikin penasaran selama menonton adalah alasan kenapa Sarah kabur ke Belanda. Rasanya, twist tersebut harus diketahui dengan menonton filmnya langsung. Walaupun konfliknya sederhana dan penyelesaiannya pun demikian, saya tetap merekomendasikan film ini. Jika tidak tersentuh dengan kisah cintanya, setidaknya bakalan terhibur dengan celotehan dan tingkah polah Mandra.

Usaha Rano Karno dalam menghidupkan kembali cerita Doel patut diapresiasi. Adalah amanat dari almarhum Benyamin kepada Rano Karno untuk melestarikan Si Doel. Itulah mengapa anak Doel diberi nama Doel juga. Ini bukan tanpa alasan. Sebab kemungkinan Doel “junior” ini akan meneruskan kisah ayahnya dengan cerita dan konfliknya sendiri sebagai generasi milenial. Seperti Boruto yang melanjutkan cerita Naruto, atau Albus Potter meneruskan kisah Harry Potter.

Sebagai bentuk pelestarian kisah Doel di sepanjang zaman, cucunya Doel akan diberi nama Doel juga. Begitu seterusnya sampai nanti. Sampai NASA membuka jalur perjalanan luar angkasa. Kelak Doel generasi masa depan tidak lagi naik oplet, tapi mengendarai UFO dan menjalin kisah cinta segitiga antar planet antar galaksi.

Jika Anda puas telah bernostalgia dengan kisah Doel, Anda berutang kepada Wahidin Halim, Gubernur Banten saat ini. Sebab karena Rano Karno dikalahkan oleh Wahidin di Pilgub Banten, Rano Karno kembali bikin film. Senasib dengan Rano Karno, Deddy Mizwar pasca kalah di Pilgub Jawa Barat dari Ridwan Kamil pastilah akan kembali ke dunia sinetron religi. Selain melanjutkan Para Pencari Tuhan yang sudah berjilid-jilid itu, mungkin akan ada Lorong Waktu reborn.

“Pak Haji siap? Zidan siap?”

“Bismillahirrahmanirrahim.”

Pencet enter dengan manja.

Pak Haji dan Zidan kembali ke masa lalu untuk mencegah Ahmad Dhani kecemplung ke dunia politik. Supaya Dhani fokus menciptakan lagu-lagu keren bersama Dewa 19.

  • 675
    Shares


Tirto.ID
Loading...

No more articles