Pilih Mana, Tanaman Hiasmu Ditukar Mobil atau Tanah?

Hampir saja saya njlungup dan membanting motor karena kaget. Di pikiran saya yang awalnya sudah bahagia karena akan datang ke sebuah nurseri dan toko tanaman hias yang penuh dengan dedaunan menyegarkan berubah menjadi penuh tawa para pegawai di sana.

Lha gimana tidak ketawa, saya yang tampil nyetil dengan pakaian serba hitam, hampir njerit karena ketakutan melihat ular besar yang tengah dimandikan di halaman utama nurseri dan toko bunga yang mulai dibangun pada 1996 ini.

Disambut dengan hangat oleh Taulany (32) selaku pemilik Bullion Orchid Nursery Yogyakarta, saya diberitahu bahwa di sini bukan hanya ada tanaman hias. Namun, juga hewan-hewan seperti cupang, burung, sapi bahkan kuda. 

Di sebuah tempat semacam panggung di Bullion Orchid, saya dipersilahkan untuk duduk. Menghadap tanaman-tanaman utama milik Taulany, rasanya saya sedang memasuki sebuah hutan tropis yang nikmat ditinggali.

Sembari memberikan saya minuman, Taulany berkata sambil berkelakar, “Orang akan bilang di sini penuh dengan suket, godhong, atau rambanan. Padahal sekecil ini, Mas…,” ia menunjuk sebuah tanaman kecil berjenis keladi, “Ini namanya Caladium Pattalung atau Nagageni. Koyo kangkung, kan, Mas? Padahal itu harganya 500-700 ribu rupiah di pasaran,” katanya.

Saya hanya bisa manggut-manggut dan ndomblong. Tanaman sekecil itu ongkosnya sama dengan uang saku saya kuliah selama satu bulan.

Pemilik Bullion Orchid Nursery yang sejarahnya berasal dari hobi keluarga guna mengisi waktu luang ini menjelaskan, alasan utama mengapa tanaman hias sebagai pilihan hidupnya.  

“Ketika ditanya mengapa saya memilih tanaman hias sebagai kehidupan, maka itu jawabannya amat mudah; tanaman itu menyenangkan. Merawat tanaman, itu tandanya saya sedang menjalankan peran sebagai makhluk hidup secara utuh. Manusia dan tumbuhan adalah makhluk hidup, maka merawat tanaman adalah tindakan puncak pemenuhan batin, mata, dan kesadaran saya,” paparnya.

Tidak ada tren tanaman hias

Menurut Taulany,  nggak ada yang salah dengan orang-orang awam yang baru memutuskan untuk nyemplung ke dunia tanaman hias. Ia beranggapan bahwa fase semacam ini adalah siklus, maka akan menyeleksi satu per satu orang yang masuk siklus ini seiring berjalannya waktu.

“Jujur saja, tidak ada itu yang namanya tren, Mas,” ujar Taulany sembari mengeluarkan rokok dari sakunya dan menawarkan kepada saya. Dengan bersemangat dan segala hormat, ia lebih jauh mengkaji hal ini—naiknya tanaman hias di pasaran—dengan sebutan fenomena, bukan tren.

Tanaman hias di Bullion Orchid, Giwangan. Foto oleh Gusti Aditya

Tanaman hias di Bullion Orchid, Giwangan. Foto oleh Gusti Aditya

Taulany menekankan bahwa mereka yang awam terhadap dunia tanaman, ketika memulai suka, maka akan melakukan sebuah asas bernama continuously. “Gejala pertama adalah mencari, entah itu beli tanaman dalam skala kecil maupun besar, mencari, atau meminta. Itu ada banyak caranya, Mas. Ini adalah salah satu gejala dari fenomena. Hobi apapun itu, tidak hanya hobi tanaman.”

“Sedang gejala kedua adalah rasa ingin memiliki sebuah tanaman yang tidak ia punya. Faktor eksternalnya entah persaingan dengan kawan atau pas melihat di e-commerce, eh kok ya ndilalah murah dan mampu. Hobi yang ketika sudah berani berkorban, itu levelnya sudah naik,” kata Taulany.

Maka tahap-tahap ini disebut Taulany sebagai tahap yang berkesinambungan. Orang yang menganggap hobi tanaman ini hanya sebatas tren belaka, itu yang hanya merasakan gejala awal saja. tidak sampai ke gejala berani berkorban, termasuk uang. Ketika seseorang sudah masuk ke dua gejala ini, itu ya namanya fenomena.

Tanaman hias, selalu naik pamor saat krisis

Bagi kolektor, tanaman hias merupakan pemenuhan kebutuhan ketiga. Ketika kebutuhan primer dan sekunder telah dipenuhi, maka kebutuhan ketiga ini harus tercapai bagaimanapun caranya. Maka sejatinya tanaman hias itu selalu punya pangsa pasar yang militan tersendiri. Ia tidak pernah hilang keseksiannya, hanya intensitas pencarinya saja yang berkurang.

“Bisa ditarik secara kasar, naiknya tanaman hias secara signifikan, itu ketika dunia sedang merasakan krisis. Misalkan pada tahun 80an itu encephalartos, seperti palem atau sikas. Naik lagi 90-an, itu yang banyak dicari sebangsa aglaonema atau sri rejeki. Kemudian di 2000-an, anthurium dengan harga yang gila-gilaan,” terangnya.

Bullion Orchid Nursery, kata Taulany, merasakan betapa kerasnya era anthurium. “Berawal dari hobi keluarga, menanam dan beternak, pada era 2000-an itu Bullion Orchid merasakan betapa bergairahnya era anthurium. Mungkin itu titik balik kami berani mengikuti pasar, walau setelahnya mengalami lesu berkepanjangan.”

Taulany menyebutkan bahwa selama pandemi ini merupakan fenomena yang menarik dan berbeda dari masa-masa sebelumnya. Misal pada tahun 2000-an awal, anthurium dan philodendron masuk bersama, namun ada diskriminasi di antara keduanya. Philodendron dikatakan sebagai anak tiri dengan sebutan pakan ikan gurame, sedangkan anthurium menjadi nomor satu dan menjadi incaran.

“Sedangkan saat pandemi ini lebih masif. Hampir semua tanaman itu dicari. Para kolektor semakin gila mencari, mereka yang awam juga menggemari tanaman hias untuk kebutuhan hiburan batin mereka yang bisa dibilang di penjara di rumah,” katanya.

Taulany melanjutkan, “Menyebut dengan tren? Ini istilahnya bodo siji bodo kabeh. Ini fenomena massal,” katanya sembari tertawa.

“Ayolah, ini hanya semacam siklus. Kolektor memperbaharui list incaran, awam memulai pergerakan. Tanaman hias ini selalu ada dan hanya satu yang bisa membuat para penikmat ini bertahan; mengikuti gerak pasar.”

Tanaman koleksi mau ditukar tanah

Taulany menolak bahwa bisnis tanaman hias ini adalah monkey business. “Ketika banyak awam yang mengatakan bahwa bisnis ini adalah monkey business, itu bullshit, menyedihkan, Mas. Saya pernah menjual sampai ratusan juta rupiah kepada orang yang sama. Di nurseri ini, pendapatan satu hari bisa lho mas sampai seratus juta. Dan itu berlandaskan asas kepercayaan,” katanya.

Menurut penuturan Taulany, penjual tanaman hias yang terlalu sayang kepada tanaman yang ada di galeri, itu juga tidak baik. “Ketika ada pembeli datang, naksir dengan harga yang memuaskan, namun saya keep lantaran sayang, itu bak pedang bermata dua, Mas.”

Sisi positifnya tentu semangat merawat tanaman dengan harga yang stabil diperoleh. Semisal harganya turun, berlandaskan rasa suka kepada tanaman, Taulany mengatakan itu bukan masalah berarti. Namun yang menjadi bumerang adalah review buruk dari pembeli yang datang.

“Akan ada sebuah masa di mana pedagang yang terlalu sayang, justru akan bernasib malang,” kelakarnya. “Lha iyo to, Mas, penjual seperti saya itu kan tujuannya bisnis, bukan hanya sekadar cuan. Ketika keep tanaman atas rasa sayang, dampaknya buruk atas review para pelanggan yang kadung percaya kepada kami selaku penjual tanaman hias.”

Menjual tanaman hias adalah menjual estetika. Ketika ada tawaran di luar uang, akan ada pertimbangan tersendiri untuk menerimanya. Ketika ditanya tentang pemberitaan yang sedang viral mengenai barter tanaman hias dengan mobil, Taulany menjelaskan penalaran tersebut.

“Barter dengan mobil, bagi yang paham mobil tentu akan setuju-setuju saja. Lha kalau tidak paham gimana? Kalau sedang tidak butuh mobil, piye jajal?” katanya.

“Akan ada lho, Mas, pedagang tanaman yang punya pola pikir, kalau hanya Avanza, saya beli sendiri juga mampu,” ia berkata sembari tersenyum. Ketika pedagang tanaman yang sudah punya ilmu dan kemampuan, sebisa mungkin harga tanaman hias itu akan stabil. Jika ditukar dengan mobil, tidak paham perawatan dan penggunaan dari mobil, bisa saja harga mobil tersebut menjadi turun.

Dirinya bilang sempat ditawari satu kapling tanah sebagai barter tanaman hias yang ia miliki. Taulany menolak tawaran itu. 

“Pernah ditawar, namun saya urung tanggapi. Logisnya ya, Mas, tanahnya itu di luar Jogja, belum lagi masalah dokumen dan legalitasnya. Legal atau hanya cicilan. Intinya ya kenyamanan dan keamanan, Mas. Saya lebih suka transaksi langsung karena uangnya bisa digunakan untuk kepentingan lain,” katanya sembari bilangg off the record nama jenis tanamannya. Takut terjadi geger di dunia persilatan tanaman hias. 

“Ini tentang bisnis, bukan cuan sesaat,” kata Taulany yang juga menjadi penyuplai tanaman anggrek di sekitar Jogja ini.

Ada yang bermain di pasar tanaman hias

Dengan merendah, Taulany mengatakan bahwa dirinya masih kecil dalam bisnis tanaman hias dan nurseri. Setelah memberikan disclaimer itu, Taulany menerangkan bahwa banyak orang yang datang untuk konsultasi bisnis dan manajemen. Katanya, ia berbekal atas dasar satu hal, yakni niat ingin belajar.

“Saya melakukan semuanya. Dengan modal ratusan ribu bahkan sampai puluhan juta. Ditambah kondisi istri yang tidak seirama—atau awalnya tidak mengizinkan bisnis ini, tetap saya lakukan sendiri. Jadi banyak yang related dengan saran-saran saya,” ujarnya.

Jenis tanaman aglaonema di Bullion Orchid. Foto oleh Gusti Aditya/Mojok.co

Pemilik gelar sarjana pendidikan agama ini mengatakan keluarganya tidak ada yang memiliki latar belakang keilmuan botanis, namun atas dasar ketekunan dan mau belajar, Taulany berani memulai dan bahkan menciptakan bagaimana mengontrol pasar, mengedukasi pembeli, dan niat-niatnya sendiri.

“Dari mulai yang sederhana seperti nama-naman tanaman, hingga akhirnya saya paham bagaimana cara menyilangkan tanaman, itu merupakan proses yang nggak mudah. Dari sana, saya memantau luar negeri, terutama Thailand, apa yang menjadi fenomena di sana hari ini, maka esok akan menular ke Indonesia,” katanya.

“Pasar itu ada yang bermain,” kata Taulany. “Ketika ada satu tempat yang berani beli tanaman mahal, ketika ditanya alasannya apa, bilang saja sedang naik. Maka secara kondisi tidak sadar, pasar akan membentuk tanaman itu seakan sedang tren.”

Taulany kembali menerangkan, “Pasar itu tidak tercipta dengan sendiri. Saya tampil ya dengan membawa panji-panji Bullion Orchid. Misalkan saya adol Philodendron Anderson sebesar 800 Dollar, ya, Mas, maka tempat lain akan bertanya-tanya, kenapa kok Bullion wani-wanine adol segitu. Saya tinggal menjawab bahwa karakternya bagus, daunnya perfect, itu akan menjadi patokan baik kualitas maupun harga.”

Taulany menerangkan bahwa ia berani pasang harga dan menciptakan pasar karena ia tahu dan yakin dengan keilmuan yang ia miliki tentang tanaman. “Lha wong jualan itu bukan hanya sekadar mbathi atau untung, Mas. Tapi bagaimana kita berperan bagi gerak pasar tanaman di sekitar Jogja. Apakah ada yang lebih berpengaruh menentukan pasar? Wo ya jelas buanyak, namun saya tetap berani dengan pilihan saya karena saya paham, mampu, dan terus belajar.”

Taulany mengatakan prediksi pasar itu penting sekali. Semisal melakukan miss, maka akan membawa harga sebuah tanaman turun secara signifikan. Dan ini sangat dihindari oleh para pemain tanaman.

“Ibaratnya ya jika miss akan merusak standar. Tapi bedakan tanaman inovatif dan partai lho, ya. Inovatif ini contohnya tadi, Anderson. Soalnya ini bukan impor seperti Aglaonema Suksom Jaipong yang datangnya secara partai. Penentuan harga tanaman yang datang secara partai, tentu berbeda karena jamak,” katanya.

Taulany mengatakan akan terjadi persaingan pasar yang positif, baik bagi penjual maupun bagi kolektor. “Ketika Bullion Orchid mampu, maka tempat lain akan menempa diri. Harga akan stabil dan tanaman bisa dikatakan terus menjadi sebuah fenomena yang kontinyu. Menguntungkan berbagai pihak, to, Mas?”

Dalam sebuah remang cahaya matahari lantaran tertutup daun rimbun tanaman-tanaman di Bullion Orchid, Taulany memberikan pesan bagi siapapun yang hendak menjalani hobi maupun bisnis tanaman, katanya, jangan sampai tanaman yang menjadikan dirimu sebagai mainan.

Manusia dan tanaman sejatinya sama, yakni makhluk hidup yang memerlukan udara. Bedanya, manusia diberkahi kemampuan untuk berpikir dan bernalar. Ketika satu tanaman dibarter dengan satu petak tanah, itu namanya hobi yang mempermainkan kita.

Walau seperti gejala kedua dari fenomena tanaman hias yang disebutkan di atas, namanya sudah suka, kesemsem sama satu tanaman, bahkan jika kudu menjual planet saja bakal dilakoni lan diseriusi.

BACA JUGA Pengakuan Marrel, Cucu Sultan Jogja, Misuh dan Hidup Hematnya dan liputan Mojok lainnya.

Baca juga:  Ngobrol sama Irfan Nuruddin, Pengusaha Sarung Batik Lar Gurda