Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Uji Klinis Obat Covid-19 Kerja Sama Unair, TNI AD, dan BIN Nggak Teregistrasi WHO Kok Baper?

Muhammad Hida Lazuardi oleh Muhammad Hida Lazuardi
25 Agustus 2020
A A
Cerita Sedih Lulusan Kesehatan Universitas Airlangga Surabaya, Ditolak 100 Perusahaan Sampai Takut Jadi Beban Keluarga.MOJOK.CO

Ilustrasi Cerita Sedih Lulusan Kesehatan Universitas Airlangga Surabaya, Ditolak 100 Perusahaan Sampai Takut Jadi Beban Keluarga (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – WHO dituding warganet jadi ganjalan atas obat Covid-19 hasil kerja sama Unair, TNI, dan BIN. Udah klaim 90-an persen mujarab padahal.

Aduh, pusing banget rasanya membaca kolom komentar di laman Instagram @narasinews. Terutama soal postingan yang memberitakan beragam kritik akademisi soal validitas proses pengujian obat Covid-19 kerja sama antara Unair, TNI AD, dan BIN.

Ringkasan kolom komentarnya; banyak yang suudzon proses pengujian obat yang repot ini bagian dari konspirasi WHO biar kita nggak bisa bikin obat, dan sebagian yang lain langsung tuding adanya pilih kasih dengan obat dari Cina.

Bahkan ada yang protes kenapa kita harus selalu berpatok sama jurnal? Kan mending cobain aja dulu dulu (dih, saya kagak mau ikutan yak kalo model begini-begini).

Kebanyakan warganet mendadak langsung baper banget ya sama uji klinis. Padahal untuk memahami kenapa obat perlu diuji klinis itu… nggak jauh beda sama memahami kenapa kita harus beli helm SNI? Evidence based decision making.

Hah, gimana tuh maksudnya?

Oke deh, sebenarnya istilah evidence based decision making itu luas banget sih.

Sederhananya gini: bagaimana kita menggunakan fakta objektif yang dihasilkan dari data dan analisis ilmiah sebagai dasar kesimpulan untuk dijadikan landasan pengambilan keputusan.

Nah, contoh paling simpel dan sering banget kita temui adalah helm SNI.

Selain jadi logo ajaib ini menjauhkan kita dari surat tilang, dengan membeli helm SNI kita dapet jaminan bahwa helm kita udah lulus ujian kriteria kelulusan tertentu, yang disimpulkan dari proses pengujian tertentu. Kalo kamu penasaran lihat aja di sini.

Nah, karena helm tersebut udah lulus dengan kriteria dan prosedur pengujian yang dianggap cukup melindungi pengendara makanya helm itu boleh beredar di Indonesia.

Kalau sampeyan tiap beli helm di toko masih nanya helmnya SNI ato nggak, harusnya nggak kaget dong kalo beragam gabungan zat kimia yang akan dimasukkan ke tubuh sebagai obat harus melalui proses pengujian?

Biar terjamin lah manfaatnya buat kita sebagai konsumen. Kan nggak lucu juga kalo udah menggunakan helm ternyata nggak melindungi kepala atau udah minum obat ternyata nggak bikin sembuh.

Kalo helm kan dibanting, obat pasti pengujiannya nggak dibanting-banting juga dong?

Iklan

Bener. Hanya saja, karena saya nggak nemu standar BPOM-nya, mungkin standar FDA yang bisa diakses di sini layak jadi gambaran.

Intinya ada 4 tahap yang nguji apakah obatnya efektif ato nggak; dosis, efek samping dan keamanan. Kalo kamu baca itu prosesnya berulang banget, satu kriteria diuji berkali-kali, karena memang untuk bikin fakta ilmiah terkait dampak obat itu cukup sulit.

Hal yang memengaruhi keadaan pasien itu beragam banget, makanya pengujiah obat jadi repot, misalnya kayak yang dicontokan official account @fkuitanggapcovid19:

“Jika semua pasien Covid-19 di Indonesia sembuh dan merasa lebih baik setelah makan nasi, apakah nasi adalah obat Covid-19?

Sementara, di negara lain, pasien yang tidak mengonsumsi nasi pun tetap sembuh, hal ini menandakan bahwa tidak sembarang produk dapat diklaim sebagai obat.”

Contoh lain yang menujukan betapa repotnya uji klinis adalah “efek plasebo” atau perbaikan kondisi pasien terjadi karena faktor yang diasosiasikan dengan persepsi pasien dari sebuah tindakan, bukan karena obatnya. Lengkapnya baca di sini aja.

Contoh paling sederhana: kalau habis jatuh bagian yang terluka ditiup biar sakitnya berkurang, nah bukan berarti angin dari mulut manusia jadi obat luka kan?

Artinya, ini semua proses ilmiah, bukan nego-negoan politik kayak suudzon wargenet.

Obat nggak lolos uji klinis tuh wajar banget dan nggak ada yang perlu dibaperin, bahkan di FDA Amerika aja cuma ngelolosin 25-30% obat dari fase ke 3 uji klinis. Jadi nggak cuma “karya anak bangsa” lah yang sulit untuk lulus uji klinis kayak suudzon-nya warganet.

Tapi ini skenario jahatnya WHO kan?

Oke, sebagai fun fact, WHO bukan pengambil keputusan apakah obat lulus uji klinis ato kagak, yang punya kewenangan itu di Indonesia adalah warganet BPOM.

WHO hanya mengatur mengembangkan norma, standar, dan prosedur dan panduan yang diakui secara internasional, dan memberikan asistensi untuk penerapan panduan yang telah diakui tersebut. Jadi untuk nentuin obat lolos ato nggak ya pilihan BPOM.

Nah, asumsi kedua, WHO dituding menghalang-halangi obat Covid-19 kerja sama Unair, TNI AD, dan BIN.

Faktanya, WHO cuma ngeluarin hasil studi yang menunjukan bahwa pemberian Hydroxychloroquine untuk pasien Coivid-19 menunjukan sedikit atau tidak sama sekali perubahan. Kalau nggak percaya monggo cek di sini.

Nah, kebetulan kombinasi obat Covid-19 Unair menggunakan Hydroxychloroquine, tandanya WHO beneran ngejegal langkah Indonesia kan?

Hm, nggak juga.

Toh yang mencoba menggunakan bahan kimia yang-namanya-susah-disebut-itu buat mengobati Covid-19 nggak cuma Indonesia. Cina udah melakukan uji coba dengan bahan yang sama sejak Mei 2020 dan bisa sampeyan lihat di sini.

Hydroxychloroquine juga sempat digunakan di beberapa negara lain, jadi kalaupun WHO tidak menunjukan Hydroxychloroquine tidak efektif itu bukan konspirasi untuk menghalangi langkah Indonesia bikin obat Covid-19, tapi ya emang ada temuan bahwa zat tersebut nggak efektif.

Jadi ya mau Indonesia kek, Amerika kek, Cina kek, bahkan negara macam Wakanda kek ya tetep aja hasilnya sama. Jadi, udeh lah nggak usah ke-geer-an bet kayak Indonesia ini adalah pusat semesta dari krisis Covid-19.

Tapi kadar keberhasilannya 90%, nggak mungkin gagal lah nih obat.

Hm, saya agak kaget sih banyak banget orang Indonesia yang langsung percaya aja dengan angka tersebut. Kebiasaan warganet Indonesia ketika ketemu klaim angka, statistik, dan kesimpulan langsung percaya tanpa mempertanyakan bagaimana kesimpulan itu bisa dicapai.

Nah sebenernya hal beginian nggak ditemukan di kolom komen doang, keliatan banget ketika membahas berbagai temuan tentang Covid-19 baik media mainstream atau Youtuber Indonesia jarang membahas apakah kesimpulan yang diberitakannya memiliki “backing” referensi ilmiah.

Beda ketika saya membaca beberapa media berbahasa Inggris atau Youtuber seperti channel SciShow yang bakal selalu memberikan disklaimer apabila studi yang dikutip belum melalui proses “peer review”.

Sampai saat ini memang ada beberapa media nasional yang memberitakan kalau obat Covid-19 Unair ini mencapai efektivitas keberhasilan 90% atau lebih, tapi ya plis jangan ditelan bulat-bulat juga. Itu kan baru klaim sepihak doang.

Soalnya, toh kita nggak tahu bagaimana pengujian sampelnya, bagaimana penyebaran sampelnya. Singkatnya, berita-berita bombastis tersebut tidak membahas secara lengkap metodologi sampai kesimpulan obat Covid-19 Unair benar-benar mampu mengatasi Covid-19 atau tidak.

Hal paling sederhana yang bisa kita lakukan adalah melihat apakah kesimpulan tersebut diambil dari sebuah jurnal ilmiah yang sudah melalui proses “peer review”. Proses di mana para ilmuwan mengevaluasi kualitas dari hasil riset ilmuwan lainnya. Dan biasanya, makin kredibel jurnalnya makin repot pula proses “peer review”-nya.

Oleh karena itu, nggak usah baper. Toh, tujuan proses ini jelas untuk menjamin kualitas dan konsistensi produk akademis, dan menjamin independensi ilmu pengetahuan dari pengaruh politik atau ekonomi.

Masalahnya sampai tulisan ini dibuat, saya belum menemukan jurnal ilmiah yang telah melalui proses “peer review” untuk melandasi kesimpulan efektivitas 90% obat Covid-19 Unair, TNI AD, dan BIN tersebut.

Publikasi Jurnal Unair tentang Covid-19 yang tersedia pun bahkan tidak membahas mengenai obat, tetapi transmisi virus dengan/dan mengenai transparansi data. Dengan demikian, klaim 90% tersebut masih mungkin saja benar atau mungkin saja salah.

Sebenernya kegiatan para ahli yang ramai-ramai mengkritik mengenai temuan obat tersebut di media, seharusnya dilakukan secara damai di kampus atau wilayah akademis. Namun, kalau seandainya keberadaan proses “peer review”-nya saja dipertanyakan, ya wajar lah kalau para akademisi melakukan “peer review”-nya di media masa.

Oke, oke, saya tahu, sejujurnya, saya sih juga berharap kalau obat Covid-19 ditemukan oleh ilmuwan Indonesia, hanya saja obat tersebut tetap harus melalui prosedur ilmiah pula. Nggak mentang-mentang cinta NKRI, lantas prosedur keselamatan masyarakat jadi tidak diperhatikan. Apalagi ini ngomongin obat.

Nah, yang patut diinget tugas BPOM memang untuk menyortir obat mana yang sudah teruji dengan prosedur yang benar, mana yang tidak. It’s their job. Terus kalau lihat para akademisi mengkritik suatu temuan itu bukan berarti mereka itu iri, nggak nasionalis, atau antek WHO. Itu semua emang keseharian dunia akademis di mana antara satu akademisi dan yang lainnya saling menguji dan mengkritik untuk menjamin kualitas produk terbaik.

Kritik yang diajukan kepada temuan ilmiah bukanlah hal yang politis, tetapi ketika sesuatu yang belum teruji secara ilmiah malah kayak dipaksakan…

…nah, di situlah motif “politik”-nya justru kelihatan.

BACA JUGA Benarkah Indonesia Jadi Kelinci Percobaan Uji Vaksin Corona dari Cina? atau tulisan soal OBAT CORONA lainnya.

Terakhir diperbarui pada 24 Februari 2021 oleh

Tags: binobat covid-19 unairTNIunairWHO
Muhammad Hida Lazuardi

Muhammad Hida Lazuardi

Artikel Terkait

Jurusan Antropologi Unair kerap diremehkan. MOJOK.CO
Edumojok

Antropologi Unair Diremehkan dan Dianggap “Gampangan”, padahal Kuliahnya Nggak Main-main dan Prospek Kerjanya Luas

9 April 2026
Susahnya cari kerja sebagai fresh graduate Unair. MOJOK.CO
Edumojok

Kuliah Kebidanan sampai “Berdarah-darah”, Lulus dari World Class University Masih Sulit Cari Kerja dan Diupah Nggak Layak

7 April 2026
Jurusan Kebidanan Unair tolong saya dari kekecewaan gagal kuliah di Kedokteran. MOJOK.CO
Edumojok

Tinggalkan Mimpi Jadi Dokter karena Merasa Bodoh dan Miskin, Lulus dari Jurusan Kebidanan Unair Malah Bikin Hidup Lebih Bermakna

6 April 2026
Jurusan Antropologi Unair selamatkan saya usai ditolak UGM. MOJOK.CO
Edumojok

Ditolak UGM Jalur Undangan, Antropologi Unair Selamatkan Saya untuk Tetap Kuliah di Kampus Bergengsi dan Kerja di Bali

6 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Horor, Evolusi Kelelawar Malam di Album "Kesurupan”: Menertawakan Hantu, Melawan Dunia Nyata.MOJOK.CO

Evolusi Kelelawar Malam di Album “Kesurupan”: Menertawakan Hantu, Melawan Dunia Nyata

9 April 2026
Jurusan Kebidanan Unair tolong saya dari kekecewaan gagal kuliah di Kedokteran. MOJOK.CO

Tinggalkan Mimpi Jadi Dokter karena Merasa Bodoh dan Miskin, Lulus dari Jurusan Kebidanan Unair Malah Bikin Hidup Lebih Bermakna

6 April 2026
Gagal seleksi CPNS (PNS ASN) pilih nikmati hidup dengan mancing MOJOK.CO

Gagal Seleksi CPNS Pilih Nikmati Hidup dengan Mancing, Dicap Tak Punya Masa Depan tapi Malah Hidup Tenang

9 April 2026
Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

4 April 2026
Gen Z mana bisa slow living, harus side hustle

Slow Living Cuma Mitos, Gen Z dengan Gaji “Imut” Terpaksa Harus Hustle Hingga 59 Tahun demi Bertahan Hidup

8 April 2026
Pekerja Jogja kaget pindah kerja di Purwokerto demi alasan slow living. Tapi kaget dengan karakter orang Banyumas MOJOK.CO

Pekerja Jogja Pindah Kerja ke Purwokerto Nyari Slow Living, Tapi Dibuat Kaget sama Karakter Orang Banyumas karena di Luar Ekspektasi

6 April 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026
Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

4 April 2026
Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

2 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.