Anak-anak ini pada akhirnya bermutasi menjadi raksasa secara kognitif, akademis, dan fasilitas, namun menjadi kerdil, rapuh, dan infantil secara emosional. Mereka menjadi individu-individu rentan yang memiliki kecemasan akut (anxiety) dan kepanikan eksistensial saat berhadapan dengan realitas luar rumah.
Seperti dunia perkuliahan atau dunia kerja, yang jalannya tidak bisa disetir atau dibuldoser oleh orang tua mereka. Mereka tumbuh menjadi rapuh bukan karena kekurangan kasih sayang, melainkan karena kelebihan proteksi yang merampas kedaulatan mental mereka.
Orang tua hebat lahir dari kapitalisme industri parenting
Kritisnya, fenomena ini tidak terjadi di ruang hampa udara. Ia didorong oleh kapitalisme industri parenting dan neurosis kelas menengah yang haus akan status. Tragedi kerapuhan anak diperparah oleh sindrom akut yang menempatkan “anak sebagai proyek pameran”. Banyak orang tua hebat terjebak dalam narsisisme terselubung, menjadikan pencapaian akademik, medali kompetisi, hingga estetika perilaku anak sebagai instrumen validasi atas kesuksesan sosial dan kelas ekonomi mereka sendiri.
Anak-anak diorganisasi layaknya korporasi mini: dipaksa mengikuti serangkaian les akademis, menguasai berbagai bahasa asing sebelum waktunya, dan dituntut tampil tanpa cela di etalase media sosial orang tua. Tuntutan implisit untuk selalu menjadi yang terbaik, paling bahagia, dan paling berprestasi ini menciptakan tekanan internal (internalized pressure) yang luar biasa masif bagi anak.
Kerapuhan emosional akibat tekanan pemenuhan ekspektasi ini bukan lagi sekadar asumsi atau kecurigaan moral. Krisis kesehatan mental anak dan remaja Indonesia kini bukan lagi sekadar wacana akademik. Data terbaru Kementerian Kesehatan RI melalui Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) 2025–2026 menemukan indikasi masalah kesehatan jiwa pada hampir 10 persen anak Indonesia.
Dari sekitar tujuh juta anak yang telah menjalani skrining, lebih dari 700 ribu terdeteksi mengalami gejala kecemasan dan depresi. Gangguan kecemasan menjadi temuan tertinggi, disusul depresi. Temuan ini memperkuat hasil Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) yang sebelumnya menunjukkan bahwa satu dari tiga remaja Indonesia mengalami persoalan kesehatan mental.
Fakta tersebut menjadi alarm serius bahwa generasi muda kita sedang tumbuh dalam tekanan psikologis yang semakin kompleks, sementara lingkungan pendidikan dan sosial belum sepenuhnya mampu menyediakan ruang aman emosional bagi mereka.
Orang tua hebat terlalu sibuk mengejar prestasi, tapi lupa memastikan jiwa anak-anak
Temuan ini mengindikasikan bahwa banyak anak dan remaja masih berhadapan dengan tekanan akademik, kecemasan performa, rendahnya rasa aman emosional, serta lemahnya dukungan psikososial di lingkungan pendidikan. Situasi tersebut menjadi alarm bahwa pendidikan modern belum sepenuhnya berhasil menyeimbangkan pencapaian kognitif dengan kebutuhan emosional peserta didik.
Kita terlalu sibuk mengejar angka, ranking, dan prestasi, tetapi kerap lupa memastikan apakah jiwa anak-anak kita tumbuh dalam rasa aman, dihargai, dan didengar.Angka-angka statistik nyata telah meneriakkan kecemasan ini dengan bising.
Data empiris di atas berkorelasi lurus dengan laporan World Health Organization (WHO) global yang menyatakan bahwa depresi merupakan salah satu penyebab utama morbiditas dan disabilitas di kalangan remaja. Angka-angka ini menjadi bukti tak terbantahkan bahwa ada yang keliru dalam cara kita membangun ekosistem mental anak di dalam keluarga.
Ketika anak-anak ini menyadari realitas bahwa diri mereka tidak seideal ekspektasi narsistik orang tuanya, dan di saat yang sama mereka tidak dibekali daya tahan untuk bangkit dari kegagalan, maka runturlah seluruh arsitektur mental mereka. Lonjakan eksponensial kasus kesehatan mental di kalangan remaja kota besar akhir-akhir ini adalah alarm sosiologis yang keras bahwa struktur pengasuhan modern kita sedang mengalami disfungsi struktural yang akut. Kita membesarkan anak dalam sangkar emas yang indah, namun rapuh saat diguncang angin buritan.
Kembalikan hak asasi anak
Jika kita tidak ingin melihat masa depan bangsa ini diisi oleh generasi yang mudah menyerah dan gagap memimpin, kita harus berani melakukan dekonstruksi radikal terhadap makna menjadi “orang tua hebat”. Kehebatan institusi orang tua tidak boleh lagi diukur secara kuantitatif dari seberapa bersih mereka menyingkirkan masalah dari lintasan hidup anak, melainkan secara kualitatif dari seberapa tangguh dan tegak anak mereka mampu berdiri ketika badai masalah itu datang menghantam tanpa bisa dihindari.
Orang tua harus mengembalikan hak asasi anak yang paling mendasar dalam proses belajar: hak untuk gagal, hak untuk kecewa, dan hak untuk terluka. Mengizinkan anak menangis karena kalah dalam sebuah kompetisi yang jujur, atau membiarkan mereka jatuh dan merasakan perihnya lutut yang terluka tanpa buru-buru menggendongnya, bukanlah bentuk penelantaran atau ketidakpedulian. Sebaliknya, itu adalah bentuk penghormatan dan pengakuan tertinggi terhadap proses pendewasaan organik mereka sebagai manusia.
Tugas utama keluarga, pada akhirnya, bukan membangun sebuah benteng kaca tebal yang mengisolasi anak dari realitas badai dunia, melainkan melatih mereka menjadi pelaut-pelaut tangguh yang tahu kapan harus mengembangkan layar dan bagaimana cara mengendalikan kemudi di tengah gulungan ombak yang paling bising sekalipun. Jika ego kelas menengah dan kecemasan berlebih ini tidak segera kita jinakkan, kita hanya sedang bersiap mewariskan kepemimpinan bangsa ini kepada generasi penonton yang lumpuh; mereka yang gemetar ketakutan di balik bayang-bayang kehebatan artifisial masa lalu orang tua mereka.
Penulis: Nur Hidayat
Editor: Agung Purwandono
BACA JUGA: Ibuku Demensia dan Aku Seorang Sandwich Generation yang Kecewa Absennya Negara Bagi Kami Para Caregiver dan tulisan menarik lainnya di Esai Mojok.co.
Tonton juga














