Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Setelah Klarifikasi, Dian Sastro Sebaiknya Ikut Aksi

Wisnu Prasetya Utomo oleh Wisnu Prasetya Utomo
18 April 2016
A A
Dian Sastro Dukung Aksi Semen Kendeng

Dian Sastro Dukung Aksi Semen Kendeng

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Buat mbak Dian Sastro, bisa jadi akhir pekan kemarin menjadi salah satu hari yang berat.

Bayangkan, menjelang pemutaran perdana film Ada Apa Dengan Cinta 2, film yang ditunggu jutaan orang yang siap beromantisme dengan masa pubernya dulu itu, mbak Dian mendapat tuduhan serius: bersikap tidak simpatik kepada perjuangan ibu-ibu Rembang dan mereduksi peran perempuan hanya di wilayah domestik. Duh!

Pangkalnya adalah berita di Kompas (Sabtu 16/04/2016) yang bersumber dari jawaban Dian atas pertanyaan seorang peserta seminar di Jepara berjudul ‘Spirit Kartini dalam Membangun Bangsa yang Mandiri, Kreatif, dan Berkarakter’.  Peserta tersebut bertanya tentang para ibu pemberani yang melawan pendirian pabrik semen di Rembang. Penggalan jawaban Dian ditampilkan Kompas dalam tiga bagian berikut:

“Saya melihat fenomena bicara perempuan itu, ada tanda tanya besar. Apakah polemik itu terlalu politis bagi laki-laki. Kenapa yang bicara malah perempuan, saya enggak tahu.”

“Itu jadi menarik adanya kasus sekarang. Ibunya lepas dong dari politik, kembali ke urusan domestik.”

“Menarik bisa ditanyakan, di sana ada problem apa? Bapak-bapaknya kok enggak ikut?”

Penggalan kalimat-kalimat tersebut segera saja menjadi arsenal kritik kepada Dian di media sosial. Apalagi bagi mereka yang selama ini ikut mengadvokasi, bersolidaritas, atau setidaknya mengikuti berita-berita tentang perjuangan ibu-ibu Rembang menolak pabrik semen. Juga bagi para kalangan feminis yang sudah khatam berkali-kali teori gender.

Oh iya, juga bagi para netizen kita yang selalu mudah menghakimi mereka yang berbeda, yang liyan. Sebagian rajin mengutip pertanyaan “can’t the subaltern speak?”, sebuah kalimat yang tempo hari dicuitkan oleh Goenawan Mohamad. Tapi, lucunya, begitu ada yang berbeda pendapat, ia langsung dihabisi.

Singkat cerita, mbak Dian mengklarifikasi bahwa pernyataan-pernyataannya dikutip dengan tidak utuh. Dan setelah itu, ia bilang bahwa ia “belajar banyak dari pengalaman ini mengenai dunia jurnalisme. Lain kali saya akan memastikan statement saya dikutip lebih baik.”

Ah, mbak Dian. Kamu menyampaikan hal yang tepat sekali. Ini bukan hanya pelajaran jurnalisme yang berharga buat kamu seorang. Tetapi, juga untuk kelas menengah kita yang setiap hari rajin menjadi hakim bagi orang lain. Eh, tapi bukan kelas menengah media sosial dong kalau tidak terburu-buru mengambil kesimpulan…

Coba deh mbak scroll linimasa aktivis di media sosial ketika beberapa waktu lalu ramai cacian terhadap Mensos yang dikabarkan punya rencana ingin merebus LGBT sebagai terapi kesembuhan. Juga Menkes yang disebut mengatakan bahwa anak yang tidak minum ASI kalau sudah besar otaknya akan mesum.

Mbak tahu enggak, kedua berita itu, entah disengaja atau tidak, ternyata salah kutip. Mestinya sih yang ikut melontarkan cacian itu merevisi omongannya, tapi ya ternyata enggak tuh mbak. Mungkin menurut mereka mencaci adalah bagian dari liberalisasi cangkem alias freedom of speech.

Oh iya, omong-omong soal berita salah kutip tadi, jadi begini mbak Dian, masalah yang menimpa kamu ini menunjukkan salah satu problem jurnalisme di Indonesia. Yaitu ketika media lebih sering memproduksi talking news, dan memaksa menampilkan sumber yang sama sekali tidak tahu masalah.

Hal tersebut kemudian memunculkan apa yang disebut bang Hadi, guru saya, sebagai realitas psikologis. Dalam kondisi semacam ini, sudah tidak penting lagi apakah benar seseorang berkomentar ini atau itu. Persepsi telah mengambil peran, dan substansi masalah di awal, pelan-pelan mengabur. Begitulah framing media bekerja, mbak.

Iklan

Ya persis seperti yang menimpa kamu, mbak Dian. Kamu tidak tahu info detail tentang sebuah kasus, dan ketika ditanya wartawan, kamu sudah menjelaskan ketidaktahuan Anda tersebut, bahkan juga sempat bertanya bagaimana duduk persoalan sebenarnya, ealah kok ya kalimatnya malah dipelintir dan tanpa berdosa dijadikan berita pula.

Sebagai seorang lulusan filsafat yang kerap resah dan mempertanyakan segala sesuatu, saya kira cukup wajar jika mbak menyimpan keresahan dan penasaran. Ya seperti saya yang kerap resah tiap membayangkan kok bisa ada perempuan secantik kamu, mbak Dian. Halah.

Kalau yang bikin saya penasaran ada beberapa hal mbak.

Mengapa wartawan Kompas menjadikan jawaban mbak Dian soal ibu-ibu Rembang sebagai sebuah berita? Bukankah mbak sudah menjawab tidak tahu dan baru mau mempelajarinya? Kenapa wartawannya tidak fokus saja menggali pernyataan Ganjar Pranowo – yang dikutip di berita yang sama – dan juga sempat mempertanyakan siapa aktor intelektual aksi pasung kaki ibu-ibu Rembang di Jakarta?

Begitulah joroknya watak media kita, mbak. Watak mereka tak jauh beda dengan Rangga: sudah tidak memberi penjelasan, lalu pergi begitu saja, lantas kembali seolah tidak ada apa-apa. Bedebah. Semoga nanti kamu enggak balikan ya mbak sama Rangga. Enggak ikhlas saya.

Namun, mbak Dian, setelah mendapat pelajaran berharga soal jurnalisme, alangkah baiknya jika mbak juga segera belajar memahami apa yang terjadi di Rembang. Minimal mengantisipasi kalau nanti ada wartawan yang nanya itu lagi. Atau malah lebih baik jika mbak Dian ikut bersolidaritas juga kepada Ibu-ibu Rembang. Toh, memang itu yang kita butuhkan: solidaritas lintas batas dalam perjuangan melawan penindasan.

Sebagai langkah awal mbak, saya sarankan untuk membaca tulisan Kalis Mardiasih soal ibu-ibu Rembang di Mojok. Tulisan mahasiswa yang sebentar lagi akan memindah tali toga dari kiri ke kanan itu menunjukkan mengapa kita harus menunjukkan keberpihakan kepada perjuangan ibu-ibu tersebut. Jadi mbak tak perlu lagi mempertanyakan ke mana para laki-lakinya atau seperti si Ganjar yang percaya ada konspirasi wahyudi berwujud aktor intelektual di belakang aksi mereka.

Di Rembang itu, mbak, para ibu tersebut sedang berjuang demi masa depan anak-cucunya, demi masa depan alam yang kita tinggali bersama. Mereka sudah meminta keadilan ke lembaga penegak hukum selama beberapa waktu belakangan. Tapi gagal semua, negara tidak hadir untuk mereka. Itulah yang membuat ibu-ibu tersebut bikin aksi simbolik yang gagah berani: mengecor kaki sendiri dengan semen.

Sempatkan sebentar untuk melihat aksi ibu-ibu ini, mbak. Suaramu sebagai perempuan terpopuler di Indonesia sungguh akan sangat berpengaruh bagi mereka. Kamu tak perlu ikut-ikutan nyemplungin kaki di semen kok, mbak. Cukup dengan menyatakan sikap: “Dian Sastro mendukung perjuangan ibu-ibu Rembang!”.

Terlebih mbak Dian kan juga menjadi pemeran utama di film ‘Kartini’, masa sih mbak diam saja melihat para perempuan diinjak-injak kekuasaan? Atau mbak mesti menunggu sekian purnama dulu baru bertindak?

Terakhir diperbarui pada 20 Juli 2017 oleh

Tags: AADC 2Dian Sastroganjar pranowoibu-ibu RembangjurnalismeMediamedia sosialpabrik semen
Wisnu Prasetya Utomo

Wisnu Prasetya Utomo

Peneliti media, Dosen FISIPOL UGM, tinggal di Sleman. Plus masih jomblo, katanya.

Artikel Terkait

Zero post di Instagram cara hidup tenang Gen Z. MOJOK.CO
Urban

Gen Z Lebih Tenang Tanpa Feed Instagram (Zero Post), Aslinya Bukan Misterius Cuma Capek Mengejar Validasi dan Ingin Melindungi Diri

7 Mei 2026
AMSI dan UAJY kerja sama untuk ciptakan media yang sehat. Penandatanganan diwakili Rektor UNY Sri Nurhartanto dan Ketua AMSI Pusat Wahyu Dyatmika. (Istimewa)
Pendidikan

AMSI dan UAJY Kerja Sama untuk Ciptakan Ekosistem Media yang Sehat

14 April 2026
#NgobroldiMeta jadi upaya AMSI dan Meta dukung pelaku media memproduksi jurnalisme berkualitas di era AI MOJOK.CO
Kilas

#NgobroldiMeta: Upaya AMSI dan Meta Bekali Media untuk Produksi Jurnalisme Berkualitas di Era AI

10 April 2026
Anomali pengunjung toko buku sekarang bukan baca, malah foto
Sehari-hari

Anomali Pengunjung Toko Buku Hari Ini: Outfit Foto Elite, Beli Buku Sulit

11 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Veda Ega Pratama Buktikan Mental Comeback, Start P20 Finis 8 Besar di Catalunya

Veda Ega Pratama Buktikan Mental Comeback di Moto3, Start P20 Finis 8 Besar di Catalunya

17 Mei 2026
Kos kamar mandi luar memang murah. Tapi mending cari kamar mandi dalam kalau tidak mau kena mental MOJOK.CO

Kos Kamar Mandi Luar Memang Lebih Murah, Tapi bikin Repot Sendiri karena Dipakai Bareng Penghuni Lain Tak Tahu Diri (Kemproh dan Pemalas)

14 Mei 2026
Kopi starling dan kopi keliling: cuma Rp5 ribu tapi beri suntikan kekuatan pekerja kantoran di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan (Jaksel) untuk survive kerja tanpa Work Life Balance MOJOK.CO

Kopi Starling Cuma 5 Ribu tapi Beri Kekuatan Pekerja Jaksel Survive Tanpa Work Life Balance, Ketimbang 50 Ribu di Coffee Shop Elite

14 Mei 2026
buku remy sylado.MOJOK.CO

Mendobrak Fiksi Sejarah Jawa-sentris lewat Inani Keke dan Trabar Batalla, Harta Karun yang Sempat dianggap “Budaya Rendah”

15 Mei 2026
Prabowo kasih guru honorer insentif saat HUT RI. MOJOK.CO

JPPI Kritik SE Mendikdasmen Nomor 7 Tahun 2026, Sebut Pemerintah Lebih Peduli Karyawan SPPG daripada Guru Honorer

12 Mei 2026
Pekerja Jakarta, WFH, kerja sesuai hobi.MOJOK.CO

Kerja Sesuai Hobi Bikin Menderita: Kita Jadi Tak Lagi Punya Tempat Menenangkan Pikiran Saat Muak dengan Pekerjaan

18 Mei 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.