MOJOK.CO – Sal Priadi dalam lagu “Malang Santai Sayang” menggambarkan Kota Malang sebagai tempat yang ramah, tapi tidak untuk demo yang mengkritik pemerintah.
Agustus tahun lalu saya pernah ditinggal satu kelas penuh karena mahasiswa izin ikut demonstrasi. Sebagai dosen agama, tentu saya kehilangan satu pertemuan. Namun, saya tidak pernah menganggap mereka musuh kampus, apalagi musuh negara.
Memprotes sesuatu yang dianggap tidak benar adalah bagian dari pendidikan yang tidak selalu bisa diajarkan dari balik slide PowerPoint.
Karena itu, saya cukup heran melihat perkembangan demokrasi belakangan ini. Ada fakta menarik ketika sebuah demonstrasi yang mengkritisi kebijakan pemerintah justru dibalas dengan demonstrasi tandingan yang mendukung pemerintah.
Fenomena menarik di Kota Malang, demonstrasi mengkritik mahasiswa
Demonstrasi lazimnya lahir dari ketidakpuasan terhadap kebijakan publik. Karena itu, kemunculan demonstrasi tandingan yang secara khusus hadir untuk membela pemerintah menjadi fenomena yang menarik.
Jika publik merasa puas, biasanya dukungan cukup ditunjukkan melalui kepercayaan, bukan dengan turun ke jalan.
Kalau dulu mahasiswa turun ke jalan modalnya cuma jaket almamater dan pita hitam, membentangkan spanduk dan membawa toa, mahasiswa zaman sekarang tampaknya harus menambah satu perlengkapan wajib di tas mereka: mental siap dituduh sebagai “mahasewa” oleh baliho tandingan.
Toa mahasiswa kini harus bersaing dengan sound system sekelas hajatan sound horeg, sementara aksi long march dibalas dengan joget gemoy ala senam Zumba.
Sebuah plot twist yang sedang dialami demokrasi kita. Ketika mahasiswa mengkritik efektivitas program MBG dan mempertanyakan penggunaan anggaran negara, mereka justru diteriaki sebagai perusak daerah.
Ironisnya, semua itu terjadi di sebuah kota yang menamakan dirinya sebagai Kota Pendidikan. Kota dengan kampus-kampus yang selalu dibanggakan masuk QS World University Rankings (QS WUR), kota yang denyut ekonominya hidup dari mahasiswa, kota yang diberkahi kos-kosan dan jajanan olahan tepung di hampir setiap gang sekitar kampus. Kota itu adalah Malang.
Seperti yang terjadi beberapa hari lalu. Gedung DPRD Kota Malang digeruduk ratusan mahasiswa yang dimotori mahasiswa Universitas Brawijaya. Salah satu tuntutan mereka adalah menghentikan atau mengevaluasi program yang dianggap tidak efektif, seperti MBG dan Koperasi Merah Putih.
Beberapa hari setelah aksi mahasiswa, di tempat yang sama, muncul aksi massa yang mengatasnamakan #GerakanDukungPrabowo untuk mendukung program Makan Bergizi Gratis. Dalam aksi tersebut terpasang spanduk bertuliskan:
“USIR MAHASEWA YANG MENGAKU MAHASISWA DARI BUMI AREMA.”
Spanduk itu terpasang di pagar DPRD dan ramai menjadi sorotan publik.
Yak opo iki, ker?
Demonstrasi mendukung pemerintah itu tidak apa-apa, tapi jangan intimidatif
Dalam demokrasi, menyampaikan pendapat, kritik, dan demonstrasi merupakan hak yang dijamin negara. Mahasiswa dalam hal ini sedang menjalankan hak kewargaan mereka. Tidak ada yang salah dengan demonstrasi tandingan. Mendukung pemerintah juga merupakan hak warga negara.
Persoalannya muncul ketika dukungan itu berubah menjadi upaya membungkam kritik melalui stigmatisasi dan intimidasi.
Alih-alih menjadikan kritik sebagai momentum untuk bertafakur dan berbenah, sebagian orang justru sibuk mengecilkan pengkritiknya. Muncullah label “mahasewa”, narasi “selesaikan skripsi dulu, Dek”, “ingat yang bayar UKT orang tua”, dan berbagai serangan personal lain yang sama sekali tidak menjawab substansi kritik.
Dalam kasus Bumi Arema, aksi dukungan terhadap MBG sebenarnya bisa saja berlangsung biasa. Orang datang, berorasi mendukung program pemerintah, menikmati panggung hiburan, lalu pulang. Tidak ada masalah.
Namun, ketika muncul spanduk bernada pengusiran, persoalannya menjadi berbeda. Narasi pada baliho tersebut adalah bentuk provokatif dan intimidatif yang kasatmata.
Hari ini, bersuara kritis tidak hanya berhadapan dengan perbedaan pendapat. Kritik sering kali dibalas dengan serangan personal. Yang diserang bukan argumennya, melainkan orangnya.
Yang dibantah bukan datanya, melainkan identitasnya. Seolah-olah ketika mahasiswa berhasil dicap sebagai “mahasewa”, seluruh kritik mereka otomatis gugur.
Perlu menata ulang cara pandang terhadap kritik agar tetap “Malang Santai Sayang”
Sebagai dosen yang pernah ditinggal satu kelas penuh karena mahasiswa ikut demonstrasi, saya melihat baliho intimidatif itu sebagai sesuatu yang sudah melampaui batas kewajaran respons terhadap kritik mahasiswa. Apalagi jika disandingkan dengan gaya dan kultur Malangan yang selama ini dikenal santai dan terbuka.
Sal Priadi dalam lagu “Malang Santai Sayang” menggambarkan kota ini sebagai tempat yang ramah. Pada salah satu liriknya ia bahkan berkata, “mereka nggak gigit.”
Namun, melihat kejadian di depan Gedung DPRD Kota Malang beberapa hari lalu, rasanya lirik itu berubah menjadi semacam tamparan. Betapa garangnya Arek Ngalam hari ini. Mahasiswa tidak hanya dituduh sebagai “mahasewa”, kelompok yang dianggap tergadai, tetapi juga secara terang-terangan diminta pergi dari Bumi Arema.
Mengerikan.
Kita perlu menata ulang cara pandang terhadap kritik. Kritik memang seperti jamu: tidak selalu manis, bahkan sering kali pahit. Namun, justru karena pahit itulah ia menyehatkan.
Ketika kritik tidak lagi dipahami sebagai bagian dari demokrasi, maka yang terjadi adalah apa yang kita lihat hari ini. Buzzer tidak lagi hanya hidup di media sosial, tetapi mulai menemukan bentuknya di dunia nyata. Kritik dibalas demonstrasi tandingan. Argumen dibalas stigma. Substansi dibalas serangan personal.
Kasus baliho di Kota Malang hari ini mungkin juga terjadi di banyak tempat, di banyak kota, dan kepada banyak mahasiswa yang memilih turun ke jalan menyampaikan kritik.
Rasanya perlu kita renungkan kembali: sebelum semua polemik ini muncul, kita mengenal Malang sebagai kota yang santai. Kota yang ramah. Kota yang terbuka terhadap perbedaan.
Mungkin Kota Malang masih santai, sayang. Hanya saja, kritik tampaknya sudah tidak lagi diterima dengan santai. Atau jangan-jangan, seperti kata serial Avatar dulu, sebelum negara api menyerang semua baik-baik saja.
Penulis: Jafar Sodiq
Editor: Agung Purwandono
BACA JUGA Masalah Orang Dewasa: Dana Darurat, Skincare, dan Kecemasan yang Sama-sama Mahal
dan tulisan menarik lainnya di kanal Esai.














