Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai Khotbah

Menuntut Anak Macam-macam Padahal Jadi Orang Tua aja Nggak Becus

Ahmad Khadafi oleh Ahmad Khadafi
12 April 2019
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Banyak orang tua tanpa sadar menuntut macam-macam ke anak. Harus jadi anak saleh, baik, pintar. Padahal dulu waktu kecil orang tuanya nggak kayak gitu juga.

“Nggak kapok-kapok juga dia. Padahal udah saya kasih pelajaran berkali-kali, Gus,” kata Mas Is.

“Siapa?” tanya Gus Mut.

“Ya si Tarlim, anak saya,” kata Mas Is lagi.

“Kenapa lagi si Tarlim?” tanya Gus Mut.

Gus Mut tahu, Tarlim anak Mas Is memang dikenal sebagai anak yang bandel. Saking bandelnya, Tarlim berkali-kali hampir dikeluarkan dari Pondok Pesantren tempat dia nyantri.

“Nonton konser, Gus. Padahal udah tahu itu dilarang sama pesantrennya. Malah ngeyel aja berangkat. Mana bawa teman-temannya satu kamar lagi. Wah, pusing saya. Harus sowan berkali-kali ke Pesantrennya buat menjelaskan ini-itu dan minta keringanan lagi,” kata Mas Is.

Tarlim, anak Mas Is memang nggak ngaji ke Gus Mut, melainkan mondok jauh ke Pesantren luar kota. Harapannya agar bisa jauh dari orang tua jadi bisa lebih mandiri. Kalau cuma belajar ngaji di kampung bareng Gus Mut, percuma saja pikir Mas Is.

“Oh, lalu hasilnya gimana?” tanya Gus Mut.

“Ya, Pak Kiai di sana sih masih ngasih keringanan. Ya saya nyebut-nyebut nama panjenengan juga sih, Gus, mungkin,” kata Mas Is.

“Apa? Kok nama saya disebut-sebut?” tanya Gus Mut.

“Ya saya bilang, saya tetangganya Gus Mut. Mungkin karena itu masih dikasih kesempatan. Terus kata Pak Kiai, ya nggak apa-apa masih di Pesantren, tapi kalau sekali lagi melanggar bakal dikeluarkan. Wah, pusing saya, Gus. Ngasih tahu anak kok susah bener,” kata Mas Is.

“Memang kamu itu ngasih tahunya gimana?” tanya Gus Mut.

“Ya kalau udah gede begini ya saya marahin habis-habisan lah, Gus,” kata Mas Is.

Iklan

“Kapok nggak?”

“Ya, nggak. Memang itu anak bandel banget, Gus. Makanya saya pondokkan,” jawab Mas Is.

“Oh, jadi Tarlim kamu pondokkan karena kamu nggak bisa ngadepin anak sendiri?” tanya Gus Mut.

Mas Is agak terkejut mendengar pertanyaan mendadak kayak gitu.

“Ya, ya, nggak gitu juga sih, Gus,” kata Mas Is bingung.

“Kalau kamu kesulitan mendidik anak gitu, kamu harusnya lihat diri sendiri dulu, Mas. Dulu waktu kamu masih anak-anak kamu itu bandel nggak?” tanya Gus Mut menyelidik.

Mas Is terdiam sejenak.

“Ya, kalau saya sih lebih parah sih, Gus,” kata Mas Is garuk-garuk kepala.

“Lha ya pasti kamu lebih parah, lha wong aku dulu tahu kelakuanmu waktu masih sekolah kok. Aku itu tahu betul gimana dulu nakalnya kamu, Mas Is,” kata Gus Mut terkekeh yang disambut tawa juga oleh Mas Is.

“Ya tapi kan sekarang saya udah berubah. Udah mulai salat lagi. Meski ya nggak sering jamaah ke masjid, tapi kan jauh lebih baik sekarang ketimbang saya dulu,” kata Mas Is membela diri.

“Nah, makanya itu…” kata Gus Mut.

Mas Is menanti perkataan selanjutnya Gus Mut. Lalu tiba-tiba hening. Gus Mut tampak tidak melanjutkan kalimatnya.

“Makanya apa, Gus?” tanya Mas Is jengkel.

“Ya makanya itu kamu harus bersyukur, Mas Is. Punya anak kayak Tarlim,” kata Gus Mut.

“Bersyukur gimana? Punya anak bandelnya naudzubillah kayak gitu kok malah bersyukur,” kata Mas Is.

“Lha gimana, Tarlim itu anak yang luar biasa lho Mas Is. Di saat tahu bapaknya nggak pernah mondok, dulu salatnya bolong-bolong, ngaji plegak-pleguk, tapi maksa-maksa dia harus mondok. Jauh dari teman-temannya. Jauh dari kampung halamannya. Nggak semua anak bisa se-ikhlas Tarlim lho Mas Is. Diperintahkan belajar ngaji sama bapak yang nggak bisa ngaji,” kata Gus Mut.

Mas Is yang dinasehati begitu malah tertawa ngakak.

“Ya kan setiap orang tua pasti ingin anaknya lebih baik dari dirinya to, Gus,” kata Mas Is.

“Ya itu pasti. Manusiawi itu. Tapi ya Mas Is itu gimana. Mana ada rumusnya orang tua yang malas memperbaiki diri sendiri, malas buat jadi semakin baik dari hari ke hari, malah menuntut banyak hal ke anaknya. Sampeyan itu bukan kepingin punya anak yang baik dan nurut, Mas…” kata Gus Mut.

Mas Is menyimak dengan senyam-senyum.

“…tapi sampeyan itu kepingin jadi bapak yang berhasil,” lanjut Gus Mut.

Mas Is bingung. “Lah? Bukannya sama aja ya, Gus?” tanya Mas Is.

“Ya jauh bedanya, Mas Is,” kata Gus Mut.

“Yang satu itu murni untuk kesuksesan anak, yang satu itu untuk kesuksesan status seorang bapak. Ya beda lah,” kata Gus Mut.

“Jadi orang tua itu ya mikir dikit lah kita ini. Mau punya anak baik, berprestasi, pintar ngaji, pintar ini-itu, tapi kelakuan kita sebagai orang tua malah nggak lebih baik dari hari ke hari ya kebangeten namanya. Nuntut orang lain jauh lebih baik, tapi kitanya malas jadi lebih baik. Masih mending kalau ini orang lain yang dikasih tahu, lha ini anak sendiri. Orang paling dekat yang hampir tahu kelakuan bapaknya di rumah dari bangun sampai mau tidur lagi,” tambah Gus Mut.

Mas Is cengengesan mendengarnya. Merasa ada yang keliru dari pemahamannya selama ini. Dipikirnya dengan sowan kali ini, Gus Mut akan kasih tahu gimana caranya ngasih tahu ke anak. Gimana caranya nasehatin anak.

Namun tak seperti dugaan, bukannya dapat petunjuk ngasih tahu anak, malah Mas Is sendiri yang kena semprot dari Gus Mut.

“Buah memang nggak pernah jauh dari pohonnya ya, Gus?” kata Mas Is.

Gus Mut terkekeh sambil menyeruput kopi di depannya. Sambil membungkuk sedikit berbisik ke Mas Is.

“Kalau orang tua cuma bisa mentok jadi pohon belimbing wuluh, lha kok minta hasilnya durian, ya itu namanya ngelunjak, Mas.”

Mas Is cuma tertawa ngakak mendengarnya.


*) Diolah dari ceramah Gus Baha’

Terakhir diperbarui pada 12 April 2019 oleh

Tags: anak berprestasiGus Mutkiaiorang tuaPondok Pesantren
Ahmad Khadafi

Ahmad Khadafi

Redaktur Mojok. Santri. Penulis buku "Dari Bilik Pesantren" dan "Islam Kita Nggak ke Mana-mana kok Disuruh Kembali".

Artikel Terkait

Ibuku Demensia dan Aku Seorang Sandwich Generation yang Kecewa Absennya Negara Bagi Kami para Caregiver MOJOK.CO
Esai

Ibuku Demensia dan Aku Seorang Sandwich Generation yang Kecewa Absennya Negara Bagi Kami Para Caregiver

4 Maret 2026
orang tua.MOJOK.CO
Sehari-hari

35 Tahun Bekerja Keras demi Anak, tapi Kesepian di Masa Tua karena Dianggap Tak Pernah Hadir untuk Keluarga

24 Februari 2026
Ibu yang sudah menua sering diabaikan anak
Catatan

Orang Tua yang Menua adalah Ketakutan Terbesar Anak, meski Kita Menolak Menyadarinya

13 Februari 2026
orang tua, ortu temani anak utbk ugm.MOJOK.CO
Sehari-hari

Jangan Minder Kalau Kamu Belum “Jadi Orang” di Usia 30-an, Itu Masuk Akal Secara Biologis dan Sosial

11 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) kerap disalahpahami mahasiswa PTN atau PTS umum lain MOJOK.CO

4 Hal yang Sudah Dianggap Keren dan Kalcer di Kalangan Mahasiswa UIN, Tapi Agak “Aneh” bagi Mahasiswa PTN Lain

28 Februari 2026
Keselamatan warga Kota Semarang jadi prioritas di tengah hujan dan angin kencang yang tumbangkan 80 lebih pohon dalam semalam MOJOK.CO

Keselamatan Warga Semarang Jadi Prioritas di Tengah Hujan Angin yang Tumbangkan 86 Pohon dalam Semalam

5 Maret 2026
lolos snbp, biaya kuliah ptn.MOJOK.CO

Derita Kakak yang Jadi Tulang Punggung Keluarga: Adik Lolos SNBP Malah Overthinking, Pura-Pura Bahagia Meski Aslinya Menderita

2 Maret 2026
Xiaomi POCO ternyata lebih berguna ketimbang Samsung Galaxy. MOJOK.CO

Kecewa dengan Penyakit “Kronis” Samsung Galaxy yang Habiskan Duit Berjuta-juta, Ternyata Merek “Murahan” Lebih Berguna

2 Maret 2026
Potret kasih sayang keluarga (ayah, ibu, dan anak) dalam momen mudik Lebaran (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagi Ibu, Tak Apa Membayar Tiket Mahal untuk Mudik demi Bisa Kumpul Bersama “Anak Kecilnya” yang Berjuang di Perantauan

5 Maret 2026
kelemahan honda beat, jupiter z.mojok.co

Menyesal Ganti Jupiter Z ke Honda BeAT: Menang “Rupa” tapi Payah, Malah Tak Bisa Dipakai Ngebut dan Terasa Boros

27 Februari 2026

Video Terbaru

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026
Zen RS: Tan Malaka Tokoh Pemikir Bebas dan Pejuang yang Tidak Terikat Struktur Politik

Zen RS: Tan Malaka Tokoh Pemikir Bebas dan Pejuang yang Tidak Terikat Struktur Politik

3 Maret 2026
Budaya Tionghoa Jogja dan Rahasia yang Jarang Dibicarakan

Budaya Tionghoa Jogja dan Rahasia yang Jarang Dibicarakan

28 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.