Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai Kepala Suku

Siapa yang Diuntungkan dan Dirugikan oleh Kemunculan Pasangan Nurhadi-Aldo?

Puthut EA oleh Puthut EA
5 Januari 2019
A A
kepala suku
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO –  Usaha partai politik selama bertahun-tahun belum juga berhasil, eh sudah langsung disapu oleh kehadiran Nurhadi-Aldo dan Koalisi Tronjal Tronjol!

Beberapa media sudah berhasil mewawancarai tim di belakang kemunculan pasangan capres-cawapres fiktif Nurhadi-Aldo. Pesan mereka kuat sekali. Anak-anak berusia 18-23 tahun itu merasa perlu memunculkan pasangan ini karena elite politik Indonesia dianggap tidak mampu memberikan pendidikan politik yang baik kepada warga negara melalui Pemilu dan Pilpres 2019.

Ekspresi politik semacam ini tentu harus dibaca dengan cermat. Setiap zaman membawa cara dan gaya dalam mengekspresikan kekecewaan mereka. Tapi hal semacam ini tidak bisa dihadang. Siapa pun, saya ulangi, siapa pun yang akan menghalang-halangi atau menyikat ekspresi semacam ini, bakal menuai tendangan balik dari warga negara dan netizen yang merasa kemunculan Nurhadi-Aldo sebagai kanal politik mereka yang tak terwadahi.

Menurut pantauan Gardamaya dan Mojok Institute, grafik popularitas pasangan ini menanjak cepat. Kurang dari sebulan, puluhan ribu partisipan telah terkoneksi aktif dengan pasangan fiktif ini. Terkoneksi aktif itu berarti: turut membuat, menyebarkan, menggandakan, dan melakukan serangkaian kerja re-kreasi atas pasangan ini.

Pertanyaan selanjutnya adalah: siapa yang akan diuntungkan oleh kemunculan pasangan ini?

Pertama, jelas Indonesia. Indonesia sebagai sebuah negara bakal diuntungkan sebab mendadak ada busa yang liat dan kuat, yang muncul di tengah pergesekan antara pasangan capres-cawapres nomor 01 dan 02. Sialnya, kubu pasangan 01 dan 02 sadar betul bahwa mereka tidak mungkin menghajar kemunculan Nurhadi-Aldo karena akan sangat kontraproduktif. Dengan demikian, Indonesia yang berada dalam fase gesekan panas akan terasa lebih adem.

Kedua, mereka yang belum menemukan kanal ekspresi politik. Banyak orang yang merasa ekspresi politik mereka tidak terwadahi oleh capres nomor 01 dan 02. Pengalaman dipimpin oleh Jokowi tidak memuaskan mereka, tapi tidak mungkin pula mereka memilih Prabowo yang secara historis dan karakter politiknya jelas di sisi yang sangat berbeda. Mereka yang selama ini hanya diam, menunggu, menggerutu, sambil sesekali mengkritisi kedua belah pihak, kini menemukan alat politik mereka.

Ketiga, golput. Golput dibedakan dengan poin kedua. Golput dalam konteks ini adalah mereka yang sejak awal sudah tidak percaya lagi dengan produk elektoral ini. Sebab secara substantif, pasangan ini dimunculkan oleh rezim parpol yang secara karakter jelas lebih bersifat nepotis dan oligarkis. Dalam hal ini pula, golput mampu meremajakan diri mereka lewat kemunculan Nurhadi-Aldo. Kalau dulu golput tumbuh dari rezim otoriter, sekarang Nurhadi-Aldo justru muncul dari kebebasan berpendapat yang didukung penuh oleh era digital.

Lantas, siapakah yang akan dirugikan?

Pertama, jelas parpol, terutama parpol yang mencoba menggaet suara dari generasi milenial. Usaha mereka bertahun-tahun belum sampai berhasil dan langsung disapu oleh kehadiran Nurhadi-Aldo. Saya kira dengan karakter yang dimunculkan dalam persona fiktif Nurhadi-Aldo, dan melihat daya dukung mereka dalam dua minggu belakangan ini, akan ada migrasi besar-besaran dari kaum milenial yang mulai melirik ke parpol, lalu menghentikan proses mereka, sebab telah ada yang lebih asyik bagi mereka dibanding para parpol peserta pemilu.

Kedua, pasangan kedua capres. Kenapa? Karena bagaimanapun juga, kedua pasangan tersebut memiliki kemungkinan didongkrak oleh suara yang tidak sepenuhnya mau memilih mereka alias massa mengambang. Massa inilah yang akan memutuskan mencoblos di babak akhir, bukan karena sejak awal sudah memutuskan. Tapi dengan kemunculan Nurhadi-Aldo, barisan suara ini sudah bisa teralihkan tanpa harus memutuskan. Sudah ada yang menghibur mereka tanpa terbebani rasa bersalah karena tidak ikut pemilu. Mereka punya calon. Hanya saja, calon mereka tidak nyata. Tidak ada di kartu suara.

Terlepas dari poin-poin di atas, beberapa intelektual mulai memperhatikan pergerakan pasangan ini. Sebab, bukan tidak mungkin pergerakan ini akan meluas secara kuantitatif dan mengkristal secara kualitatif. Kalau itu sudah terjadi, gerakan anak muda milenial Indonesia akan memasuki babak baru. Saatnya mereka bersuara. Memberikan tekanan politik. Dan siapapun yang tidak mau mendengar suara mereka, akan tenggelam dan jatuh bersama kalender tua di tembok rumah yang kusam.

Salam tronjal tronjol!

Terakhir diperbarui pada 12 Agustus 2021 oleh

Tags: AldoDildojokowiNurhadiNurhadi-AldoPilpres 2019prabowopsiTronjal-tronjol
Puthut EA

Puthut EA

Kepala Suku Mojok. Anak kesayangan Tuhan.

Artikel Terkait

Nasib Yamaha Byson Baru yang Dicintai Setelah Tak Bisa Dimiliki MOJOK.CO
Otomojok

Nasib Yamaha Byson dan Paradoks Benda yang Baru Dicintai Setelah Berhenti Diproduksi dan Tak Bisa Dimiliki Lagi

2 Juli 2026
Instruksi Belajar Bahasa Prancis: Taktik Genius Mengenal Perjuangan Rakyat Prancis MOJOK,CO
Esai

Instruksi Belajar Bahasa Prancis: Taktik Genius untuk Mengenal Perlawanan Rakyat Prancis

1 Juni 2026
Museum Ibu Marsinah jangan berhenti sebagai simbol, tapi negara harus serius pikirkan kesejahteraan kaum buruh MOJOK.CO
Tajuk

Museum Ibu Marsinah Jangan Berhenti sebagai Simbol, Tapi Kesejahteraan Buruh Harus Benar-benar Dipikirkan

18 Mei 2026
Mens Rea, Panji Pragiwaksono sebagai Anak Abah, dan Bahaya Logika Fanatisme MOJOK.CO
Esai

Mens Rea, Pandji Pragiwaksono sebagai Anak Abah, dan Bahaya Logika Fanatisme

12 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Derita anak magang atau PKL SMK: diperlakukan sebagai pekerja penuh waktu hingga ikut lembur dan dibentak-bentak MOJOK.CO

Magang SMK Tak Dibayar tapi Jadi Tenaga Kerja Serabutan, Ikut Lembur hingga Dibentak-bentak kalau Ada Kesalahan

9 Juli 2026
Polyworking (mencari pekerjaan tambahan atau sampingan) jadi pilihan rasional in this economy karena satu pemasukan gaji tak beri rasa aman MOJOK.CO

Polyworking: Pekerja Kurangi Waktu Luang demi Pekerjaan Tambahan dan Pesan untuk Lulusan Baru jika Sumber Gaji Tak Cukup 1

8 Juli 2026
Senjakala Lapangan Sepak Bola di Jogja yang Makin Berjarak dengan Warganya.MOJOK.CO

Senjakala Lapangan Bola di Kota Jogja yang Makin Berjarak dengan Warganya

9 Juli 2026
Festival Jamu Nusantara di Pasar Ngasem, Kota Jogja: ruang regenerasi dan edukasi konsumen muda MOJOK.CO

Festival Jamu Nusantara di Kota Jogja: Sadarkan Anak Muda Jamu Bukan Minuman Kuno, Tapi Gaya Hidup Sehat Lintas Generasi

6 Juli 2026
Bupati Sleman, Harda Kiswaya, menyerahkan hibah daerah ke ormas, tempat ibadah, dan para seniman MOJOK.CO

Hibah Pemkab Sleman untuk Ormas, Tempat Ibadah, dan Seniman: Serahkan Ratusan-Miliaran Juta untuk Dioptimalkan

10 Juli 2026
Pertama kali beli mesin cuci di rumah desa, kena julid tetangga MOJOK.CO

Pertama Kali Beli Mesin Cuci di Rumah Desa: Terharu Ringankan Beban Ibu hingga Dianggap Buang Duit oleh Tetangga Julid

10 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.