• 64
    Shares

MOJOK.CO – Karena yang fana adalah ide dan gagasan, sementara yang abadi adalah julid dan nyinyir antara pendukung Jokowi dan Prabowo di Pilpres 2019.

Saling olok antara kubu Jokowi dan Prabowo masih berlanjut. Seperti lupa kalau kontestasi pemilu itu soal adu ide dan gagasan, perihal baju yang dikenakan oleh capres dan cawapres pun jadi bahan bakar saling nyinyir. Pada titik tertentu, lebih enak nonton acara Cerdas Cermat ketimbang mengikuti perdebatan konyol kedua kubu untuk Pilpres 2019.

Semakin dekat dengan hari coblosan, “rumor” soal pakaian yang dikenakan capres dan cawapres untuk foto surat suara menjadi bahan olok-olok. Adalah Pramono Anung, Seskab RI, yang konon mengungkapkan bahwa pasangan Jokowi dan Ma’ruf Amin akan mengenakan baju serba putih. Sementara itu, Prabowo dan Sandiaga Uno mengenakan jas dengan warna dominan hitam.

Sekilas tidak ada yang salah. Soal pakaian adalah preferensi masing-masing. Mau pakai kostum badut pun sah saja, karena tidak melanggar aturan. Misalnya untuk misi “Indonesia yang lebih lucu” di tengah carut-marut keadaan saat ini.

Namun, lantaran berada di dalam konteks politik, soal pakaian pun tak lepas dari bahan nyinyir. Pakaian memang bisa menjadi penanda sifat dan sikap. Tapi, kok rasanya, perdebatan soal baju Jokowi dan Prabowo ini sudah terlalu jauh. Menjemukan.

Baca juga:  Kinerja Menterinya Dianggap Lambat, Jokowi Kesal dan Ancam Reshuffle

Jadi, Hasto Kristiyanto dan Abdul Kadir Karding dari TKN Jokowi mencoba menjadi “ahli tafsir pakaian”. Hasto mengungkapkan bahwa baju serba putih Jokowi dan Kiai Ma’ruf menunjukkan keindonesiaan. Sementara itu, Abdul Kadir Karding menerawang bahwa pakaian serba putih itu menunjukkan sesuatu yang suci dan bersih.

“Jadi foto tentu saja ini juga mencerminkan bagaimana Pak Jokowi dan Kiai Ma’ruf itu kan putih. Yang di sana hitam bajunya. Pak Jokowi mencerminkan optimisme memandangnya, menatap masa depan dengan percaya diri. Yang di sana menunduk,” ujar Hasto mencoba mengulik makna pakaian.

“Kiai Ma’ruf tampil yaitu secara keseluruhan dalam jati dirinya sebagai seorang ulama dengan mengenakan sarung, tidak ada perubahan di situ. Dan kemudian Pak Jokowi juga mencerminkan bersama Kiai Ma’ruf keindonesiaan kita,” tambahnya berteori.

Abdul Kadir Karding: “Pak Jokowi memang beliau selama ini senang dengan baju putih dan sederhana seperti sekarang. Baju putih itu menyimbolkan kesucian dan kebaikan. Jadi putih itu artinya suci dan baik.”

Gusar karena sindirian kubu petahana, pihak oposisi juga tak mau kalah berteori. Jubir BPN Prabowo dan Sandiaga Uno, Andre Rosiade menelurkan teori yang sungguh menggugah. “Yang penting itu hati jangan hitam. Untuk apa baju putih tapi sebatas pencitraan, tapi sebatas…tapi hatinya hitam. Janji-janji manis, tapi tidak ditepati setelah berkuasa.”

Habiburokhman, Ketua DPP Gerindra tak mau ketinggalan. “Kami tidak akan memaksa paslon memakai kostum tertentu hanya untuk pencitraan semu. Kami juga tidak akan memaksa paslon untuk memakai kostum tertentu agar terkesan religius.”

Baca juga:  Bercita-cita Jadi Jokowi, Bang Jago Paling Ultimate Sejagat Raya

Sampai pakaian pun menjadi bahan olok-olokan. Jangan-jangan, nanti Jokowi bersin atau Prabowo menguap bakal jadi bahan nyinyir. Karena yang fana adalah ide dan gagasan, sementara yang abadi adalah julid dan nyinyir. (yms)