Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai Kepala Suku

Jokowi Terlalu Sulit Dikalahkan Prabowo di Pilpres 2019

Puthut EA oleh Puthut EA
24 Januari 2019
A A
kepala suku
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Ada 5 alasan yang menjadi penyebab pasangan Jokowi dan Ma’ruf Amin sulit dikalahkan Prabowo dan Sandiaga Uno di Pilpres 2019. Apa saja 5 alasan ini?

Makin hari, pertarungan dua kandidat capres-cawapres makin memanas. Tapi sampai tulisan ini dibuat, jarak antara Jokowi-Amin dengan Prabowo-Sandi masih terpaut jauh.

Beberapa lembaga survei memberikan keterangan bahwa jarak keduanya terentang antara 18-20 persen. Beberapa yang lain menyatakan 10-11 persen. Kalau kita ambil titik moderat, keduanya masih terpaut 14-15 persen. Melihat jarak sejauh itu, rasanya sulit bagi Prabowo mengalahkan Jokowi.

Lalu, sebetulnya apa sih yang membuat Jokowi sulit dikalahkan, sementara di sisi lain isu ketidakmampuannya mengelola pemerintahan makin mendapatkan perhatian publik yang tinggi? Mulai dari salah sasaran pembangunan infrastruktur, neraca perdagangan yang makin memburuk, sampai kasus seperti Novel Baswedan dan Abu Bakar Ba’asyir.

1. Petahana selalu menguasai semua instrumen kekuasaan.

Di Indonesia, mau Anda bupati, walikota, gubernur, apalagi presiden, selalu diuntungkan dengan penguasaan atas semua instrumen kekuasaan. Presiden menguasai kementerian, kepolisian, dan lembaga negara lain yang beroperasi dan bersentuhan langsung dengan masyarakat.

Keuntungan ini bukan hal yang ganjil. Ya memang begitu. Sehingga semua instrumen bisa digerakkan sebagai mesin pemenangan, entah itu dari sisi program kerja maupun dari sisi sumber daya manusia (pegawai).

2. Petahana didukung 9 parpol.

Mulai dari partai besar seperti PDIP dan Golkar; partai menengah seperti PKB, PPP; partai kecil seperti Nasdem dan Hanura, dan partai yang baru seperti Perindo, PKPI, dan PSI. Hal ini punya konsekuensi penting di lapangan.

Anggaplah satu parpol ada 8 caleg di setiap dapil. Itu artinya dalam satu dapil ada 72 caleg yang akan berusaha memenangkan Jokowi dan diri mereka sendiri. Sekalipun setiap caleg bertarung satu sama lain, tapi mereka tetap membawa dan memperjuangkan kemenangan buat Jokowi.

Sisi lain, kesembilan partai itu punya penguasan wilayah dan basis politik yang berbeda. Hampir di semua wilayah Indonesia, selalu ada penguasaan parpol pendukung Jokowi. Basis pemilih mereka juga kuat. Ambil contoh misalnya kita bedakan antara nasionalis dan agama, maka dengan merapatnya PKB dan PPP, basis pemilih Islam hampir dipastikan banyak diambil oleh Jokowi.

3. Dukungan Kepala Daerah.

Karena didukung oleh banyak parpol, maka konsekuensinya banyak kepala daerah yang juga mendukung Jokowi. Dan sebagaimana yang kita ketahui bersama, setiap kepala daerah selalu menguasai SKPD yang siap menjadi mesin pemenangan sekalipun tentu saja tidak bisa dilakukan dengan vulgar dan kasatmata.

4. Figur publik di kubu Jokowi lebih disukai masyarakat.

Ini poin yang sangat penting bagi kubu Jokowi. Salah satu kelemahan terbesar kubu Prabowo adalah ketidaksanggupan menyusun line up tim pemenangan yang disukai publik. Sementara di kubu Jokowi, ada banyak figur yang sekalipun tidak selalu masuk tim pemenangan tapi identik dengan Jokowi.

Ambil contoh Tuan Guru Bajang (TGB), Tri Rismaharini, Khofifah Indar Parawansa, Mahfud MD, Sri Mulyani, Susi Pudjiastuti, Ridwan Kamil, Ganjar Pranowo, dan lain-lain. Jari tangan dan kaki tak cukup untuk menyebut daftar mereka. Sementara kita kesulitan mendapatkan bahkan lima nama saja di kubu Prabowo yang mendapatkan simpati publik.

Apa sih pentingnya hal ini? Bisa jadi pemilih tidak begitu suka Jokowi, tapi mereka fans berat Susi Pudjiastuti atau TGB, maka mereka akan memilih Jokowi sebab dua orang itu identik dengan Jokowi.

Orang yang suka Ridwan Kamil atau Tri Rismaharini sekalipun tak tertarik dengan petahana. Mereka punya kecenderungan memilih Jokowi karena tahu persis kedua tokoh itu mendukung petahana.

Iklan

5. Penguasaan media konvensional.

Merapatnya Hary Tanoe beserta Perindo-nya, maka lengkap sudah penguasaan media konvensional di genggaman Jokowi setelah sebelumnya ada Surya Palon dengan Nasdem-nya.

Kelima faktor ini, jelas sulit ditandingi kubu Prabowo. Jadi sangat wajar jika nanti, Jokowi bahkan bisa menang dengan selisih lebih banyak dibanding ketika kedua pasangan ini bersaing pada tahun 2014 lalu.

Tapi Prabowo ketat menempel Jokowi bahkan melampauinya. Ya. Tapi itu di medsos. Bukannya medsos tidak penting. Medsos sangat penting sebagai bagian dari kampanye. Tapi TPS ada di realitas nyata, dikawal oleh pasukan nyata, dimenangkan oleh tim kasatmata.

Jika di pilpres 2014 Jokowi menang dengan selisih sekira 8 persen, maka sangat mungkin di pilpres 2019 ini, Jokowi menang antara 10-12 persen.

Tentu saja karena ini politik, sebagaimana diktumnya sebagai “seni atas ketidakmungkinan” maka bukan berarti Prabowo tidak bisa memenangi laga. Bisa saja. Tapi diperlukan syarat dan strategi tertentu yang bersifat tidak biasa. Apa saja syarat dan strategi tak biasa itu?

Tunggu tulisan selanjutnya. Tentu saja kalau sempat saya tulis.

Terakhir diperbarui pada 24 Januari 2019 oleh

Tags: jokowiPilpres 2019prabowo
Puthut EA

Puthut EA

Kepala Suku Mojok. Anak kesayangan Tuhan.

Artikel Terkait

Instruksi Belajar Bahasa Prancis: Taktik Genius Mengenal Perjuangan Rakyat Prancis MOJOK,CO
Esai

Instruksi Belajar Bahasa Prancis: Taktik Genius untuk Mengenal Perlawanan Rakyat Prancis

1 Juni 2026
Museum Ibu Marsinah jangan berhenti sebagai simbol, tapi negara harus serius pikirkan kesejahteraan kaum buruh MOJOK.CO
Tajuk

Museum Ibu Marsinah Jangan Berhenti sebagai Simbol, Tapi Kesejahteraan Buruh Harus Benar-benar Dipikirkan

18 Mei 2026
Mens Rea, Panji Pragiwaksono sebagai Anak Abah, dan Bahaya Logika Fanatisme MOJOK.CO
Esai

Mens Rea, Pandji Pragiwaksono sebagai Anak Abah, dan Bahaya Logika Fanatisme

12 Januari 2026
kapitalisme terpimpin.MOJOK.CO
Ragam

Bahaya Laten “Kapitalisme Terpimpin” ala Prabowonomics

21 Oktober 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Gaji 2 juta hasil kerja di Jogja habis buat ngasih makan naga (judi slot) karena ilusi jackpot MOJOK.CO

Gaji 2 Juta Jogja Selalu Lenyap buat Ngasih Makan Naga: Rela Kelaparan dan Susahkan Ortu-Teman demi Jackpot, Tapi Tak Mau Sadar

14 Juni 2026
Kita Sibuk Menertawakan Baby Boomer yang Tertipu AI, Padahal Gen Alpha Punya Masalah yang Lebih Berbahaya MOJOK.CO

Kita Sibuk Menertawakan Baby Boomer yang Tertipu AI, Padahal Gen Alpha Punya Masalah yang Lebih Berbahaya

12 Juni 2026
Wakil Gubernur Jawa Tengah (Jateng) imbau masyarakat sambut baik petugas sensus ekonomi dari BPS MOJOK.CO

Imbauan ke Warga Jateng kalau Ada Petugas Sensus Ekonomi Datang, Penting untuk Program Ekonomi Masyarakat

15 Juni 2026
Suzuki Satria Pro: Motor Aneh yang Meleburkan Cinta dan Benci MOJOK.CO

Suzuki Satria Pro: Motor Aneh yang Meleburkan Batas antara Cinta dan Benci

11 Juni 2026
kambing yang tergencet dan gagal dalam upaya perlindungan hewan. MOJOK.CO

Ekspor Hewan Ternak Jarak Jauh Sama dengan Menyiksa Hewan Secara Perlahan hingga Mati

15 Juni 2026
Hujan Bulan Juni untuk Samadi: Es Krim yang Mencair di tengah Aksi Rakyat Memanggil dan Kenaikan Harga yang Bikin Ngelu MOJOK.CO

Hujan Bulan Juni untuk Samadi: Es Krim yang Mencair di Tengah Aksi Rakyat Memanggil dan Kenaikan Harga yang Bikin Ngelu

14 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.