Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai Kepala Suku

Apa yang Sedang Koyak di Negeri yang Merindukan Persatuan Ini?

Puthut EA oleh Puthut EA
23 Mei 2019
A A
KPAI

KPAI

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Kerusuhan terjadi. Ketegangan politik mengintai. Polarisasi dua kubu tak terelakkan. Lantas, semua saling menyalahkan, lalu mengungkit-ungkit persatuan.

Kerusuhan skala kecil meletus di Jakarta. Tapi kita semua tahu, ini mungkin hanya letusan awal yang mungkin akan menjadi babak baru di wajah sosial kita.

Iklan

Letusan ini tentu tidak turun dari langit seketika tanpa pertanda. Atau, meledak tanpa musabab. Pasti ada sekian variabel yang mendukungnya. Ada sejumlah item yang jadi onggokan kayu bakar kering, lalu satu percik api, terbakar sudah.

Mari kita mulai dari hal yang paling mudah. Setidaknya, diam-diam kita semua telah menyaksikannya, atau malah jangan-jangan menjadi pelakunya, walaupun tidak sadar.

Selama kurang lebih 5 tahun, kita ada dalam ketegangan politik. Ada polarisasi dua kubu. Kedua kubu menggunakan cara yang serupa, mirip satu sama lain. Kreatif dalam melakukan merencanakan dan menyebarkan fitnah, fasih dalam soal perundungan, dan hiperaktif dalam menghujat lawan.

Dari situ saja kita tahu bahwa ongkos apa yang sering kita sebut “pesta demokrasi” dan persatuan begitu mahal. Dan bukan hanya itu: memadamkan baranya, menyurutkan pertikaiannya, mendinginkan suasananya, akan butuh waktu lama.

Tapi ada pertanyaan yang terselip di pikiran saya: apakah benar persoalan pokok kita hanya itu? Apakah cuma gara-gara politik elektoral saja, suasana bisa terjaga begitu panas sampai 5 tahun?

Banyak orang bilang, itu karena pengaruh media sosial dan dunia digital. Ya, mungkin ada benarnya. Tapi sebagai sebuah peranti yang diproses dan ditemukan oleh peradaban, media sosial dan dunia digital sebagaimana hal lain: dia hanya medium. Dia teknologi. Dia seperti surat kabar atau barang cetak, dia seperti kendaraan bermotor. Memang, kalau dipakai untuk serampangan, ugal-ugalan, sesuka hati, bisa memiliki dampak negatif. Tapi, jika digunakan untuk menyebarkan informasi yang baik, menyampaikan pengetahuan, medium bagi diseminasi keilmuan, tentu berdampak positif.

Namun sebentar—bukankah sejarah luka kita, kerusuhan dan konflik sosial yang selalu ada dalam wajah kita, terjadi sebelum era digital dan maraknya media sosial?

Sebetulnya inilah tugas para intelektual, cerdik pandai, budayawan, dan seniman. Merekalah yang diberi perangkat keilmuan, serta kemampuan menilai dan menakar, memindai apa yang tidak terucapkan oleh publik.

Tapi sayang, pesta demokrasi kita pun telah merebut mereka semua untuk masuk ke gelanggang pertarungan. Ketika para elite politik berebut kekuasaan, para cendekiawan, budayawan, seniman, mestinya bersama masyarakat. Tujuannya, untuk menjaga agar benturan tak terjadi dengan keras. Memagari dengan rambu-rambu etik, mengingatkan ada batas yang tak boleh dilanggar.

Tapi kita semua tahu, berduyun-duyun, para intelektual, budayawan, dan seniman menjadi tukang sorak mereka yang berebut kekuasaan. Menjadi alas kaki dan tameng elite politik kita.

Pagar yang membatasi panggung kekuasaan dengan masyarakat begitu rapuh. Bantalan yang membuat gesekan antarmasyarakat, yang mestinya membat dan empuk sehingga tak melukai siapa pun, malah kosong. Siapa yang tidak berada di 01, dianggap 02. Siapa yang tak terlihat di 02 adalah 01. Semua harus berpihak. Berpihak pun harus dengan keras kepala. Politik elektoral menjadi agenda yang seakan lebih penting dari kedamaian negeri ini, kenyamanan berwarga negara, serta kemanusiaan yang terawat dan terjaga.

Panggung kekuasaan begitu menyilaukan mata sehingga mata batin para seniman tak lagi bisa menembus keresahan rakyat kecil yang terpinggirkan. Seniman yang konon dianugerahi kemampuan untuk setia kepada hati nurani dan kepekaan perasaan kini berlomba menghasilkan karya untuk sebuah pesta yang, kita tahu, tak butuh-butuh amat diglorifikasi sedemikian rupa.

Iklan

Para cendekiawan, cerdik pandai, ilmuwan, dan budayawan, memeras pikiran mereka bukan untuk agenda kemaslahatan umat dan persatuan, tapi untuk menemukan argumen yang adekuat menangkis serangan lawan, menyusun desain kampanye yang bisa efektif melumpuhkan lawan.

Semua tiba-tiba menjadi binatang buas politik yang tak lagi dikendalikan oleh kadar moral dan kebijaksanaan.

Lalu ketika letusan ini terjadi, semua seolah cuci tangan. Saling menyalahkan. Naik ke mimbar dan berkhotbah tentang pentingnya menjaga persatuan, menjaga kedamaian, menjaga kemanusiaan. Persatuan yang ikut mereka cabik-cabik, persatuan yang ikut mereka bikin rantas, kemanusiaan yang sudah mereka tinggalkan sejak lama.

Sudah terlalu banyak orang hebat dan baik di negeri ini yang menjual integritas, bakat, dan hati nurani mereka, hanya untuk menjadi alas kekuasaan.

Sudah lama mereka meninggalkan rakyat dan persatuan. Tidak ada lagi yang menemani orang-orang biasa. Warga negara yang tulus dan ikhlas hidup di negeri ini. Bekerja menggerakkan roda perekonomian. Saling berbagi dalam kenestapaan.

Sudah saatnya kita semua menyadari ini. Lalu kembali. Politik itu penting, tapi ada batasnya. Semua yang tak punya batas, pasti melakukan sesuatu yang tak pantas.

Kembalilah wahai para intelektual, budayawan, seniman, dan para aktivis sosial, ke haribaan rakyat jelata. Tempat di mana kasih sayang Tuhan ditanamkan dalam-dalam!

Terakhir diperbarui pada 23 Mei 2019 oleh

Tags: 22 meiaksielite politikIndonesiakerusuhanPersatuan
Puthut EA

Puthut EA

Kepala Suku Mojok. Anak kesayangan Tuhan.

Artikel Terkait

Warteg Singapura vs Indonesia: Perbedaan Kualitas Langit-Bumi MOJOK.CO
Esai

Membandingkan Warteg di Singapura, Negara Tersehat di Dunia, dengan Indonesia: Perbedaan Kualitasnya Bagai Langit dan Bumi

22 Desember 2025
kerja sama indonesia prancis.MOJOK.CO
Sosial

Indonesia-Prancis Teken Kerja Sama Perfilman di Candi Borobudur, Angin Segar Industri Sinema Tanah Air

29 Mei 2025
Irfan Afifi: Kalau Tidak Ada Tanda Maju, Mengapa Indonesia Tidak Pilih Mundur Saja?
Video

Irfan Afifi: Kalau Tidak Ada Tanda Maju, Mengapa Indonesia Tidak Pilih Mundur Saja?

26 Maret 2025
bti, petani, tani.MOJOK.CO
Ragam

Rumus “3S-4J-4H” Wajib Dijalankan Pemerintah Kalau Mau Petani di Indonesia Maju

28 Januari 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Ujian keuangan di kota perantauan gara-gara masalah tidak terduga yang datang keroyokan, bikin gagal punya tabungan MOJOK.CO

Ujian Keuangan di Kota Perantauan: Bikin Mumet dan Gagal Nambah Tabungan Gara-gara Masalah yang Datang Keroyokan

24 Juni 2026
Kudus, Magis Kaki Kanan yang Mengirim Tangis bagi Srikandi Kota Pahlawan.MOJOK.CO

Magis Kaki Kanan yang Mengirim Tangis bagi Srikandi Kota Pahlawan 

27 Juni 2026
Ragam karya dan pertunjukan dalam Ars Longa: Generatio sebagai pembuka Trilogi Seni ARTJOG MOJOK.CO

Ragam Karya dan Pertunjukan dalam “Ars Longa: Generatio” sebagai Pembuka Trilogi Seni ARTJOG

24 Juni 2026
Peluncuran logo dan maskot MTQ Nasional XXXI di Semarang, Jawa Tengah MOJOK.CO

MTQ Nasional XXXI Jateng: Warna Baru Festival Al-Qur’an Terbesar dan Adem Ayem di Semarang

25 Juni 2026
dosen.MOJOK.CO

Butuh Biaya Puluhan Juta Demi Ijazah S2-S3, tapi Negara Malah “Melegalkan” Dosen Digaji di Bawah UMR

23 Juni 2026
Gen Z, membaca, buku.MOJOK.CO

Gen Z di Indonesia, Generasi Paling Aktif Membaca tetapi Paling Tak “Terliterasi”

24 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.