Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Jika Bukan karena Guru, Saya Tak Kenal Tuhan

Husein Jafar Al Hadar oleh Husein Jafar Al Hadar
26 November 2023
A A
Jika Bukan karena Guru, Saya Tak Kenal Tuhan MOJOK.CO

Ilustrasi Jika Bukan karena Guru, Saya Tak Kenal Tuhan. (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Mencium tangan Habib Jindan

Habib Jindan tak pernah meminta. Namun, Beliau mendidik saya untuk hormat pada Beliau dan para guru saya. Itulah beda kultus dengan cinta. 

Pertemuan pertama saya dengan Beliau bahkan diawali dengan saya tak mencium tangannya. Beliau langsung menarik tangannya begitu selesai bersalaman. Beliau mengajarkan bahwa mencium tangan guru bukan utamanya soal kewajiban. Namun, aktivitas tersebut harus berpondasikan kesadaran total murid bahwa itu hak yang harus ditunaikannya untuk menyempurnakan ilmunya. Puncak dari ilmu adalah akhlak. 

Saat itu, Beliau hanya tersenyum hangat, menanyakan kabar, dan menutupnya dengan mendoakan saya. Hingga saat ini, setiap bertemu Beliau, satu ciuman saya pada tangannya terasa tak cukup. Sehingga, saya sering menciumnya berkali-kali. 

Ada kehangatan tak berhingga di hati dari aktivitas cium tangan itu. Termasuk pada guru-guru saya yang lain, dan apalagi pada Ayah dan Ibu saya. 

Jangan buru-buru berkata itu feodal, karena begitulah seorang pecinta pada yang dicintainya seperti kamu (iya, kamu!) yang mencium tangan kekasihmu sebagai salah satu simbol cinta. 

Sayyidina Hasan bin Tsabit pernah berdiri menyambut kedatangan Nabi Muhammad. Melihat itu, Nabi SAW mengingatkan agar jangan berdiri ketika Beliau SAW. Aktivitas tersebut seperti berdirinya budak atas tuannya. Namun, Nabi SAW membiarkannya karena alasan Hasan bin Tsabit berdiri bukan karena penghambaan atau kultus, tapi cinta dan rasa terima kasih. 

Bukan hanya tentang ilmu

Habib Jindan bukan hanya mengajarkan saya tentang ilmu. Beliau mendidik dan meneladankan tentang ibadah sebagai “buah” dari ilmu. Beliau juga mengajak saya haji, umroh, ziarah, dan lain-lain. 

Ini tentu satu keistimewaan. Saya jadi mendapat dalil terkokoh dalam ibadah secara detail. Habib Jindan mengajari saya secara langsung ilmu Beliau. Sebuah ilmu yang Beliau dapati dari gurunya yang bersambung hingga Nabi SAW. Dulu, Nabi SAW pernah bersabda agar kita salat (dan tentu ibadah lainnya juga) seperti melihat Nabi SAW salat (dan beribadah lainnya).

Habib Jindan bahkan mengajarkan saya bagaimana bersantainya orang-orang mulia, agar kita tetap santai tapi tak lalai. Beliau memperlihatkan secara langsung kapan, bagaimana, dan karena apa kita tersenyum. Bukan hanya tersenyum, tapi juga menangis, menunduk, berbicara, diam, dan lain-lain. 

Sehingga, bukan hanya ibadah ritual, tapi ibadah hidup (muamalah) juga kita ikut dari guru yang puncaknya adalah bersumber dari Nabi SAW. Ini penting, karena misalnya senyum itu ibadah, tapi kalau salah tersenyum, bisa jadi maksiat. Misalnya tersenyum untuk merendahkan dan lain-lain. 

Suatu kali Onad pernah bertanya alasan memilih Islam. jadi, Islam ini tidak hanya mengajari saya cara berhubungan dengan Tuhan. Agama Islam juga mengajarkan saya tentang hubungan dengan manusia, binatang, atau tumbuhan. 

Oleh sebab itu, hidup saya jadi nggak repot karena tinggal mencontoh Nabi SAW melalui guru-guru saya. Sehingga, seluruh daya yang kita miliki bisa sepenuhnya difokuskan untuk aktualisasi diri. Tak perlu repot memikirkan caranya memberikan penghormatan terakhir pada jenazah misalnya. Nabi SAW sudah mengajarkan dan kita tinggal meniru. 

Bayangkan kalau harus belajar sendiri. Karena ini bukan hanya soal efektivitas yang bisa digali secara rasional, tapi soal emosional dan bahkan spiritual mengantar orang (apalagi kalau yang kita sayang) ke peristirahatannya yang terakhir. Kalau tak memuaskan batin kita, akan menyesal seumur hidup.

Mengokohkan sanad

Habib Jindan juga mengajak saya menemui orang-orang mulia. Misalnya, Abuya Sayyid Ahmad Al-Maliki di Makkah dan para guru di Hadhramaut, Yaman. Saya mengambil ilmu dan berkah dari mereka.

Iklan

Habib Jindan juga menuntun saya mengokohkan sanad (mata rantai keilmuan) dengan mempertemukan dengan guru Beliau yang kemudian menjadi guru kami: Habib Umar bin Hafidz di Tarim-Hadramaut, Yaman. 

Mendengar obrolan para guru tentu perkara yang penting. Karena dari obrolan orang bodoh saja kita kadang bisa mengambil hikmah asal menang cekatan. Apalagi obrolan para guru. Sisi menarik lainnya adalah karena kita menjadi saksi pertemuan para guru yang pasti kalau kita umur panjang kelak, ceritanya akan dibutuhkan oleh sejarah. 

Juga, menurut saya, ketika membaca buku para tokoh, saya sering membayangkan para tokoh itu bertemu langsung dan berbincang. Dan, bersama Habib Jindan, saya kerap menyaksikan pertemuan dan obrolan para tokoh dengan latar belakang berbeda. Misal, Habib Umar bin Hafidz dan Syekh Ali Jum’ah, juga Syekh bin Bayyah ketika ke Indonesia, dan lain-lain. 

Puncaknya, Habib Jindan sendiri yang mengantar saya “berjumpa” Kekasih Agung: Nabi Muhammad di Madinah. Sehingga, sempurnalah “jalan” menuju Allah melalui Habib Jindan ke para guru Beliau, hingga Nabi Muhammad, dan puncaknya pada Allah. 

Itu sekaligus momentum pertama saya ziarah Nabi SAW. Sudah lama saya ingin, tapi entah kenapa merasa tak “dipanggil”. Sebab, bagi saya, Nabi SAW akan memanggil siapa yang akan ditemuinya. Dan, waktu itu, tiba-tiba Habib Jindan mengajak dan saya merasa itulah waktunya. Itulah “panggilan” yang saya tunggu. Semuanya berjalan begitu cepat dan mudah. 

Kalau bukan karena guru, saya tak mengenal Tuhan

Satu hal yang begitu saya syukuri adalah apa yang secara tak langsung beliau ajarkan dengan memperlihatkan langsung. Misalnya, bagaimana Habib Jindan bermunajat pada Allah melalui Nabi SAW dengan mengawalinya dalam kalimat pendek: “Wahai Kekasihku, Rasulullah. Kau katakan, siapa yang beriman pada Allah dan Hari Akhir, dia akan memuliakan tamunya.” Dan kini, kami adalah tamumu, Ya Nabi. 

Sebuah kalimat yang bagi saya, orang Madura Swasta, sangat “taktis” untuk berdoa. Persis seperti kalimat doa yang sering dinisbatkan pada Abu Nawas: “Tuhanku, aku tak pantas di surga, tapi tak kuat untuk di neraka. Maka, ampunilah.” 

Juga seperti seorang Arab pegunungan yang pernah berdoa di makam Nabi SAW dengan kalimat kira-kira: “Tuhan, aku ini penuh dosa, bersimpuh di makam kekasih-Mu. Kalau Kau ampuni, niscaya kekasih-Mu akan senang. Tapi kalau tak Kau ampuni, tentu kekasih-Mu akan sedih.”

Akhirnya, persis seperti yang disampaikan para orang mulia: “Kalau bukan karena guru, aku tidak akan kenal Tuhanku.” Sebab, Tuhan Maha Sempurna yang kita takkan bisa mengenali-Nya kalau bukan atas rahmat-Nya hingga Dia sendiri yang memperkenalkan Dzat-Nya pada kita melalui Manusia Sempurna bernama Muhammad SAW yang memperkenalkan-Nya pada para sahabatnya yang mulia, hingga kemudian mereka memperkenalkan ke generasi selanjutnya hingga sampai pada guru-guru kita yang lalu menyampaikannya pada kita.

Terima Kasih, para guru.

Penulis: Husein Jafar Al Hadar

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Guru yang Berjuang, Guru yang Diperjuangkan dan kisah menarik lainnya di rubrik ESAI.

Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 27 November 2023 oleh

Tags: Cak Nunguruhabib jafarhabib jindanhari guruHusein Ja'farnabi muhammadnabi sawSayyidina Ali
Husein Jafar Al Hadar

Husein Jafar Al Hadar

Magister Tafsir. Pengasuh Konten Dakwah YouTube “Kultum Pemuda Tersesat” dan Penulis Buku “Tuhan Ada di Hatimu”.

Artikel Terkait

Prabowo kasih guru honorer insentif saat HUT RI. MOJOK.CO
Pendidikan

JPPI Kritik SE Mendikdasmen Nomor 7 Tahun 2026, Sebut Pemerintah Lebih Peduli Karyawan SPPG daripada Guru Honorer

12 Mei 2026
Guru PPPK Paruh Waktu, guru honorer, pendidikan.MOJOK.CO
Kabar

JPPI Kritik Aturan Baru SE Mendikdasmen Nomor 7 Tahun 2026: Nasib 2,3 Juta Guru Non-ASN Terancam di Ujung Tanduk

8 Mei 2026
Gaji Dosen Belum Sejahtera, Sekarang Prodinya Mau Ditutup Pula. Negara Ini Sebetulnya Mau Apa? MOJOK.CO
Esai

Gaji Dosen Belum Sejahtera, Sekarang Prodinya Mau Ditutup Pula. Negara Ini Sebetulnya Mau Apa?

6 Mei 2026
Hidup mati pekerja Jakarta harus tetap masuk, menerjang arus dari Bekasi
Urban

Menjadi Guru Honorer di Jakarta Tetap Sama Susahnya dengan di Daerah: Gajinya Cuma Seperempat UMR, Biaya Hidupnya 2 Kali Pendapatan

29 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kenapa Hidup di Jogja Membuat Saya Terlalu Santai Menghadapi Tagihan yang Seharusnya Bikin Panik MOJOK.CO

Kenapa Hidup di Jogja Membuat Saya Terlalu Santai Menghadapi Tagihan yang Seharusnya Bikin Panik

3 Juni 2026
Derita Bisnis Laundry: Cuan 15 Juta Hilang karena Kebodohan MOJOK.CO

Pengalaman Bisnis Laundry yang Cukup Menyedihkan, Berharap Cuan Besar 15 Juta per Bulan tapi Cuma Dapat 3 Juta: Boncos karena Kebocoran-Kebocoran Sepele

4 Juni 2026
Campus League Basketball 2026 Regional Jakarta Season 1 tidak hanya jadi panggung prestasi basket, tapi juga warna baru solusi mobilitas masa depan anak muda dengan motor listrik Polytron MOJOK.CO

Puncak Campus League Basketball 2026 Jakarta S1: Tak Hanya Jadi Panggung Basket tapi Juga Hadirkan Solusi Mobilitas Masa Depan Anak Muda

2 Juni 2026
Ilustrasi hidup.MOJOK.CO

Sejatinya Manusia Hidup untuk Mengakali Kematian

2 Juni 2026
Rooftop kos kerap jadi tempat blangkrah, tapi jadi ruang healing terbaik bagi anak kos overthinking MOJOK.CO

Tinggal di Kos dengan Rooftop, Meski Kemproh tapi Jadi Tempat Healing Terbaik dari Tekanan Hidup yang Bisa bikin Gila

3 Juni 2026
Ambisnya Orang Tua di Jogja Demi Sekolah Favorit untuk Anaknya MOJOK.CO

Ambisnya Orang Tua di Jogja demi Sekolah Favorit untuk Anaknya

1 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.