Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Lima Jenis Penyebar Hoax dalam Islam

Dinar Zul Akbar oleh Dinar Zul Akbar
11 September 2017
A A
170911 ESAI HOAX DALAM ISLAM

170911 ESAI HOAX DALAM ISLAM

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Gempuran berita hoax mengalir semakin deras di temlen media sosial kita. Dan keadaan ini dipastikan makin riweh lagi dalam dua tahun ke depan karena ada momen Pilkada serentak plus Pileg dan Pilpres. Perang hoax bakal terus terjadi. Brace Yourself, Fake news is coming.

Sejarah akan terus berulang, kata orang bijak. Dan fenomena pabrikasi hoax ini tentu bukan barang baru. Bahkan pada zaman keemasan Islam, banyak bingit yang hobinya menyebarkan berita-berita palsu. Alhamdulillah ada para imam dan ulama yang hobinya memilah dan meneliti berita palsu tersebut.

Iklan

Dalam ilmu hadis yang kebetulan saya *uhuk* pelajari—walaupun saya lebih sering tidur daripada nyimak dosen, ada jenis hadis yang disebut hadits maudhu’ alias palsu. Hadis hoax ini dalam bangunan hukum fikih tak bernilai sama sekali. Kayak aku di mata kamu, hiks :'(.

Ya, apa-apa yang palsu pastinya nggak punya kegunaan sama sekali; mulai dari uang palsu, emas palsu, ijazah palsu, status palsu, sampai harapan palsu.

Imam besar ahli hadis pada masanya, Ibnu Hajar al-Asqolaniy, dalam kitabnya Nuzhatun Nazhor, mengungkap ada lima kelompok yang doyan banget pabrikasi hadis hoax. Berikut lima kelompok tersebut.

Dan rasa-rasanya, lima kelompok ini juga yang beranak pinak, membelah diri, kawin silang, stek, dan lain-lain di temlen media sosial kita.

Musuh Agama

Imam Suyuthi menjelaskan bahwa musuh agama ini adalah mereka-mereka yang punya niat jahat untuk merusak agama. Jadi dalam tafsir kekinian, kelompok takvirie bisa kita letakan sebagai nominator pertama kelompok ini. NKRI adalah thogut merupakan berita hoax yang senantiasa mereka narasikan dan mereka hobi ngasih cap kopar-kapir kopar-kapir kepada orang yang di luar kelompoknya. Begitu juga jika ada fenpej ngaku-ngaku ustadz tapi kerjaannya mecah-belah kaum beragama.

Ulah anasir jahat kayak begitu layak dibilang musuh semua agama.

Orang saleh yang jahil

Kelompok ini, menurut Imam Nawawi justru, paling berbahaya dibanding kelompok lainnya. Karena orang-orang awam sangat berhusnuzan kepada mereka-mereka ini. Masyarakat kebanyakan menaruh kepercayaan yang sangat besar kepada orang-orang saleh, dan itu wajar.

Coba bandingkan postingan tentang tema yang sama antara Kak Iqbal dan Ustadz Jonru. Walau secara materi dan kemapanan lebih menang Kak Iqbal, tapi masyarakat awam lebih senang nge-share opini Ustadz Jonru kaena brand beliau sebagai pembela Islam lebih kuat dibanding Kak Iqbal yang hanya anggota Muhammadiyah biasa, sopir ekspat di negeri kapir sana.

Ustadz ga mungkin bohong. Berani antum bilang ustadz bohong, sama aja antum udah menghina Islam.

Kadang pola pikir begini masih ada di kalangan awamer. Doktrin tsiqah (percaya aja) di beberapa kalangan juga makin memperparah keadaan ini. Kadang dulu pernah dibilang sama temen-temen, “Udah, tsiqah aja. Antum lebih percaya media kafeer apa omongan ustadz, akhee?”.

Iklan

Dengan alasan solidaritas dan membangkitkan kesadaran umat, kadang sejumlah foto hoax mengenai konflik kemanusiaan, entah di Suriah sampai Myanmar, juga disebarkan kelompok ini. Konflik betul ada, dan patut kita mengutuknya. Tapi harus buat hoax terkait penderitaan mereka, rasanya bukanlah hal bijak.

Follower Yang Fanatik

Kelompok ini yang sekarang rame disebut dengan cebong, bani serbet, taikers, plet ert, sumbu pendek, pentol korek, kadal bunting, dinosaurus dan macem-macem julukan sadeesss lainnya.

Semenjak Pak Jokowi jadi RI1, rasa-rasanya temlen kita udah gak seasik dulu. Entah karena zaman udah jadi nggak waras, atau karena membanjirnya gajet dan murahnya internet. Entahlah.

Dikit-dikit salah Jokowi, dikit-dikit karena Prabowo. Dikit-dikit lama-lama jadi bukit. Rasanya juga kelompok ini yang paling dominan ngoceh di medsos. Hampir tiap hari ada aja umpatan-umpatan keluar dari lisan yang diwakili oleh jari-jari mereka.

Setiap ada kesalahan dari pihak seberang, mereka kemudian langsung menggorengnya dan mengkaitkannya dengan kesalahan jamaah. Kasus Ello dan Tora adalah bukti para cebong doyan mabok, kata mereka. Andika-Annisa First Travel pendukung Prabowo yang kualat sama Jokowi, tulis mereka. Tren anpolow dan anpren, atau leave grup WhatsApp juga makin meningkat gara-gara fanatisme mereka udah sampai pada level kampret.

Buzzer politik penguasa

Dulu, di zaman dinasti Umayyah berkuasa, para buzzer politik mengarang banyak hadis palsu tentang keutamaan Umayyah dan keturunannya supaya kekhalifahan mereka absah dalam kacamata syariat. Pola yang sama juga digunakan para buzzer politik para penguasa supaya citra para penguasa kian tjakep dan tjiamik di mata rakyatnya.

Situs jamaah kora-kora, atau sebut saja sewotdotcom, adalah kandidat pertama buat masuk daftar ini. Dulu mereka sempat heboh memakai berita dari Antara yang katanya Pak Jokowi pemimpin terbaik Asia ngutip dari Bloomberg, yang kemudian justru dibantah penulis Bloombergnya sendiri.

Buzzer politik penguasa bukan hanya dari kalangan media. Kalangan yang menamai dirinya lembaga riset juga kadang tergoda buat bikin opini-opini seolah pihak penguasa telah cukup sukses menjalankan amanahnya.

Orang Pengen Terkenal

Fenpej atau akun-akun bunglon yang sering ngemis like, ucapkan amin, dan share adalah yang paling mirip kelompok ini. Supaya makin terkenal, ngetop, dan market share-nya tinggi, mereka bikinlah berita-berita hoax.

Begitu juga dengan situs-situs model beritaislamterpecaya100%amanah atau poshansip.com dan lainnya, dengan jurus clickbait dan judul bombastis. Makin banyak klik, makin nomor satu dalam pencarian Google. Hasilnya, gelontoran rupiah bakal masuk rekening si empunya fenpej atawa situs tersebut.

Masalahnya, yang ada di Indonesia sekarang, kelompok penebar hoax ini biasanya terdiri dari gabungan jenis-jenis di atas. Kelompok orang saleh dan jahil sekaligus fanatik terhadap kelompoknya, ada. Buzzer politik digabungkan dengan kaum fanatik akan kecintaan terhadap penguasa, ada. Buzzer politik yang pengen terkenal dan masuk kategori musuh agama juga nggak sedikit.

Oleh karena itu, saya berharap Mojok tetap pada khittahnya. Semoga Mojok tak tergoda tawaran menjadi buzzer politik—cukup salah satu penulisnya saja, si fulan. Semoga Mojok tidak disusupi oleh orang-orang saleh dan jahil dan sekaligus pengin terkenal.

Terakhir diperbarui pada 16 Oktober 2018 oleh

Tags: hoaxjokowiprabowoUmayyah
Dinar Zul Akbar

Dinar Zul Akbar

Asli Betawi. Sedang menyelesaikan kuliah pascasarjana di Islamic University of Madinah.

Artikel Terkait

Nasib Yamaha Byson Baru yang Dicintai Setelah Tak Bisa Dimiliki MOJOK.CO
Otomojok

Nasib Yamaha Byson dan Paradoks Benda yang Baru Dicintai Setelah Berhenti Diproduksi dan Tak Bisa Dimiliki Lagi

2 Juli 2026
Instruksi Belajar Bahasa Prancis: Taktik Genius Mengenal Perjuangan Rakyat Prancis MOJOK,CO
Esai

Instruksi Belajar Bahasa Prancis: Taktik Genius untuk Mengenal Perlawanan Rakyat Prancis

1 Juni 2026
Museum Ibu Marsinah jangan berhenti sebagai simbol, tapi negara harus serius pikirkan kesejahteraan kaum buruh MOJOK.CO
Tajuk

Museum Ibu Marsinah Jangan Berhenti sebagai Simbol, Tapi Kesejahteraan Buruh Harus Benar-benar Dipikirkan

18 Mei 2026
Mens Rea, Panji Pragiwaksono sebagai Anak Abah, dan Bahaya Logika Fanatisme MOJOK.CO
Esai

Mens Rea, Pandji Pragiwaksono sebagai Anak Abah, dan Bahaya Logika Fanatisme

12 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Bupati Sleman, Harda Kiswaya, menyerahkan hibah daerah ke ormas, tempat ibadah, dan para seniman MOJOK.CO

Hibah Pemkab Sleman untuk Ormas, Tempat Ibadah, dan Seniman: Serahkan Ratusan-Miliaran Juta untuk Dioptimalkan

10 Juli 2026
donasi ekonomi.MOJOK.CO

“Rakyat Bantu Rakyat” Menguat, tapi Jangan Jadi Alasan Pemerintah Lepas Tangan dan Abai Pada Nasib Masyarakat

14 Juli 2026
Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Republik India menjalin kesepakatan kerja sama konservasi terhadap Candi Perwara Kompleks Candi Prambanan MOJOK.CO

Menerjemahkan Candi Prambanan sebagai Bukti Historis Hubungan Nusantara-India

8 Juli 2026
Di Balik Pintu Toilet Masjid: Tempat Bersuci, tapi Berisiko bagi Perempuan MOJOK.CO

Di Balik Pintu Toilet Masjid: Tempat Bersuci, tapi Berisiko bagi Perempuan

14 Juli 2026
Caruban—sebagai ibu kota dari Madiun—barangkali terkesan tidak bagus-bagus amat. Tapi bikin jatuh hati lewat hal-hal sederhana MOJOK.CO

Caruban Madiun Memang Tidak Bagus-bagus Amat, Tapi bikin Jatuh Hati Lewat Hal-hal Sederhana

13 Juli 2026
Beralih dari profesi dokter ke petani di Klaten. MOJOK.CO

Resah Jadi Dokter: Tangani Pasien Petani dengan Keluhan Sama, Pilih Turun ke Sawah demi “Menyembuhkan” Tanah

13 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.