Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Cara NU Dikompori Amerika supaya Benci Cina

Novi Basuki oleh Novi Basuki
2 November 2020
A A
Cara NU Dikompori Amerika supaya Benci Cina

Cara NU Dikompori Amerika supaya Benci Cina

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Menlu Amerika coba ngompor-ngompori NU agar ikut sebel sama Cina. Isu Uighur coba dimainkan supaya Amerika punya temen di Indonesia.

Sekitar seminggu sebelum Menteri Luar Negeri (Menlu) Amerika, Mike Pompeo, ke Indonesia dan bertamu ke GP Ansor (29/10), saya dikontak akademisi salah satu lembaga think tank milik Pemerintah Cina. Ia menanyai saya apa saja strategi Amerika untuk membendung (containment) kebangkitan Cina.

“Di Asia Tenggara memainkan Laut Cina Selatan. Di Asia Timur Laut memainkan Taiwan, Jepang, dan Korea. Di Asia Selatan memainkan India. Di Asia Barat memainkan Uighur.”

Demikian jawaban saya. Simpel.

Tetapi, karena ia tahu saya meneliti Uighur, ia meminta saya untuk mengelaborasi lebih lanjut soal itu.

“Yang paling murah meriah adalah memainkan isu Uighur. Karena akan mendobrak batas-batas geografis dengan praktis. Gampangnya begini: TKP-nya di Xinjiang, diberitakan oleh Radio Free Asia bikinan CIA, yang demo orang Indonesia.”

Saya menjawab setengah guyon begitu.

Ia kirim balasan, “Hahaha…,” yang lantas ditutup dengan pernyataan, “analisismu selalu tak biasa!”

Ini satire belaka, saya kira.

Beberapa hari kemudian, ada orang yang mengontak saya lagi. Kali ini peneliti dari Indonesia. Ia bilang sedang mencari tahu apa yang akan dibicarakan Pompeo saat di GP Ansor.

Kendati saya yakin Pompeo akan membahas masalah Uighur untuk membangun koalisi anti-Cina, saya tak langsung menanggapinya. Saya bergegas menghubungi beberapa kawan yang menurut saya tahu banyak tentang kuatnya daya tawar NU sekaligus sengitnya rivalitas Cina versus Amerika. Pandangan kami sama persis, ternyata.

Dan terbukti, Pompeo di GP Ansor memang mengalokasikan waktu yang cukup panjang untuk membahas perkara Uighur dan Pemerintah Cina. Saya mengikuti dari awal sampai akhir pidatonya. Benar-benar ceramah yang mukadimahnya moralis tapi ujung-ujungnya banting setir menyeru NU bersuara lantang terhadap Pemerintah Cina yang komunis.

Saya cepat-cepat mencatat pernyataan-pernyataan pamungkasnya di laptop saya yang, sialnya, adalah produk Amerika tapi saya beli di Cina.

(((produk Amerika tapi beli di Cinaaa))).

Iklan

“Partai Komunis Cina adalah ancaman paling mematikan (the gravest threat) terhadap kebebasan beragama di masa depan,” tegas Pompeo.

“Partai Komunis Cina yang ateis telah mencoba meyakinkan dunia bahwa kebrutalan mereka terhadap muslim Uighur di Xinjiang adalah diperlukan sebagai bagian ikhtiarnya untuk melawan terorisme dan pengentasan kemiskinan,” sindir Pompeo.

“Saya tahu Partai Komunis Cina telah mencoba membujuk orang-orang Indonesia untuk memalingkan muka dari siksaan yang sedang diderita saudara muslim kalian,” singgung Pompeo.

“Tapi tanyakan pada hati nuranimu. Lihatlah fakta. Pikirkan bagaimana pemerintahan otoriter memperlakukan mereka yang menentang kekuasaannya,” suruh Pompeo.

Sebagai wujud ketaatan saya pada titahnya, saya seketika membayangkan kelakuan daripada suatu rezim yang puluhan tahun di-backing Amerika setelah kudeta merangkak 1965.

Dan, dari situ saya menjadi mafhum kenapa Pompeo memilih GP Ansor sebagai panggung untuk menggelorakan perlawanan terhadap pemerintah komunis Cina.

Benang merahnya bisa ditarik dari Intelligence Memorandum No. 1591/66 yang dibuat Direktorat Intelijen CIA pada 23 Juli 1966. Dokumen rahasia (secret) yang telah dideklasifikasi ini berjudul Political Forces in Indonesia, alias Kekuatan-Kekuatan Politik di Indonesia.

Jika Bung dan Nona punya salinan produk telik sandi dimaksud, sila tengok halaman 6 poin 17 sejak baris ketiga dari atas. Di sana, CIA jelas mengakui bahwa GP Ansor adalah organisasi kepemudaan NU “yang paling aktif” (the most active) di antara sayap-sayap NU yang lainnya.

Paling aktif ngapain?

Berikut saya kutipkan kalimat utuhnya:

“ANSOR … in precoup days took a more forthright anti-Communist position than did its parent organization. In the postcoup period, ANSOR assisted the army in the Communist purge and in many instances pursued a Communist blood-letting campaign on its own.”

Terjemahan ugal-ugalannya:

“Sebelum kudeta [1965] ANSOR … mengambil posisi anti-Komunis yang lebih blak-blakan ketimbang organisasi induknya. Setelah kudeta [1965], ANSOR membantu tentara dalam …”

Saya cukupkan sampai di situ, ya, alih bahasa dari saya. Untuk kalimat setelahnya, Bung dan Nona lanjut bertanya ke Mbah Gugel saja. Pemuda dilarang manja. Nanti Bu Mega kecewa.

Artinya apa?

Artinya Amerika mengacungi jempol terhadap militansi GP Ansor dalam menentang bahaya laten apa yang oleh seorang penyair gaek sebut sebagai “Marxisma, Leninisma, Stalinisma, dan Maoisma” itu.

Bahkan, dalam hal ini GP Ansor dielu-elukan lebih jorjoran ketimbang NU (kendati NU merupakan ibu kandungnya). Padahal, dalam tradisi pesantren, anak mesti tunduk pada orang tua; santri mesti sendiko dawuh pada kiai.

Sebagai bekas orang nomor satu CIA, Pompeo tentu paham betul kekuatan GP Ansor itu. Makanya, sebisa mungkin dia akan mencari cara untuk menghidupkan kembali romantisme historis tersebut.

Eureka!

Ketika Amerika tengah gencar-gencarnya mengampanyekan konsep “Unalienable Rights” godokan sebuah komisi yang dibentuk Pompeo pada 2019, ketemulah mereka dengan ide “Humanitarian Islam” yang digaungkan GP Ansor sejak 2016 ini.

Bung dan Nona sekalian pasti paham, dua gagasan ini sama-sama menekankan pada penghormatan setinggi-tingginya terhadap keberagaman dan kebebasan beragama. Klop sekali, bukan?

Nah, kesamaan spirit yang ditopang oleh kenangan manis masa lalu itulah yang sekarang kayaknya coba diakumulasi (kalau bukan dieksploitasi) Amerika untuk menjadikan GP Ansor sebagai proksinya dalam mencekal kebangkitan negara komunis nan kuat plus tajir bernama Cina.

Naga-naganya, Amerika hendak memakai taktik klasik: membenturkan kelompok Islam dengan kaum komunis yang—kata Pompeo—ateis itu. Sebuah modus operandi yang sukses besar pada 1965, namun sepertinya akan mejan, gagal meletus, untuk saat ini.

Buktinya, Ketum PBNU K.H. Said Aqil Siradj enggan hadir ketika Pompeo sowan ke GP Ansor. Beliau lebih memilih menepi di Masjid Istiqlal untuk merayakan Maulid Nabi dan menggelar doa keselamatan bagi bangsa yang sudah kelewat sering teradu domba ini.

Manuver yang bijaksana, tapi berisiko dibaca sebagai langkah memihak Cina.

Walakin, tak masalah. NU yang terkesan bersimpati kepada Cina itu mungkin semata karena apa yang kini menjadi problem serius Indonesia mirip dengan yang dihadapi Cina: radikalisme agama.

Jalan keluar yang ditawarkan pun persis: bagaimana agar para pemeluk agama berpaham radikal ini bisa lebih toleran, inklusif, dan akomodatif terhadap kebudayaan negerinya tinggal.

NU menyebut upaya deradikalisasinya itu sebagai pribumisasi, Cina menamainya “Sinoisasi” (Zhongguohua), Amerika? Melakukannya dengan provokasi, agitasi, dan propaganda di mana-mana.

Eh, yang terkhusus Amerika ini bukan kata-kata saya loh ya. Itu saya peras dari pernyataan keras Dubes Cina di Jakarta.

BACA JUGA Ngobrol bareng Dahlan Iskan: Bicara Cina, ‘Komunisme Kaki Empat’, dan Uighur dan tulisan Novi Basuki lainnya.

Terakhir diperbarui pada 2 November 2020 oleh

Tags: amerikaAnshorCIAcinanupbnuuighur
Novi Basuki

Novi Basuki

Kandidat Doktor di Sun Yat-sen University, Guangdong, Cina.

Artikel Terkait

Organisasi Nahdlatul Ulama (NU) perlu menghidupkan kembali adab yang selama ini menjadi ciri khas pesantren, tidak cukup perbaikan sistem MOJOK.CO
Kabar

NU Perlu Hidupkan Tata Krama Organisasi di Tengah Dinamika yang Semakin Kompleks, Perbaikan Sistem Saja Tak Cukup

7 Juni 2026
Derita Pedagang Es Teh Jumbo: Miskin, Disiksa Israel dan Amerika MOJOK.CO
Cuan

Semakin Berat Perjuangan Pedagang Es Teh Jumbo: Sudah Margin Keuntungan Sangat Tipis Sekarang Terancam Makin Merana karena Kenaikan Harga

9 April 2026
Muhammadiyah vs NU di Rumah Kami: Dua Hati, Beda Hari Lebaran, Selesai di Meja Makan yang Sama MOJOK.CO
Esai

Muhammadiyah vs NU di Rumah Kami: Dua Hati, Beda Hari Lebaran, Selesai di Meja Makan

9 Maret 2026
Muhammadiyah selamatkan saya dari tabiat buruk orang NU. MOJOK.CO
Sehari-hari

Saya Bukan Muhammadiyah atau NU, tapi Pilih Tinggal di Lingkungan Ormas Bercorak Biru agar Terhindar dari Tetangga Toxic

25 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Curhat dan ziarah di makam ibu, tempat terbaik pulang tanpa penghakiman MOJOK.CO

Curhat di Makam Ibu Dianggap Lebay dan Sia-sia, Tapi Jadi Tempat Pulang Terbaik yang Penuh Makna dan Rasa Lega

5 Juni 2026
Derita Bisnis Laundry: Cuan 15 Juta Hilang karena Kebodohan MOJOK.CO

Pengalaman Bisnis Laundry yang Cukup Menyedihkan, Berharap Cuan Besar 15 Juta per Bulan tapi Cuma Dapat 3 Juta: Boncos karena Kebocoran-Kebocoran Sepele

4 Juni 2026
Rooftop kos kerap jadi tempat blangkrah, tapi jadi ruang healing terbaik bagi anak kos overthinking MOJOK.CO

Tinggal di Kos dengan Rooftop, Meski Kemproh tapi Jadi Tempat Healing Terbaik dari Tekanan Hidup yang Bisa bikin Gila

3 Juni 2026
Pengalaman Kuliah di Polandia, Eropa Sambil Jadi Tour Guide. MOJOK.CO

Pengalaman Kuliah di Eropa Sambil Jadi Tour Guide bikin Enggan Kembali ke Tanah Air, tapi Tak Ada Jalan Lain Selain Pulang

4 Juni 2026
Pesona Gerabah Lukis Khas Klaten di Festival Sepeda Internasional, Sukseskan Misi Kebudayaan yang Memukau Bule.MOJOK.CO

Pesona Gerabah Lukis Khas Klaten di Festival Sepeda Internasional, Sukseskan Misi Kebudayaan yang Memukau Bule

4 Juni 2026
Kerja di Jakarta, Cara Terbaik Buat Melihat Sisi Buruk Manusia adalah Kerja di F&B.mojok.co

FnB di Jakarta Bikin Sengsara Pekerjanya: Bisnis Elite tapi Gaji Karyawannya Seuprit, yang Dimiliki Artis bahkan Lebih Tak Manusiawi

2 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.