Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

86, Adlun Fikri!

Cepi Sabre oleh Cepi Sabre
3 Oktober 2015
A A
86, Adlun Fikri!

86, Adlun Fikri!

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Saya kira, tidak ada instansi di negeri ini yang mencintai perdamaian lebih dari Instansi Bhayangkara Negara. Bahkan seandainya Mojok satu hari nanti kepingin menerbitkan buku lagi, saya usulkan untuk mengangkat tema tentang korps berbaju coklat itu. Kalau buku pertamanya laris manis karena disesaki dengan satir yang mengundang gelak tawa, saya yakin buku kedua itu nanti juga akan mendulang sukses yang sama karena dipenuhi dengan cerita haru perdamaian warga dari seluruh negeri dengan oknum polisi dari berbagai kesatuan yang menguras air mata.

Adlun Fikri Singoro pasti sedang beruntung ketika di satu hari yang cerah-ceria, di Ternate, kendaraannya ditilang, dan salah satu anggota korps baju coklat itu menawarinya perdamaian. Dasarnya Adlun—entah karena sok idealis atau memang cuma sedang terkena sindrom akhir bulan khas mahasiswa: bokek—Adlun menolak tawaran baik itu. Mahasiswa keblinger. Adlun pasti sudah termakan jargon jadoel: “Kami cinta damai, tapi lebih cinta kemerdekaan.”

Sia-sia dia belajar Antropologi di Universitas Khairun Ternate kalau tidak bisa memetakan perilaku manusia, khususnya dari golongan bhayangkara itu.

Ada, setidaknya, tiga kesalahan mendasar yang dilakukan Adlun Fikri dengan pilihan sikapnya itu. Pertama, menolak tawaran damai dari petugas. Adlun pasti lupa bahwa negara ini adalah—meminjam istilah mantan aktivis yang baru-baru ini meroket, Fadjroel Rachman—negara halalbihalal, negara maaf-memaafkan. Bukan negara hukum seperti kata orang-orang. Lihatlah bagaimana persoalan-persoalan pelanggaran HAM di negara ini mau diselesaikan dengan cara minta maaf, alih-alih mengadili dan menghukum mereka yang bersalah.

Kesalahan kedua Adlun, dia merekam tawaran damai dari petugas tadi dengan telepon genggamnya. Aduh, mahasiswa Antropologi macam apa ini? Ini zamannya selfie. Rekaman video adalah lompatan yang terlalu jauh ke depan. Mestinya Adlun Fikri mengajak petugas tadi selfie bareng. Tidak bawa duit, tapi tongsis bawa kan, Dlun?

Dan yang terakhir, yang paling fatal, adalah mengunggah video tersebut ke Youtube. Ampun dah. Kapan sih Adlun ini terakhir nonton tivi? Kalau ada persoalan dengan petugas, semestinya Adlun menghubungi kantor berita televisi ikan terbang untuk segera disambungkan dengan pejabat polisi yang sedang ngopi-ngopi cantik di acara Halo Polisi. Di sana, barulah Adlun boleh curhat sepuas-puasnya. Soal ditanggapi atau tidak, itu lain soal. Eh, ngomong-ngomong, acara itu masih ada gak sih?

Masih ingat dengan bule Belanda yang mengunggah video damainya dengan anggota polisi di Bali, kan? Adlun harusnya bisa belajar dari kasus itu. Bule londo itu sebenarnya sudah benar dengan menerima tawaran damai sang oknum, tapi ya itu, kesalahan fatalnya adalah mengunggah video tadi ke Youtube. Coba itu bule gak buru-buru balik ke Belanda, nasibnya saya pastikan setali tiga uang dengan Adlun Fikri sekarang.

Adlun Fikri—juga bule londo tadi—harus tahu bahwa satu-satunya yang boleh mengunggah video ke Youtube adalah anggota polisi itu sendiri. Contohnya, Norman Kamaru. Kalau kemudian beliau diberhentikan dengan tidak hormat, dan banting setir jadi tukang bubur, itu bukan karena Norman menggunggah video joget India-nya ke Youtube, melainkan karena lupa ngajak komandannya syuting sinetron.

Catat, ya: Mengunggah video ke Youtube tidak pernah salah kalau dilakukan oleh polisi!

Kalaupun acara Halo Polisi tadi sudah tidak ada, bukankah sekarang sudah ada acara yang lebih heroik sebagai penggantinya? Itu lho, yang judulnya ’86’. Adlun Fikri seharusnya mengirim rekaman videonya ke sini. Gara-gara acara ini, saya yang waktu sekolah dulu dengan mantap menjawab jalesveva jayamahe waktu ditanya semboyan angkatan laut, dan dengan ragu menjawab gemah ripah loh jinawi sebagai semboyan polisi, akhirnya tahu kenapa saya cuma dianggap setengah benar oleh guru saya.

Saya akhirnya tahu kalau semboyan polisi ternyata: lapan-anam. Ya gara-gara acara itu tadi.

Makanya nonton tivi, Dlun.

Menimpakan kesalahan seluruhnya ke pundak Adlun Fikri tentu tidak adil. Korps kepolisian juga seharusnya membenahi dirinya. Supaya tulisan ini tidak terkesan main-main, maka di titik ini saya ingin mengusulkan Korps Kepolisian Republik Indonesia agar melakukan reformasi dengan seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Dan tiga poin terpenting—untuk mengimbangi tiga kesalahan Adlun Fikri—yang harus direformasi oleh polisi adalah:

Satu, membekali seluruh petugasnya dengan kamera supaya tidak lagi didului oleh warga yang mengunggah video ke youtube seenaknya; Dua, mengumumkan bahwa pangkat tertinggi di kepolisian adalah brigadir (briptu boleh, bripka boleh) mengingat anggota-anggota yang berprestasi rata-rata berpangkat brigadir seperti (mantan) Briptu Norman Kamaru, Brigadir Dewi Sri Mulyani ‘di situ kadang saya sedih’, dan—pastinya—Briptu Eka Frestya; Terakhir, mengangkat Briptu Eka Frestya menjadi Kapolri.

Iklan

Bagaimana, sepakat?

Lapan-anam, Ndan!

Terakhir diperbarui pada 11 Agustus 2021 oleh

Tags: Adlun FikriPolisiUU ITEYoutube
Cepi Sabre

Cepi Sabre

Artikel Terkait

Jangan Jadikan Perkap Nomor 4 Tahun 2025 sebagai Legitimasi Polisi Menembak Demonstran.MOJOK.CO
Tajuk

Jangan Jadikan Perkap Nomor 4 Tahun 2025 sebagai Legitimasi Polisi Menembak Demonstran

22 Juni 2026
rkuhap, kuhap, polisi.Mojok.co
Fragmen

Catatan Kritis KUHAP (Baru) yang Melahirkan Polisi Tanpa Rem Hukum, Mengapa Berbahaya bagi Sipil?

19 November 2025
Ortu kuras tabungan buat anak jadi polisi malah kena tipu. Sempat bikin stres tapi kini bersyukur tak jadi sasaran amuk tetangga MOJOK.CO
Ragam

Ortu Kuras Tabungan buat Anak Jadi Polisi malah Kena Tipu “Intel”, Awalnya Stres tapi Kini Bersyukur

6 September 2025
Polisi gelontorkan uang banyak untuk gas air mata yang digunakan dalam demo. MOJOK.CO
Kabar

Saat Duit Rakyat Hanya Dipakai buat Membeli Gas Air Mata Kadaluwarsa oleh Polisi

31 Agustus 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kerjabilitas, Jembatan bagi Pencari Kerja Difabel Menembus Tembok Diskriminasi Industri.MOJOK.CO

Kerjabilitas, Jembatan bagi Pencari Kerja Difabel Menembus Tembok Diskriminasi Industri

17 Juli 2026
cari kerja, UGM.MOJOK.CO

300 Lamaran Kerja Ditolak, Lulusan UGM Pilih “Turunkan Standard”: Sadar Bursa Kerja Sedang Tak Baik-Baik Saja

15 Juli 2026
Kerajinan lokal Yogyakarta di INACRAFT. MOJOK.CO

INACRAFT Jogja: Jembatan bagi Perajin Lokal Menembus Pasar Global Lewat Karya yang Tak Biasa

15 Juli 2026
Impact of Asia Limited (IOA) Global Pte Ltd Singapura jajaki kerja sama jangka panjang dengan Jawa Tengah lewat investasi manufaktur hingga pengembangan SDM MOJOK.CO

Peluang Investasi dan Kesempatan Pelatihan di China bagi Anak Muda Jateng

14 Juli 2026
Anak-anak bermain bola di Pelataran Masjid Gedhe Kauman, Kota Jogja. MOJOK.CO

Ketika Lapangan Hijau Berbayar Kalah Mewah dengan Paving Gratis Masjid Kauman

11 Juli 2026
Di Balik Pintu Toilet Masjid: Tempat Bersuci, tapi Berisiko bagi Perempuan MOJOK.CO

Di Balik Pintu Toilet Masjid: Tempat Bersuci, tapi Berisiko bagi Perempuan

14 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.