MOJOK.COMahasiswa selama ini sudah bersusah-payah bikin tugas, beli kuota, sampai bayar SPP, tapi kenapa dosen nggak ngapa-ngapain? Makan gaji buta ya?

Halo kawan-kawan mahasiswa di manapun kalian berada. Semoga selalu sehat dan tetep bahagia. Perkenalkan, saya redaktur media ghibah tanah air mojok.co sekaligus tukang ajar di dua kampus (negeri dan swasta) di Solo, Jawa Tengah.

Begini. Saya barusan membaca sebuah tulisan komplain dari seorang mahasiswa dan jadi lumayan tersentil. Isinya kurang lebih berisi protes mempertanyakan kinerja dosen selama kuliah online.

Menurut tulisan komplain tersebut, mahasiswa selama ini sudah bersusah payah untuk bikin tugas, beli kuota, sampai bayar SPP, tapi kenapa dosennya nggak ngapa-ngapain? Kok enak banget?

Hm. Untuk lebih jelasnya. Silakan baca sendiri tulisan tersebut di bawah ini.

Iya, saya tahu. Sebagai dosen yang baru 2,5 tahun ngajar, saya paham keluhan mahasiswa model begini. Hal yang saya pikir juga ada di pikiran ratusan mahasiswa saya. Kalau tiap kuliah isinya cuma wasap grup atau lewat zum gitu, lantas apa bedanya dengan belajar otodidak dong?

Ya, pandangan itu tidak salah. Sama sekali tidak salah. Namun, sebelum kalian merasa sepakat untuk melempar kesalahan ini ke seluruh dosen di Indonesia, saya akan menyoroti tiga hal dari surat protes mahasiswa itu.

Pertama, soal tudingan “belajar otodidak” yang harus dilakukan mahasiswa selama pandemi.

Masalah yang harus dipahami lebih dulu adalah soal ini: apakah mas-mas dan mbak-mbak mahasiswa tahu, kalau selama kuliah normal pun sebenarnya pembelajaran yang terjadi tidak benar-benar berada di kelas, melainkan justru di luar kelas?

Lagian, mahasiswa itu—saya pikir—jauh lebih banyak belajar ketika ikut kegiatan ekstrakulikuler di luar. Baik aktif di organisasi pergerakan mahasiswa, UKM, atau komunitas-komunitas sesuai minatnya. Ngotot belajar di kelas? Kok saya malah baru tahu ada mahasiswa ngebet banget pengen belajar di kelas. Ini justru info baru buat saya.

Selama ini saya memahami, kelas hanya merupakan tempat agar perkuliahan bisa terdata dan bisa dipertanggungjawabkan secara administratif. Meski begitu, dosen sebenarnya punya otoritas untuk memindahkan kelasnya (meski kadang bisa berbenturan dengan aturan kampus).

Saya ambil contoh pakai kebiasaan saya kalau ngajar misalnya. Sebagai dosen, saya tidak jarang menyempatkan waktu di luar kelas untuk belajar bersama. Entah di kantin atau di taman kampus. Tentu saja mahasiswa saya bebaskan untuk makan-minum juga selama pelajaran.

Hal ini karena saya menyadari betul, kadang belajar di kelas itu emang membosankan. Sebagai dosen saja saya bosan, apalagi mahasiswa saya. Dan dulu, ketika semester pertama saya ngajar, saya akui cara ajar saya terlalu pedagodi.

Baca juga:  Dua Jenis Mudik Orang Madura

Itu lho, ngajarin ke mahasiswa pakai teori yang bener ini, lalu nunjukin yang salah ini. Bener-bener kayak guru SD. Cara mengajar yang jatuhnya bikin ngantuk mahasiswa.

Tak banyak mahasiswa yang cukup nyaman dengan metode pengajaran semacam itu. Apalagi mahasiswa saya cenderung lebih ingin dilibatkan dalam pelajaran. Masalahnya, ketika upaya melibatkan mahasiswa ini (atau dalam bahasa kerennya: lebih andragogi), ternyata cara ini juga masih kena protes mahasiswa pula.

Kalau semua dikerjakan mahasiswa terus dosennya ngapain? Cuma fasilitator doang? Cuma jadi moderator doang? Lah kok enak.

Semakin terlihat lagi ketika pandemi ini melanda, pelajaran model androgogi macam gini makin terlihat brutal lagi karena pertemuan fisik dibatasi. Akhirnya mahasiswa merasa dipaksa belajar mandiri.

Kalau gini caranya, ngapain kuliah?

Hm. Padahal, banyak dosen yang merasa kalau mahasiswa itu sudah bukan lagi pembelajar yang perlu dituntun. Kalau memang mahasiswa ingin dikembalikan ke metode kuno, secara personal saya sangat siap. Karena saya selalu menempatkan diri sebagai tukang ajar yang jadi pelayan bagi mahasiswa. Palugada deh, apa lu mau gua ada.

Meskipun setelah saya baca lagi, contoh di tulisan komplain mahasiswa tadi hanya dengan pengajaran upload video penjelasan dari dosen. Udah, itu doang. Hal yang bikin saya makin bingung.

Lah kalau kayak begitu, bukannya jatuhnya jadi sama aja? “Tinggal download videonya, lihat, kerjakan tugasnya beres.” Lantas, karena video pengajaran untuk semester sekarang bisa dipakai lagi untuk tahun depan untuk kelas yang berbeda, bukan tidak mungkin muncul lagi surat yang sama semester depan… “Terus dosennya ngapain?”

Duh, kena lagi deh saya.

Kedua, soal tudingan kerja dosen jadi nggak ngapa-ngapain karena kuliah online.

Soal ini, saya sepakat. Apalagi dosen kayak saya yang harus ngelaju Jogja-Solo bolak-balik naik kereta, naik angkot, dan naik ojek. Dengan kebijakan kuliah online, hal ini sangat membantu, dan mungkin bikin dosen kayak saya jadi terlihat “nggak ngapa-ngapain”.

Puadahal, banyak dosen yang justru semakin berat ketika kuliah online ketimbang ketika perkuliahan normal di kelas. Karena ada yang namanya… TUGAS MAHASISWA.

Sebagai dosen, hal yang paling mengerikan bagi saya bukan soal besok mau ngajarnya gimana, melainkan tugas-tugas mahasiswa udah saya cicil koreksi atau belum. Ketika pegawai biasa pusing dengan cicilan rumah dan cicilan motor, dosen kayak saya malah selalu pusing dengan cicilan koreksi tugas-tugas mahasiswa saya.

Kenapa harus dicicil? Karena kalau ditotal, jumlah tugas mahasiswa dari saya ngajar di dua kampus itu ada 300-an makalah tiap minggu. Itu pun hanya dari dua mata kuliah. Sekarang coba sampeyan bayangkan sendiri sebanyak apa tugas yang diterima dosen yang ngajar full 20 sks satu semester.

Apalagi karena ada pandemi, tugas online ini semacam diharuskan pihak jurusan untuk ngukur tingkat keseriusan mahasiswa mengikuti kuliah online. Jadi bisa dibayangkan sekriting apa mata para dosen tiap minggu harus mengoreksi tugas-tugas mahasiswanya.

Baca juga:  Fesyen Mahasiswa Paling Ulala ada di ISI Yogyakarta

Jadi kalau mahasiswa merasa terlalu berat dengan tugas-tugas kuliah, dosen pun sebenarnya mengalami problem yang sama. Jangan dipikir ngasih tugas mahasiswa itu dosen-dosen girang, dalam kacamata dosen pemberian tugas ke mahasiswa itu seperti membawa makin banyak kerjaan yang bakal dibawa ke rumah.

Poinnya, jangan merasa jadi korban sendirian deh dari efek pandemi. Semua kena repot juga kok, Mas atau Mbak.

Ketiga atau terakhir. Soal paling sensitif: nilai.

Memang betul ada dosen yang kasih nilai mahasiswa itu pakai sistem dadu. Ngasal. Saya akui itu ada.

Kenapa? Karena ketika masih jadi mahasiswa, itu juga masalah yang pernah saya alami. Namun, dengan semakin banyaknya dosen-dosen muda, yang usianya tak berbeda jauh dengan mahasiswanya, ada cukup banyak dosen yang hati-hati untuk urusan memberi nilai.

Dengan makin banyaknya dosen muda, sisi kemanusiaan dosen ngasih nilai pun jauh lebih kuat zaman sekarang. Mungkin karena masih satu zaman, jadi lebih nyambung secara emosional dengan mahasiswanya.

Di antara teman-teman dosen—misalnya, sangat jarang dari mereka memberi nilai mahasiswa sampai D atau E. Kecuali untuk hal-hal yang sifatnya adminsitratif.

Seperti soal persentase jumlah presensi—misalnya, yang secara otomatis sistem SIAKAD kampus akan memberi mahasiswa nilai E kalau kurang persensinya. Dan kadang-kadang hal semacam itu benar-benar di luar keputusan dosen. Meski akhirnya pihak yang kena komplain ya dosennya lagi.

Jadi untuk urusan tudingan ngasih nilai jelek ini, ya itu sifatnya kasuistik. Sangat sulit untuk diratakan karena pengalaman antar-satu mahasiswa dengan mahasiswa bisa sangat berbeda. Bisa karena emang mahasiswanya nggak pernah ngirim tugas lalu dapet nilai jelek, lantas koar-koar soal kejelekan dosennya. Bisa juga karena dosennya yang nggatheli.

Nah, karena hal semacam ini sangat kasuistik, tentu saja justru jangan menghakimi semua dosen suka kasih nilai jelek. Ada kok emang dosen yang kayak gitu, tapi kan ada juga yang nggak. Jadi mbok ya jangan digeneralisir.

Untuk urusan nilai, mahasiswa sekarang emang sangat berani main labrak ke dosen. Seperti ketika saya diwasap marah-marah sama mahasiswa karena dapet nilai B (standar nilai paling rendah dari saya). Alasannya, karena si mahasiswa merasa tugasnya bagus jadi seharusnya nilainya A, tanpa mengindahkan bahwa ia sudah telat beberapa hari ngirim tugas UAS ke email saya.

Duh, duh. Emang mahasiswa zaman sekarang kritis-kritis… nilai B sebagai bonus aja dianggap jelek. Ngejar apa sih emangnya mahasiswa model begitu? IPK 4? Stafsus Presiden?

BACA juga Memang Kamu Digaji Berapa, Kok Mau-Maunya Ngajar? atau tulisan soal hubungan Dosen dan Mahasiswa lainnya.