MOJOK.CO – SPBU yang punya program gratis BBM 2 liter setiap baca 2 juz diserang netizen. Lho, ini kan peluang usaha yang menjanjikan buat kami, kaum santri.

Menyaksikan pro kontra soal baliho di SPBU yang kasih gratis BBM 2 liter untuk mereka yang sudi baca 2 juz Al-Quran sejujurnya bikin saya agak heran. Terutama ketika menyaksikan beberapa orang dengan mati-matian mengritik baliho gratis BBM 2 liter untuk setiap baca 2 juz ini.

Nggak main-main, beberapa orang (yang saya kenal) tanpa tedeng aling-aling menyebut model promosi kayak gini itu norak. Wuiiih, syerem.

Mereka yang “ngamuk-ngamuk” nggak terima dengan model promosi ini sih bisa dipahami. Maklum, soalnya program gratis BBM 2 liter pakai 2 juz itu terkesan hanya mengistimewakan mereka yang muslim. Dan sebagai sebuah outlet yang barang dagangannya nggak butuh-butuh amat bikin promo, SPBU kayak gini nggak perlu lah bikin kebijakan yang terkesan diskriminatif begitu.

Baiklah, argumentasi protes gini sih sah-sah saja. Meski ya nggak sepenuhnya tepat. Kan nggak ada aturan yang baca 2 juz itu agamanya harus Islam. Asal mau baca 2 juz, sekalipun yang baca itu orang Buddha, Katolik, Sunda Wiwitan, atau Kejawen ya nggak masalah to harusnya? Perkara bacanya pakai huruf latin ya nggak masalah to? Yang penting kan 2 juz.

Di sisi lain, ketimbang ikut ribut-ribut soal pro dan kontra isu ini, saya malah ingin melihat program—yang katanya norak ini—dari sisi positifnya aja. Salah satunya adalah bagaimana peluang ekonomi rakyat bisa diberdayakan gara-gara program ini. Wabilkhusus, peluang ekonomi pesantren.

Oh, saya tidak sembarangan. Program ini benar-benar bisa direalisasikan dan saya sudah menyiapkan hitung-hitungan detailnya. Artinya ini bisa langsung diaplikasikan kalau sampeyan mau.

Begini.

Dalam budaya pesantren, sudah lumrah jika seorang santri diminta ngaji ketika ada hajatan. Baik hajatan di pesantrennya sendiri atau hajatan di kampung sekitar pesantren. Di daerah saya, aktivitas ini namanya muqoddaman. Kegiatan baca Al-Quran 30 juz yang dibagi per 30 orang. Jadi setiap orang akan kebagian membaca 1 juz Al-Quran. Lalu ketika acara selesai, diadakan khataman Al-Quran.

Baca juga:  Memangnya Ada Kiai yang Mendatangi Santri untuk Minta Ngajar?

Sekarang bayangkan kalau misalnya ada pesantren yang penghuni satu kamarnya berisi 30 santri (kebetulan pesantren saya dulu satu kamar isinya bisa 40-60 santri). Tinggal bawa saja penghuni satu kamar untuk berangkat ke SPBU yang punya program gratis BBM 2 liter 2 juz ini. Lagian juga nggak ada ketentuan yang baca 2 juz itu harus satu orang kan? Jadi jelas, ide ini bakal sangat mashoook sekali.

Nah, begitu selesai ngaji lalu pulang dari SPBU, santri-santri ini bisa dapat 30 liter BBM secara cuma-cuma. Tuh, apa nggak dahsyat itu namanya?

Lalu, karena cukup jarang santri punya kendaraan pribadi. Tinggal dijual aja BBM itu di depan pesantren.

Ya karena nggak pakai modal uang (paling cuma modal botol Topi Miring doang sih), santri-santri ini bisa aja jual murah meriah. Bikin bazar BBM gitu. Misalnya kalau di SPBU harga Pertalite Rp7650 setiap liter (per Juli 2019), santri-santri ini bisa aja jual harga cukup Rp5000 perak aja.

Udah dapat untung besar, membantu ekonomi masyarakat dengan menyediakan bensin murah, dan jelas bakal lebih laku ketimbang SPBU resmi karena harga jualnya berani bersaing.

Jika tiap hari santri-santri ini mau muqoddaman di SPBU yang ada program gratis BBM 2 liter 2 juz ini, sekarang bayangkan potensi ekonomi pesantren yang bisa diberdayakan. Ya nggak perlu setiap hari lah, cukup tiga hari dalam satu pekan aja udah lumayan banget itu. Per pekan udah dapat 30 x 3 = 90 liter BBM, Bung!

Itu pun baru hitungan satu kamar. Sekarang bayangkan kalau ada pesantren dengan ribuan santri. Lalu ribuan santri itu diberangkatkan ke SPBU yang punya program gratis BBM 2 liter 2 juz ini. Wah, bukan tidak mungkin santri-santri ini malah buka SPBU sendiri di depan pesantren. Apa nggak keren itu?

Baca juga:  Situ Mau Beradab atau Cuma Mau Pintar?

Ekonomi santri meningkat pesat, pesantren bisa menggratiskan SPP santrinya karena udah punya duit melimpah, lalu masyarakat di sekitar pesantren pun akan makmur karena tersedia BBM murah.

Namun, tidak hanya berhenti di situ potensi ekonomi pesantren bisa diberdayakan. SPBU yang punya program gratis BBM 2 liter 2 juz ini juga harus memikirkan tenaga yang ngecek bacaan orang-orang yang membayar BBM pakai bacaan Al-Quran. Oleh karena itu, jelas SPBU membutuhkan karyawan yang hafal Al-Quran 30 juz, biar “bayaran”-nya ini nggak abal-abal.

Nah, SPBU kayak gini nggak perlu jauh-jauh mencari tenaga kerjanya. Cukup mengambil saja satu atau dua alumnus pesantren yang hafidz. Beres urusan. Jadi di masa depan, akan jadi pemandangan lumrah usai khataman khotmil Al-Quran, mereka yang wisuda bil ghoib (hafal 30 juz) langsung terserap. Langsung siap kerja.

Nah lho, apa nggak spektakuler itu namanya? Biasanya orang lulus kuliah langsung kerja, ini orang hafal Al-Quran bisa langsung kerja. Di BUMN lagi—meski di bagian SPBU-nya aja sih.

Bukan tidak mungkin di masa depan, SMK-SMK tanah air yang punya jurusan Farmasi, Multimedia, Teknik Otomotif bakal waswas dengan pesantren. Lha gimana? Dengan program tahfidz aja, banyak anak-anak muda bakal lebih tertarik masuk pesantren ketimbang SMK karena peluang kerjanya lebih jelas dan nyata. Udah gitu, sebelum lulus dari pesantren udah bisa wirausaha bikin SPBU sendiri lagi.

Wah, terima kasih sekali untuk SPBU yang punya program gratis BBM 2 liter 2 juz ini. Benar-benar nggak diduga, ternyata kalian begitu perhatiannya dalam upaya meningkatkan ekonomi kreatif pesantren. Terima kasih.

Anu, kalau bisa jangan cuma gratis BBM 2 liter 2 juz saja, tapi BBG sekalian. Kan lumayan. Kalau tabung gas 3 kg dibayar pakai 3 juz Al-Quran—misalnya. Santri-santri ini mungkin nggak cuma bikin SPBU sendiri nantinya, tapi juga toko kelontongnya sekalian.

Tentu saja dengan embel-embel gini: SPBU dan Toko Kelontong bersyariah. Dijamin halal 100% meski tanpa stempel MUI.