MOJOK.CO – Alih-alih ikut pro kontra tentang baliho “gratis BBM 2 liter setiap baca Al-Quran 2 juz”, saya malah lebih tertarik tentang bagaimana ide ini bisa muncul. Hmmm.

Di sebuah postingan Twitter muncul kepsyen galak kayak gini, “mau diskon? Harus Islam. Pemeluk agama lain? Second class citizen.” Dalam hati saya keder membacanya, lalu bertanya-tanya.

Setelah saya telusuri, ternyata kalimat itu merupakan kepsyen dari foto pom bensin yang memasang baliho dengan tulisan “setiap hari jumat, gratis BBM 2 liter setiap baca Al Quran 2 juz”. Lalu seperti biasa, pendapat warga negara kita selalu berdebat antara yang setuju dan tidak.


Di kolom komentar bahkan terang-terangan ada yang bersitegang. Ada yang mengatakan bahwa tidak apa-apa dan bagi yang tidak suka silakan memilih pom bensin lain. Ada yang mengatakan tidak akan membeli bensin di pom tersebut dan lebih baik membeli eceran, ada yang bersiap untuk membaca Al-Quran dan mencari di mana keberadaan pom bensin tersebut.

Ratusan komentar dengan pro dan kontra dan alasannya masing-masing dari yang mulai ngegas sampai icik-icik.

Netizen Indonesia bisa dibilang merupakan warga negara paling selow dalam kehidupannya. Sampai-sampai di medsos apa saja bisa jadi debat interaktif yang selalu berhasil memancing adrenalin.

Urusan makan bubur diaduk atau tidak, minum kopi pakai gula atau tidak, sampai debat soal muslimah bersalaman dengan Paus Fransiskus di Vatikan. Debat terooos. Hal yang menunjukkan bahwa sebenarnya kita ini memang suka berdebat apapun situasinya.

Mungkin kalau sampai ada warga negara Malaysia sedang berdebat dengan sesamanya di medsos, netizen Indonesia kayaknya bakal kebakaran jenggot, “Woy, itu budaya kami! Enak aja, jangan asal klaim ya!”

Padahal, sebelum kasus pom bensin kasih baliho “gratis BBM 2 liter untuk 2 juz ini”, warung-warung yang menggratiskan makan bagi bapak-bapak usai jumatan, atau mas-mas grab yang menggratiskan penumpang, atau kawan saya seorang pengusaha air galon isi ulang yang menggratiskan airnya setiap hari Jumat, tenang-tenang aja tuh.

Baca juga:  Penghancuran Al-Quran di Andalusia

Mereka semua nggak ada yang viral kayak gini. Heran saya. Masa iya, mereka nggak bisa viral cuma karena mereka bukan Pertamina sih? Hm.

Tapi pertanyaan sebenarnya yang layak diajukan ya ini: kenapa pemasangan baliho gratis BBM 2 liter dengan membaca 2 Juz Al-Quran di pom bensin ini bisa jadi seru banget perdebatannya?

Hm, mungkin karena promosi ini diletakan di ruang publik yang bisa didatangi semua masyakarat dari berbagai agama. Apalagi ada penekanan “gratis” untuk pembaca Al-Quran. Ya ini bisa saja terasa tidak adil bagi penganut agama lain.

Tapi alih-alih mengikut pro kontra tentang hal tersebut, saya malah lebih tertarik tentang bagaimana ide ini bisa terpikirkan oleh pengusulnya pertama kali. Saya heran saja, apa gitu kira-kira isi kepala si pengusul ide “gratis BBM 2 liter” ini.

Apakah blio melihat ada lebih banyak umat muslim dibanding umat agama lain yang beli BBM di pom bensin tersebut jadi ada ide ini? Atau karena blio merasa umat muslim dianggap lebih memerlukan BBM gratis ketimbang umat agama lain?

Hm, tapi saya yakin baliho ini dibikin dengan niat tulus agar umat muslim lebih giat lagi membaca Al-Quran, untuk itu maka perlu diberi bonus gratis BBM 2 liter sebagai imbalannya. Jadi si pengusul ide ini kasih syarat gratis BBM 2 liter diganti dengan bacaan dua juz ini cuma mau sedekah saja.

Meski sedekah dengan model begini namanya sedekah tebang pilih. Bukan tebang pilih terhadap siapa yang layak menerima sedekah atau tidak, melainkan yang agamanya sama atau tidak. Hm, tapi ya terserah juga sih ya, itu bensin punya dia juga.

Tapi, kalau ternyata ini bukan sedekah melainkan murni strategi marketing, maka dengan tulus saya malah harus kasih lima jempol! Ya iya dong, ini bukti kalau si pemilik ide benar-benar pebisnis tulen.

Baca juga:  Zikir Kesibukan

Soalnya—harus diakui—apapun soal agama di negeri ini emang pasti laris manis. Lebih-lebih yang dikombinasikan dengan bensin. Wah, duet maut itu.

Terlepas dari, saya sih masih penasaran aja bagaimana pikiran orang yang usul ide gratis BBM 2 liter bensin diganti pakai 2 juz Al-Quran ini? Apa yang usul ini nggak mikir kalau sistem pembayaran pakai baca 2 juz ini bakal menghabiskan waktu yang lumayan lama?

Baca 2 juz Al-Quran itu lumayan lama lho. Selancar-lancarnya baca, paling juga baru kelar 30-an menit (dengan asumsi juz pertama yang dibaca adalah juz 30). Itu pun dengan bacaan paket kilat. Normal sih ya bisa hampir sejam kalau 2 juz.

Nah, sekarang gini, apa iya jika 2 juz ini dibaca saat ada antrean orang ngisi bensin? Apa iya nggak bakal bikin mencak-mencak orang di belakangnya karena antre jadi keterlaluan lamanya?

Oke deh, misal pengusul “gratis BBM 2 liter” ini punya ide membaca 2 juz Al-Qurannya dilakukan di ruang khusus seperti musala gitu. Lah, terus pertanyaannya siapa dong yang bertugas mengawasi?

Kenapa perlu diawasi? Ya jelas untuk memastikan apakah orang tersebut sudah membaca dua juz atau belum lah. Masa iya orang tersebut hanya dibiarkan membaca sendiri sampai selesai 2 juz?

Kalau emang nggak diawasi dengan mengandalkan kejujuran si pembaca Al-Quran, ya harusnya balihonya dibikin gini sekalian: “gratis 2 liter BBM buat yang baca 2 juz Al-Quran di rumah masing-masing. Syaratnya mudah: tinggal bilang ke petugas aja.”

Wah, ini jelas lebih seru lagi. Soalnya tidak hanya merangsang orang membaca Al-Quran, namun juga merangsang orang untuk jujur. Soalnya ketimbang banyak-banyakin orang baca Al-Quran demi gratis BBM 2 liter, negeri ini lebih butuh banyak orang jujur.

Apalagi kejujuran diajarkan juga oleh banyak agama. Jadi kalau syaratnya cuma itu, yang bisa ikutan gratisan di pom bensin bisa jadi lebih banyak. Iya kan?



Loading...



No more articles