MOJOK.CO – Novel Bamukmin tegaskan aksi kawal MK yang digagas PA 212 bukan gerakan politik bela Prabowo melainkan aksi bela agama.

Setelah berbulan-bulan (mungkin sudah bisa dikatakan bertahun-tahun) Persaudaraan Alumni (PA) 212 akhirnya kembali ke khittahnya sebagai kelompok pembela agama. Yuk, mari bersyukur, nikmati kabar bahagia ini.

Apakah itu artinya aksi PA 212 yang kemarin itu adalah kelompok yang membela kepentingan kelompok tertentu? Oh, sori, kelompok ini dibentuk karena niat tulus, tanpa kepentingan, dan 100% murni—udah dua kali penyaringan lagi.

Kalau selama ini mereka dianggap sangat bias politik, ah itu kan bisa-bisanya Cebong dan Ahokers aja yang suka nuduh-nuduh nggak jelas. Lagian, kalau aksi yang kemarin-kemarin kesannya politis banget kan ya nggak apa-apa? Emang ada larangannya dalam aturan negara? Kan nggak ya to?

Paling tidak Juru Bicara PA 212 yang terhormat Novel Bamukmin sudah mengungkapkan itu semuwa.

“Ketika kami mengambil langkah politik akan tetapi kami saat turun ke MK tidak mengambil langkah politik karena gerakan kami adalah bela agama agar keadilan bisa ditegakkan dan tidak melibatkan partai atau tokoh politik, sebagaimana gerakan kami aksi Bela Islam 1410, 411, 212, tanpa urusan politik,” kata Novel Bamukmin meyakinkan kita semuwa.

Jadi, meski agak belibet bahasanya, yang jelas Novel Bamukmin menegaskan bahwa aksi turun jalan di depan MK bukan gerakan politik. Aksi ini murni aksi bela keadilan atas nama agama. Buat yang suka nyinyir PA 212, udah deh, nggak usah kebanyakan dalil. Ini kan Novel Bamukmin dan kawan-kawan mau bela keadilan, bukan bela Prabowo.

Rencananya aksi di sekitar Gedung MK ini akan dilaksanakan pada 28 Juni tepat saat pembacaan putusan sidang sengketa Pilpres 2019. Tidak hanya PA 212, ada juga GNPF dan beberapa ormas lain. Wah, ramai pokoknya. Seru keknya.

Masalahnya berbagai pihak menyampaikan larangan untuk melakukan aksi di depan MK ini. Dari pihak kepolisian menyatakan bahwa tidak diperkenankan menggelar aksi di Gedung MK (untuk sidang apapun), karena bisa mengganggu ketertiban umum dan hak orang lain. Mungkin aturan ini dibuat agar keputusan para hakim MK tidak bisa diintervensi.

Baca juga:  Membaca Karakter Orang dari Jenis Mobil dan Pilihan Capresnya

Lebih parahnya lagi, tidak cuma pihak kepolisian yang melarang aksi kawal MK ini, melainkan dari Prabowo Subianto sendiri yang juga mengimbau nggak usah datang. Disampaikan melalui Anggota BPN.

“Pak Prabowo dengan tegas dan jelas dan beberapa kali mengimbau dan meminta tidak hadir di MK (peserta aksi). Karena kecurangan-kecurangan pemilu sudah resmi diajukan ke MK. Ini tindakan yang sangat benar dan konstitusional,” kata Sodik Mujahid, Juru Bicara BPN Prabowo-Sandi.

Hal ini pun sudah diamini oleh Novel Bamukmin, “Memang benar Prabowo dan Sandi telah mengimbau seperti itu dan itu kami sangat menghargai sebagai tokoh politik yang akan kami ikuti. Sekarang kami kembali lagi tanpa unsur politik karena partai urusannya sampai 28 Juni, sedang kami berjuang bela agama sampai keadilan tegak.”

Jadi kalau yang kemarin-kemarin ada kepentingan politik ya nggak apa-apa, yang penting sekarang PA 212 akan lakukan aksi kawal MK dengan tulus ikhlas tanpa embel-embel politik. Jadi nggak usah nyinyir buat mereka yang nuduh-nuduh kalau aksi ini pasti mau bela kepentingan Prabowo.

Hal ini menandakan kalau Prabowo dan BPN tidak merasa diwakili dengan aksi PA 212. Sampai diminta nggak usah bikin aksi macam-macam lagi eh, tetep mau datang.

Nggak perlu fadlizon, eh, suuzon dulu sampai menduga-duga kalau Novel Bamukmin dan kawan-kawan sebenarnya mau ngeyel agar MK mengabulkan dalil permohonan dari Tim Kuasa Hukum BPN Prabowo-Sandi. Udah jelas dan tegas kok, kalau mereka cuma menegakkan keadilan di negeri ini. Keadilan dalam wujud keputusan Mahkamah Konstitusi hari Jumat (28 Juni) nanti.

Dengan begitu, BPN Prabowo-Sandi seharusnya sadar diri kalau mereka udah nggak punya lagi hak buat ngatur-ngatur PA 212. Kelompok ini sekarang jiwanya udah indie dan tak mau terikat lagi.

Baca juga:  4 Cara Agar Lembaga Survei Bisa Unggulkan Elektabilitas Prabowo dari Jokowi

Lha itu nyatanya diminta nggak usah datang tetep keukeuh mau datang. Itu namanya apa kalau nggak ngeyel karena merasa udah nggak satu visi?

PA 212 juga cuma mau bersikap antisitipatif terhadap mereka-mereka yang nggak sepakat dengan hasil yang dikeluarkan MK. Lha ya dong, nama agendanya aja; “aksi kawal MK” bukan “aksi kawal suara Prabowo” kok, jadi apapun hasilnya bakal dibelain sama PA 212. Khusnudzon kita pasti begitu.

Buat Polisi juga nggak usah baper dan khawatir berlebihan lah. Santai lah dikit Pak Polisi. Ngopi-ngopi dulu lah. Novel Bamukmin ini kan nggak perlu dipertanyakan lagi kapasitas kejujurannya yang super itu.

Kalau beliau bilang A pasti A, bilang B pasti. Kalau Novel Bamukmin bilang PA 212 datang bukan atas kepentingan suara Prabowo, haya jelas aksi kawal MK bukan itu kepentingannya.

Lagian, kan bisa aja kehadiran PA 212 ini malah jadi personil tambahan buat mengamankan Gedung MK dari pihak-pihak tak bertanggung jawab yang pinginnya bikin negeri ini chaos, hanya karena hasilnya nggak sesuai dengan yang diharapkan.

Misalnya nanti hasil yang dikeluarkan MK ternyata benar-benar memenangkan Prabowo-Sandi jadi Presiden, lalu mendiskualifikasi Jokowi-Ma’ruf. Tak berselang lama pendukung Jokowi pada ngamuk-ngamuk—misalnya.

Nah, di saat itulah kehadiran PA 212 benar-benar dibutuhkan untuk mengawal keputusan MK itu.

Sebaliknya juga gitu, jika ternyata Hakim MK memutuskan bahwa kecurangan yang terstruktur, sistematis, dan masif tidak terbukti secara meyakinkan, sehingga segala tuduhan BPN Prabowo-Sandi ditolak, ya itu kan artinya PA 212 dan Novel Bamukmin hadir di Gedung MK untuk satu hal ini:

Mengawal kemenangan Jokowi.

…..

….

….

Lalu rakyat dipaksa keras membayangkan Novel Bamukmin kasih ucapan selamat ke Jokowi.



Loading...



No more articles