MOJOK.COBagi banyak orang, motor butut ini tak ada nilainya. Namun, bagi saya, Honda Supra Fit X ini adalah motor termahal di dunia. Motor perjuangan bersama Bapak.

Bagi saya, motor Honda Supra Fit X yang saya beri nama Pipit, bukan sekadar motor bebek biasa. Motor ini adalah warisan dari almarhum Bapak. Kini, Honda Supra Fit X ini menjadi motor termahal di dunia.

Pipit, selain jadi alat tunggangan pergi bekerja, juga menjadi salah satu objek penting. Berkat Honda Supra Fit X ini, saya bisa memenangkan lomba menulis blog berhadiah tiket PP Jakarta-Malaysia. Pengalaman itu membantu saya menjadi editor novel best seller.

Di kampung saya dulu, gengsi seorang pria akan naik ketika dia punya dua hal, yaitu motor dan status karyawan tetap. Ketika motor matik masih langka, motor bebek Honda Supra Fit X pun sudah cukup menaikkan derajat gengsi laki-laki di mata orang banyak.

Lucunya, laki-laki di kampung saya yang punya mobil “cuma” berprofesi sebagai sopir angkot atau sopir pribadi. Oleh sebab itu, laki-laki yang berstatus karyawan tetap (meski cuma buruh pabrik kayak saya dulu), nggak baik bus kantor, dan punya motor menempati strata sosial paling tinggi.

Atas dasar status tersebut, almarhum Bapak, yang berprofesi sebagai pedagang cireng di depan sebuah sekolah dasar, meminta saya untuk kredit motor. Bapak pengin melihat saya terlihat “pantas” dengan memiliki motor. Selain itu, Bapak bisa sesekali menggunakan motor untuk belanja ke pasar.

Honda Supra Fit X yang saya kasih nama Pipit itu adalah motor kreditan kedua. Sebelumnya, Bapak kredit motor Kymco Cevira. Motor itu sudah ditarik dealer karena Bapak nggak kuat bayar kredit.

Awalnya, saya nggak begitu tertarik dikreditin motor sama Bapak. Apalagi nama motornya aneh: Kymco Cevira. Namun, setelah Bapak meninggal, saya baru tahu betapa sayangnya dia sama saya. Bapak mengkredit motor Kymco Cevira karena memiliki unsur huruf-huruf nama asli saya: Cevira = Cepi Komara. Dan tentu saja itu bukan suatu kebetulan, melainkan kesengajaan.

Saya dan Bapak menjatuhkan pilihan ke Honda Supra Fit X sebagai motor kredit kedua. Kami memutuskan untuk patungan. Namun, lama-kelamaan, hanya saya yang membayar cicilannya karena penghasilan Bapak sebagai tukang cireng semakin lama semakin berkurang karena harus membiayai keluarga. Kami empat bersaudara, saya anak kedua. Kakak saya sudah menikah, dua adik saya yang satu SMA, satu SMP waktu itu.

Sungguh, mengkredit Honda Supra Fit X sampai lunas, apalagi dengan tenor tiga tahun itu menyiksa buat saya yang dulu hanya seorang karyawan pabrik tekstil bergaji pas-pasan. Belum kerja di TRANSTV atau jadi penulis skenario seperti sekarang.

Untuk mencukupi kebutuhan dan mencicil kreditan motor, selain bekerja di pabrik, saya juga kadang sampingan mengamen di Gerbang Tol Pasteur bersama teman-teman anak jalanan.

Almarhum Bapak sempat marah dan menyuruh saya mengembalikan Honda Supra Fit X itu ketika suatu hari saya sempat kecelakaan ketika membonceng Ibu dan adik bungsu saya. Kami diserempet motor hingga kaki adik saya berdarah, motornya rusak, dan baju ibu saya sobek-sobek.

Namun, saya memaksakan diri agar Honda Supra Fit X, kreditan motor kedua kami ini tak sampai ditarik dealer lagi. Saya kerja di pabrik, ngeblog, ngamen dan mengikuti lomba-lomba menulis bermodalkan komputer butut karena belum punya laptop.

Berkat lomba blog, kreditan Honda Supra Fit X jadi lebih ringan

Suatu hari ada lomba blog di blogdetik.com dengan tema Say It With Blog dalam rangka menyambut hari Valentine. Ketika melihat banyak blogger yang mengungkapkan cintanya pada Ibu, saya mengungkapkan rasa cinta saya pada Pipit, Honda Supra Fit X itu.

Saya memberi judul tulisan saya dengan “Dear MK”. Saya ulang-ulang menyebut “Dear MK…” di tiap beberapa paragraf, mengungkapkan rasa cinta saya dari awal seolah ditujukan untuk seorang perempuan, lalu diakhiri dengan kalimat, “Dear MK… Motor Kreditanku….”

Cara menulis ini berhasil mencuri perhatian juri dan saya menjadi pemenang kedua yang mendapatkan hadiah tiket liburan PP Jakarta-Malaysia. Pemenang utama lomba menulis ini adalah seorang blogger sekaligus penulis novel Surat Kecil Untuk Tuhan, Agnes Davonar.

Saya dan Agnes kemudian sempat mengobrol agak panjang lewat Facebook hingga kami berdua sepakat mencairkan hadiah uang sekitar Rp5 jutaan dan rela tak jadi liburan ke luar negeri. Saya pribadi lebih ingin segera melunasi kreditan Honda Supra Fit X, juga membantu finansial keluarga yang lagi babak belur.

Karena sering chatting lewat Facebook, Agnes kemudian meminta saya untuk mengedit beberapa novelnya yang diterbitkan semi-indie. Ada beberapa buku Agnes yang saya edit, di antaranya My Last Love dan My Idiot Brother yang lumayan laris di pasaran dan sudah pernah difilmkan.

Berkat Honda Supra Fit X, motor kreditan yang saya kasih nama Pipit, terbuka banyak kesempatan untuk saya. Berkat motor kredit yang saya perjuangankan bersama almarhum Bapak, kehidupan saya menjadi lebih baik. Saya kangen Bapak.

Warisan Bapak

Pada 2010, satu tahun menuju pelunasan cicilan Pipit, tepatnya Rabu, 22 September malam, saya mengalami peristiwa menyedihkan. Sebuah mimpi dari tidur yang singkat menjadi pertanda. 

Saya punya kebiasaan tidur kurang lebih satu jam sebelum kerja shift malam. Jadi, sebelum berangkat kerja pukul 10, saya harus tidur pukul 9 dan nantinya Bapak saya akan membangunkan saya tepat pukul 10.

Almarhum Bapak juga selalu menyediakan segelas kopi hitam hangat dan roti sebagai bekal biar saya melek di tempat kerja. Saya nggak pernah meminta disediakan, tapi Bapak saya yang pendiam itu selalu melakukannya setiap hari.

Malam itu, saat tidur pukul 9, saya bermimpi Bapak mengendarai Honda Supra Fit X itu, kemudian dia berbelok 90 derajat di depan sebuah masjid. Bapak terperosok ke selokan. Sementara Honda Supra Fit X itu tergeletak begitu saja. Saya terbangun dengan dada yang terasa panas. Entah kenapa.

Saat itu Bapak memang sedang sakit, tapi bukan sakit yang parah saya pikir. Pagi harinya, dia terjatuh di dekat motor saat menyiapkan peralatan dagangan. Siang harinya, Bapak sudah biasa lagi, lalu saat sore saya mengantar bapak belanja ke pasar.

Jadi, ketika saya memimpikan Bapak seperti itu lalu turun dari loteng dan melihat bapak sedang menonton TV sambil tiduran, saya pikir Bapak aman-aman saja.

Saya berangkat kerja dengan perasaan lebih ringan. Namun, Kamis 23 September dini hari, sekitar pukul 2, saat sedang bekerja sebagai operator mesin rajut di pabrik, saya menerima kabar dari adik pertama saya.

Tak lama kemudian, paman saya juga menelepon menyuruh saya segera pulang tanpa memberi tahu apa yang terjadi. Saya izin ke Kepala Bagian untuk pulang dan firasat saya semakin tak enak.

Saya kebut Honda Supra Fit X yang belum lunas itu di jalanan sepi dan gelap di bawah gerimis. Ketika sampai kampung, suasana masih sepi. Sesaat sempat lega karena tak ada orang ramai berlalu-lalang jika memang Bapak saya kenapa-kenapa. Namun ketika memutar ke gang dan bertemu tetangga sekaligus teman bapak, dia hanya bilang “Pi… Bapak….” baru di situ saya tau Bapak tak baik-baik saja.

Saya masuk rumah dan melihat bapak sudah tak bernyawa. Dua adik saya sedang menangis dan Ibu saya menangis jauh lebih kencang. Saya langsung histeris memeluk Ibu dan sambil menangis menceritakan mimpi saya beberapa jam lalu. Saya pikir mimpi tadi itu mimpi biasa, ucap saya waktu itu.  

Saya tau Bapak sudah sangat lelah. Dia pedagang cireng legendaris di kampung saya, Bojong Koneng, Andir Bandung dan kami semua anak-anaknya sekolah di tempat bapak berjualan cireng. Empat puluh tahun dia dikenal dengan julukan Mang Eman Tukang Cireng.

Pagi hingga siang dia berjualan di depan SD, sore hingga malam dia berjualan di kampung. Semua guru hingga kepala sekolah mengenal Bapak. Saat Bapak meninggal, guru-guru kami semua tanpa terkecuali, melayat.

Pipit bukan sekadar motor Honda Supra Fit X. Motor ini warisan terbaik dari Bapak untuk saya. Ada sejarah akan hubungan bapak dan anak yang sangat mendalam. Kami memulainya dengan patungan untuk kredit 3 tahun, penuh dengan perjuangan berdarah-darah.

Saya sering mengantar Bapak belanja ke pasar buat bahan-bahan berjualan cireng. Bahkan ketika sore hari saya mau antar, saya melihat Bapak seperti memberi pertanda dia akan mendahului saya karena dia seperti asik sendiri berjalan di pasar. Padahal jelas-jelas saya membawa motor di sampingnya tapi dia berjalan di depan saya. Tatapan matanya kosong waktu itu.

Seharusnya, sebagai anak, saya lebih peka lagi karena sebelumnya, Bapak seperti sudah memberi pertanda. Saya pernah sempat mengajak Bapak ke dokter untuk memeriksa kesehatannya dengan naik Si Pipit setelah selesai berbelanja bahan-bahan cireng. Namun, Bapak menolak dan bilang, “Udah, pulang saja.”

Seolah Bapak tahu bahwa sore itu adalah kali terakhir saya dan Bapak berbelanja dengan naik Honda Supra Fit X itu. Bapak seperti ingin menikmati sore terakhirnya di pasar lalu “pulang” naik motor yang kami perjuangkan.

Hingga sekarang, Pipit masih ada, ngejogrok di rumah saya di Jakarta. Karena sudah memiliki kendaraan roda empat, Pipit sudah tak pernah saya pakai. Namun, saya tetap merawatnya sepenuh hati. Ini warisan dari almarhum Bapak. Warisan sebuah tekad. Bahwa semua hal yang diperjuangkan pasti memberi hasil.

Honda Supra Fit X penuh kenangan ini tak akan pernah saya jual sampai kapan pun. Bagi banyak orang, motor butut ini tak ada nilainya. Namun, bagi saya, Honda Supra Fit X ini adalah motor termahal di dunia. Motor perjuangan bersama Bapak.

Al-Fatihah….

BACA JUGA v dan kisah mengharukan bersama tunggangan lainnya di rubrik OTOMOJOK.

Baca juga:  Motor Kantor Ambyar di Antara Terjangan Deru dan Debu