MOJOK.CONggak cuma gawai, makanan sekarang udah canggih-canggih dan variatif. Tapi pada akhirnya kita cuma makan mi dan ayam goreng, itu-itu lagi.

Sekitar satu atau dua tahun yang lalu saya dapat rekapan pesanan dari Gojek perihal makanan apa saja yang saya pesan via GoFood. Saya ingat betul aplikasinya bilang kalau saya penggemar nasi dan ayam, artinya selama setahun saya kebanyakan pesan nasi dan ayam. Entah ayam geprek, ayam krispi, atau ayam goyeng anak alay. Pokoknya ada unsur nasi dan ayam-ayamnya.

Waktu tanya kawan saya yang lain, ternyata hasilnya beda. Dia justru paling sering pesan mi, entah mi ayam, bakmi, sampai ramen. Saya pikir hasil dari kawan saya yang lainnya lagi akan variatif. Tentu nggak semua orang bakal makan mi dan ayam goreng doang, pastilah ada yang suka pesan ikan, cumi, atau gado-gado. Ternyata perkiraan saya salah, Bung Broto.

Kebanyakan kawan-kawan saya emang makan itu-itu aja. Kalau nggak makan mi, mereka makan ayam. Sesekali pesan kopi, soto, bakso, atau bubur ayam, tapi nggak sesering itu.

Kadang nggak habis pikir aja, kita hidup di tahun 2020 di mana sebuah alat sudah bisa menghasilkan popcorn saat kita memasukkan biji jagung kemasan. Ada juga berbagai jenis variasi daging mulai sapi, kambing, bahkan sampai hewan-hewan laut yang rupa-rupa warnanya. Tapi lagi-lagi kita betahnya sama daging ayam

Baca juga:  8 Hal yang Dimiliki Wonogiri selain Mi Ayam

Olahan tepung juga macam-macam banget. Mulai roti, macaroni, penne, panekuk, martabak, dan berbagai alternatif enak lain. Tapi lagi-lagi kita kembali makan mi.

Sesekali mungkin kita makan es krim dan mengagumi betapa enaknya pizza. Tapi untuk urusan kenyang dan pas lagi males mikir, makan mi dan ayam adalah solusi. Jarang banget ada orang yang sepenuhnya beralih ke salad, oats, hingga quinoa kalau nggak ngebet banget mau diet. Sobat vegan juga agak pikir-pikir kalau mau ninggalin nasi.

Kondisi semacam ini dipicu oleh latar belakang psikologis yang kompleks. Walau kelihatannya cuma perkara pilih menu makanan, tapi pengalaman empiris seseorang dan budaya makan ternyata berpengaruh. Makanan itu-itu aja yang selalu jadi pilihan disebut dengan comfort food. Dalam kasus saya, kawan-kawan, dan kebanyakan circle orang di sekitar kami, cormfort food adalah dengan makan mi dan ayam goreng.

Comfort food juga dipengaruhi oleh budaya makan. Artinya, orang Mesir belum tentu punya kebiasaan makan mi dan ayam goreng kayak kita. Mungkin mereka bakal keseringan order Barbousa dan Falafel kalau ada di GoFood.

Seseorang yang dari kecil terbiasa makan mi dan ayam, bakal merasa bahwa standar kenyang mereka ya dengan kedua makanan itu. Sebagai negara yang menganggap daging sapi itu agak mahal, jelas daging ayam adalah pilihan alternatif untuk memenuhi protein. Mengingat nggak semua orang juga punya akses buat beli ikan segar dan mengolahnya dengan benar. Aneh betul, padahal Indonesia negara yang dikelilingi oleh laut, tapi orang-orangnya makan ayam. Hmmm~

Baca juga:  Mereka Yang Dirugikan dan Diuntungkan dari Polemik Tampang Boyolali

Selamanya comfort food bakal jadi comfort food meski teknologi pangan sudah canggih luar biasa. Mau ada variasi puding oreo red velvet ndakik-ndakik sampai siomay dumpling gyoza kuah kari, kimchi sundubujigae, dan kreasi lainnya dari berbagai belahan dunia, makan mi dan ayam goreng adalah jati diri kita sebenarnya. Nggak lupa makan nasi juga, ding.

Pada dasarnya kita bisa bertahan hidup tanpa jajan-jajan cilok, cireng, cakwe, dkk kalau nyatanya makanan itu cuma berfungsi sebagai cemilan yang menghibur. Ibaratnya, lidah kita bisa aja berekreasi dengan berbagai bentuk hingga ke makanan khas Azerbaijan. Tapi makan mi dan ayam goreng adalah tempat lidah kita kembali pulang. Maka mengawinkan keduanya jadi mi ayam adalah ide brilian.

Duh, jadi laper ya, Bang.

BACA JUGA Harimau Mati Meninggalkan Belang, Pak Tupon dan Bu Tumini Meninggalkan Mi Ayam atau artikel lainnyadi POJOKAN.