Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Corak Mop

Semakin Diingat Bu Guru, Semakin Menyakitkan

Rijal Januari Utomo oleh Rijal Januari Utomo
2 Agustus 2017
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Kalau Membolos Mungkin Alasannya Habis Diculik, Bu Guru

Setiap SD selalu punya “don”-nya masing masing. Tak terkecuali sebuah SD di satu sudut kota Makassar, sebut saja SD Banna’. Di sana bersekolahlah seorang anak bernama Rahim, baru duduk di kelas 1 SD. Namun, karena lidah orang Makassar, bocah itu lebih akrab disapa dengan nama panggilan Irahing alias si Rahim.

Irahing adalah anak yang memenuhi kriteria bocah tukang bikin gara-gara. Coba saja lihat kelakuan kelakuannya ini.

Di sebuah pagi yang cerah di SD Banna’, Bu Guru sedang mempersiapkan kelasnya untuk memulai pelajaran. Tapi, Bu Guru tiba-tiba menyadari satu hal: bangku Irahing masih kosong.

“Ada yang lihat Irahing? Kenapa belum pi datang?”

Seisi kelas terenyak. Tak ada yang mengetahui keberadaan Irahing. Di saat itu pula muncullah sosok yang dicari-cari tadi. Irahing yang terengah-engah dan berleleran keringat masuk kelas, dan segera mendapat sambutan dari Ibu Guru.

“Kenapa ko terlambat?”

“Dicopet ka bu.”

Wajah Bu Guru seketika berubah dari yang tadinya akan marah menjadi berempati kepada Irahing.

“Terus ko dak apa apa ji?”

“Dak apa apa ja, Bu”

“Apa nu hilang?”

“Buku PR-ku, Bu.”

Atau Kata Anak Muda Sekarang: Move On

Iklan

Seperti halnya kebiasaan di sekolah-sekolah lain, guru Irahing juga selalu melakukan evaluasi pelajaran setiap proses belajar-mengajar hendak dimulai. Hari itu, mereka akan memulai pelajaran Bahasa Indonesia.

“Hayo … siapa yang ingat ki pelajaran minggu lalu?” Ibu Guru melempar pertanyaan kepada murid muridnya.

Kelas hening. Para murid saling memandang satu sama lain. Lalu dengan satu gerakan tiba-tiba, Bu Guru menuding kepada Irahing

“Irahing, kamu ingat?”

“Sudah mi, Bu! Yang lalu, biarlah berlalu. Nabilang kakakku, semakin diingat makin menyakitkan,” jawab Irahing santai.

Suasana kelas semakin hening.

Itulah Kenapa di UN Soalnya Beda-Beda

Dalam sebuah ujian akhir semester, kelas Irahing mendapat sebuah musibah. Mereka kebagian pengawas ujian yang terkenal sebagai guru paling killer di sekolah itu.

“Rahing, jangan ko nyontek!” kata Pak Guru ketika mendapati Irahing sedang sibuk menyalin pekerjaan teman di sebelahnya

“Dak ji, Pak” Irahing menyangkal.

“Terus kenapa ko lihat-lihat ke Endang?”

“Ini soal-soalnya kayakna sama ji, Pak. Jadi, mau ji kukasih cocok jawabanna saja sekalian.”

Berhitung

Layaknya hari-hari kemarin, saban pelajaran Matematika, Ibu Guru selalu mengetes muridnya satu per satu. Setiap murid mendapat giliran menjawab.

Semuanya seperti akan baik-baik saja. Sampai pada giliran Irahing.

“Rahing, setelah angka 7 berapa?”

“8, 9, 10, Bu,” jawabnya tanpa keraguan.

“Bagus! Siapa yang ajar ko?”

“Bapakku, Bu.”

“Terus, setelahna 10 apa?”

“Jack, Queen, King, paling tinggi Joker, Bu!”

Bu guru Irahing yang penyabar itu, yang kualitas kesabarannya membuat Cikgu Jasmin guru Upin Ipin seperti tidak ada apa-apanya, hanya menarik napas panjang mendengar jawaban Irahing.

“Ya, sudah. Kalau begitu pertanyaan selanjutnya. Jika kamu dikasih tantemu 2 biji permen, terus dia tambahi lagi 7 permen, apa jawabannya?”

“Terima kasih, Tante ….”

Besarkan Suaranya, Bukan Hewannya

Sesabar-sabarnya seorang pengajar, pasti ada batasnya. Dan akhirnya, tembok pertahanan itu jebol juga. Bu Guru yang suatu kali sudah tak tahan dengan kelakuan Irahing, dengan segera memberi hukuman kepadanya. Sebuah hukuman yang masih penuh welas asih untuk anak sekaliber Irahing: Bernyanyi di depan kelas.

“Irahing! Ko ke depan sini, menyanyi!”

Irahing dengan langkah tegap berjalan ke depan kelas.

“Nyanyi apa, Bu?” tanyanya.

“Cecak-cecak di dinding mo.”

Permintaan yang tentu saja segera disanggupi oleh Irahing. Perkara receh, pikirnya.

“Cecak-cecak di dinding ….” Irahing mulai bernyanyi.

Namun, karena volume suara Irahing yang kecil, Bu guru menegurnya.

“Besari Irahing!” perintah Bu Guru.

“Tokek-tokek di dinding …,” nyanyinya dengan volume yang masih sama.

“Kubilang besari!” tegur Bu Guru.

Kali ini Irahing menambah volume bernyanyinya.

“Buaya-buaya di dinding!!!”

Seisi kelas terbahak. Bu Guru kesal sekaligus prihatin.

“Ya sudah. Ko nyanyi lagu nasional yang ko tahu mo saja.” Bu Guru masih mencoba memberinya hukuman. Setidaknya anak ini harus dibikin jera.

“Siaaap, Bu!”

Irahing lalu bernyanyi. “16 Agustus tahun ‘45 ….”

“Salah ko! 17 Agustus!” Irahing diinterupsi oleh Endang, teman sekelasnya.

Irahing hanya tersenyum tenang, lalu melanjutkan bernyanyi, “Besoknya hari kemerdekaan kita ….”

Seisi kelas kembali menangis.

***

Cerita-cerita di atas saya peroleh dari percakapan sekumpulan tukang ojek online yang sering berkumpul di dekat rumah saya. Sore itu, ditemani rokok dan kopi, mereka saling melempar cerita humor diselingi obrolan tentang lelucon baru paling lucu di Makassar tahun ini: Nurdin Halid menjadi calon gubernur Sulawesi Selatan.

Terakhir diperbarui pada 11 Agustus 2021 oleh

Tags: guruirahingMakassarmuridnurdin halidsekolah
Rijal Januari Utomo

Rijal Januari Utomo

Artikel Terkait

Hidup mati pekerja Jakarta harus tetap masuk, menerjang arus dari Bekasi
Urban

Menjadi Guru Honorer di Jakarta Tetap Sama Susahnya dengan di Daerah: Gajinya Cuma Seperempat UMR, Biaya Hidupnya 2 Kali Pendapatan

29 April 2026
Guru PPPK Paruh Waktu, honorer.MOJOK.CO
Sekolahan

Guru, Profesi yang Dihormati di Desa tapi Hidupnya Sengsara di Kota: Dimuliakan Seperti Nabi, Digaji Lebih Kecil dari Kuli

23 April 2026
Niat MBG Itu Mulia: Cerita Guru Wali Kelas yang Harus Memastikan Siswa Mau Mencoba Menghabiskan Makanannya MOJOK.CO
Esai

Niat MBG Itu Mulia: Cerita Guru Wali Kelas yang Harus Memastikan Siswa Mau Menghabiskan Makanannya

1 April 2026
Kekerasan di sekolah, Mahasiswa UNY Dibully Gara-Gara Pemilu BEM
Sekolahan

“Sekolah Bukan Ring Tinju”: Ortu Pukuli Guru Madrasah di Madura adalah Alarm Darurat Pendidikan Indonesia

9 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kerja di Jakarta.MOJOK.CO

Jakarta Tak Cocok bagi Fresh Graduate yang Cuma “Pengen Cari Pengalaman”: Bisa Bikin Finansial dan Mental Layu Sebelum Berkembang

26 April 2026
pasar wiguna.MOJOK.CO

Pasar Wiguna Sukaria Edisi 102 Padati Vrata Hotel Kalasan, Usung Semangat “Wellness” dan Produk Lokal

26 April 2026
kurir dan driver ShopeeFood. MOJOK.CO

Membiasakan Ngasih Tip Kurir ShopeeFood meski Kita Bukan Orang Mapan: Uang 5 Ribu Nggak Bikin Jatuh Miskin, Tapi Sangat Berarti buat Mereka

28 April 2026
Sisi Lain Lagu “Kicau Mania” Ndarboy Genk: Berbahaya dan Bukan Perkara Remeh MOJOK.CO

Sisi Lain Lagu “Kicau Mania” Ndarboy Genk: Berbahaya dan Bukan Perkara Remeh 

1 Mei 2026
Muhammad Rizky Perwira Zain, lulusan termuda S2 UGM kantongi gelar S2 Kesehatan Masyarakat dan S1 Kedokteran sebelum usia 25 tahun

Cerita Lulusan Termuda S2 UGM, Berhasil Kantongi Gelar Sarjana Kedokteran dan Kesmas sebelum Usia 25 Tahun

1 Mei 2026
kos dekat kampus, kos murah.MOJOK.CO

Punya Kos Dekat Kampus Menguras Mental dan Finansial, Gara-Gara Teman Kuliah yang Sering Menginap tapi Tak Tahu Diri

29 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.