Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Corak Curhat

Merasa Hanya Dijadikan Sapi Perah Oleh Orang Tua

Audian Laili oleh Audian Laili
20 Oktober 2018
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Minggu lalu Mojok membalas curhat tentang seseorang yang menjadi beban bagi orang tua. Kali ini tentang seseorang yang merasa dibebani orang tua.

CURHAT

Assalammualaikum, nama saya Siti umur 23 tahun jalan 24 hehe. Sekarang saya kerja sebagai buruh migran di Taiwan.

Saya bingung sebenernya gimana sih cara yang bener buat berbakti sama orang tua? Saya sudah coba untuk ngelakuin apa aja biar orang tua seneng. Tapi beliau salah terima terus, termasuk masalah hutang.

Apa bener, kalau hutang orang tua itu jadi tanggungan kita sebagai anak? Sedangkan saya sendiri nggak tau orang tua saya ngutang buat apa. Selama ini saya hidup sebisa mungkin nggak membebani beliau. Sebab, saya sadar beliau single parent. Justru saya yang harusnya jadi tumpuan untuk beliau.

Berat sih, namun saya coba untuk menerima. Tapi kok makin ke sini, saya makin ngerasa justru dijadiin sapi perah sama orang tua. Saya semakin nggak ngerasa di anggep sebagai anak. Sekalinya nanya kabar, pasti ujung-unjungnya minta duit. Beliau selalu ribet sama masalah hutangnya, sampai-sampai lupa kalau saya juga punya masa depan.

Sebenernya saya cuma pengin di ngertiin, supaya saya ngerasa masih punya tempat cerita kalau ada masalah. Tapi justru saya yang jadi tumpuan beliau, jadi tempat tumpah ruah masalah beliau. Saya jadi ngerasa menjadi orangtua untuk orang tua sendiri.

Boleh kasih pencerahannya, nggak? Bagaimana sebaiknya saya bersikap? Karna jujur, sampai sekarang saya masih kecewa sama beliau.

Terima kasih….

 

JAWAB

Hai Siti, karena minggu kemarin saya membalas curhat tentang seorang anak yang berkeluh kesah karena dianggap sebagai beban oleh orang tuanya, maka untuk minggu ini, saya memilih curhatanmu yang merasa terbebani oleh kondisi orang tua. Biar impas. Biar seimbang. Biar kita memahami, bahwa peran apapun sama-sama bisa menjadi beban bagi peran yang lain.

Sebenarnya, dari cerita singkatmu itu, kamu dan orang tua—meski saya tidak dapat memastikan, itu ayah atau ibu—sama-sama saling membutuhkan satu sama lain. Kalian sama-sama merasa sendirian. Sepertinya yang terkesan dari ceritamu, kamu pun anak satu-satunya. Maka tidak salah jika kamu pun ingin hubungan kalian bisa saling menopang.

Semakin dewasanya kamu—apalagi ketika sudah berani merantau ke luar negeri untuk mencari nafkah—kamu telah dianggap sebagai seorang anak yang sudah mampu dan cukup kuat untuk menjadi tumpuan bagi beliau.

Ngomong-ngomong, sejak kapan beliau bersikap yang hanya berfokus pada dirinya sendiri dan seperti mengabaikan bahwa kamu pun punya masa depan? Sejak menjadi orang tua tunggal kah? Atau sejak kamu pergi bekerja ke Taiwan? Sayang sekali, hal ini juga tidak kamu jelaskan. Padahal, ini bisa menjadi bahan untuk refleksi pada diri sendiri.

Iklan

Begini Siti, terkadang sebagai anak, ada sebagian dari kita yang ingin dianggap dewasa, namun ada sebagian dari diri kita yang ingin tetap dianggap sebagai seorang anak. Namun, mungkin tidak semua orang tua memahami dengan baik hal tersebut. Ada kemungkinan orang tuamu itu adalah seseorang yang benar-benar menganggap kamu sudah mandiri dan dapat menyelesaikan tanggung jawabmu sendiri. Mungkin beliau tidak berpikir terlalu jauh karena fokus dengan permasalahannya.

Saya rasa yang dapat kamu lakukan saat ini dengan berusaha mengkomunikasikan apa yang kamu rasakan kepada beliau pelan-pelan. Bisa jadi, beliau merasa apa yang dilakukannya tidak meninggalkan masalah, karena kamu tidak pernah protes.

Kamu bisa memulainya dengan lebih sering menelponnya untuk menanyakan kabar dan keadaannya yang jauh darimu. Saya yakin, dengan kamu terbiasa untuk menanyakan kabarnya, beliau pun akan melakukan hal yang sama. Ntah setelah telepon untuk yang kesekian kali. Tapi memang harus dicoba dan dilakukan terus menerus.

Ketika kamu sudah sering melakukan pendekatan tersebut, ceritakan pada beliau pelan-pelan apa yang sebenarnya kamu rasakan. Minta beliau untuk tidak mencela. Berusahalah bercerita dengan sejujurnya meski ada kemungkinan akan terdengar menyakitkan baginya.

Yang terpenting, berceritalah dengan tetap menggunakan kata yang santun. Bagaimanapun beliau adalah orang tuamu. Semarah apapun perasaanmu, berusahalah tetap bersikap dengan lebih tenang dan dewasa.

Di akhir, setelah kamu lega. Katakan pada beliau, bahwa kamu sangat menyayanginya. Cerita panjang yang kamu katakan tadi, karena kamu ingin hubungan kalian semakin kuat dan membaik.

Dengan keterbukaanmu pada beliau, semoga beliau pun dapat benar-benar terbuka dengan masalah yang sedang membelitnya padamu. Yang saat ini hanya memunculkan praduga saja.

Oh ya, Siti. Kalau memang melalui telepon dirasa kurang mantap. Kamu bisa menggunakan video call. Namun perlu kamu pastikan, sinyal di seberang sana juga lancar. Supaya ngobrol jadi nyaman dan nggak ada salah paham.

Begitu, ya, Siti. Semoga berhasil….

Terakhir diperbarui pada 20 Oktober 2018 oleh

Tags: dibebanihutang orang tuaorang tuasapi perah
Audian Laili

Audian Laili

Redaktur Terminal Mojok.

Artikel Terkait

Jadi gembel di perantauan tapi berlagak tajir pas pulang kampung. Siasat pura-pura baik-baik saja agar orang tua tidak kepikiran MOJOK.CO
Urban

Jadi Gembel di Perantauan tapi Berlagak Tajir saat Pulang, Bohongi Ortu biar Tak Kepikiran Anaknya Remuk-remukan

21 Maret 2026
Ilustrasi - Anak pertama dicap gagal.MOJOK.CO
Sehari-hari

Rela Hidup Miskin di Desa demi “Kebahagiaan” Adik-Adiknya di Kota, tapi Malah Dicap Pemalas dan Beban Keluarga

11 Maret 2026
lowongan kerja, kerja di kota, lebaran.MOJOK.CO
Catatan

Mudik Lebaran Jadi Ajang Sepupu Minta Kerjaan, tapi Sadar Tak Semua Orang Layak Ditolong

10 Maret 2026
Ibuku Demensia dan Aku Seorang Sandwich Generation yang Kecewa Absennya Negara Bagi Kami para Caregiver MOJOK.CO
Esai

Ibuku Demensia dan Aku Seorang Sandwich Generation yang Kecewa Absennya Negara Bagi Kami Para Caregiver

4 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Hasutan dan jebakan orang minta donasi di Stasiun Tugu Jogja, ternyata berkedok penipuan MOJOK.CO

Turun Stasiun Tugu Jogja Muak sama Orang Minta Donasi: Tidak Jujur Sejak Awal, Jual Kesedihan Endingnya Jebakan

5 April 2026
Jogja Bisa Ditinggalkan Wisatawan kalau Mengandalkan Jebakan Aji Mumpung MOJOK.CO

Jogja Ditinggalkan Wisatawan kalau Mengandalkan Jebakan Aji Mumpung 

8 April 2026
Gagal seleksi PPPK dan CPNS meski daftar di formasi PNS atau ASN sepi peminat. Malah dapat kerja yang benefitnya bisa bungkam saudara yang sebelumnya menghina MOJOK.CO

Gagal Seleksi CPNS di Formasi Sepi Peminat Dihina Bodoh, Malah Dapat Kerjaan “di Atas” ASN Langsung Bungkam Penghina

9 April 2026
Slow living di desa, jakarta.MOJOK.CO

Warga Desa Sebenarnya Muak dengan Orang Kota yang Datang Buat Sok Slow Living: Arogan, Tak Membaur, Anggap Warga Asli Cuma “Figuran”

7 April 2026
Saya Setuju Orang Jakarta Tajir Tak Betah Slow Living di Desa (Unsplash)

Orang Tajir Jakarta Tak Akan Sanggup Slow Living di Desa karena Menolak Srawung Itu Omong Kosong Kebanyakan Gagal Betah karena Ulahnya Sendiri

7 April 2026
Kerja di Pabrik, Kuliah S2, dan Dihajar Asam Lambung MOJOK.CO

Kerja di Pabrik, Kuliah S2, dan Dihajar Asam Lambung

6 April 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026
Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

4 April 2026
Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

2 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.