MOJOK.COIklan Baskin Robbins di Korea Selatan yang dibintangi Ella Gross menuai pro kontra. Sorotan keras dari netizen Korea, membuat Baskin Robbins memilih menurunkan iklan tersebut.

Iklan es krim asal Amerika Baskin Robbins sedang menjadi kontroversial. Pasalnya, dalam iklan produk untuk Korea Selatan tersebut, Baskin Robbins menjadikan bintang cilik berusia 11 tahun, Ella Gross, sebagai bintang iklannya. Akan tetapi, yang kemudian ramai diperbincangkan, iklan tersebut dianggap membuat para predator-predator kegirangan dan akhirnya memberikan komentar-komentar yang tidak patut. Sehingga, banyak pihak yang meminta Baskin Robbins lebih baik menurunkan iklan tersebut saja.

Memang, komentar netizen di iklan tersebut sungguh kurang ajar dan keterlaluan. Siapa pun yang menerima komentar semacam itu, pasti juga merasa tidak nyaman dan marah. Dan orang-orang yang berkomentar dengan sangat tidak pantas dan menjijikkan itu jadi berdosa berkali-kali lipat, karena yang ia komentari adalah anak yang masih berusia 11 tahun. Dia masih di bawah umur.

Akan tetapi, hanya marah pada para komentator jahanam sepertinya tidak cukup. Dan bisa jadi akan menjadikan industri hiburan tetap melanggengkan hal-hal semacam ini terjadi lagi dan lagi. Dalam hal ini, bagaimanapun juga Baskin Robbins menjadi pihak yang juga perlu dipertanyakan soal keputusannya. Begini, apa pertimbangan mereka memberikan pekerjaan untuk anak di bawah umur yang cukup berisiko semacam itu?

Baca juga:  Benarkah Agni Memutuskan Berdamai dan Baik-Baik Saja?

Iya, ini pekerjaan yang berisiko, loh. Lha wong, konsep makan es krim di iklan itu sungguh nggak nyambung blas. Kenapa momen menikmati es krim tersebut harus didahului dengan tatapan-tatapan tajam ke kamera? Padahal, ini iklan es krim bukan iklan eyeliner atau maskara!

Kalau memang iklan ini bakal dibintangi sama anak yang masih berusia 11 tahun, kenapa nggak pakai konsep makan es krim dengan ceria dan riang gembira? Ya, kayak iklan es kiko di Indonesia lah. Tapi, kalau memang pengin maksa pakai konsep yang semacam ini, ya nggak apa-apa, asalkan pakai bintang yang jelas-jelas sudah dewasa, yang sudah punya hak untuk memahami mana yang terbaik bagi dirinya atau tidak. Bukannya malah meminta bantuan sama anak usia 11 tahun yang “diminta” untuk berdandan selayaknya orang dewasa.

Betul kan, kalau Ella Gross ini belum dewasa? Bukankah di Korea Selatan sendiri perayaan peralihan dari usia remaja ke usia dewasa alias coming of age day, diperuntukkan untuk generasi muda yang menginjak usia 20 tahun? Yang mana, mereka sudah betul-betul (((baru))) punya hak untuk menikah, menyetir, memilih presiden, minum minuman beralkohol, maupun merokok. Dan tentu saja, mereka sudah dianggap dapat bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri.

Mungkin bagi sebagian orang, tayangan dalam iklan tersebut memang tidak menjadi masalah dan tidak memunculkan hasrat apa-apa. Namun, bagi predator-predator di luar sana, justru ini memunculkan mak sliweran. Mak sliweran yang muncul bisa jadi karena dia tidak bisa menjaga pikirannya sendiri atau karena adanya kelainan. Dan mak sliweran itu menjadi berkali-kali lipat tidak pantas, karena perasaan mak sliweran tersebut kemudian dituliskan dalam komentar-komentar yang kurang ajar. Dan yang menyedihkannya lagi, hal tersebut ditujukan pada seorang anak yang masih berusia di bawah umur.

Baca juga:  Surat buat Penganiaya Audrey

Begini ya, mohon maaf nih, mempekerjakan anak di bawah umur saja perlu beberapa pertimbangan supaya jangan sampai hal tersebut menganggu hak-haknya. Seperti belajarlah, bermainlah, bersosialisasi lah. Apalagi kalau pekerjaan tersebut jelas-jelas berisiko semacam itu. Ella Gross kan, pasti belum betul-betul bisa memutuskan tawaran-tawaran yang datang kepadanya sendiri. Oleh karena itu, dalam hal ini dibutuhkan peran orang tua sebagai pendamping. Setidaknya, orang tua ada untuk turut mempertimbangkan apakah tawaran yang datang padanya itu pantas diterima atau tidak.

Tapi dilihat dari perspektif apa pun, dalam hal ini Ella Gross adalah korban. Dia adalah korban atas “keegoisan” orang dewasa dan kejamnya industri hiburan di Korea Selatan.



Tirto.ID
Loading...

No more articles