MOJOK.CO Perempuan yang menggunakan make-up dianggap tidak punya otak, alias cuma bermodalkan memoles wajah. Baik, terima kasih, Mas!

Seorang kawan saya, perempuan, nilai-nilai mata kuliahnya selalu menjulang. IPK-nya hampir 4 sempurna, dan segala pertanyaan dari dosen bisa ia babat habis dengan cemerlang. Kawan yang sama pulalah yang segera mendatangi saya ketika suatu hari saya tumbang total gara-gara patah hati.

Selagi saya menangis di kamar kosan, tahu apa yang dia lakukan? Dia menghibur saya lewat kata-kata, sambil membuka tas make-up dan memoleskan semua yang bisa ia temui: concealer, foundation, bedak, eyeliner, maskara, dan lain sebagainya.

“Udah, udah, tenang… Ini cuma ujian, aku yakin kamu bisa ngelewatin ini. By the way, muka sebelah kananku pakai cushion Maybelline, terus yang kiri aku pakai April Skin. Bagusan yang mana?”

Sambil menangis, saya mengamati hasil dandan kawan saya tadi dan langsung tertawa. Hadeeeeh, masih menor aja!

Setelah hari itu, teman saya tetap menjadi orang yang otaknya encer dan cemerlang di kelas, walaupun di pipinya masih terlihat mencolok merah-merah berkat olesan creamatte Emina—sebuah lipmatte yang kami gunakan pula sebagai krim blush on.

Sementara itu, saya yang sedang menangis dan tidak menggunakan make-up justru sempat bersikap bodoh, termasuk meracau soal kabur dari kota perantauan dan tidak perlu kembali demi melupakan mantan kekasih.

Padahal, saya waktu itu lagi nggak pakai make-up—teman saya yang pakai.

Ngerti nggak apa yang ingin saya sampaikan? Saya gatel banget mendengar bahwa di tahun 2019, di mana kita semua udah sama-sama nonton Avengers: Endgame dengan durasi 3 jam, dan di tahun di mana kita sudah menyaksikan sendiri bahwa sebuah pilpres bisa menjadi ajang perpecahan ikatan persaudaraan, kok ya masih ada aja yang menyalakan api dengan seenaknya mengatakan bahwa—biar saya kutip dari sebuah thread yang cukup hot di lini masa media sosial:

…perempuan yang addict banget sama make-up BIASANYA nggak punya otak. karena itu yang dipoles wajahnya. Tapi ada juga, kok, yang jelek tapi bodoh. Sedangkan yang cantik dan pintar make-up-nya yang natural dan nggak rempong, paling gincu doang atau liptint. karena ongkos make-up dan skincare dialihin ke buku atau ikut kelas apa kursus, gitu.

[!!!!!!!!!1111!!!1!!!!1!!!!!1!!!!]

Baca juga:  Tidak Bercita-cita Masuk Harvard Saat SD Seperti Maudy Ayunda Itu Wajar

Saya hampir keselek donat waktu membaca pernyataan ini, tapi untung nggak jadi soalnya saya lagi makan burger. Saya mengelus dada (tentu punya saya sendiri) sambil berpikir-pikir: apa, ya, yang mendasari orang ini bilang bahwa perempuan yang addict dengan make-up itu nggak punya otak, bahkan menyebut hal ini sebagai hal yang “biasanya” terjadi???

Semakin saya pikirkan, saya bukannya tercerahkan—saya justru makin bertanya-tanya “Hah? Hah? Hah” kayak tukang keong.

Secara sederhana, pernyataan di atas menyebutkan bahwa:

1. Perempuan ber-make-up umumnya adalah perempuan nggak punya otak alias bodoh (“karena itu yang dipoles wajahnya”).

Kalimat ini diikuti dengan pernyataan yang tak kalah bikin kesal: “ada juga kok, yang jelek tapi bodoh.”

Pertanyaan saya: pernyataan ini maksudnya mau bilang apa, sih??? Mau bilang bahwa perempuan-perempuan yang pakai make-up dan tampak lebih cantik itu pasti orang yang bodoh, atau perempuan yang pakai make-up itu pasti aslinya jelek dan nggak mungkin cantik dari sononya???

Pasalnya, di pernyataan kedua, dia bilang…

2. Perempuan yang cantik dan pintar itu kalau make-up-an pasti yang natural-natural aja, minimal pakai gincu.

Lihat bagaimana dia menyebut “yang cantik” di bagian ini? Jadi, apakah menurut si pencetus gagasan ini, perempuan-perempuan yang menggunakan make-up yang tidak cuma gincu (GINCU ITU JUGA MAKE-UP, YA, MAS) adalah perempuan-perempuan yang tidak cantik alias jelek???

Kalau memang begitu, ngapain dia bilang “ada juga, kok, yang jelek tapi bodoh”, kalau sebenarnya itu adalah poin utama dia di poin pertama???

Baca juga:  Curhat Shaming: Jadi Superior Sejak dari Nanggepin Curhatan

Pusing, Mas, pusing??? Mamam~

Jadi gini, loh, Mas—kecuali Mas percaya bahwa perempuan-perempuan di poin kedua ini sudah berkulit bersih, flawless, dan kinclong dari sononya tanpa bantuan apa pun (ingat, bahkan skincare pun dianggap tak punya karena dananya dialihkan untuk beli buku), silakan menertawakan tulisan ini dan temukan perempuan yang bahkan tak menggunakan facial wash atau pelembap wajah sama sekali (iya, Mas, itu juga termasuk skincare).

Yang jadi pertanyaan, perempuan yang Mas bilang cantik dan menggunakan make-up natural itu apakah benar-benar tidak tersentuh produk lain selain gincu???

O, tunggu dulu.

Jangan-jangan, Mas telah mendengar tren no make-up make-up look, ya? FYI aja, tren itu pun termasuk gaya make-up yang mengharuskan penggunanya menggunakan make-up.

Dan bukan cuma (((gincu doang))).

Seberapa no make-up-kah no make-up look itu? Biar saya kasih tahu: kami, perempuan-perempuan yang ingin menggunakan gaya make-up ini, juga harus pintar-pintar memilih pelembap, concealer, foundation, bedak, blush on, hingga gincu yang sesuai sehingga kami bakal terlihat “flawless dari sononya” walaupun sebenarnya kami juga menggunakan make-up yang—untungnya—membuat Mas alergi itu.

Itu baru produknya, Mas. Menggunakan make-up juga jelas memerlukan ketelitian yang luar biasa. Maksud saya, situ pernah nggak merasakan kepuasan setelah berhasil pakai bulu mata palsu dan membuatnya tampak natural seperti bulu mata asli? Pernah nggak bikin alis yang simetris kanan dan kiri, tanpa membuatnya terlihat seperti Crayon Shinchan?

Dan, dari sekian banyak perempuan ber-make-up di dunia ini, saya cukup percaya diri untuk menyebutkan bahwa mereka pintar dan nggak cuma “memoles wajahnya”.

Maksud saya, memangnya situ lupa sama Maudy Ayunda, Dian Sastro, dan—ah, silakan taruh nama perempuan manapun, lah, di sini!



Loading...



No more articles